Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Anakmu adalah Surgamu atau Nerakamu - bag. 03

Anakmu adalah Surgamu atau Nerakamu - bag. 02

Anakmu adalah Surgamu atau Nerakamu - bag. 01

Percaya deh, Sifat Malu Membuatmu Lebih Anggun

بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

 Suatu ketika saya makan di warung makan bersama istri dan anak-anak, di meja sebelah terdengar suara “kicauan dan raungan” para perempuan, mereka;

-          tertawa terbahak-bahak,

-          tertawa terkekeh-kekeh,

-          mengangkat suara tidak mengindahkan orang di sekitarnya

-          mengangkat suara seakan di dalam rumahnya sendiri

-          ribut, sampai para lelaki rishi dengan kelakuan mereka.

cerita lain,

Selengkapnya...

"JANGAN MENETESKAN DARAH HARAM WALAU SATU TETES"

 عن جندب بن عبد الله رضي الله عنه قال: "إنَّ أول ما ينتنُ من الإنسان بطنُه فمن استطاع أن لا يأكل إلا طيبًا فليفعل، ومن استطاع أن لا يحالَ بينه وبين الجنة بملء كفِّهِ من دم أَهْرَاقَهُ فليفعل" رواه البخاري (7152). 

Artinya: “Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya pertama yang membusuk dari manusia adalah perutnya, maka barangsiapa yang sanggup untuk tidak makan kecuali harta yang baik maka lakukanlah, dan BARANGSIAPA YANG SANGGUP TIDAK DI HALANGI DARINYA DENGAN SURGA AKIBAT SATU GENGGAMAN DARAH YANG TELAH IA TETESKAN, MAKA LAKUKANLAH.” HR. Bukhari, no. 7152.

Berkata Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah:

وصية عظيمة في الحضَّ على أكل الحلال والكفِّ عن الدماء، وهي إنما تنفع إذا صادفت قلبًا صادقًا متحريًا للخير متجردًا عن الهوى، ولذا لما كان من أوصاهم بخلاف ذلك لم ينتفعوا بوصيته، بل خرجوا وأعملوا السيف في المسلمين وقتلوا الرجال والأطفال وعظم البلاء بهم، والله المستعان.

Ini adalah wasiat yang agung tentang perintah makan harta yang halal dan menahan dari sikap meneteskan darah. Dan wasiat ini akan bermanfaat jika terpatri pada hati yang bersih, yang sangat berharap kebaikan dan terlepas dari hawa nafsu, oleh karena itu, mereka (kaum khawarij) yang telah beliau wasiati berbeda dengan hal tersebut, maka mereka tidak mengambil manfaat dengan wasiat beliau. Bahkan mereka memberontak dan menghunus pedang di tengah-tengah kaum muslimin, yang akhirnya mereka membunuh orang-orang dewasa, anak-anak kecil dan timbullah kerusakan yang besar disebabkan oleh mereka. Lihat http://al-badr.net/muqolat/4095. 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung