Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Tahan Matahari Sebelum Menulis Status Facebookmu

Tercengang ketika membaca cerita tentang Amir bin Abdi Qais seorang Tabi’ie rahimahullah:

عن عَامِرِ ابْنِ عَبْدِ قَيْسٍ رحمه الله تعالى, قَالَ لَهُ رَجُلٌ: أُكَلِّمُك , قَالَ: أَمْسِكْ الشَّمْسَ

“Amir bin Abdi Qais rahimahullah diriwayatkan, pernah seseorang berkata kepadanya: “Aku ingin berbicara kepadamu”, beliau menjawab: “Tahanlah matahari (sehingga aku ada waktu untuk berbicara denganmu)”. Disebutkan oleh Ibnu al Jauzi di dalam kitab Shaid Al Khathir.

Selengkapnya...

PERNAH MELIHAT ISTRIMU DI DAPUR?

Wahai para suami yang terhormat…

Pernahkah Anda jalan-jalan melihat dapur rumah Anda?

Pernahkah Anda melihat istri Anda disana?

Pernahkah Anda melihat istri Anda sedang bingung mau masak apa?

Selengkapnya...

Membuat Hati Lebih Tenang - Buah Manis Beriman Kepada Takdir (bag. 02)

بسم اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Ketenangan hati…

Inilah yang dicari-cari setiap insan yang hidup di dunia, berbagai macam cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mencari yang namanya KETENANGAN HATI DAN JIWA;

Selengkapnya...

Sempurnanya Keimanan – Buah Manis Beriman Kepada Takdir (bag. 01)

بسم الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

  1. Sempurnanya keimanan

Dengan beriman kepada Takdir Allah Ta’ala baik dan buruknya, maka sah dan sempurnalah keimanan. Karena beriman kepada Qadha dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang enam, yang tidak sah keimanan seseorang jika tidak beriman dengan benar kepadanya.

Selengkapnya...

"SAUDARA ATAU KAWAN SEJATI, SEHIDUP SEMATI"

 

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَثَلُ ابْنِ آدَمَ وَمَالِهِ وَعَمَلِهِ مَثَلُ رَجُلٍ لَهُ ثَلَاثَةُ أَخِلَّاءَ , قَالَ لَهُ أَحَدُهُمْ: أَنَا مَعَكَ مَا دُمْتَ حَيًّا , فَإِذَا مُتُّ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْكَ , فَذَلِكَ مَالُهُ , وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ , فَإِذَا بَلَغْتَ إِلَى قَبْرِكَ فَلَسْتَ مِنِّي وَلَسْتُ لَكَ , فَذَلِكَ وَلَدُهُ وَقَالَ الْآخَرُ: أَنَا مَعَكَ حَيًّا وَمَيِّتًا فَذَلِكَ عَمَلُهُ "

 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan anak Adam dengan harta dan amalnya adalah seperti seseorang yang mempunyai saudara, salah seorang berkatanya: “Aku bersama selama kamu hidup, jika kamu mat maka kamu bukan dariku dan aku bukan darimu, maka itulah hartanya, sedangkan yang lain berkata: “Aku bersamamu, jika kamu sampai ke kuburanmu, maka kamu bukan dariku dan aku bukan darimu, maka itulah anaknya, dan yang lain (yang ketiga) berkata: “Aku bersamamu baik engkau dalam keadaan hidup atau mati, maka itulah amalnya.” HR. Al Baihaqi Syu’abul Iman. 13/85.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

Video Terbaru

Pengunjung