Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Batasan Terakhir Hitungan Satu Raka'at

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Seseorang yang mendapati imam dalam keadaan ruku’ lalu dia ikut ruku’ bersama imam, maka orang ini telah dinyatakan telah mendapati satu rakaat. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama dari madzhab imam yang empat, Madzhab Hanafy, Maliky, Asy Syafi’ie dan Hanbaly, mereka berdalil dengan beberapa hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصَّلاَةِ رَكْعَةً فَقَدْ أَدْرَكَهَا»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang mendapati dari shalatnya satu rakaat maka dia telah mendapatkan (satu rakaat)nya.” HR. Ahmad

عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَرَسُولُ اللَّهِ رَاكِعٌ فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ فَلَمَّا قَضَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- صَلاَتَهُ قَالَ « أَيُّكُمُ الَّذِى رَكَعَ دُونَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ ». فَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ أَنَا. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ»

Artinya: Al Hasan meriwayatkan bahwa Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dating ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ruku’, lalu dia ruku’ sebelum masuk ke dalam shaf, setelah selesai shalat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah di antara kalian yang ruku’ sebelum mauk ke dalam shaf, kemudian dia berjalan menuju shaf?” Abu Bakrah menjawab: “Saya”, Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah menambahkan semangat padamu, tetapi jangan kamu ulangi.“ HR. Abu Daud.

Baca

Siapakah Mahram Wanita Muslimah?

Di antara kita ada yang belum mengetahui siapa sebenarnya "mahram" bagi setiap wanita muslimah. Tulisan sederhana ini akan menjelaskan siapakah "mahram" yang dimaksud.
 
 
 
 
 
 
 
Mahram wanita adalah suaminya, dan setiap laki-laki yang haram menikahinya, baik disebabkan karena pertalian darah atau pertalian persusuan atau pertalian perkawinan.


Mahram bagi wanita dari pertalian darah ada tujuh: 
 
1. Pokok-pokok pertalian darah; bapak dan kakek-kakeknya wanita dan terus ke atas, baik (kakek-kakek itu) dari pihak bapak atau pihak ibu wanita tersebut. 
 
2. Cabang-cabang pertalian darah, mereka adalah anak-anak lelakinya wanita dan cucu lelaki dari anak laki-lakinya wanita serta cucu lelaki dari anak perempuannya wanita dan terus ke bawah. 
 
3. Saudara-saudara lelakinya wanita, baik itu saudara sekandung atau sebapak atau seibu. 
 
4. A'mam (Paman-paman)nya wanita tersebut, baik itu paman-paman yang merupakan saudara-saudara lelaki kandung bapaknya wanita atau saudara-saudara lelaki sebapak dengan bapaknya wanita atau saudara-saudara lelaki seibu dengan bapaknya wanita tersebut dan baik mereka itu adalah paman-pamannya wanita tersebut atau pamannya bapak atau ibu wanita tersebut, karena paman seorang manusia adalah paman baginya dan keturunannya dan terus ke bawah
 
5. Akhwal (Paman-paman)nya wanita tersebut, baik itu paman-paman yang merupakan saudara-saudara lelaki kandung ibunya wanita atau saudara-saudara lelaki sebapak dengan ibunya wanita atau saudara-saudara lelaki seibu dengan ibunya wanita dan baik mereka itu adalah akhwalnya wanita tersebut atau akhwalnya bapak atau ibu wanita tersebut, karena khal seorang manusia adalah paman baginya dan keturunannya lalu terus ke bawah. 
 
6. Anak-anak lelaki dari saudara-saudara lelakinya wanita (keponakan) dan anak-anak lelaki dari keponakan (anak lelaki dari saudara lelakinya) wanita tersebut dan anak-anak lelaki dari keponakan (anak perempuan dari saudara lelakinya) wanita tersebut sampai terus ke bawah, baik mereka itu sekandung atau sebapak atau seibu
 
7. Anak-anak lelaki dari saudara-saudara perempuannya wanita (keponakan) dan anak-anak lelaki dari keponakan (anak lelaki dari saudara perempuannya) wanita tersebut dan anak-anak lelaki dari keponakan (anak perempuan dari saudara perempuannya) wanita tersebut sampai terus ke bawah, baik mereka itu sekandung, sebapak atau seibu.
    
Dan mahram-mahram sepersusuan seperti mahram-mahran dari pertalian darah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Aisyah radhiyallahu 'anha ketika beliau berhijab di depan pamannya sepesusuan yang bernama Aflah:
 
«لاَ تَحْتَجِبِى مِنْهُ فَإِنَّهُ يَحْرُمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يَحْرُمُ مِنَ النَّسَبِ»
 
Artinya: "Janganlah kamu berhijab darinya, karena sesungguhnya seseorang menjadi mahram dari sepersusuan sebagaimana mahram dari pertalian darah". Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.  
 
Dan Mahram dari pertalian perkawinan ada empat: 
 
1. Anak-anak lelaki dari suaminya wanita (anak tiri) dan anak-anak lelaki dari anak-anak lelaki suaminya wanita(cucu tiri) dan anak-anak lelaki dari anak-anak perempuannya suami wanita tersebut (cucu tiri). 
 
2. Bapak suaminya wanita (mertua) dan kakek-kakek suaminya baik dari pihak bapak atau pihak ibu dan terus ke atas. 
 
3. Suami anak perempuannya wanita (menantu) dan suami cucu (anak perempuan dari anak lelaki)nya wanita tersebut dan suami cucu (anak perempuan dari anak perempuan)nya wanita tersebut dan terus ke bawah. 
 
Tiga jenis ini tetap kemahramannya hanya dengan akad yang sah terhadap istri meskipun ia (suami) menceraikannya sebelum menggaulinya.  
 
4. Suami dari ibunya wanita (bapak tiri) dan suami neneknya dan terus ke atas, baik neneknya dari pihak bapak atau pihak ibu, akan tetapi tidak tetap kemahraman bagi mereka kecuali setelah menggauli, yaitu bersetubuh dengannya dengan nikah yang sah, jikalau seseorang menikahi seorang wanita kemudian ia ceraikan sebelum melakukan jima' maka ia tidak boleh menjadi mahram untuk anak-anak perempuan wanita tersebut. 
 
Jika lelaki itu mahram bagi wanita itu, maka  di sini beberapa ketentuan hukumnya:
 
Pertama, Berarti wanita itu tidak boleh dinikahi mahramnya: 
 
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا} [النساء: 23]
 
Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. An Nisa’: 23. 
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah
 
هذه الآية الكريمة هي آية تحريم المحارم من النسب، وما يتبعه من الرضاع والمحارم بالصهر
 
“Ayat yang mulia ini adalah ayat pengharaman mahram dari nasab dan apa saja yang mengikutinya dari persusuan dan mahram-mahram karena pernikahan.” Lihat kitab Tafsir Ibnu katsir. 
 
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
 
يحرم من النسب سبع ومن الصهر سبع
 
Diharamkan dari nasab tujuh orang dan dari pernikahan tujuh orang, kemudian beliau membaca: 
 
{حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ}
 
Kemudian beliau berkata:
 
فهن النسب
 
"Mereka itu yang diharamkan karena nasab (keturunan dan pertalian darah.” Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir. 
 
Kedua, berarti wanita itu boleh bersafar (bepergian) dengan mahramnya:
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - «لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ»
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seorang wanita bepergian kecuali bersamanya  mahram”. HR. Bukhari. 
 
Ketiga, berarti wanita itu boleh bersalaman dengan mahramnya:
 
معقل بن يسار يقول : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له.
 
Artinya: “Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sungguh ditusukkan ke dalam kepala salah seorang dari kalian dengan paku dari besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 5045.
 
Keempat, berarti wanita itu boleh membuka pakaian dalam keadaan yang biasa dibuka. 
 
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ } [النور: 31]
 
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” QS. An Nur: 31. 
 
Terjadi perbedaan pendapat tentang “kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.” 
1. Selendang dan pakaian kain mereka yang tidak mungkin tidak kelihatan. Dan ini pendapatnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
2. Wajah dan kedua tangannya serta cincin. Dan ini pendapatnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. 
3. Cincin dan anting. Dan ini pendapatnya Az Zuhry rahimahullah. (Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir).
 
Kelima, Berarti wanita  itu boleh berkumpul dengan mahramnya walau tanpa pembatas
 
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم - قَالَ «إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ» فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ. قَالَ «الْحَمْوُ الْمَوْتُ»
 
Artinya: “’Uqbah bin Amir radhiyalahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian memasuki tempat-tempat wanita”, lalu ada seorang lelaki dari kaum Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu tentang Alhamwu (kerabat suami)?”, beliau menjawab: “Al Hamwu (kerabat suami) adalah kematian.” QS. HR. Bukhari.
 
Keenam, berarti wanita itu boleh berdua-duaan dengan mahramnya
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلاَ تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَهَا مَحْرَمٌ» فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، اكْتُتِبْتُ فِى غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا ، وَخَرَجَتِ امْرَأَتِى حَاجَّةً . قَالَ «اذْهَبْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ»
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh seorang wanita  berdua-duaan dengan seorang lelaki dan tidak boleh sekali-kali seorang wanita bepergian kecuali bersamanya  mahram, lalu seorang lelaki berdiri dan bertanya: “Wahai Rasulullah, aku terdaftar pada peperangan ini dan ini sedangkan istriku keluar untuk menunaikan haji?”, beliau menjawab: “Pergi dan berhajilah bersama istrimu.” HR. Bukhari. 
 
Ketujuh, berarti wanita itu boleh dipandang oleh mahramnya
 
{قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ } [النور: 30، 31]
 
Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya.” QS. An Nur: 30-31.
 
Masih banyak ketentuan hukum yang lain, dan saya cukupkan supaya tidak terlalu panjang dan terutama karena keterbatasan ilmu. Wallahu a’lam.
 
*) Diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin dari kitab Manasikul Hajji wal 'Umrah karya Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah dengan beberapa penambahan.
 

 

Menuai Sengsara Akibat Menipu

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Hati-hati!!!
 
Jangan sampai menipu (mengoplos), karena Anda akan menuai sengsara baik di dunia ataupun akhirat. Perhatikan bagaimana sengsara yang dituai akibat menipu dan mengoplos dalam bentuk apapun;
 
Masuk ke dalam Neraka
 
Imam Bukhari rahimahullah berkata: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
«الْخَدِيعَةُ فِى النَّارِ، وَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ»
 
Artinya: “(Pelaku) tipuan di dalam neraka, barangsiapa yang beramal tidak ada contohnya dari perkara kami maka amalannya tertolak.” HR. Bukhari.
 
الجامع الصغير وزيادته (ص: 1168)
عن قيس بن سعد رضي الله عنه. قال رسول الله صلى الله وسلم: المَكْرُ وَ الْخَدِيْعَةُ فِي النَّارِ
 
Artinya: “Qais bin Saad radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Makar dan tipuan di dalam Neraka.” HR. Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6725.  
 
Bukan dari golongan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ» قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ «أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallampernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalamnya dan jari jemarinya mendapati basah, maka beliau bersabda: “Wahai pemilik makanan, apa ini?” pemilik makanan menjawab: “Terkena hujan wahai Rasulullah,” beliau menjawab: “Kenapa tidak kamu letakkan di atas makanan agar dilihat orang-orang, barangsiapa yang menipu maka bukan dariku.”HR. Muslim
 
Berkata Al Munawi rahimahullah:
 
أي ليس على منهاجي وطريقتي أو ليس بمتصل بي
 
“Bukan di atas metodeku, jalanku atau tidak ada hubungan denganku.” Lihat kitab At Taisir bi Syarh Al Jami’ Ash Shagir.
 
Berkata Al Mubarakfury rahimahullah:
 
وكان سفيان بن عيينة يكره تفسير مثل هذا أو يقول بئس مثل القول بل يمسك عن تأويله ليكون أوقع في النفوس وأبلغ في الزجر انتهى . وهو يدل على تحريم الغش وهو مجمع عليه.
 
Artinya: “Sufyan bin Uyainah senantiasa membenci menafsirkan seperti  (hadits-hadits seperti) ini atau beliau berkata: “Sangat buruk perkataan seperti ini, bahkan semestinya dia menahan ta’wilnya agar lebih menegan di dalam diri dan lebih dalam sebagai pemberi peringatan.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi.
 
Menipu dan mengoplos adalah sebuah perbuatan lalim dan kelaliman diancam dengan kegelapan pada hari kiamat.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ «الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kelaliman (akan berakibat) kegelapan pada hari kiamat.” HR. Bukhari.
 
Berkata An Nawawi rahimahullah:
 
قال القاضي قيل هو على ظاهره فيكون ظلمات على صاحبه لا يهتدي يوم القيامة سبيلا حتى يسعى نور المؤمنين بين أيديهم وبأيمانهم ويحتمل أن الظلمات هنا الشدائد وبه فسروا قوله تعالى قل من ينجيكم من ظلمات البر والبحر أي شدائدهما ويحتمل أنها عبارة عن الأنكال والعقوبات.
 
Artinya: “Al Qadhi berkata: “Dikatakan hadits ini sesuai dengan bentuk lahirnya, maka kegelapan bagi pelaku kelaliman, tidak bisa mendapat jalan pada hari kiamat sampai dia berusaha menggapai cahaya kaum beriman di depan mereka dan dan samping kanan mereka, bisa juga maksudnya adalah bahwa kegelapan disini adalah kesempitan-kesempitan, dan dengan inilah mereka menafsirkan firman Allah Ta’ala; “قُلْ مَنْ يُنَجِّيكُمْ مِنْ ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ }] Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, maksudnya benca-bencana, dan mungkin dimaksudkan dengan kegelapan adalah cobaan dan hukuman-hukuman.”  Lihat kitab Syarah Shahih Muslim.
 
Menipu dan mengoplos serta semisalnya adalah dusta dan berdusta akan mendapatkan wail
 
{ وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ} [المرسلات: 15]
 
Artinya: “Wail pada hari itu bagi orang-orang berdusta.” QS. Al Mursalat: 15.
Berkata Az Zajjaj:
 
هي كلمة تقال للعذاب والهلكة
 
“Wail adaah sebuah kata yang disebutkan untuk siksa dan kehancuran.” Lihat kitab Tafsir Al Qurthubi.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
والويل: الهلاك والدمار، وهي كلمة مشهورة في اللغة. وقال سفيان الثوري، عن زياد بن فياض: سمعت أبا عياض يقول: ويل: صديد في أصل جهنم. وقال عطاء بن يسار. الويل: واد في جهنم لو سيرت فيه الجبال لماعت.
 
Artinya: “Wail adalah kehancuran dan kebinasaan dan ia adalah kalimat yang dikenal dalam bahasa Arab, Sufyan Ats Tsaury berkata, meriwayatkan dari Ziyad bin Fayyadh: “Aku telah mendengar Abu Fayyad berkata: “Wail adalah nanah di dasar neraka Jahannam.” Berkata Atha bin Yasar: “Wail adalah lembah di dalam neraka Jahannam, jika dijalankan gunung-gunung di dalamnya maka nisacay akan meleleh.” Lihat kitab Tafirs Al Quran Al Azhim.
 
Yang menipu dan mengoplos telah menyelisihi perkara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamdan penyelisihan terhada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diancam sengsara di dunia dan akhirat.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - أَنَّ رَجُلاً ذَكَرَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ يُخْدَعُ فِى الْبُيُوعِ ، فَقَالَ «إِذَا بَايَعْتَ فَقُلْ لاَ خِلاَبَةَ»
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki menyebutkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam bahwa dia ditipu di dalam jual beli, beliau bersabda: “Jika engkau membeli maka katakana tidak ada penipuan.” HR. Bukhari.
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- «جُعِلَ رِزْقِى تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِى، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِى»
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rezekiku dijadikan di bawah naungan tombakku dan kehinaan dan kedinaan dijadikan atas siapa yang menyelisihi perkaraku.” HR. Bukhari dan Ahmad.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]
 
Artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” QS. An Nuur: 63.
 
Semoga setelah ini yang sudah menipu dan mengoplos serta semisalnya bertaubat dan yang akan memulai tidak jadi melakukannya.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 10 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA.

 

Nasehat Bagi Yang Mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam

Kadang-kadang sebagian kaum muslim yang berpendapat diperbolehkannya memperingati maulid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersandarkan pada beberapa syubuhat (alasan-alasan rancu), diantaranya: 

1. Anggapan mereka bahwa peringatan tersebut  merupakan bentuk pengagungan terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. 

Jawaban: "Sesungguhnya pengagungan terhadap beliau shallallahu 'alaihi wasallam dengan cara menta'ati beliau shallallahu 'alaihi wasallam, mengerjakan perintah beliau shallallahu 'alaihi wasallam, menjauhi larangan beliau shallallahu 'alaihi wasallam, bukan pengagungan beliaushallallahu 'alaihi wasallam dengan perbuatan bid'ah atau khurafat atau maksiat. 
  
Para shahabat Nabi Muhammad radhiyallahu 'anhum adalah manusia-manusia yang paling mengagungkan Nabi Muhammad  shallallahu 'alaihi wasallam dari seluruh manusia. Sebagaimana perkataan 'Urwah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu kepada orang-orang Quraisy:
 
أَىْ قَوْمِ، وَاللَّهِ لَقَدْ وَفَدْتُ عَلَى الْمُلُوكِ ، وَوَفَدْتُ عَلَى قَيْصَرَ وَكِسْرَى وَالنَّجَاشِىِّ وَاللَّهِ إِنْ رَأَيْتُ مَلِكًا قَطُّ ، يُعَظِّمُهُ أَصْحَابُهُ مَا يُعَظِّمُ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ - صلى الله عليه وسلم - مُحَمَّدًا ، وَاللَّهِ إِنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلاَّ وَقَعَتْ فِى كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ ، فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ ، وَإِذَا أَمَرَهُمُ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ ، وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ ، وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ …،

Artinya: "Wahai Kaum,  demi Allah, aku telah mendatangi para raja, Kaisar Romawi dan Kisra serta An Najasyi, demi Allah tidak pernah aku lihat seorangpun dari raja diagungkan oleh para pengikutnya lebih daripada pengagungan para shahabat Muhammad kepada Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, demi Allah, tidaklah beliau meludah kecuali ludah itu ditelapak tangan salah satu diantara mereka (para shahabat),  lalu dengan ludah tersebut ia mengusap wajah dan tubuhnya. Dan jika beliau perintahkan mereka maka langsung bergegas mereka kerjakan perintah beliau tersebut. Jika beliau berwudhu-' mereka hampir-hampir saling membunuh agar bisa berwudhu-' dari bekas air wudhu-' beliau. Jika berbicara, mereka merendahkan suara dihadapan beliau. Dan mereka tidak memandang beliau dengan leluasa karena penghormatan kepada beliau". HR. Bukhari, no. 2731 .
TETAPI, DENGAN PENGAGUNGAN SEDEMIKIAN RUPA MEREKA (PARA SHAHABAT radhiyallahu 'anhum) TIDAK MEMPERINGATI HARI KELAHIRAN BELIAU shallallahu 'alaihi wasallam DAN TIDAK BERKUMPUL ATASNYA.

2. Beralasan bahwa memperingati maulid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah amalan mayoritas kaum muslim di kebanyakan negara.
 
Jawaban: "Bahwa hujjah (landasan untuk beramal) adalah berdasarkan apa yang datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan yang telah datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah pelarangan berbuat bid'ah secara umum, dan peringatan maulid ini termasuk dari bid'ah tersebut.

Dan amalan manusia jika berselisihan dengan dalil maka bukanlah sebagai landasan dari sebuah amal shalih, meskipun mereka yang melakukannya jumlahnya banyak, Allah Ta'ala berfirman:
{وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ}

Artinya: "Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan mereka tidak lain hanyalah mengikuti perasangka belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)". QS. Al An'am: 116. 

3. Mereka mengatakan: "Peringatan maulid menumbuhkan perasaan untuk selalu mengingat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. 

Jawaban: "Bagi seorang muslim mengingat  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu berulang, dan selalu ingat dengan beliau setiap kali disebutkan nama beliau shallallahu 'alaihi wasallam, baik ketika adzan, iqamah, khotbah, setiap kali seorang muslim mengucapkannya setelah berwudhu', di dalam shalat, setiap kali bershalawat, setiap kali mengerjakan amal shalih yang wajib ataupun yang sunnah yang disyari'atkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jadi ia selalu mengingat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Demikianlah seorang muslim selalu memperbarahui ingatannya terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan selalu berkaitan dengan beliau shallallahu 'alaihi wasallam sepanjang siang dan malam, selama hidupnya dengan cara yang disyari'atkan oleh Allah shallallahu 'alaihi wasallam, tidak mengingatnya hanya pada hari kelahiran beliau saja.

Dan jika hal tersebut termasuk perbuatan bid'ah dan menyelisihi sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam maka hal tersebutpun menjauhkannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliaupun berlepas diri darinya.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak membutuhkan peringatan yang bid'ah ini, karena Allah Ta'ala sudah mensyari'atkan untuk mengagungkan beliau dan memuliakan beliau, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
{ وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ}

Artinya: "Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?". QS. Asy Syarh: 4.
Jadi, tidaklah disebut nama Allah Ta'ala ketika adzan, iqamah atau khuthbah kecuali disebutkan nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setelahnya dan cukuplah itu sebagai pengagungan dan kecintaan dan pembaharuan untuk selalu mengingatnya dan perintah untuk selalu mengikutinya.

Allah Ta'ala di dalam Al Quran tidak memuji beliau shallalahu 'alaihi wasallam dengan menyebutkan hari kelahiran beliau shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi Allah Ta'ala memuji beliaushallallahu 'alihi wasallam dengan menyebutkan pengutusan beliau (sebagai Nabi dan Rasul).Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ} [آل عمران: 164]

Artinya: "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri". QS. Ali Imran: 164.
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ}

Artinya: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka". QS. Al Jumah: 2.
 
4. Anggapan bahwa memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamtelah diprakarsai oleh raja yang adil dan alim yang bermaksud dengannya mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.
 
Jawaban: "Sebuah perbuatan bid'ah tidak diterima walau dari siapapun. Baiknya niat tidak bisa menjadikan amalan buruk menjadi amalan shalih, dan keberadaan ia sebagai seorang raja yang alim dan adil tidak menunjukkan akan lepasnya ia dari sebuah kesalahan, artinya ia tidak ma'shum.
 
5. Anggapan bahwa perayaan maulid termasuk dari bid'ah hasanah karena menunjukkan rasa syukur kepada Allah atas keberadaan seorang Nabi yang mulia ini!
 
Jawaban: "Tidak ada di dalam sebuah perbuatan bid'ah sesuatu yang hasanah, karena Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»

Artinya: "Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam perkara kami ini yang bukan darinya maka ia (amalan tersebut) tertolak". HR. Bukhari, no. 2697.
«إِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ»
Artinya: "Sesungguhnya setiap bid'ah itu sesat." HR. Ahmad, 4/126 dan Tirmidzi, no. 2676.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghukumi atas seluruh bid'ah bahwasanya ia adalah sesat lalu datang si fulan dengan enaknya ia mengatakan: "Tidak semua bid'ah itu sesat, tapi ada bid'ah hasanah!"

Berkata Al Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah di dalam Syarah Al Arba'in: "Dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam"Setiap bid'ah itu adalah sesat" adalah termasuk dari jawami'ul kalim (perkataan yang sedikit dan luas makna), tidak ada sesuatu apapun yang mengeluarkannya dan ia adalah pondasi yang agung daripada dasar-dasar pokok agama.
Dan sabda beliau ini sama persis dengan sabda beliau yang berbunyi, artinya:
«مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»

Artinya: "Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam perkara kami ini yang bukan darinya maka ia (amalan tersebut) tertolak". HR. Bukhari:2697.
Oleh karenanya, setiap orang yang membuat sesuatu yang baru dan diatas nama kan kepada agama, padahal tidak ada asal hukumnya dari agama Islam yang bisa dijadikan sandaran atasnya, maka hal tersebut adalah sesat dan agama Islam berlepas diri darinya, baik itu di dalam permaslahan akidah (kepercayaan), amalan atau perkataan baik yang zhahir ataupun yang batin. Lihat kitab Jami' Al Ulum wa Al Hikam, hal:233.

Jawaban lain: "Kenapa rasa syukur ini –sesuai dengan pendapat kalian- terlambat, karena tidak ada satu orangpun dari masa-masa yang mulia seperti masanya para shahabat radhiyallahu 'anhum, para tabi'in rahimahumullah yang mengerjakan seperti ini.

Padahal mereka adalah orang-orang yang paling mencintai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk melakukan amal shalih dan mengerjakan kesyukuran, apakah orang yang membuat peringatan maulid yang bid'ah ini lebih mendapat petunjuk dan lebih tinggi rasa syukurnya dari mereka (para shahabat dan para tabi'ain rahimahumullah)? Sungguh tidak akan pernah, sama sekali!" 
 
6. Alasan bahwa memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallammenumbuhkan rasa cinta kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan peringatan ini adalah salah satu realisasinya dan mencintai nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah sesuatu yang disyari'atkan di dalam agama Islam.
 
Jawaban: "Tidak diragukan lagi bahwa kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan kecintaan itu harus lebih besar daripada kecintaan kepada diri sendiri, anak, orangtua dan seluruh manusia,
Sungguh bapakku dan ibuku sebagai jaminan untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallamtetapi bukan berarti kita membuat bid'ah di dalam perkara kecintaan ini, dengan suatu yang tidak pernah disyari'atkan oleh beliau shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita.
Akan tetapi kecintaan kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam melazimkan keta'atan dan pengikutan diri kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal yang paling agung dari perealisasian kecintaan kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam,sebagaimana dikatakan:
لو كان حبك صادقاً لأطعته         إن المحب لمن يحب مطيع

"Jikalau kecintaanmu benar maka sungguh anda akan menta'atinya"#
                      "Sesungguhnya orang yang mencintai taat terhadap orang yang dicintai"
 
Jadi, kecintaan kepada beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengharuskan untuk menghidupkan sunnah-sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam, berpegang teguh seerat-eratnya dengannya dan menjauhi hal-hal yang menyelisihinya baik berupa perkataan ataupun perbuatan.
Tidak diragukan lagi bahwa setiap yang menyelisihi sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam adalah termasuk dari perbuatan bid'ah yang tercela dan maksiat yang nyata, termasuk di dalamnya berkumpul memperingati maulid beliau shallallahu 'alaihi wasalam dan yang lainnya dari bentuk-bentuk perbuatan bid'ah.

Niat yang baik tidak menjadikan kita membuat bid'ah di dalam agama Islam ini, karena agama ini dibangun di atas dua pondasi: ikhlash dan mutaba'ah (mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), Allah Ta'ala berfirman:
{بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ}

Artinya: "(Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia berbuat ihsan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". QS. Al Baqarah:112.

Disini, penyerahan diri adalah ikhlash kepada Allah dan perbuatan ihsan adalah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sesuai dengan sunnah.
 
7. Anggapan bahwa di dalam perayaan maulid dan pembacaan sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terdapat ajakan untuk mensuri tauladani beliau shallallahu 'alaihi wasallam!
 
Jawaban: "Sesungguhnya pembacaan sejarah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan mencontoh beliau adalah perkara yang diminta dari seorang muslim selalu, sepanjang tahun dan sepanjang umur, sedangkan pengkhususan pembacaan sirah beliau shallallahu 'alaihi wasallamdan mencontoh beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada hari yang tertentu tanpa ada dalil yang menunjukkan akan pengkhususan hal tersebut maka ia akan menjadi suatu perbuatan bid'ah, "Dan setiap bid'ah adalah sesat". HR. Ahmad, 4/164 dan Tirmidzi, no. 2676.

Dan bid'ah tidak menghasilkan kecuali keburukan dan menjauhkan dari Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam.
 
Akhirnya: bahwa berkumpul untuk memperingati maulid nabawi dengan segala macam bentuknya dan perbedaan caranya, adalah sebuah perbuatan bid'ah yang mungkar wajib atas kaum muslimin melarangnya dan melarang bid'ah-bid'ah lainnya.
 
Dan hendaklah menyibukkan diri dengan menghidupkan sunnah beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan berpegang teguh dengannya. Dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebarkan bid'ah ini dan membelanya. Sesungguhnya orang-orang seperti ini perhatiannya hanyalah menghidupkan perbuatan-perbuatan bid'ah lebih besar daripada menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, atau mungkin tidak memperhatikan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sama sekali. 
Dan barangsiapa yang golongannya seperti ini maka tidak pantas untuk diikuti dan dijadikan contoh meskipun mereka adalah kebanyakan dari manusia. Sesungguhnya pengikutan hanya kepada orang yang berjalan di atas sunnah dari para ulama Salaf Ash Shalih dan para pengikut mereka meskipun jumlah mereka sedikit. Karena KEBENARAN ITU TIDAK DIKENAL KARENA ORANG-ORANGNYA, AKAN TETAPI ORANG-ORANG DIKENAL KARENA KEBENARAN YANG ADA DI DALAM DIRI MEREKA.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلاَلَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ».

Artinya: "Sesungguhnya yang hidup dari kalian (sepeninggalku) akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka hendaklah kalian memegang sunnahku dan sunnah khalifah rasyidah yang diberi petunjuk setelahku dan gigitlah ia dengan gigi graham kalian dan jauhilah kalian perkara-perkara yang baru karena setiap yang bid'ah itu sesat." HR. Ahmad dan Timidzi.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita di dalam hadits yang mulia ini kepada siapa kita bersuri tauladan ketika terjadi perselisihan, sebagaimana beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa setiap apa saja yang menyelisihi sunnah baik itu berupa perkataan, perbuatan maka hal tersebut adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat.

Dan jika kita perhatikan dengan teliti, memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak kita dapatkan landasan hukumnya di dalam sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan juga tidak kita dapatkan di dalam sunnah para Khalifah Rasyidah, kalau begitu, ia adalah termasuk dari perkara-perkara yang baru dan termasuk dari perbuatan-perbuatan bid'ah yang menyesatkan. Dan pondasi inilah yang terdapat dalam hadits ini telah ditunjukkan oleh Firman Allah:
{فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا}

Artinya: "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". QS. An Nisa:59.
Maksud dari kembali kepada Allah adalah kembali kepada kitab-Nya yang mulia dan maksud dari kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah kembali kepada sunnah-sunnah beliau setelah wafatnya beliau, jadi Al Quran dan As Sunnah keduanya adalah referensi (tempat rujukan) ketika ada perbedaan pendapat. Dan dimanakah di dalam Al Quran dan As Sunanh yang menunjukkan atas disyari'atkannya memperingati maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam? Oleh sebab itu, merupakan kewajiban bagi yang mengerjakannya atau yang menganggap baik perbuatan tersebut untuk bertaubat kepada Allah shallallahu 'alaihi wasallam dari perbuatan tersebut dan dari perbuatan-perbuatan bid'ah lainnya.

Demikianlah sikap seorang yang beriman yang mencari kebenaran, sedangkan orang yang sombong dan congkak setelah ditegakkan hujjah maka perhitungannya (atas perbuatannya) dihadapan Allah Ta'ala.

Demikianlah, kita berdoa kepada Allah Ta'ala agar memberikan anugerah kepada kita, untuk selalu berpegang teguh dengan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya sampai hari kita bertemu dengan-Nya. Dan semoga shalawat dan salam serta berkah atas Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, para kerabat beliau dan para shahabatnya. wallahu a'lam.
 
Diterjemahkan dari tulisan Syeikh Al 'Allamah Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah (Anggota Majelis Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi), dari judul asli: حكم لاحتفال بذكرى المولد النبويoleh: Ahmad Zainuddin

 

 

Hidup Sehat Dengan Mengamalkan Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
 
Amalkan sunnah maka hidup sehat menanti Anda, benarkah? Tidak diragukan, Islam adalah agama yang mengajarkan hidup sehat. Jika selama ini ada slogan yang terkenal "pencegahan lebih baik dari pengobatan,"  ternyata sejak empat belas abad yang lalu aplikasi dari slogan itu telah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanamkan kepada para shahabatnya. Mari perhatikan hal-hal berikut:





a)  Menjaga kebersihan dan kesucian:

 
 
{ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4]
 
 
Artinya: “Dan pakaianmu bersihkanlah.” QS. Al Mudatstsir: 4.

 

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata:

 
 
{ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ } أي: اغسلها بالماء.
 
 
“Maksud “Dan pakaianmu bersihkanlah” adalah basuhlah dengan air.”

 

Ibnu Zaid rahimahullah berkata:

 
 
كان المشركون لا يتطهرون، فأمره الله أن يتطهر، وأن يطهر ثيابه.
 
 
“Dahulu orang-orang musyrik kebiasaan mereka tidak bersuci, maka Allah memerintahkan agar bersuci dan membersihkan pakaiannya.” Lihat tafsir Al Quran Al Azhim.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ayat ini mencakup seluruh perkara itu bersamaan dengan kesucian hati.” Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim di dalam ayat ini.

 
 
عَنْ أبي مالِكٍ الأشْعَريِّ - رضي الله عنه - قالَ :قالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( الطُّهورُ شَطْرُ الإيمانِ ،)). رواه مسلم
 
 
Artinya: “Abu malik Al Asy‘ary radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Bersuci adalah setengah dari keimanan.” HR. Muslim

 

Berkata Ibnu Al Atsir rahimahullah:
 
 
لأنَّ الإيمانَ يُطهِّر نجاسةَ الباطن والطَّهورَ يُطهِّر نجاسة الظاهر
 
 

Artinya: “Karena keimanan membersihkan kotorannya batin dan bersuci dengan air membersihkan kotoran lahir.” Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib Al Hadits.

 
 
عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: طهروا هذه الأجساد طهركم الله فإنه ليس عبد يبيت طاهرا إلا بات معه ملك في شعاره لا ينقلب ساعة من الليل إلا قال : اللهم اغفر لعبدك فإنه بات طاهرا.
 
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersihkanlah jasad-jasad ini semoga Allah membersihkan kalian, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba bermalam suatau malam dalam keadaan suci melainkan seorang malaikat akan bermalam bersamanya di dalam selimutnya, tidaklah dia bergerak pada suatu waktu dari malam melainkan malaikat itu berdoa: “Wahai Allah, ampunilah untuk hamba-Mu sesungguhnya dia tidur malam dalam keadaan suci.” HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kita shahih Al Jami’, no. 3936.

 

b) Mandi

 
 
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال « حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِى كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ يَوْمًا يَغْسِلُ فِيهِ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ»
 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wajib bagi setiap muslim untuk mandi di setiap tujuh hari, sehari dia membasuh kepada dan badannya di dalamnya.” HR. Ibnu Hibban dan Bukhari.

 

Maksud hadits adalah: suatu kelaziman dan keharusan bagi setiap muslim minimal dalam seminggu dia harus mandi membersihkan kotoran di tubuhnya dan kepalanya, dan yang dimaksud sehari disini adalah hari Jumat sebagaimana dalam beberapa riwayat seperti riwayat Imam Ahmad dan Ath Thahawy.

 

c) Menghilangkan kotoran, bakteri dan kuman dengan memotong kuku, menghabiskan bulu ketiak, bulu kemaluan, berkhitan, menipiskan kumis

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ - أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ - الْخِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ»
 
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Fitrah ada lima atau lima perkara dari fitrah; berkhitan, menghabiskan bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menipiskan kumis.” HR. Bukhari dan Muslim.

 

Makna fitrah di dalam hadits adalah: asli penciptaan, agama, dan sunnah (syariat Islam).

 

Imam An Nawawi rahimahullah berkata:

 
 
. قَالَ النَّوَوِيّ وَتَفْسِير الْفِطْرَة هَاهُنَا بِالسُّنَّةِ هُوَ الصَّوَاب؛ لأنَّهُ وَرَدَ فِي رِوَايَة مِنْ السُّنَّة قَصُّ الشَّارِب وَنَتْف الإبِط وَتَقْلِيم الأظْفَار، وَأَصَحُّ مَا فُسِّرَ بِهِ غَرِيب الْحَدِيث تَفْسِيره بِمَا جَاءَ فِي رِوَايَة أُخْرَى اِنْتَهَى.
 
 
Artinya: “Tafsiran Al Fithrah dengan makna As Sunnah adalah pendapat yang benar, karena diriwayatkan dari sunnah bahwa menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak atau memotong kuku-kuku, dan tafsiran yang paling benar di dalam menfsirkan kata-kata yang sing di dalam hadits adalah dengan riwayat lain.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.

 

Maksudnya adalah siapa yang mengerjakan 5 hal ini maka dia dia atas keaslian yang Allah ciptakan atasnya dan perintahkan kepadanya, berkata As Suyuthi rahimahullah:

 
 
وَقَالَ أَبُو شَامَة أَصْل الْفِطْرَة الْخِلْقَة الْمُبْتَدَأَة ، وَالْمُرَاد بِهَا هُنَا أَنَّ هَذِهِ الأشْيَاء إِذَا فُعِلَتْ اِتَّصَفَ فَاعِلُهَا بِالْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ الله الْعِبَاد عَلَيْهَا وَحَثَّهُمْ عَلَيْهَا وَاسْتَحَبَّهَا لَهُمْ لِيَكُونُوا عَلَى أَكْمَل الصِّفَات وَأَشْرَفهَا صُورَة
 
 

Artinya: “Berkata Abu Syamah: asal kata fithrah adalah ciptaan yang asal, dan maksudnya di dalam hadits ini adalah bahwa perkara ini jika dilakukan maka pelakunya telah bersifat fitrah yang Allah fithrahkan kepada hamba-hamba-Nya, dan perintahkan serta anjurkan untuk itu kepada mereka agar mereka berada dalam sifat yang sempurna dan rupa yang paling mulia.” Lihat kitab Hasyiyah As Suyuthi atas kitab Sunan An Nasai.

d) Mencuci tangan terutama setelah bangun tidur

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ».
 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke bejana sampai dia membasuhnya tiga kali, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui dimanakah tangannya bermalam.” HR. Muslim.

 

e) Pola dan tata cara makan

 

Perut sumber penyakit:

 
 
الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِيكَرِبَ رضي الله عنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «مَا مَلأَ آدَمِىٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الآدَمِىِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتِ الآدَمِىَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ». ابن ماجه
 
 
Artinya: “Al Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang manusia mengisi sebuah tempat yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi seorang manusia beberapa suapan yang menegakkan punggungngya, dan jika hawa nafsunya mengalahkan manusia, maka 1/3 untuk makan dan 1/3 untuk minum dan 1/3 untuk bernafas.” HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2265.

 

Membagi minuman atau Bernafas ketika minum

 
 
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ الله -صلى الله عليه وسلم- يَتَنَفَّسُ فِى الشَّرَابِ ثَلاَثًا وَيَقُولُ « إِنَّهُ أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ»
 
 

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bernafas ketika minum sebanyak tiga kali, beliau bersabda: “Sesungguhnya ini lebih Arwa (menghilangkan haus), Abra (melepaskan penyakit) , Amra .” HR. Bukhari dan Muslim.

 

Bernafas ketika minum artinya adalah: ketika minum beliau bernafas, kemudian minum lagi kemudian bernafas kemudian minum lagi dan bernafasnya dilakukan diluar tempat minumnya.

 

Makna Arwa, Abra, Amra:

 

Berkata AL Mubarakfury rahimahullah:
 

قَالَ النَّوَوِيُّ مَعْنَى أَبْرَأُ أَيْ أَبْرَأُ مِنْ أَلَمِ الْعَطَشِ وَقِيلَ أَبْرَأُ أَيْ أَسْلَمَ مِنْ مَرَضٍ أَوْ أَذًى يَحْصُلُ بِسَبَبِ الشُّرْبِ فِي نَفْسٍ وَاحِدٍ انْتَهَى
 
 
وَقَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ أَبْرَأُ بِالْهَمْزِ مِنَ الْبَرَاءَةِ أو من البرء أي يبرىء مِنَ الْأَذَى وَالْعَطَشِ وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَبِي دَاوُدَ أَهْنَأُ بَدَلَ قَوْلِهِ أَرْوَى مِنَ الْهَنَأِ
 
 
قال والمعنى أنه يصير هنيا مريا بريا أَيْ سَالِمًا أَوْ مَبْرِيًّا مِنْ مَرَضٍ أَوْ عَطَشٍ وَيُؤْخَذُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّهُ أَقْمَعُ لِلْعَطَشِ وَأَقْوَى عَلَى الْهَضْمِ وَأَقَلُّ أَثَرًا فِي ضَعْفِ الأعْضَاءِ وَبَرْدِ الْمَعِدَةِ.انْتَهَى كَلامُ الْحَافِظِ .

 

Artinya: “An Nawawi berkata: “Makna Abra adalah lebih cepat sembuh dari penyakit bersin dan di katakana pendapat lain makna Abra adalah lebih selamat dari penyakit apapun atau gangguan apapun yang terjadi akibat minum dalam satu kali nafas.”
 

Al Hafizh di dalam kitab Al Fath berkata: “Abra dengan huruf hamzah di depannya berasal dari terlepas dari penyakit, pilek dan terdapat di dalam riwayat Abu Daud Ahnaa sebagai gentian dari Arwa, yang berarti kenyamanan,”
 

Beliau juga berkata: “dan maknanya dia menjadi selamat atau terlepas dari penyakit atau pilek dan diambilkan dari itu bahwa dia kebih menghilangkan bersin dan lebih kuat untuk pencernaan dan lebih sedikit memberi pengaruh pada kelemahan anggota tubuh dan dinginnya lambung.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi.

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ وابن عباس- رضى الله عنهم - نَهَى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُشْرَبَ مِنْ فِى السِّقَاءِ.
 
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk minum dari mulut teko.” HR. Bukhari.

 

Ditakutkan dari minum dengan cara seperti ini ada sebuah kotoran atau binatang yang keluar dari mulut teko tersebut tanpa diketahui sebelumnya, apalagi jika tekonya berwarna gelap atau tidak bisa dilihat apa yang ada di dalam teko tersebut.

 

Ayyub rahimahullah berkata:
 
 
فَأُنْبِئْتُ أَنَّ رَجُلاً شَرِبَ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَخَرَجَتْ حَيَّةٌ.
 
 
Artinya: “Aku pernah diceritakan bahwa seseorang minum dari mulut teko lalu yang keluar adalah ular.” HR. Ahmad.

 
 
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِى الشُّرْبِ. فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِى الإِنَاءِ قَالَ «أَهْرِقْهَا». قَالَ فَإِنِّى لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ « فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ».
 
 

Artinya: “Abu Said Al Khudry radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk meniup di dalam minuman, maka seseorang berkata: “Ada kotoran yang aku lihat di dalam tempat minuman?”, beliau bersabda: “Tumpahkanlah dia”. Lalu lelaki itu berkata lagi: “Sesungguhnya aku tidak puas minum jika tidak dari satu nafas?”, beliau bersabda:“Kalau begitu, jauhkanlah teko dari mulutmu,” HR. Tirmidzi.

 

Di dalam kitab Zaad Al Ma’ad karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah banyak sekali disebut gaya makan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti:

- minum madu yang sudah dicampur dengan air dingin
- makan manisan dicampur dengan madu
- menyukai daging unta, kambing, ayam, keledai liar, kelinci, sea food.
- menyukai daging bakar
- mencampur antara ruthab (kurma matang yang segar) dengan tamr (kurma kering)
- makan kurma dengan roti
- minum susu murni atau yang sudah dicampur
- makan semangka dicampur dengan kurma ruthab
- makan roti dicampur dengan cuka
- dan lain-lainnya.

 

f) Menyikat gigi dan membersihkan mulut

 
 
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ».
 
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siwak membesihkan mulut dan mendatangkan keridhaan untuk Rabb.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, 3695.

 
 
عَنْ أَبَي هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ «لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِى لأَمَرْتُهُمْ كل صلاة بوضوء ومع كل وضوء بِسِّوَاكِ»
 
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jikalau aku tidak memberatkan atas umatkau maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat dengan wudhu dan setiap kali wudhu.” HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 200.

 

g) Menutup tempat makanan dan minuman yang terisi

 
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِى السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ ».
 
 
Artinya: “Jabi radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tutuplah tempat-tempat makanan, tempat-tempat minuman karena sesungguhnya di dalam setahun ada sebuah malam yang turun di dalamnya wabah penyakit tidak dia melewati sebuah tempat makanan atau minuman yang tidak tertutup, atau tidak ada penghalang di atasnya melainkan turun di dalamnya dari wabah penyakit tersebut.” HR. Muslim.

 

h) Menjaga kebersihan lingkungan

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «اتَّقُوا اللاَّعِنَيْنِ» قَالُوا وَمَا اللاَّعِنَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ «الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ»
 
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jauhilah  dua perkara yang mendatangkan laknat”, para shahabat radhiyallahu ‘anhu bertanya: “Apakah dua perkara yang mendatangkan laknat, wahai Rasulullah?”, beliau bersabda:“Yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduh mereka.” HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2348.

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ مِنْهُ».
 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian sekali-kali pernah kencing di air yang menggenang kemudian dia mandi darinya.” HR. Bukhari dan Muslim.

 
 
عن سعد رضي الله عنه يقول قال رسول االله صلى الله عليه وسلم (طهروا أفنيتكم فإن اليهود لا تطهر أفنيتها)
 
 
Artinya: “Dari Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Bersihkanlah pekarangan kalian karena sesungguhnya kaum yahudi tidak membersihkan pekarangan mereka.” HR. Ath Tahbarani dan dihasankan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3935.

Kawan pembaca…

 

Amalkan sunnah maka hidup sehat menanti Anda, dengan kehendak Allah Ta’ala.

 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu, 5 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA.
 
DENGARKAN KAJIAN MP3 TENTANG TATA CARA BERSUCI DI SINI

 

 

Bosan Konflik, Bukan Berarti Harus Mendiamkan Kemungkaran

Ketahuilah wahai kawanku…

 
Semenjak Allah membiarkan Iblis untuk menganggu manusia sampai hari dibangkitkannya manusia, maka semenjak itu pula proses pertarungan antara kebenaran dan kebatilan selalu ada.
 
 
{قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (81) قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)} [ص: 79 83]
 
 
Artinya: “Iblis berkata: Wahai Rabbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan. Allah berfirman: Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat). Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shod: 79-83)

 
 
{ قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14) قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15) قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17) قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ (18)} [الأعراف: 14 18]
 
 
Artinya:

“Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan."

“Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”

“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

“Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya." (Al-'Araf: 14-18)

 
 
{ قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (38) قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (41) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (42) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43)} [الحجر: 36 43]
 
 
Artinya:

“Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan."

“Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

“Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan."

“Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”

“Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."

“Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).”

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”

“Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya.” (Al-Hijr: 43-46)

 

 

Ketahuilah wahai Kawanku…
 

Coba perhatikan ayat-ayat di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran:

Pertama, Iblis bersumpah dengan kekuasaan Allah bahwa dia akan melencengkan manusia seluruhnya dari jalan Allah. 
Kedua, Iblis bersumpah bahwa akan mengganggu dari depan, belakang, kanan dan kiri. 
Ketiga, Akan terjadi pertarungan hebat antara iblis dan pengikutnya dengan hamba Allah, orang-orang ikhlas dan pandai bersyukur.

 
Ketauhilah wahai kawanku…

Bersatu tidak diperintahkan kecuali di atas kebenaran:

Allah berfirman:
  
{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]
 
 
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” QS. Al Maidah: 2.

Allah Ta’ala befirman:
  
{ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ الله جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ الله لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103) وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 103 105]
 
 
Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” QS. Ali Imran: 103-105.
 

Lihat ayat- ayat yang mulia ini begitu jelas menerangkan dan keterkaitan antara persatuan dengan Amar ma’ruf Nahi Mungkar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
 
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ».
 
 
Artinya: “Sesungguhnya siapa yang hidup dari kalian sepeninggalkanku maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka hendaknya kalian berpegang tegung kepada sunnahku dan sunnah kahlifah yang diberi petunjuk dan yang baik, berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi graham kalian dan jauhilah perbuatan yang mengada-ada karena sesungguhnya setiap yang mengada-ada adalah bid’ah dan setiap bid’ah sesat.” HR. Abu Daud.
 
Ketauhilah wahai kawanku…

  1. Keimanan tidak akan pernah berkumpul dengan kesyirikan
  2. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah berkumpul dengan sikap penentangan kepada Allah dan rasul-Nya.
  3. Keimanan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul dan nabi paling terkahir tidak akan pernah berkumpul dengan keyakinan bahwa ada Nabi setelah nabi Muhammad shalallallahu ‘alaihi wasallam.
  4. Keimanan bahwa ajaran islam sempurna, tidak butuh tambahan, tidak akan pernah berkumpul dengan keyakinan masih ada bidah hasanah.
  5. Keimanan bahwa Al Quran yang ditangan kaum muslim sekarang sempurna tidak akan berkumpul dengan keyakinan bahwa Al Quran sekarang masih 1/3 dan akan dibawa oleh Imam Mahdi mereka 2/3nya. 
  6. Keimanan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa orang pilihan yang tepat dari Allah  dengan keyakinan bahwa pemilihan nabi itu keliru semestinya bukan yang namanya Muhammad.
  7. Keimanan bahwa Istri-istri nabi radhiyallahu ‘anhunna adalah istri beliau di dunia dan diakhirat dengan keyakinan bahwa sebagian istri nabi murtad setelah nabi shallallahu ‘alaihi wasallamwafat dan tukang zina.

Hanya ada satu cara untuk menjadi adikuasa di bumi, terdepan dalam segala hal…

Hanya ada satu cara untuk terlepas dari ketakutan, musibah, bencana, yaitu…

Selalu menyembah Allah Ta'ala dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Nya
 
 
{وَعَدَ الله الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ} [النور: 55]
 
 
Artinya: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.  Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". QS. An-Nur: 55.

 

Semoga nasehat ini bermanfaat bagi yang menulis dan bagi yang tidak suka konflik tetapi mendiamkan kemungkaran.

 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 2 Rabi’ul Awwal 1433H, Dammam KSA.
 
DENGARKAN KAJIAN MP-3 TENTANG FIKIH AMR MA'RUF NAHI MUNGKAR DI SINI

 

 

Jangan Remehkan Sholat (Bag 3) Habis

Demi Allah, tulisan ini bukanlah arena untuk mencela, menghina, menghujat, mencaci, melaknat orang-orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Tulisan ini saya tujukan kepada orang yang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat, atau mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian atau orang yang meyakini bahwa shalat itu tidak wajib. 


Buruk dan kejinya siksa akhirat untuk orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
- Siksa bagi yang meninggalkan shalat; kepalanya dilempari dengan batu terus menerus.
 
سَمُرَةُ بْنُ جُنْدَبٍ -رضى الله عنه- قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا» قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ «إِنَّهُ أَتَانِى اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِى، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِى انْطَلِقْ. وَإِنِّى انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ، فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى. قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ.
 
Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering bertanya kepada para shahabatnya: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang bermimpi?”, maka berceritalah yang ingin bercerita (tentang mimpinya). Dan pada suatu pagi beliaushallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tadi malam telah datang kepadaku dua tamu, mereka mengajakku keluar dan berkata kepadaku: “Ayo jalan”, lalu akupun pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang yang lagi berbaring terlentang dan seorang lagi berdiri sambil memegang sebongkah batu, ia melemparkan batu tersebut ke kepalanya (orang yang berbaring terlentang tadi), batu tadi akhirnya memecahkan kepalanya dan batu tersebut menggelinding kesana kemari, lalu ia mengikuti batunya dan mengambilnya, tidaklah ia kembali kepada orang yang  berbaring terlentang tadi sampai kepalanya kembali seperti semula, kemudian ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi dan mengulangi perbuatannya, seperti yang ia lakukan ketika pertama kali. Lalu aku bertanya kepada dua yang membawaku: “Maha suci Allah, Apa yang mereka berdua ini lakukan?”…,
 
Di akhir cerita dalam hadits ini disebutkan:
 
قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّى قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا ، فَمَا هَذَا الَّذِى رَأَيْتُ قَالَ قَالاَ لِى أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ ،
 
“Aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata kepada dua orang yang membawaku: “Sungguh malam ini aku telah melihat sesuatu yang sangat menakjubkan, kiranya apakah yang telah aku lihat?”, dua orang ini menjawab: “Sungguh kami akan memberitahukanmu, adapun orang pertama yang engkau datangi, yang kepalanya dipecahkan dengan batu, dialah yang mengambil Al Quran lalu membuangnya dan tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib, …”. HR. Bukhari.
 
Maksud dari "Mengambil Al Quran lalu membuangnya"Meninggalkan hafalan Al Quran dan tidak mengamalkan maknanya. Lihat Syarh Shahih Al Bukhari, karya Ibnu Baththal, Umdat Al Qari, karya Badruddin Al 'Ainy.
 
Maksud dari "Tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib": Melalaikan shalat sehingga keluar waktunya. Lihat Syarh Shahih Bukhari, karya Ibnu Baththal.
 
- Orang yang di dunia tidak sujud, di akhirat juga tidak akan pernah mampu sujud.
 
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ -- القلم 42-43
 
Artinya: "Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa". "(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sehat".QS. Al Qalam: 42-43.
 
Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata:
 
ولما دعوا إلى السجود في الدنيا فامتنعوا منه مع صحتهم وسلامتهم كذلك عوقبوا بعدم قدرتهم عليه في الآخرة، إذا تجلى الرب، عز وجل، فيسجد له المؤمنون، لا يستطيع أحد من الكافرين ولا المنافقين أن يسجُد، بل يعود ظهر أحدهم طبقًا واحدًا، كلما أراد أحدهم أن يسجد خَرّ لقفاه، عكس السجود، كما كانوا في الدنيا، بخلاف ما عليه المؤمنون. [تفسير ابن كثير 8/ 200]
 
Artinya: "Dan tatkala mereka diajak untuk sujud di dunia mereka menolaknya, padahal mereka dalam keadaan sehat dan selamat, maka demikianlah mereka disiksa, yaitu dengan tidak mampu untuk melakukannya di akhirat. Jika Allah Azza wa Jalla menampakkan dirinya, maka orang-orang beriman akan sujud kepada-Nya dan tidak ada seorangpun dari orang kafir dan munafik mampu untuk sujud, tetapi punggung mereka kembali menjadi satu bagian, setiap kali salah seorang dari mereka ingin sujud, maka (punggungnya) akan kembali kepada lehernya, kebalikan dari sujud, sebagaimana mereka ketika di dunia, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.
 
Al Wahidi rahimahullah (w: 468H) berkata:
 
قال المفسرون: يسجد الخلق كلهم لله سجدة واحدة ، ويبقى الكفار والمنافقون يريدون أن يسجدوا فلا يستطيعون؛ لأن أصلابهم تيبست فلا تلين للسجود.
 
"Para Ahli Tafsir berkata: "Seluruh makhluk akan sujud kepada Allah secara bersama-sama, yang tertinggal orang-orang kafir, munafik, mereka ingin sujud akan tetapi tidak bisa sujud, karena punggung mereka mengeras, tidak lemah untuk sujud.
 
{وَقَدْ كَانُواْ يُدْعَوْنَ إِلَى السجود} أي في الدنيا {وَهُمْ سالمون} أي معافون عن العلل متمكنون من الفعل.
 
Maksud "Dan sesungguhnya mereka dahulu diseru untuk bersujud", yaitu ketika di dunia.
 
Maksud "dan mereka dalam keadaan sehat" : yaitu mereka terlepas dari penyakit, memungkinkan mereka untuk melaksanakannya.
 
Berkata Ibrahim At Taimy rahimahullah (w: 153H):
 
يدعون بالأذان والإقامة فيأبون
 
"Mereka diseru dengan adzan dan iqamah tertapi mereka enggan (mendatanginya)".
 
Berkata Sa'id bin Jubair rahimahullah (w: 95H):
 
يسمعون حيّ على الفلاح ، فلا يجيبون
 
"Mereka mendengar حي على الفلاح tetapi mereka tidak mendatanginya". Lihat Fath Al Qadir, karya Asy Syaukani.
 
- Orang yang tidak mengerjakan shalat akan masuk neraka Saqar.
 
{إِلَّا أَصْحَابَ الْيَمِينِ (39) فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ (40) عَنِ الْمُجْرِمِينَ (41) مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) } [المدثر: 39 - 44]
 
Artinya: "Kecuali golongan kanan". "Berada di dalam surga, mereka tanya menanya". "Tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa". "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?". "Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat". QS. Al Mudatstsir: 39-44.
 
Bagaimana siksa Neraka Saqar?
 
{وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (27) لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ (28) لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (29) عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (30) وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ (31)} [المدثر: 27 - 31]
 
Artinya: "Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?". "Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan". "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia". "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)". "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia". QS. Al Mudatstsir: 27-31.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w:774H):
 
{لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ} أي: تأكل لحومهم وعروقهم وعَصَبهم وجلودهم، ثم تبدل غير ذلك، وهم في ذلك لا يموتون ولا يحيون، قاله ابن بريدة وأبو سنان وغيرهما.
وقوله: {لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ} قال مجاهد: أي للجلد، وقال أبو رَزين: تلفح الجلد لفحة فتدعه أسود من الليل. وقال زيد بن أسلم: تلوح أجسادهم عليها. وقال قتادة: {لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ} أي: حراقة للجلد. وقال ابن عباس: تحرق بشرة الإنسان.
 
Maksud "Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan": Api neraka saqar akan memakan daging, urat, otot dan kulit mereka, kemudian diganti dengan yang lainnya, dan mereka dalam keadaan demikian tidak mati dan tidak juga hidup, ini pendapat Ibnu Buraidah dan Abu Sinan serta selain mereka berdua.
 
Maksud "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia":
 
Berkata Mujahid rahimahullah (w: 104H): "yaitu (membakar) kulit",
 
Berkata Abu Razin rahimahullah (w: 85H): "(Api Neraka Saqar) menghanguskan kulit, lalu dibiarkan sehingga menjadi lebih hitam daripada gelapnya malam",
 
Berkata Zaid bin Aslam rahimahullah (w: 136H): "(Api Neraka Saqar) menghancurkan jasad mereka".
 
Berkata Qatadah rahimahullah (w: 118H): "(Api Neraka Saqar) pembakar kulit".
 
Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma"(Api Neraka Saqar) membakar kulit manusia". LihatTafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.
 
- Siksa bagi yang meremehkan shalat; di neraka akan mendapati Ghayy (kerugian, keburukan, dimasukkan ke dalam neraka Jahannam yang sangat dalam, baunya busuk, isinya dari muntah dan darah serta nanah dari penghuni neraka).
 
{ فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا } [مريم: 59]
 
Artinya: "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui Ghayy". QS. Maryam: 59.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H):
 
عن ابن عباس: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} أي: خسرانا. وقال قتادة: شرًّا. عن عبد الله بن مسعود: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} قال: واد في جهنم، بعيد القعر، خبيث الطعم. عن أبي عياض في قوله: {فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} قال: واد في جهنم من قيح ودم.
 
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "maka mereka kelak akan menemui Ghayy", maksudnya adalah kerugian." Qatadah rahimahullah berkata: "Ghayy adalah keburukan." Abdullah bin Mas'udradhiyallahu 'anhu berkata:  "Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, lubangnya dalam, baunya busuk." Abu 'Iyadh berkata: "Ghayy adalah lembah di dalam neraka Jahannam, isinya muntah dan darah". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir. 
 
Kaffarah (Penebus dosa) bagi yang meninggalkan shalat lima waktu:
 
- Jika meninggalkan shalat lima waktu karena lupa dan ketiduranmaka wajib baginya mengerjakan shalat, kapan dia ingat atau bangun dari tidurnya, tidak ada penebus dalam hal ini kecuali itu:
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أو نام عنها فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ»
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang kelupaan shalat atau ketiduran darinya maka hendaklah ia mengerjakannya jika ia ingat, tidak ada penebus baginya kecuali itu". HR. Bukhari dan Muslim serta Al Baihaqi, lafazh hadits di atas milik riwayat Al Baihaqi.
 
- Jika meninggalkan shalat lima waktu karena malas dan sikap peremehan, baik sekali shalat atau lebih, sampai keluar waktunya, maka wajib baginya:
 
1. Bertaubat dengan sebenar-benarnya, tidak ada penebusnya kecuali ini. Inilah Pendapat yang benar bagi yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya. (Fatwa Komite Tetap untuk Fatwa dan Riset Ilmiah, Kerajaan Arab Saudi, no fatwa. 4791).
 
2. Tidak perlu mengqadha shalat yang ia tinggalkan tadi, karena shalat adalah ibadah yang ditentukan waktunya dan barangsiapa yang meninggalkan ibadah yang telah ditentukan waktunya tanpa ada udzur seperti shalat dan puasa, kemudian dia bertaubat, maka tidak perlu dia mengqadha shalat yang dia tinggalkan, karena ibadah ini telah ditentukan waktunya oleh pembuat syari'at (Allah Ta'ala), dengan batasan awal waktu dan akhirnya. (Majmu' Fatawa wa Rasail, 1/322).
 
Mengqadha shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa alasan, sampai keluar waktunya berarti telah melaksanakan shalat diluar waktunya, dan berarti pula telah melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika melakukan amalan yang tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka amalannya tertolak. 
 
«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ»
 
Artinya: "Siapa yang melakukan sebuah amalan, tidak ada dari perkara kami, maka amalannya tertolak". HR. Muslim. Lihat Fatwa Ibnu Utsaimin dalam Nur Ala Ad Darb, Syamila.
 
Meskipun sebagian ulama bahkan Jumhur berpendapat, jika yang lupa dan ketiduran dari shalatnya saja diwajibkan untuk diqadha jika dia ingat atau bangun dari tidurnya, maka terlebih lagi yang meninggalkan shalat karena sengaja, tidak ada udzur sampai keluar waktunya. Lihat Al Jami' li Ahkam Al Quran, karya Al Qurthuby dan Fath Al Bari, karya Ibnu Hajar.
 
Beberapa hal berikut, beredar dimasyarakat dan diyakini sebagai penebus bagi yang pernah meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya, dan beberapa hal ini merupakan sesuatu yang mengada-ada di dalam permasalahan agama (bid'ah):
 
- mengqadha shalat setiap selesai shalat fardhu dengan keyakinan mengqadha shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan sampai keluar waktunya.
- memperbanyak shalat di masjid al haram atau masjid an nabawi dengan keyakinan sebagai pengganti shalat yang pernah ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya..
- mengeluarkan sedekah sebagai penebus untuk shalat yang ditinggalkan dengan sengaja tanpa ada alasan, sampai keluar waktunya.
 
Terakhir…
 
Kawan pembaca…
 
Jangan lupa selalu berdoa dengan doanya Nabi Ibrahim 'alaihissalam agar kita selalu mampu mendirikan shalat selama hayat masih di kandung badan:
 
{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ}
 
Artinya: "Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doa kami". QS. Ibrahim: 40.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung