Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Sempurnanya Keimanan – Buah Manis Beriman Kepada Takdir (bag. 01)

بسم الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

  1. Sempurnanya keimanan

Dengan beriman kepada Takdir Allah Ta’ala baik dan buruknya, maka sah dan sempurnalah keimanan. Karena beriman kepada Qadha dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang enam, yang tidak sah keimanan seseorang jika tidak beriman dengan benar kepadanya.

Selengkapnya...

MENASEHATI PEMIMPIN TENTANG KENAIKAN BBM

Semakin terlihat jelas di depan mata bahwa ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika diamalkan maka tidak akan mendatangkan kecuali, KEBAHAGIAAN, KENYAMANAN, KETENTRAMAN, KETERTIBAN DAN KESRABILAN DI DUNIA SEBELUM AKHIRAT.

Selengkapnya...

Kebenaran Jangan Diukur Karena Seorang Manusia

Selengkapnya...

Mengingat Keburukan Akibat Tidak Menjaga Lisan – Tips Menjaga Lisan (bag. 05)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Salah satu kiat menjaga lisan adalah;

5. mengingat keburukan akibat tidak menjaga lisan.

Untuk menjaga lisan sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَشَرِّ بَصَرِى وَشَرِّ لِسَانِى وَشَرِّ قَلْبِى وَشَرِّ مَنِيِّى

Artinya: “Aku berlindung denganmu dari keburukan pendengaranku, penghlihatanku, lisanku, hatiku dan keburukan kemaluanku.”

Tenyata setelah ditelusuri ayat Al Quran yang Mulia dan hadits Nabi yang suci, akan didapati bahwa tidak menjaga lisan akan mendatang keburukan-keburukan yang sangat mengerikan di dunia dan akhirat.

Selengkapnya...

"SAUDARA ATAU KAWAN SEJATI, SEHIDUP SEMATI"

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَثَلُ ابْنِ آدَمَ وَمَالِهِ وَعَمَلِهِ مَثَلُ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاءَ , قَالَ لَهُ أَحَدُهُمْ: أَنَا مَعَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا , فَإِذَا مُتُّ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْكَ , فَذَلِكَ مَالُهُ , وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ , فَإِذَا بَلَغْتَ إِلَى قَبْرِكَ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَسْتُ لَكَ , فَذَلِكَ وَلَدُهُ وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا فَذَلِكَ عَمَلُهُ "

 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan anak Adam dengan harta dan amalnya adalah seperti seseorang yang mempunyai saudara, salah seorang berkatanya: “Aku bersama selama kamu hidup, jika kamu mat maka kamu bukan dariku dan aku bukan darimu, maka itulah hartanya, sedangkan yang lain berkata: “Aku bersamamu, jika kamu sampai ke kuburanmu, maka kamu bukan dariku dan aku bukan darimu, maka itulah anaknya, dan yang lain (yang ketiga) berkata: “Aku bersamamu baik engkau dalam keadaan hidup atau mati, maka itulah amalnya.” HR. Al Baihaqi Syu’abul Iman. 13/85.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

Video Terbaru

Pengunjung