Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Amalan Penghantar Cahaya di Atas Shirath – Mengingat Neraka, bag. 03

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Saudarakau, sebagaimana diketahui pada pembahasan sebelumnya, bahwa cahaya adalah sangat dibutuhkan ketka berjalan di atas shirath, di bawah ini akan disebutkan amalan-amalan yang menghantarkan cahaya di hari kiamat.
Semoga kita dapat mengamalkannya dan akhirnya mempunyai cahaya kelak…


1. Beriman kepada Allah Ta’ala dan menjauhi kemunafikan


Allah Ta’ala menyebutkan bahwa di hari kiamat, orang-orang beriman dituntun oleh cahaya mereka, sedangkan kaum munafik di dalam kegelapan dan minta tolong kepada kaum beriman. Allah Ta’ala berfirman:


(يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِم بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ{12} يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءكُمْ فَالْتَمِسُوا نُوراً فَضُرِبَ بَيْنَهُم بِسُورٍ لَّهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِن قِبَلِهِ الْعَذَابُ{13} يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاء أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ{14} فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مَأْوَاكُمُ النَّارُ هِيَ مَوْلَاكُمْ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ{15}( [الحديد: 12-15].

Artinya: “(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya.  Itulah keberuntungan yang banyak.”
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.”
“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.”
“Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir.  Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” QS. Al Hadid: 12-15.

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Firman Allah Azza wa Jalla ( يَسْعَى نُورُهُم بَيْنَ أَيْدِيهِمْ) ” cahaya mereka (kaum beriman) bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka”:


يُؤْتَوْنَ نُورَهُمْ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُه مِثْلُ الْجَبَلِ ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ عَلَى إبْهَامِهِ يُطْفَأُ مَرَّةً وَيَتقِدُ أُخْرَى.

“Diberikan kepada mereka cahaya mereka sesuai dengan amalan-amalan mereka, dari mereka ada yang cahayanya seperti gunung, dan yang rendah diantara mereka ada yang cahaya sejempolnya kadang menyala dan terkadang mati.” HR. Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dan Adz Dzahaby berkata di dalam kitab Talkhish Al Habir: “Riwayat sesuai dengan syarat Bukhari.”


2. Selalu menjaga shalat lima waktu terkhusus shalat Fajar


عَنْ أَبِى مَالِكٍ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ...وَالصَّلاَةُ نُورٌ ».

Artinya: “Abu Malik Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “…Dan shalat adalah cahaya…” HR. Muslim.
Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:


وهي في الآخرة نورٌ للمؤمنين في ظلمات القيامة ، وعلى الصراط ، فإنَّ الأنوارَ تُقسم لهم على حسب أعمالهم

Artinya: “Dan ia di akhirat menjadi cahaya bagi kaum berfirman di dalam kegelapan, dan di atas shirath, karena sesungguhnya cahaya-cahaya dibagikan kepada mereka sesuai dengan amalan-amalan mereka.” Lihat kitab Jami’ul Wa Al Hikam, 2/23.


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِى الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ».

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di kegelapan menuju masjid-masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab shahih Ibnu Majah, no. 781.
Berkata Abul Hasan Al Hanfy As Sindy:


هذا الحديث يشمل العشاء والصبح بناء على أنها تقام بِغَلَسِ اهـ

Artinya: “Hadits ini mencakup shalat Isya’ dan Shubuh, berdasarkan bahwa ia didirikan pada waktu gelap.” Lihat Kitab Syarah Ibnu Majah Al Qazwiny, karya Abul Hasan As Sindy, 1/262.


3. Selalu Menjaga Mengerjakan Shalat Jumat dan adab-adabnya serta berharap pahala dari mengumandangkan adzan


عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْعَثُ الْأَيَّامَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى هَيْئَتِهَا، وَيَبْعَثُ الْجُمُعَةَ زَهْرَاءَ مُنِيرَةً، أَهْلُهَا يَحُفُّونَ بِهَا كالْعَرُوسِ تُهْدَى، إِلَى كَرِيمها تُضِيءُ لَهُمْ، يَمْشُونَ فِي ضَوْئِهَا، أَلْوَانُهُمْ كالثَّلْجِ بَيَاضًا، وَرِيحُهُمْ تَسْطَعُ كَالْمِسْكِ يَخُوضُونَ فِي جِبَالِ الْكَافُورِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمُ الثَّقَلَانِ لَا يُطْرَفُونَ تَعَجُّبًا حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ، لَا يُخَالِطُهُمْ أَحَدٌ إِلَّا الْمُؤَذِّنُونَ الْمُحْتَسِبُونَ "

Artinya: “Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus hari-hari pada hari kiamat sesuai keadaannya, dan mengutus hari Jumat sebagai bunga yang bercahaya bagi yang para pelakunya, maka mereka berkumpul padanya seperti seorang pengantin yang diberikan kepada suaminya, ia (cahaya shalat Jumat) menerangi bagi mereka (para pelaku shalat Jumat, mereka berjalan pada cahayanya, warna-warna mereka seperti es yang putih, bau mereka menyebar seperti minyak wangi misk, yang menyatu pada gunung kafur, seluruh manusia dan jin melihat kepada mereka, mereka tidak menunduk saking kagumnya sampai mereka masuk ke dalam surga, tidak ada seorangpun yang mencampuri mereka kecuali orang-orang yang mengumandangkan adzan yang berharap pahala.” HR. Al Hakim dan Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1872.


4.    Bersedekah atau mengeluarkan zakat:


عَنْ أَبِى مَالِكٍ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ ».

Artinya: “Abu Malik Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “…Dan sedekah adalah burhan…” HR. Muslim.
Berkata Ibnu Rajab tentang makna (والصدقة برهان) “dan sedekah adalah Burhan”:


وأما الصدقة فهي برهان والبرهان: هو الشعاع الذي يلي وجه الشمس ومنه حديث أبي موسى أن روح المؤمن تخرج من جسده لها برهان كبرهان الشمس...الخ أهـ.

“Adapun Sedekah maka ia adalah Burhan dan Burhan adalah cahaya yang ada setelah mukanya matahari, diantara hadits yang menunjukkan makna ini adalah hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa ruhnya seorang yang beriman keluar dari jasadnya, memiliki cahaya seperti cahayanya matahari.” Lihat Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam, 2/23.


5.  Mempunyai sifat sabar ketika mendapat takdir-takdir Allah


عَنْ أَبِى مَالِكٍ الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ ».

Artinya: “Abu Malik Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “…Dan sabar adalah lentera…” HR. Muslim.
Berkata Ibnu Rajab rahimahullah:


هو النور الذي يحصل فيه نوع حرارة وإحراق كضياء الشمس بخلاف القمر، فإنه نور محض، فيه إشراق بغير إحراق، قال الله تعالى ( هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً ( [يونس: 5] ..الخ أهـ .

“Makna Dhiya’: Ia adalah cahaya yang terjadi di dalam semacam panas dan menyengat seperti cahaya matahari berbeda dengan bulan, sesungguhnya ia adalah cahaya melulu, di dalamnya penerangan tanpa penyengatan, Allah Ta’ala berfirman: “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” QS. Yunus. Lihat kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam, 2/23.


6. Membaca Surat Al Kahfi pada Hari Jumat


عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ ».

Artinya: “Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat niscaya akan diteri baginya dari cahaya di anatar dua Jumat.” HR. Al Baihaqi, Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6470.


7. Selalu membaca surat Al Baqarah dan surat Ali Imran


عَنْ أَبُي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ ».

Artinya: “Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Az Zahrawain; yaitu surat Al Baqarah dan Surat Ali Imran.” HR. Muslim.
Berkata Al Munawi tentang makna Az Zahrawain:


أي النيرتين، سميتا به لكثرة نور الأحكام الشرعية وكثرة أسماء اللّه تعالى فيهما، أو لهدايتهما قارئهما، أو لما يكون له من النور بسببها يوم القيامة، والزهراوين تثنية الزهراء تأنيث أزهر وهو المضيء الشديد بالضوء اهـ.

Artinya: “Maksudnya adalah dua yang bercahaya, keduanya dinamakan dengan ini karena banyaknya cahaya hokum-hukum syari’at dan banyaknya nama-nama Allah ta’ala di dalam keduanya, atau dikarenakan keduanya memberikan petunjuk kepada pembaca dua surat tersebut atau karena aka nada baginya dari cahaya disebabkannya pada hari kiamat, dan Az Zahrawain adalah bentuk ganda dari Az Zahra, yaitu bentuk female dari Azhar dan azhar artinya adalah yang menyinari dengan sinaran yang kuat.” Lihat Kitab Faidh Al Qadir Syarah Al Jami’ Ash Shaghir, 2/63. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Bersambung… Amalan Penghantar Cahaya di Atas Shirath, bag. 02 – Mengingat Neraka, bag. 04
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Jumat, 27 Syawwal 1433H, Dammam KSA.

"SHALAFUSH SHALIH BERTAKBIR DI 10 HARI DZULHIJJAH"

 

 

عَنْ مُجَاهِدٍ، قَالَ: " كَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَخْرُجَانِ أَيَّامَ الْعَشْرِ إِلَى السُّوقِ، فَيُكَبِّرَانِ، فَيُكَبِّرُ النَّاسُ مَعَهُمَا، لَا يَأْتِيَانِ السُّوقَ إِلَّا لِذَلِكَ "

 

 Artinya: “Mujahid rahimahullah berkata: “Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, pergi  menuju pasar, maka keduanya bertakbir dan orang-orang bertakbir bersama mereka berdua, keduanya tidak dating ke pasar kecuali untuk itu.” Lihat Kitab Akhbar Makkah, karya Al Fakihi, 3/10.

 

عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ: " كَانَ النَّاسُ يُكَبِّرُونَ أَيَّامَ الْعَشْرِ حَتَّى نَهَاهُمُ الْحَجَّاجُ " وَالْأَمْرُ بِمَكَّةَ عَلَى ذَلِكَ إِلَى الْيَوْمِ، يُكَبِّرُ النَّاسُ فِي الْأَسْوَاقِ فِي الْعَشْرِ

 

 Artinya: “Tsabit rahimahullah berkata: “orang-orang kebiasaan mereka bertakbir pada 10 hari pertama Dzulhijjah sampai mereka dilarang oleh Al Hajjaj”. Dan keadaan di kota Mekkah seperti itu sampai hari ini, orang-orang bertakbir di pasar-pasar di sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Lihat kitab Akhbar Makkah, karya Al Fakihi 2/373.

 

عَنْ مُجَاهِدٍ: أَنَّهُ " كَرِهَ الْقِرَاءَةَ فِي الطَّوَافِ أَيَّامَ الْعَشْرِ، وَيَسْتَحِبُّ فِيهِ التَّسْبِيحَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ، وَلَمْ يَكُنْ يَرَى بِهَا بَأْسًا قَبْلَ الْعَشْرِ وَلَا بَعْدَهَا "

 

Artinya: “Mujahid membenci membaca Al Quran di dalam thawaf tatkala sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan dianjurkan di dalamnya tasbih (ucapan subhanallah), tahlil (ucapan laa ilaaha illallah), takbir (ucapan Allahu Akbar), dan beliau menganggap tidak mengapa bertakbir sebelum dan sesuadah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Lihat kitab Akhbar Makkah, karya Al Fakihi, 1/225.

 

عَنْ مِسْكِينٍ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ مُجَاهِدًا ، وَكَبَّرَ رَجُلٌ أَيَّامَ الْعَشْرِ ، فَقَالَ مُجَاهِدٌ : أَفَلاَ رَفَعَ صَوْتَهُ ، فَلَقَدْ أَدْرَكْتُهُمْ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُكَبِّرُ فِي الْمَسْجِدِ فَيَرْتَجُّ بِهَا أَهْلُ الْمَسْجِدِ ، ثُمَّ يَخْرُجُ الصَّوْتُ إلَى أَهْلِ الْوَادِي حَتَّى يَبْلُغَ الأَبْطُحَ ، فَيَرْتَجُّ بِهَا أَهْلُ الأَبْطُحِ ، وَإِنَّمَا أَصْلُهَا مِنْ رَجُلٍ وَاحِدٍ.

 

Artinya: “Miskin Abu Hurairah rahimahullah berkata: “Aku telah mendengar Mujahid berkata, ketika ada seseorang bertakbir pada sepuluh hari terakhir, “Kenapa ia tidak mengangkat suaranya?, sungguh aku telah mendapati mereka (para shahabat) sesungguhnya seseorang benar-benar bertakbir di masjid maka seluruh penghuni masjid bergema dengan takbir, kemudian ia pergi menuju penduduk negeri, sampai kepada daerah Abthah, maka seluruh penduduk Abthah bergema dengan takbir, dan sesunguhnya asal takbir itu dari satu orang.” Lihat Kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/667.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

Video Terbaru

Pengunjung