Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Jangan Remehkan Sholat (Bag 2)

Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.

Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengkin belum sadar atau belum tahu tentang agung dan tingginya kedudukan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
 
 
 Shalat menghilangkan resah dan gundah 
 
{وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (97) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (98) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (99)} [الحجر: 97 - 99]
 
Artinya: "Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan". "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)". "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)". QS. Al Hijr: 97-99.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774), ketika menafsiri ayat di atas:
 
أي: وإنا لنعلم يا محمد أنك يحصل لك من أذاهم لك انقباض وضيق صدر. فلا يهيدنك ذلك، ولا يثنينك عن إبلاغك رسالة الله، وتوكل على الله فإنه كافيك وناصرك عليهم، فاشتغل بذكر الله وتحميده وتسبيحه وعبادته التي هي الصلاة.
 
Maksudnya: "Wahai Muhammad (shallallahu 'alaihi wasallam-pent), sesungguhya Kami benar-benar mengetahui apa yang terjadi padamu akibat intimidasi mereka kepadamu, yaitu berupa sempitnya perasaan, maka janganlah hal itu membuatmu berhenti dalam penyampaian risalah Allah, bertawakkallah kepada Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Penjagamu dan Penolongmu dalam melawan mereka, maka sibukkan dirimu dengan mengingat Allah, memuji-Nya, mensucikan-Nya serta beribadah kepada-Nya yang mana ia adalah shalat". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim.
 
Berkata Syeikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di rahimahullah (w: 1376H) ketika mengomentari ayat ini: "Engkau wahai Muhammad,
 
{فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ}
 
(bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat))", maksudnya: "Perbanyaklah berdzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya dan mendirikan shalat, karena yang demikian itu meluaskan dan melapangkan dadamu dan membantumu dalam urusan-urusanmu". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan.
 
Oleh sebab inilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendapatkan ketenangan dengan mengerjakannya, mari perhatikan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam berikut:
 
«يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا»
 
Artinya: "Wahai Bilal, iqamahkanlah shalat, tenangkanla kita dengan (mengerjakan)nya". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami', no. 13851.
 
Oleh sebab ini pula, shalat adalah sesuatu yang sejuk dipandang mata oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lihat riwayat berikut:
 
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «حُبِّبَ إِلَىَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ»
 
Artinya: "Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan wewangian dan dijadikan sesuatu yang sejuk di mataku ada di dalam shalat". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 3291.
 
Perhatikanlah perkataan indah berikut…
 
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah (w:751H):
 
فالمحب راحته وقرة عينه في الصلاة والغافل المعرض ليس له نصيب من ذلك بل الصلاة كبيرة شاقة عليه إذا قام فيها كأنه على الجمر حتى يتخلص منها وأحب الصلاة إليه أعجلها وأسرعها فإنه ليس له قرة عين فيها ولا لقلبه راحة بها
 
"Maka seorang pencinta ketenangannya dan penyejuk matanya di dalam shalat, adapun orang lalai yang berpaling, dia tidak memiliki bagian apapun dari hal itu, bahkan shalat terasa berat dan susah baginya, jika ia berdiri di dalamnya (shalat), seakan ia berdiri di atas batu panas, ingin lekas terlepas darinya, shalat yang paling dia cintai adalah yang paling cepat, paling tergesa-gesa. Maka sesungguhnya, tidak ada baginya penyejuk hati di dalam shalat dan tidak ada untuk hatinya ketenangan dengan mengerjakannya". Lihat risalah Ibnul Qayyim ila ahadi ikhwanih, hal.33.
 
Di dalam shalat doa dikabulkan
 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ.
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Allah Ta'ala berfirman: "Aku membagi shalat antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, bagi hamba-Ku apa yang dia minta". HR. Muslim  
 
Shalat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat
 
 عن مَعْدَان بْن أَبِى طَلْحَةَ الْيَعْمَرِىُّ قَالَ لَقِيتُ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  رضي الله عنه فَقُلْتُ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِى اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ. أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ. فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ «عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً»
 
Artinya: "Ma'dan bin Abi Thalhah Al Ya'muri meriwayatkan: "Aku pernah bertemu dengan Tsauban pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian aku bertanya: "Beritahukanlah kepadaku sebuah amalan, yang jika aku amalkan, maka Allah akan memasukkanku dengan ke dalam surga? Atau aku bertanya: "Beritahukanlah kepadaku amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala?", lalu Tsauban radhiyallahu 'anhu terdiam, (sampai ditanya pada kali yang ketiga, beliau menjawab): "Aku telah bertanya akan hal itu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:"Hendaknya kamu memperbanyak sujud (shalat) untuk Allah, karena sesungguhnya tidaklah kamu sujud satu sujud karena Allah, kecuali Allah telah mengangkat derajatmu satu tingkatan dan menghapuskan dari satu kesalahan." HR. Muslim.
   
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ «أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ». قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullahshallallahu a'alihi wasallam bersabda: "Apa pendapat kalian, jikalau sebuah sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apa yang anda katakan akan hal tersebut, apakah masih tersisa dakinya?", para shahabat menjawab: "Tidak tersisa sedikitpun dari dakinya", beliau bersabda: "Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya kesalahan-kesalahan". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عَنْ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضي الله عنه قَالَ:  إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «لاَ يَتَوَضَّأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ الْوُضُوءَ فَيُصَلِّى صَلاَةً إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِى تَلِيهَا»
 
Artinya: "Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: "Sungguh aku telah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki muslim berwudhu dan menyempunakan wudhunya, lalu dia shalat sebuah shalat kecuali Allah telah mengampuni baginya (dosa) antaranya dengan shalat yang selanjutnya". HR. Muslim.
 
Kawan pembaca…
 
Tiada seorangpun yang bisa mengingkari bahwa ia adalah manusia yang sering melakukan dosa dan kesalahan, sebagaimana yang sudah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam;
 
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : « كُلُّ بَنِى آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Setiap keturunan Adam adalah orang yang selalu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang selalu melakukan kesalahan adalah orang-orang yang selalu bertaubat". HR. Muslim.
 
Dari sinilah terlihat pentingnya shalat, yaitu ketika seorang anak keturunan Adam sudah ditegaskan sebagai orang yang selalu melakukan kesalahan, maka tugas kita sebagaimana anak keturunan Adam adalah, bagaimana cara kesalahan dan dosa kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah Ta'ala. Salah satu caranya adalah, selalu menjaga shalat lima waktu. Sebagaimana hadits-hadits diatas yang menyatakan penghapusan dosa dengan mendirikan shalat. Wallahu a'lam.
 
Shalat termasuk penyebab masuk surga dengan rahmat Allah Ta'ala
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ . قَالَ « تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ الْمَكْتُوبَةَ ، وَتُؤَدِّى الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ » . قَالَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا . فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . [صحيح البخاري - مكنز 5344، بترقيم الشاملة آليا]
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab dari kampung mendatangi Nabi Muhammad shalallah 'alaihi wasallam, lalu bertanya: "Tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan, jika aku melakukannya aku masuk surga?", beliau shallallahu 'alaihi wasallammenjawab: "Beribadahlah kepada Allah, jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat yang wajib, membayar zakat yang wajib dan berpuasa pada bulan Ramadhan". Orang kampung Arab ini berkata: "Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, aku tidak akan menambah dari ini". Ketika orang tersebut berpaling, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa yang menginginkan melihat seseorang dari penghuni surga maka lihatlah orang ini".HR. Bukhari.
 
عَنِ عُبَادَة رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ»
 
Artinya: "Ubadah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Lima shalat yang telah Allah wajibkan atas para hamba, barangsiapa yang melaksanakannya, tidak menyia-nyiakannya sedikitpun sebagai bentuk peremehan atas kedudukannya, maka baginya di sisi Allah janji, yaitu memasukkanya ke dalam surga dan barangsiapa yang tidak melaksakannya bagai tidak ada baginya janji di sisi Allah, jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya dan jika menghendaki, Dia memasukkanya ke dalam surga".HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 370.
 
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Shalat!
  
عَنْ جَابِر ي رضي الله عنه َقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ»
 
Artinya: "Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya jarak antara seseorang dengan kseyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat". HR. Muslim.
 
عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ»
 
Artinya: "Buraidah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Perjanjian yang ada antara kami dan mereka adalah perkara shalat, siapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di shahih Tirmidzi, no. 2621.
 
عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «لاَ تَتْرُكِ الصَّلاَةَ مُتَعَمِّداً فَإِنَّهُ مَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ مُتَعَمِّداً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ»
 
 
Artinya: "Ummu Aiman radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Jangan kamu tinggalkan shalat dengan sengaja, karena sesungguhnya siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka telah terlepas darinya jaminan Allah dan Rasul-Nya".HR. Ahmad dan dihasankan oleh Al Albani di dalam Shahih Targhib Wa At Tarhib, no. 569.
 
عن عمر رضي الله عنه قال:"لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة"
 
Artinya: "Umar radhiyallahu 'anhu berkata: "Tidak ada bagian di dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat". Atsar riwayat Malik di dalam Al Muwaththa'.
 
عن مجاهد رحمه الله سأل جابراً رضي الله عنه: ما كان يفرق بين الكفر والإيمان عندكم في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال : الصلاة"
 
Artinya: "Mujahid rahimahullah bertanya kepada Jabir radhiyallahu 'anhu"Apa yang membedakan antara keimanan bagi kalian (para shahabat) di zaman Rasulullah shallallahu 'alaih wasallam?",Jabir radhiyallahu 'anhu menjawab: "Shalat". Atsar hasan diriwayatkan oleh Al Marwazi di dalam Ta'zhim qadr Ash Shalat dan Al Laalakai di dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahli As Sunnah.
 
عَنْ حَمْزَةَ بْنِ نَجِيحٍ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ، يَقُولُ: "يَا ابْنَ آدَمَ أَيُّ شَيْءٍ يَعِزُّ عَلَيْكَ مِنْ دِينِكَ إِذَا هَانَتْ عَلَيْكَ صَلَاتُك"
 
Artinya: "Hasan Al Bashri rahimahullah (w: 110H) berkata: 'Wahai anak Adam, sesuatu apakah yang berharga atasmu dari perkara agamamu, jika shalatmu telah meremehkanmu". Atsar riwayat Al Baihaqi di dalam Syuab Al Iman.
 
قال عبد الله بن شقيق رحمه الله التابعي الجليل الذي لقي كبار الصحابة: "كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئاً من الأعمال تركه كفر غير الصلاة"
 
Artinya: "Abdullah bin Syaqiq rahimahullah (w: 108H), seorang tabi'ie terkemuka yang pernah bertemu dengan pembesar shahabat  berkata: "Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tidak berpendapat, ada suatu amalan yang meninggalkannya mengakibatkan sebuah kekufuran selain shalat".Atsar shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi, Al Marwadzi di dalam Ta'zhim Qadr Ash Shalat dan dishahihkan oleh Al Hakim, An Nawawi, Al Albani.
 
Asy Syaukani rahimahullah (w: 1250H) berkata, ketika mengomentari atsar di atas: "Yang terlihat jelas dari redaksi bahwa perkataan ini adalah kesepakatan para shahabat, karena perkataanya: ""Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam" adalah sebuah bentuk jama' yang diidhafakan, dan hal ini mengisyaratkan akan hal itu". Lihat Nail Al Awthar.
 
Berkata Ishaq bin Rahuyah rahimahullah (w: 238H):
 
قد صح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أن تارك الصلاة كافر ، وكذلك كان رأي أهل العلم من لدن النبي صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا : أن تارك الصلاة عمداً من غير عذر حتى يذهب وقتها كافر"
 
"Telah shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa yang meninggalkan shalat kafir, dan demikian pula pendapat para ulama dari zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamsampai zaman kita ini, yaitu bahwa yang meninggalkan shalat secara sengaja tanpa ada udzur sampai keluar waktunya maka ia kafir". Lihat Ta'zhim Qadr Ash Shalat.
 
Berkata Imam Ahmad rahimahullah (w: 241H):
 
وقال الإمام أحمد في رسالة الصلاة: "فكل مستخفبالصلاة مستهين بها هو مستخف بالإسلام مستهين به، وإنما حظهم من الإسلام على قدر حظهم من الصلاة، ورغبتهم في الإسلام على قدر رغبتهم في الصلاة(3)"
 
Artinya: "Setiap yang meremehkan shalat, merendahkannya, maka ia meremehkan Islam dan merendahkannya, sesungguhnya bagian mereka di dalam Islam sesuai dengan kadar mereka dari shalatnya dan keinginan mereka di dalam Islam sesuai dengan keinginan mereka dalam shalat".Lihat Risalat Ash Shalat.
 
Berkata Ibnu Nash Al Marwazi rahimahullah (w: 294H): 
 
:"ذكرنا الأخبار المروية عن النبي صلى الله عليه وسلم في إكفار تاركها ، وإخراجه إياه من الملة ، وإباحة قتال من امتنع من إقامتها، ثم جاءنا عن الصحابة رضي الله عنهم مثل ذلك ، ولم يجئنا عن أحد منهم خلاف ذلك"
 
"Kita telah menyebutkan riwayat-riwayat berasal dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam tentang kufurnya orang yang meninggalkan shalat, dan kelaur dari agama Islam dan dihalalkan berperang melawan orang yang melarang untuk mendirikannya, kemudian telah datang kepada kita juga riwayat-riwayat seperti itu dan tidak ada satu riwayatpun dari mereka yang sampai kepada kita yang menyelisihi hal itu". Lihat Lihat Ta'zhim Qadr Ash Shalat.   
 
Kawan pembaca…
 
Disini penulis tidak dalam kapasitas menguatkan pendapat yang mengkafirkan  orang yang meninggalkan shalat, akan tetapi lebih pada penyebutan hadits dan perkataan ulama yang tegas dan keras tentang meninggalkan shalat.
 
Bersambung… Buruk dan kejinya siksa akhirat untuk orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat, insya Allah.
 
*) Selesai ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 24 Rabi'ul Awwal 1432H, Dammam KSA

 

 

Jangan Remehkan Sholat

Tulisan ini ditujukan kepadaorang-orang yang mungkin belum tahu tentang hukum kewajiban shalat lima waktu bagi seorang muslim, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mengkin belum sadar atau belum tahu tentang agung dan tingginya kedudukan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang keutamaan dan manfaat shalat, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya hukuman di dunia bagi orang yang meninggalkan shalat lima waktu, sehingga dia meremehkan dan meninggalkannya.
 
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang mungkin belum tahu tentang beratnya siksaan di akhirat bagi orang yang meninggalkan shalat, sehingga dia meninggalkannya.
 
Demi Allah, tulisan ini bukanlah arena untuk mencela, menghina, menghujat, mencaci, melaknat orang-orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
Demi Allah, tulisan ini adalah murni nasehat, petunjuk, wejangan, wasiat dari orang yang menginginkan kebaikan untuk Anda, wahai orang yang meremehkan atau meninggalkan shalat.
 
Tulisan ini saya tujukan kepada orang yang mengaku dirinya muslim, tetapi tidak pernah mengerjakan shalat, atau mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian atau orang yang meyakini bahwa shalat itu tidak wajib. 

1. Hukum shalat lima waktu wajib bagi seorang muslim baligh, berakal kecuali wanita yang haid dan nifas berdasarkan Al Quran, As Sunnah dan Ijma'.
 
Dalil-dalil yang menunjukkan akan hal ini:
Allah Ta'ala berfirman:
 
{… إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا }
 
Artinya: "…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman". QS. An Nisa: 103
 
{ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ }
 
Artinya: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". QS. Al Bayyinah: 5.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammengutus Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu ke negeri Yaman dan memerintahkannya untuk menyerukan kepada manusia bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam adalah Rasulullah, dan jika mereka mentaatinya, maka beritahukanlah kepada mereka:
 
أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ...
 
Artinya: "Bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka untuk mengerjakan shalat lima waktu sehari dan semalam…". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عن عُبَادَة بن الصامت رضي الله عنه قال: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ … ».
 
Artinya: "Shalat lima waku telah Allah Wajibkan atas seluruh hamba…". HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami'.
 
Dan Ibnu Qudamah (w:744H) menyatakan bahwa umat Islam bersepakat akan kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam. Lihat kitab Al Mughni.
 
Sedangkan tidak wajib bagi wanita yang haid dan nifas karena:
 
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَال: قالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم :«... أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ » .
 
Artinya: "Abu Sa'id Al Khudry radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "…Bukankah wanita jika haid tidak shalat dan berpuasa". HR. Bukhari.
 
2. Diantara Kedudukan Shalat di dalam Agama Islam.
 
- Shalat lima waktu adalah Rukun Islam Kedua.
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ » .
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun di atas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, mengerjakan haji dan berpuasa di bulan Ramadhan". HR. Bukhari dan Muslim.
 
- Shalat adalah tiang agama, jika tiangnya roboh maka bangunan di atasnya akan roboh juga.
 
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda:
 
« رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ »
 
Artinya: "Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, puncaknya yang tertinggi adalah jihad". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah: 1122.
 
- Shalat adalah yang paling pertama akan dihisab oleh Allah, jika shalatnya baik, maka seluruh amalannya baik dan ia akan beruntung,  adapun jika shalatnya buruk maka seluruh amalnya buruk dan ia akan merugi.
 
عن أنس بن مالك - رضي الله عنه - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: ((أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة: الصلاة، فإن صلحت صلح سائرُ عمله، وإن فسدت فسد سائرُ عمله)).
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Yang paling pertama akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara shalat, jika shalatnya baik maka seluruh amal perbuatannya baik dan jika rusak maka seluruh amal perbuatannya rusak". HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oelh Al Albani di dalam Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1358.
 
- Menjaga shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sekarat untuk umatnya.
 
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رضي الله عنها, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حُضِرَ جَعَلَ يَقُولُ « الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ».
 
Artinya: "Ummu Salamah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika dalam keadaan sekarat bersabda: "Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian". HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 868.
 
- Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril 'alaihissalam tetapi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, yang langsung mendapatkan perintah kewajiban shalat ketika beliau melakukan Isra' dan Mi'raj.
 
- Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun.  
 
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ ».
 
Artinya: "Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu 'anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun dan pukul mereka jika tidak mengerjakannya, ketika mereka berumur 10 tahun dan pisahakanlah di dalam tempat-tempat tidur mereka". HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Irwal Al Ghalil, no. 298.
 
- Siapa yang kelupaan shalat lima waktu maka harus diqadha.
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang kelupaan shalat, maka hendaklah dia dirikannya jika dia ingat, tidak ada penebus akannya kecuali hal itu". HR. Muslim
 
3. Keutamaan dan manfaat mendirikan shalat.
 
- Shalat mencegah dari perbuatan fahsya (setiap maksiat yang kotor, keji yang merupakan hawa nafsu manusia) dan mungkar (setiap maksiat yang diingkari oleh akal dan fitrah). Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman.
 
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
 
Artinya: "...dan dirikanlah salat.  Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…". QS. Al Ankabut: 45
 
- Menghapuskan dosa dan kesalahan, yang mana setiap manusia seorang yang sering melakukan kesalahan.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم-يَقُولُ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ».
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Apa pendapat kalian, jikalau ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, dia mandi darinya setiap hari sebanyak lima kali, apakah masih tersisa dari kotorannya sedikitpun?", para shahabat menjawab: "Tidak tersisa sedikitpun dari kotorannya". Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berasabda: "Demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya kesalaan-kesalahan". HR. Muslim
 
- Shalat merupakan cahaya bagi pelakunya di dunia dan akhirat sehingga nyaman hidup di dunia serta dijauhkan dari api neraka ketika di akhirat dan tidak dikumpulkan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf .
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ ذَكَرَ الصَّلاَةَ يَوْماً فَقَالَ « مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ ».
 
Artinya: "Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari menerangkan tentang shalat, beliau bersabda: "Barangsiapa yang selalu menjaganya (shalat), maka baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, sedangkan yang tidak menjaganya maka tidak ada baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan pada hari kiamat akan bersama Karun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf". HR. Ahmad dan Al Mundziri berkata di dalam At Targhib Wa At Tarhib: "Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid", tetapi ada sebagian ulama hadits yang melemahkan hadits ini.
 
Ibnu Qayyim (w:762H) berkata ketika mengomentari hadits ini:
 
وفيه نكتة بديعة وهو أن تارك المحافظة على الصلاة إما أن يشغله ماله أو ملكه أو رياسته او تجارته فمن شغله عنها ماله فهو مع قارون ومن شغله عنها ملكه فهو مع فرعون ومن شغله عنها رياسة ووزارة فهو مع هامان ومن شغله عنها تجارته فهو مع أبي بن خلف
 
Artinya: "Di dalam hadits ini ada poin menarik, yaitu orang yang meninggalkan penjagaan akan shalat, bisa karena disibukkan oleh hartanya atau kerajaannya atau kepemimpinannya atau perniagaannya, maka siapa yang disibukkan oleh hartanya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Karun, dan siapa yang disibukkan oleh kerajaannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Fir'aun, siapa yang disibukkan oleh kementeriannya sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Haman dan siapa yang disibukkan oleh perniagaannya  sehingga ia melalaikan shalat, maka ia akan bersama Ubay bin Khalaf". Lihat kitab Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha.
 
Bersambung insyaAllah…
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu, 16 Rabiul Awwal 1432H, Dammam KSA

 

 

Perbaikilah Sujud Anda Karena Itulah Keadaan Paling Dekat Dengan Allah

بسم الله الرحمن الريحم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
 
Saudaraku pembaca…

 
Keadaan kita yang paling dekat dengan Allah Ta’ala adalah ketika sujud maka sempurnakanlah sujud kita.
 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ»
 
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Keadaan paling dekat seorang hamba dari rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyak doa (di dalamnya).” HR. Muslim.


Saudaraku Pembaca… Mari kita lihat hadits-hadits berikut.

 
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - «أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ - وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ - وَالْيَدَيْنِ ، وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ»
 
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota; dahi –beliau menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan kedua ujung jari jemari, dan melipat baju dan rambut”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَرَأَى رَجُلاً يُصَلِّى مَا يُصِيبُ أَنْفَهُ مِنَ الأَرْضِ فَقَالَ «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيبُ أَنْفَهُ مِنَ الأَرْضِ مَا يُصِيبُ الْجَبِينَ»
 
 
Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda ketika melihat seseorang mengenakan yang hidung dari tanah: “Tidak sah shalat bagi siapa yang tidak mengenakan hidungnya dari tanah sebagaimana kenanya dahi.” HR. Ad Daruquthni, no. 1335 dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalah, 
 
 
عن أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ -رضى الله عنه- أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « أَتِمُّوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ، فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنِّى لأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِى إِذَا مَا رَكَعْتُمْ وَإِذَا مَا سَجَدْتُمْ»
 
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa dia telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sempurnakanlah ruku dan sujud, demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kaliat dari belakang punggungku, jika kalaian ruku dan sujud. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ الْبَدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لا تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقِيمُ فِيهَا الرَّجُلُ يَعْنِى صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ ».
 
 
Artinya: “Abu Masud Al Anshary Al Badry radhiyallah ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”. HR. Tirmidzi dan beliau berkata: “Hadits ini hadits hasan yang shahih.”
 
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ «اعْتَدِلُوا فِى السُّجُودِ ، وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ»
 
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tegaklah di dalam sujud dan janganlah salah seorang dari kalian meletakkan kedua lengannya di atas tanah (ketika sujud) sebagaimana anjing”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
 
عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ زَيْدَ بْنَ وَهْبٍ قَالَ رَأَى حُذَيْفَةُ رَجُلاً لاَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالَ مَا صَلَّيْتَ، وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ الَّتِى فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا -صلى الله عليه وسلم-
 
 
Artinya: “Sulaiman berkata: “Aku telah mendengar Zaid bin Wahb berkata: “Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu pernah melihat seseorang tidak menyempurnakan ruku dan sujud, lalu beliau berkata: “Kamu belum shalat, jika kamu mati maka kamu mati di atas selain fitrah yang telah Allah fitrahkan atas Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”
 
 
عَنْ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِىُّ :فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا ، وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ.
 

Artinya: “Abu Humaid As Sa’idy rahimahullah berkata (menceritakan shalatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Maka jika sujud, beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak merebahkannya dan tidak menggengamnya, dan mengarahkan ujung jari-jemari kakinya menghadap kiblat”. HR. Bukhari.
 
 
عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ الْخَمْسَ
 

Artinya: “Alqamah bin Wail meriayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, belaiu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ruku beliau merenggangkan jari-jemarinya dan jika sujud beliau merapatkan jari-jemarinya yang lima”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Sifat Ash Shalat.
 
 
 قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ مَعِي عَلَى فِرَاشِي فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا راصَّاً عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلًا بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ لِلْقِبْلَةِ
 
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal sebelumnya beliau bersamaku di ranjangku, ternyata aku dapati beliau dalam keadaan sujud merapatkan kedua tumitnya dan menghadap jeri-jemari kakinya ke kiblat”. HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Abani di dalam kitab Sifat Ash Shalat. 
 
 
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ
 
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada suatu malam dari ranjang, lalu aku cari beliau, ternyata tanganku pada perut kedua telapak kaki beliau dan beliau di dalam masjid dan kedua telapak kaiki tersebut dalam keadaan berdiri tegak”. HR. Muslim.
 
 
عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
 
 
Artinya: “Abu Humaid “radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika sujud beliau mengenakan hidung dan dahinya dari tanah dan melebarkan kedua lengannya dari kedua samping tubuhnya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 309.
 
 
عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا سَجَدَ جَافَى بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى لَوْ أَنَّ بَهْمَةً أَرَادَتْ أَنْ تَمُرَّ تَحْتَ يَدَيْهِ مَرَّتْ
 
 
Artinya: Maimunah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika sujud beliau merenggangkan kedua tangannya sehingga jika ada anak domba ingin lewat di bawah kedua tangannya maka dia bisa lewat”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 835.

 
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه أن رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم – قالَ « ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا»
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda (kepada seseorang yang buruk shalatnya): “Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah sampai tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah sampai tuma’ninah dalam keadaan duduk, kemudian kerjakanlah hal itu di dalam seluruh shalatmu”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari hadits-hadits di atas:
1. Anggota tubuh yang harus dikenakan ketika sujud ada tujuh; yaitu dahi dan termasuk di dalamnya hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua jari-jemari kaki. 
2. Jika salah satu anggota sujud tidak diletakkan maka sujudnya tidak sah, dan jika sujud tidak sah maka shalatnya tidak sah.


Berkata An Nawawi rahimahullah :
 
 
فلو أخل بعضو منها لم تصح صلاته
 
 
Artinya: “Jikalau terlepas salah satu anggota darinya maka tidak sah shalatnya”. Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi, 4/208.
 

Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
 
" لا يجوز للساجد أن يرفع شيئاً من أعضائه السبعة, لأن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ ) رواه البخاري (812) ومسلم (490)، فإن رفع رجليه أو إحداهما ، أو يديه أو إحداهما ، أو جبهته أو أنفه أو كليهما ، فإن سجوده يبطل ولا يعتد به ، وإذا بطل سجوده فإن صلاته تبطل . لقاءات الباب المفتوح للشيخ ابن عثيمين(2/99)
 
 
Artinya: “Tidak boleh bagi seorang yang sujud untuk mengangkat bagian dari anggota tubuh yang tujuh tersebut, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ““Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota; dahi –beliau menunjukkan dengan tangannya ke atas hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan kedua ujung jari jemari, dan melipat baju dan rambut.” HR. Bukhari (no. 812) dan Muslim (no. 490), maka jika dia mengangkat kedua kakinya atau salah satunya atau kedua tangannya atau salah satunya atau dahinya atau hidungnya atau keduanya, maka sujudnya batal dan tidak sah dan jika sujudnya batal maka shalatnya batal.” Lihat Liqaat Al Bab Al Maftuh, 99/2.


3. sujud harus tegak, kedua paha tidak menyentuh perut dan betis.
 
Berkata At Tirmidzi rahimahullah:
 
 
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَمَنْ بَعْدَهُمْ يَرَوْنَ أَنْ يُقِيمَ الرَّجُلُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
 
 
وَقَالَ الشَّافِعِىُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ مَنْ لَمْ يُقِمْ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ فَصَلاَتُهُ فَاسِدَةٌ لِحَدِيثِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ»
 

Artinya: “Perbuatan ini menurut para ulama dari para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan ulama setelah mereka, mereka berpendapat hendaknya seseorang menegakkan punggungnya ketika ruku dan sujud.
 

Asy Syafi’ie dan Ahmad serta Ishaq rahimahumullah berkata: “Barangsiapa yang tidak menegakkan punggungnya ketika ruku dan sujud maka shalatnya rusak”, berdasarkan sabda Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam: ““Sebuah shalat tidak sah di dalamnya seseorang tidak menegakkan punggungnya di dalam ruku’ dan sujud”. Lihat Kitab Jami’ At Tirmidzi, no.

 
Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
 
أي: اجعلوه سجوداً معتدلاً ، لا تهصرون فينزل البطن على الفخذ، والفخذ على الساق ولا تمتدون أيضاً كما يفعل بعضُ النَّاس إذا سجد، يمتد حتى يقرب مِن الانبطاح، فهذا لا شكَّ أنَّه مِن البدع وليس بسنَّةٍ، فما ثبت عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم ولا عن الصحابة فيما نعلم أنَّ الإنسانَ يمدُّ ظهره في السجود ، إنَّما مَدُّ الظهر في حال الركوع ، أما السجود فإنَّه يرتفع ببطنه ولا يمده.
 
 
Berkata: “Sujudlah dengan tegak, jangan merunduk sehingga menurunkan perut di atas paha dan paha di atas betis, dan juga jangan terlalu memanjang sebagaimana yang dilakukan sebagian orang jika dia sujud, memanjang samapi mendekati dalam keadaan merebahkan diri, maka tidak diragukan ini adalah perbuatan bid’ah dan bukan dari sunnah, tidak tetap rwayatnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalalm dan para shahabatnya, sebagaimana yang kami ketahui bahwa seorang tidak merentangkan punggungnya ketika sujud tetpi merentangkannya ketika ruku, adapun ketika sujud dia mengangatkan perutnya dan tidak merentangkannya”. Lihat Kitab Asy Syarh Al Mumti’, 3/168. 
4. Mengangkat kedua lengan tangan ketika sujud 
 
Berkata Al Munawi rahimahullah:
 
 
أي لا يفرشهما على الأرض في الصلاة فإنه مكروه لما فيه من قلة الاعتناء بالصلاة
 
 
Artinya: “Maksudnya adalah tidak merebahkan kedua lengannya di atas tanah ketika sehalat, karena sesungguhnya hal tersebut makruh karena di dalamnya terlihat minimnya perhatian terhadap perkara shalat”. Lihat kitab At Taisir bi Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, no. 1/336.
5. Mengarahkan jari jemari tangan dan kaki menghadap kiblat6. Jari jemari tangan di rapatkan ketika sujud.7. Meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan bahu atau telinga.8. Melebarkan kedua lengan tidak menyentuh kedua samping badannya, kecuali jika menganggu jamaah disampingnya.9. Merapatkan dan menegakkan kedua telapak kakinya serta mengahdapkannya ke kiblat. 10. Sujud dengan tuma’ninah, yaitu tidak bergerak ke gerakan lain sebelum menyempurnakan gerakan sujudnya.

 

Saudaraku pembaca…
 

Itu sebagian dari hadits-hadits tentang sujud, masih banyak yang lain, tetapi karena keterbatasan ilmu maka dicukupkan sampai disini. Semoga sujud kita lebih baik dan benar. Selamat mendekatkan diri kepada Allah dengan sujud.

 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 9 Shafar 1433H Dammam Arab Saudi

 

 

Antara Indahnya Al Qur'an Dan Buruknya Musik

Di antara mujizat terbesar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Quranul Karim. Kandungannya sempurna sekaligus terjaga dari segala perubahan. Sayangnya sebagian muslimin melupakannya dan berpindah menyimak alunan musik. Padahal jika mengetahui betapa dahsyatnya keutamaan berinteraksi dengan Al-Quran dan betapa buruknya musik, niscaya tidak akan berpaling dari Kitabullah dan membuang jauh-jauh al-ma'zif (musik). Renungilah penjelasan berikut ini.

Keutamaan Al Quran
- Al-Quran adalah perkataan yang paling baik

{ اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ} [الزمر: 23]

Artinya: "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya"[1].

- Al-Quran memberikan petunjuk ke jalan yang paling lurus

{ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا} [الإسراء:9]

Artinya: "Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar"[2].

Keutamaan Belajar Al Quran dan Mengajarkannya
- Menjadi manusia terbaik

عن عثمان بن عفان - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم-: (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ ))

Artinya: "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya"[3].

Keutamaan Membaca Al Quran
- Mendapatkan ketenangan

عن البراءِ بن عازِبٍ رضي اللهُ عنهما ، قَالَ : كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ سُورَةَ الْكَهْفِ ، وَعِنْدَهُ فَرَسٌ مَرْبُوطٌ بِشَطَنَيْنِ ، فَتَغَشَّتْهُ سَحَابَةٌ فَجَعَلَتْ تَدْنُو ، وَجَعَلَ فَرَسُه يَنْفِرُ مِنْهَا ، فَلَمَّا أصْبَحَ أتَى النَّبيَّ - صلى الله عليه وسلم - فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ : (( تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلقُرْآنِ )) 

Artinya: "Dari Al Bara' bin Azib radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Ada seorang laki-laki sedang membaca surat Al Khafi dan disisinya ada kuda yang ditambatkan dengan tali, lalu awan menaunginya dn turun mendekat, membuat kudanya gelisah, di waktu pagi ia mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lalu menceritakan hal tersebut maka beliau bersabda: "Itulah ketenangan yang turun karena sebab Al Quran"[4].

- Setiap hurufnya diganjar 10 hasanah

عن ابن مسعودٍ - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - : ((مَنْ قَرَأ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أمْثَالِهَا ، لاَ أقول : ألم حَرفٌ ، وَلكِنْ : ألِفٌ حَرْفٌ ، وَلاَمٌ حَرْفٌ ، وَمِيمٌ حَرْفٌ))

Artinya: "Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari KItab Allah maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh sepertinya, aku tidak mengatakan Alif Laam mim adalah satu huruf akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, mim satu huruf"[5].

- Selalu bersama para malaikat dan dapat dua pahala

عن عائشة رضي الله عنها ، قالت : قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - :((الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ))

Artinya: "Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau menuturkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang membaca Al Quran dengan baik niscaya ia bersama malaikat yang bertugas mengantarkan risalah yang mulia lagi baik dan orang yang membaca Al Quran dengan terbata-bata, ia membacanya dengan sangat sulit maka baginya dua pahala"[6].

- Hingga kaum munafik pun mendapatkan faedah

عن أَبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : ((مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ : رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ : لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ ، وَمَثلُ المُنَافِقِ الَّذِي يقرأ القرآنَ كَمَثلِ الرَّيحانَةِ : ريحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ))

Artinya: "Dari Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Quran seperti buah Utrujjah, baunya harum, rasanya manis dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al Quran seperti buah kurma, tidak ada bau, rasanya manis dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Quran seperti buah Raihanah, baunya harum, rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Quran seperti buah Hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit"[7]. 

- Ditempatkan tempat yang tingginya di akhirat

عن عبد اللهِ بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما ، عن النبيِّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : ((يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ : اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آية تَقْرَؤُهَا))

Artinya: "Dari Abdullah bin 'Amr bin Ash radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda: "Dikatakan kepada orang yang mengamalkan Al Quran: "Bacalah dan naiklah (menuju tangga surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dahulu di dunia dengan tartil karena sesungguhnya tempatmu di akhir ayat yang engkau baca"[8].

- Sebagai syafa'at pada hari yang anda sangat membutuhkan syafa'at

عن أَبي أُمَامَةَ - رضي الله عنه - ، قَالَ : سَمِعْتُ رسولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم-، يقول : (( اقْرَؤُوا القُرْآنَ ؛ فَإنَّهُ يَأتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعاً لأَصْحَابِهِ )) رواه مسلم .

Artinya: "Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Aku pernah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah Al Quran, karena sesungguhnya ia akan datanga pada hari kiamat sebagai syafa'at kepada orang yang membacanya"[9].

- Berkumpul untuk mempelajari Al Quran, mendapatkan 4 kebaikan

عن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : ((وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتلُونَ كِتَابَ اللهِ ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بينهم، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ المَلاَئِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ)) رواه مسلم

Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelarinya bersama, melainkan akan turun kepada mereka ketentraman, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk di sisi-Nya"[10].

- Termasuk golongan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

عن أَبي لُبَابَةَ بشير بن عبد المنذر - رضي الله عنه - : أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : ((مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا)) رواه أَبُو داود بإسنادٍ جيدٍ .

Artinya: "Dari Abu Lubabah Basyir bin Abdul Mundzir radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang tidak memperbagus suara ketika membaca Al Quran maka bukanlah dari golongan kami"[11].


Musik
Sebuah Kenyataan Bahwa Telinga Tercipta Sebelum Sebelum Mata

{إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا} [الإنسان: 2]

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat"[12].

{ قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ } [الملك: 23]

Artinya: "Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur"[13].

Pengertian Al Ma’azif
Al Ma'azif adalah jama' (bentuk plural) dari ma'zifah yang artinya alat-alat musik[14].
Dan Ia adalah alat-alat yang digunakan untuk musik[15].

Al Qurthubi rahimahullah menukilkan dari Al Jauhari rahimahullah, bahwa al ma'azif adalah musik dan yang disebutkan di dalam kitab shihahnya ia adalah alat-alat yang melalaikan, dan di dalam kitab Hawasyi karya Ad Dimyathi rahimahullah; al ma'azif dengan gendangan atau selainnya yang dipukul[16].

Hukum Musik Adalah Haram
- Dalil dari Al Quran

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ } [لقمان: 6]

Artinya: "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Lahwal Hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan"[17].

Tafsir para shahabat seperti; Ibnu Abbas dan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhuma akan lafadz لهو الحديث  :

Abush Shahba-' berkata: "Aku pernah bertanya kepada Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang firman Allah: لَهْوَ الْحَدِيثِ.  Ia menjawab: "Demi Allah, yang tiada ilah yang berhak disembah selain-Nya, ia (lahwal hadits) tersebut adalah nyanyian", beliau ulangi tiga kali."

Tafsiran Tabi'ie seperti Mujahid, Sa'id bin Jubair, Ikrimah dan lain-lain rahimahumullah, Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata: "Ayat ini turun di dalam permasalahan nyanyian dan alat-alat musik"[18].

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ (59) وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ (60) وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ (61)

Artinya: "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?", Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?, Sedang kalian dalam keadaan samidun?"[19].
 
Ikrimah (seorang tabi'i) rahimahullah berkata: "Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsiri tentang lafazh Samud dari ayat di atas, ia adalah nyanyian dalam bahasa kabilah Himyar"[20].

- Sebagian dalil dari Sunnah

عن أَبُي مَالِكٍ  الأَشْعَرِىُّرضي الله عنه أنه سَمِعَ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ - يَعْنِى الْفَقِيرَ - لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ »

Artinya: "Dari Abu Malik Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya beliau mendengar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh benar-benar aka nada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan al hirr (perzinahan), sutera, khamr dan alat-alat musik"[21].

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما قَالَ: أَخَذَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِيَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى ابْنِهِ إِبْرَاهِيمَ فَوَجَدَهُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَأَخَذَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَوَضَعَهُ فِى حِجْرِهِ فَبَكَى فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَتَبْكِى أَوَلَمْ تَكُنْ نَهَيْتَ عَنِ الْبُكَاءِ قَالَ « لاَ وَلَكِنْ نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ صَوْتٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ خَمْشِ وُجُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةِ شَيْطَانٍ »

Artinya: "Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, beliau menuturkan: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mengambil tangan Abdurrahman bin "auf, lalu membawanya menuju anak beliau Ibrahim, ternyata beliau mendapatinya dalam keadaan sekarat, lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam mengambil dan meletakkannya di pangkuannya, kemudian beliau menangis, Abdurrahman bertanya kepada beliau: "Kenapa engkau menangis, bukankah engkau pernah melarang untuk menangis (ketika ada musibah)?", beliau bersabda: "Tidak, akan tetapi aku pernah melarang tentang dua suara yang sangat bodoh dan paling durhaka; suara ketika musibah memukul wajah merobek baju dan alunan syetan"[22].

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :صَوْتَانِ ملعونان في الدنيا والآخرة: مِزْمَارٍ عِنْدَ نِعْمَةٍ ، وَرَنَّةِ عِنْدَ مُصِيبَةٍ

Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat: Nyanyian ketika mendapatkan nikmat dan alunan ketika mendapatkan musibah"[23].

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فِى هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ ». فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ « إِذَا ظَهَرَتِ الْقَيْنَاتُ وَالْمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الْخُمُورُ ».

Artinya: "Dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Di dalam umat ini akan ada longsor, perubahan bentuk rupa, hujan batu (dari langit)", lalu seorang laki-laki dari kaum muslimin bertanya: "Wahai Rasulullah, kapankah hal tersebut?", beliau menjawab: "Jika telah nampak al qayyinat[24], alat-alat musik dan khamr telah di minum (dengan bebas)"[25]. 

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ وَالْمُغَنِّيَاتِ يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمْ الْأَرْضَ وَيَجْعَلُ مِنْهُمْ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ

Artinya: "Dari Abu Malik Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh benar-benar orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya, dimainkan di atas kepala-kepala mereka alat musik dan para penyanyi wanita, Allah melongsorkan tanah untuk mereka dan menjadikan dari mereka kera-kera dan babi-babi"[26]. 

Perkataan dari para ulama

- Umar bin Abdul Aziz rahimahullah
Beliau berkata kepada pengajar anaknya: "Hendaknya yang pertama mereka yakini dari adabmu adalah kebencian terhadap lagu, yang asal mulanya dari syetan dan akibatnya kemurkaan Ar Rahman, sungguh telah memberitahukan kepadaku beberapa ulama yang terpercaya bahwa mendengar alat-alat musik dan lagu dan terlena dengannya menumbuhkan kemunafikan di hati sebagaimana air menumbuhkan rumput"[27].

- Imam Abu Hanifah rahimahullah
Al Alusi berkata di dalam kitab Ruhul Ma'ani tentang pengharaman lagu, perkataan dari Abu Hanifah, beliau rahimahullah berkata: "Sesungguhnya lagu haram di dalam seluruh agama", dan As Sarkhasi rahimahullah di dalam kitab Al Mabsuth berkata: "Tidak diterima kesaksian para penyanyi"[28].

- Imam Malik rahimahullah
Beliau ditanya tentang apa yang diringakan oleh penduduk kota Madinah di dalam permasalahan lagu?, beliau menjawab: "Bagi kami hanya orang-orang yang fasik yang melakukannya"[29].

- Imam Syafi'ie rahimahullah
Beliau rahimahullah berkata di dalam kitab Al Umm: "Seseorang yang menyanyi dan menjadikan nyanyian tersebut pekerjaannya, dia didatangkan dan didatangi oleh orang, dan ia dinisbatkan kepada musi tersebut, terkenal karena musiknya dan begitupula wanita, maka tidak diterima kesaksian salah seorang dari mereka berdua, hal itu karena lagu adalah termasuk dari perbuatan melalaikan yang dibenci, yang serupa dengan kebatilan dan barangsiapa yang melakukan hal ini maka disifati dengan kebodohan dan hilang kehormatan diri dan barangsiapa yang ridha dengan ini untuk dirinya maka ia adalah orang yang diremehkan, meskipun (musik) itu bukan sesuatu yang haram dengan keharaman yang jelas. Dan jika ia tidak menisbatkan dirinya kepada musik tersebut, akan tetapi ia dikenal bahwasanya ia main musik dalam suatu keadaan dan menyanyi di dalamnya dan tidak menyibukkan diri untuk itu dan tidak diminta untyuk hal tersebut dan tidak ridah terhadapnya maka tidak gugur kesaksiannya demikian pula hukumnya terhadap wanita"[30].

- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
Imam Ahmad rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mati, meninggalkan anak laki-laki dan satu budak wanita penyanyi, lalu si anak butuh untuk menjualnya, lalu imam berkata: "Wanita penyanyi tersebut dijual sebagai budak wanita biasa, bukan karena dia penyanyi wanita", lalu beliau ditanya: "Ia senilai dengan 30 ribu, dan kemungkinan jika di jual sebagai budak biasa maka akan seharga 20 ribu, lalu imam menjawab: "Tidak dijual kecuali ia sebagai budak wanita biasa"[31].

- Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
Beliau rahimahullah berkata: "Madzhab imam yang empat adalah bahwa alat-alat musik seluruhnya haram…dan tidak ada seorang dari pengikut imam-imam tersebut ada pertentangan di dalam  masalah alat-alat musik"[32].

- Ibnu Qayyim rahimahullah
Beliau mengatakan: "Kecintaan kepada Al Quran dan kecintaan kepada alunan-alunan lagu di dalam hati seorang hamba tidak akan pernah menyatu"[33].

- Muhaddits Al Albani rahimahullah
Beliau rahimahullah berkata: "Para imam yang empat sepakat akan keharaman alat-alat musik seluruhnya"[34].

Bahaya Musik
- Menahan manusia dari jalan Allah

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ (6) وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (7)} [لقمان: 6، 7]

Artinya: "Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih"[35]. 

- Menjauhkan dari Al Quran

{ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ} [الرعد: 28]

Artinya: "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram"[36].

Terakhir, perhatikan perkataan yang sangat luar biasa ini

و " الْمَعَازِفُ " هِيَ خَمْرُ النُّفُوسِ تَفْعَلُ بِالنُّفُوسِ أَعْظَمَ مِمَّا تَفْعَلُ حُمَيَّا الْكُؤُوسِ فَإِذَا سَكِرُوا بِالْأَصْوَاتِ حَلَّ فِيهِمْ الشِّرْكُ وَمَالُوا إلَى الْفَوَاحِشِ وَإِلَى الظُّلْمِ فَيُشْرِكُونَ وَيَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ وَيَزْنُونَ . وَهَذِهِ " الثَّلَاثَةُ " مَوْجُودَةٌ كَثِيرًا فِي أَهْلِ " سَمَاعِ الْمَعَازِفِ " : سَمَاعِ الْمُكَاءِ وَالتَّصْدِيَةِ أَمَّا " الشِّرْكُ " فَغَالِبٌ عَلَيْهِمْ بِأَنْ يُحِبُّوا شَيْخَهُمْ أَوْ غَيْرَهُ مِثْلَ مَا يُحِبُّونَ اللَّهَ.

Artinya: "Dan Al Ma'azif (alat-alat yang mengeluarkan musik atau musik itu sendiri) adalah pemabuknya jiwa, dia berbuat kepada jiwa lebih dahsyat daripada apa yang diperbuat oleh cangkir-cangkir panas (khamr), jika mereka telah mabuk dengan suara-suara (nyanyian) maka akan masuk ke dalam diri mereka kesyirikan dan condong kepada perbuatan-perbuatan fahisyah (zina dan segala yang mendekatkannya-pent) dan kepada perbuatan zhalim, maka akhirnya mereka melakukan kesyirikan, membunuh jiwa yang telah diharamkan oleh Allah serta berzina. Dan tiga perkara ini banyak terdapat pada orang-orang yang suka mendengar  musik; mendengarkan siulan dan tepuk tangan, adapun perihal kesyirikan maka banyak terdapat pada mereka yaitu dengan mencintai syeikh mereka atau selainnya seperti mereka mencintai Allah Ta'ala. Lihat Majmu' Fatwa, 10/417. 

Pertama mendengarkan musik, mengakibatkan…

Kedua melakukan kesyirikan, mengakibatkan…

Ketiga membunuh jiwa yang diharamkan untuk dibunuh, terakhir mengakibatkan… 

Keempat berzina.

*) Ditulis oleh: Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, Kamis, 4 Shafar 1433, Dammam KSA.

[1] QS. Az Zumar: 23
[2] QS. Al Isra-': 9
[3] Hadits riwayat Bukhari
[4] Muttafaqun 'alaih
[5] Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 6469)
[6] Muttafaqun 'alaih
[7] Muttafaqun 'alaih
[8] Hadit riwayat Abu Daud dan Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam As Silsilah Ash Shahihah (no. 2240)
[9] Hadits riwayat Muslim
[10] Hadits riwayat Muslim
[11] Hadits riwayat Abu Daud dan
[12] QS. Al Insan: 2
[13] QS. Al Mulk: 23
[14] Lihat: Kitab Fathul Bari (10/55)
[15] Lihat: Al Majmu' (11/577)
[16] Lihat: Kitab Fathul bari (10/55)
[17] QS. Luqman: 6
[18] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir: (3/451)
[19] QS. An Najm: 59-61
[20] Lihat: Tafsir Ath Thabari (27/82)
[21] Hadits riwayat Bukhari (5/2123)
[22] Hadits riwayat Tirmidzi dan dihasankan oleh Imam Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah (no. 2157)
[23] Hadits riwayat Al Bazzar (597) di dalam Kasyful Astar dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam As Silsilah ash Shahihah (no. 427)
[24] Penyanyi-penyanyi wanita
[25] Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al Albani di dalam As Silsilah Ash Shahihah (no. 2203)
[26] Hadits riwayat Ibnu Majah di dalam Kitab Al Fitan (no. 4020), Ath Thabarani di dalam Al Mu'jam Al Kabir (no. 3419) dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (no. 1384) dan Ibnul Qayyim di dalam Ighatsatul Lahfan (1/261) serta Imam Al Albani di dalam Shahih Ibnu Majah (no. 3247)
[27] Disebutkan oleh Ibnu Abid Dunya di dalam kitab Dzammil Malahi (hal. 40-41), dan lihat: kitab Sirah Umar bin Abdul Aziz karya Ibnul jauzi (hal. 296)
[28] Lihat: kitab Hasyatul Jamal (5/380), cet. Ihya Turats, Kitab Hasyiyah Ibnu 'Abidin (5/253, 4/384), Hasyiyatud Dasuqi (4/166)
[29] Disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Talbisu Iblis (hal. 244) dengan sanad yang shahih dari Ishaq bin Isa Ath Thiba' dan ia adalah perawi yang tsiqah dari para perawi shahih Muslim
[30] Lihat: Kitab Al Umm (6/209), cet. Darul Ma'rifah
[31] Lihat: Kitab Asy Syarhul Kabir, karya Ibnu Qudamah (4/41)
[32] Lihat: Kitab Majmu' fatawa (11/576)
[33] Lihat: Qasidah An Nuniyah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah
[34] Lihat: kitab As Silsilah Ash Shahihah (1/145)
[35] QS. Luqman: 6-7
[36] QS. Ar Ra'd: 28

 

 

Memaafkan Dan Berlapang Dada

Di bawah ini tertulis beberapa prinsip mulia Islam dalam etika berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim.

 
 
 
Memaafkan atas sebuah kezhaliman lebih baik daripada mendendam, dibawa sampai ke akhirat.
 
Memaafkan seseorang yang pernah berbuat kezhaliman kepada kita, apapun bentuk kezhalimannya, adalah merupakan syariat Islam dan sesuatu yang diperintahkan di dalam Al Quran yan Mulia serta dicontohkan di dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang agung.
 
Memang berat…tapi ganjaran pahalanya juga sangat besar, yaitu diampuni Allah Ta'ala dosa-dosanya.
 
Mari kita perhatikan ayat dan hadits mulia berikut:
 
{ وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [النور: 22]
 
Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. An Nur: 22.
 
Ayat ini diturunkan dalam menceritakan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang telah bersumpah untuk tidak lagi membiayai dan menafkahi Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anhu, karena Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk orang yang mengatakan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha.
 
Dan ketika Allah Ta'ala telah menurunkan ayat yang menjelaskan tentang keterlepasan Aisyahradhiyallahu 'anha dari segala tuduhan yang telah dibuat-buat kaum munafik tersebut, kemudian keadaan kaum muslim menjadi tenang kembali, Allah Ta'ala memberikan taubat-Nya kepada kaum beriman yang ikut berkata dalam berita ini, dan didirikan pidana atas yang berhak mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
 
Maka Allah dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, mengajak Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhuuntuk memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, yang juga merupakan anak bibi beliau, seorang miskin yang tidak mempunyai harta kecuali hanya dari pemberian Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhusaja, dan  Misthah radhiyallahu 'anhu termasuk dari kaum Muhajirin serta telah diterima taubatnya oleh Allah Ta'ala, apalagi Misthah radhiyallahu 'anhu sudah mendapatkan hukuman pidana atas perbuatannya tersebut. Lalu apa sikap Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu akhirnya, mari perhatikan hadits berikut:
 
أَنَّ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم – قَالَتْ: "... فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِى بَرَاءَتِى قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ - رضى الله عنه - وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ ، وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِى قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ) قَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى ، وَاللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِى ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِى كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ ، وَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha Istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Ketika Allah telah menurunkan keterlepasanku (dari berita dusta yang disebarkan kaum munafik), Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata tentang Misthah bin Utsatsah radhiyallahu 'anha, yang mana Misthah adalah orang yang beliau nafkahi, karena hubungan kekerabatannya dengan beliau dan karena kemiskiannya: "Demi Allah, selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikitpun, setelah apa yang ia katakan tentang Aisyah radhiyallahu 'anha", maka Allah-pun menurunkan ayat:
 
( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ )
 
Artinya: "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 
Maka Abu bakar berkata: "Tentu, demi Allah, aku menginginkan agar aku diampuni Allah Ta'ala". Maka beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang dulu beliau beri nafkah. Dan beliau berkata:"Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan nafkah untuknya". HR. Bukhari dan Muslim. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah.
 
Kawan pembaca… saya yakin Anda paham ceritanya…
 
Jadi…Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang awalnya ingin menghentikan membiayai Misthahradhiyallahu 'anhu, disebabkan Misthah radhiyallahu 'anha termasuk orang yang ikut berkata akan berita dusta tentang Aisyah radhiyallahu 'anha yang telah diprakarsai oleh kaum munafik, tetapi setelah melihat ganjaran pahala yang begitu besar dari Allah Ta'ala jika beliau memaafkan Misthah radhiyallahu 'anhu, maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pun memilih untuk mendapatkan ganjaran tersebut, yaitu berupa ampunan dari Allah Ta'ala, daripada menyimpan dendam yang tiada habisnya. Allahu Akbar!.
 
Maafkanlah kesalahan saudara-saudara seiman kita, apapun kesalahannya, jangan dendam tersebut selalu menyesakkan dada kita, apakah kita tidak mau mendapatkan ampunan Allah Ta'ala. Memaafkan = Mendapat Ampunan Allah Ta'ala.
 
2. Memaafkan harus dibarengi dengan perasaan lapang dada.
 
Kesempurnaan sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
 
Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:
Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:
- si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,
- si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,
- si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,
- si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,
- si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,
dan contoh-contoh yang lain masih banyak. Mungkin bisa cari sendiri.
 
Padahal, kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Al Quran, maka seorang muslim diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita perhatikan:
 
{وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا} [النور: 22]
 
Artinya: "…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…". QS. An Nur: 22.
 
Di dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang yang pernah menyakiti. Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya As Sa'di rahimahullah.
 
{فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [المائدة: 13]
 
Artinya: "…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". QS. Al Maidah: 13.
 
Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran:
 
1. Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang Muhsin.
 
2. Seorang Muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah Ta'ala. Dan keutamaan orang yang dicintai Allah Ta'ala adalah:
 
- Masuk surga
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?", beliau menjawab:"Apa yang telah kamu siapkan untuk hari kiamat?", lelaki itu menjawab: "Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka sungguh kamu kan bersama yang kamu cintai".  HR. Bukhari dan Muslim.
 
- Diharamkan oleh Allah Ta'ala untuk masuk neraka.
 
عنْ أَنَسٍ رضى الله عنه قَال: قَالََ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ»
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Demi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang dicintai-Nya ke dalam Neraka".HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047.
 
- Dicintai oleh seluruh malaikat 'alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ »
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Jika Allah Tabaraka wa Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah Ta'ala memanggil Jibril : "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah fulan", maka Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril menyeru di langit: "Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah kalian fulan", maka  penduduk langitpun mencintainya dan diletakkan baginya penerimaan di tengah-tengah penduduk bumi". HR. Bukhari.
 
Semoga bermanfaat.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 22 Rabi'uts Tsani 1432 H, Dammam KSA

 

 

Jangan Remehkan Dosa (Meskipun) Kecil

Tulisan ini adalah nasehat bagi penulis dan pembaca untuk tidak meremehkan dosa, apakah itu dosa kecil atau besar.
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

 1. Memang sebagian besar ulama Islam membagi dosa itu ada yang besar dan kecil, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Al Quran dan Sunnah:
 
 
{إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا} [النساء: 31]
 
Artinya: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)". QS. An Nisa: 31.
 
Ath Thufi berkata: "Di dalam ayat ini terdapat pembagian dosa-dosa kepada besar dan kecil, dan sesungguhnya menjauhi seluruh dosa besar merupakan penghapus لاشله dosa kecil". Lihat Al Isyarat Al Ilahiyyah, 2/23-24.
 
{الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ} [النجم: 32]
 
Artinya: "(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari Al lamam (dosa-dosa kecil). Sesungguhnya Rabbmu Maha Luas ampunan-Nya". QS. An Najm: 32.
 
Kebanyakan para ulama tafsir dari genereasi terdahulu dan belakangan berpendapat bahwa Al Lammamadalah: dosa-dosa kecil. 
 
Lihat kitab Al Kabair, karya Adz Dzahaby dan ditahqiq oleh Syeikh Masyhur Hasan Salman.
 
Dan Hadits yang menunjukkan bahwa dosa itu terbagi menjadi besar dan kecil:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه -  قَالَ قَالَ رسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Shalat lima waktu, mengerjakan shalat jumat kepada shalat jumat (setelahnya) dan puasa di bulan Ramadhan kepada bulan Ramadhan (setelahnya) merupakan penebus dosa diantaranya selama menjauhi dosa-dosa besar". HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 3322.
 
عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ سُئِلَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَنِ الْكَبَائِرِ قَالَ «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَشَهَادَةُ الزُّورِ» 
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallampernah ditanya tentang dosa-dosa besar?", beliau menjawab: "Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua, membunuh seseorang, bersaksi palsu". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Oleh sebab inilah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
 
وقد دل القرآن والسنة وإجماع الصحابة والتابعين بعدهم والأئمة على أن من الذنوب كبائر وصغائر...
 
Artinya: "Dan sungguh telah ditunjukkan oleh Al Quran, Sunnah dan Ijma' para shahabat, tabi'ien setelah mereka serta para imam, bahwa dosa itu ada yang besar dan kecil…". Lihat Ad Da'u wa ad Dawa'.
 
Dan definisi dosa besar menurut Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma dan Al Hasan Al Bashrirahimahullah adalah:
 
الكبائر كل ذنب ختمه الله تعالى بنار أو غضب أو لعنة أو عذاب 
 
Artinya: "Dosa besar adalah setiap dosa yang ditutup Allah dengan (ancaman masuk) neraka, (mendapatkan) kemurkaan, (mendapatkan) laknat atau (mendapatkan) siksa". Lihat Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
2. Tetapi, meskipun ada pembagian dosa, jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa, baik kecil apalagi dosa besar.
 
Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang munafik yang menyebarkan berita dusta tentang istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Aisyah radhiyallahu 'anha dan mereka mengira bahwa perbuatan tersebut ringan dan remeh padahal:
 
{...وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ}
 
 
Artinya"…dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar". QS. An Nur: 15. Lihat Tafsir Ibnu Katsir.
 
Dan terkadang amalan tersebut remeh, rendah menurut kita, ternyata di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menurut para shahabat radhiyallahu 'anhum tergolong dosa yeng membinasakan dan akhirnya menyeburkannya ke dalam neraka.
 
عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُوبِقَاتِ 
 
Artinya: "Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian lebih tipis daripada rambut, tetapi kami di zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menganggapnya sebagai dosa-dosa yang membinasakan".HR. Bukhari.
 
Seorang yang beriman sangat takut akan sebuah dosa yang dia lakukan, adapun seorang yang sering melakukan dosa sangat meremehkan dosa yang dia lakukan.
 
عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدِيثَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَالآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ «إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ» 
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir (yang selalu berbuat dosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut". HR. Bukhari.
 
Dan… Perhatikan! Perhatikan! Perhatikan!
 
Perkataan penuh makna dan pelajaran di bawah ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
 
وههنا أمر ينبغي التفطن له وهو أن الكبيرة قد يقترن بها من الحياء والخوف والاستعظام لها ما يلحقها بالصغائر وقد يقترن بالصغيرة من قلة الحياء وعدم المبالاة وترك الخوف والاستهانة بها ما يلحقها بالكبائر بل يجعلها في أعلى رتبها وهذا أمر مرجعه إلى ما يقوم بالقلب. 
 
Artinya: "Dan disini ada sebuah perkara yang harus dicermati, yaitu bahwa sebuah dosa besar terkadang dibarengi dengan sifat malu, rasa takut dan pengagungan akan beratnya dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa kecil, dan (sebaliknya) terkadang sebuah dosa kecil dibarengi dengan sedikit rasa malu, tidak mengacuhkan, tidak takut dan sikap meremehkan dengan dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa besar, bahkan menjadikannya di tingkatan yang paling tinggi (dari dosa-dosa besar itu). Dan perkara ini kembalinya kepada apa yang terbetik di dalam hati". Lihat kitab Madarij As Salikin, karya Ibnul Qayyim.
 
Sebagian orang terlalu PEDE dengan banyaknya amalan dan terlalu merasa aman dari ancaman siksa atas dosa-dosanya.
 
Yang benar adalah tetaplah beramal dan berharap amalannya diterima dan takutlah sebuah dosa dan berharap Allah Ta'ala mengampuninya.
 
قَالَ ابْنُ عَوْنٍ رحمه الله: " لَا تَثِقْ بِكَثْرَةِ الْعَمَلِ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي تُقْبَلُ مِنْكَ أَمْ لَا، وَلَا تَأْمَنْ ذُنُوبَكَ، فَإِنَّكَ لَا تَدْرِي هَلْ كُفِّرَتْ عَنْكَ أَمْ لَا، إِنَّ عَمَلَكَ عَنْكَ مُغَيَّبٌ مَا تَدْرِي مَا اللهُ صَانِعٌ فِيهِ، أَيَجْعَلُهُ فِي سِجِّينَ ، أَمْ يَجْعَلُهُ فِي عِلِّيِّينَ "
 
Artinya: "Ibnu 'Aun rahimahullah berkata: "Jangan terlalu yakin dengan banyaknya amal, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah amalan Anda diterima atau tidak?, dan jangan pula terlalu merasa aman dengan dosa-dosa Anda, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah diampuni dosa Anda atau tidak?, sesungguhnya amalan Anda gaib dari Anda, Anda tidak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap amalan Anda, apakah Allah jadikannya di dalam Sijjin (buku catatan dosa)? Ataukah dijadikan-Nya di dalam 'Illyyin (buku catatan amal shalih)?".Lihat Kitab Syu'ab Al Iman, karya Al Baihaqi.
 
Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan in adalah:
 
1. Jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa
2. dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya dan seterusnya akan menjadi segunung dosa, bahkan bisa menjadi dosa besar.
 
Ath Tahbarani rahimahullah berkata: 
 
أن الإصرار على الصغائر حكمه حكم مرتكب الكبيرة الواحدة على المشهور.
 
Artinya: "Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)". Lihat Kitab Al Mu'jam Al Awsath, karya Ath Thabrani, no. 3759.
 
Bilal bin Sa'ad seorang tabi'ie rahimahullah berkata:
 
 
لا تنظر إلى صغر المعصية وانظر إلى عظمة من عصيت
 
Artinya: "Janganlah kamu lihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya Yang kamu maksiati".
 
خلِّ الذنوب صغيرها * وكبيرها ذاك التقى
Tinggalkanlah semua dosa kecilnya # Dan besarnya, yang demikian itulah ketakwaan
 
واصنع كماشٍ فوق * أرض الشوك يحذرُ ما يرى
Berbuatlah seperti seorang yang berjalan di atas # Tanah yang penuh denga duri dan berhati-hati atas apa yang dia lihat.
 
لا تحقرن صغيرةً * إن الجبال من الحصى
Janganlah sekali-kali kamu menghina sebuah dosa kecil # Sesungguhnya gunung-gunung berasal dari bebatuan kecil. Wallahu a'lam
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad, 6 Jumadal Ula 1423H, Dammam KSA.

 

Biar Yang 'Alim Menjawab

Caranya orang bodoh yang bertanya dan orang alim yang menjawab, jangan dibalik!
 
Seiring terbukanya sarana informasi dan komunikasi yang sangat mudah dan cepat, bermunculan pula tulisan-tulisan yang berkaitan dengan agama, jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan agama, artikel-artikel yang berkaitan tentang agama, buku bermacam-macam membicarakan permasalahan-permasalahan agama yang bermacam-macam.
 
Bahkan, kadang ada pertanyaan yang tidak pantas menjawabnya kecuali seorang alim dengan Al Quran beserta tafsirnya, hadits beserta kaidah dan penjelasannya, fikih beserta kaidah dan ushulnya dan bahasa Arab beserta kaidah-kaidahnya, e…ternyata dijawab oleh orang bodoh dengan semuanya yang disebutkan tadi.
 
Tidak sedikit, ada yang mengatakan, "Ini halal, itu haram, ini mubah, itu dianjurkan, ini makruh, ini wajib, itu sunnah, ini syirik, itu bid'ah, tanpa ada dalil satupun dari Al Quran atau As Sunnah berdasarkan pemahaman para shahabat radhiyallahu 'anhum
 
Semuanya memberi fatwa, semuanya berbicara tentang sebuah permasalahan agama, yang kalau seandainya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma disodorkan dengan permasalahan agama yang sama, niscaya akan mengumpulkan seluruh kaum Anshar dan kaum Muhajirin radhiyallahu 'anhum, meminta pendapat mereka dalam menjawab permasalahan tersebut. 
 
Kadang ironis, akibat canggihnya teknologi, yang sebenarnya idealnya menjadi sarana agar lebih beriman dan bertakwa kepada Allah Ta'ala,  e…malah dijadikan ajang untuk bertanya kepada siapa saja tanpa melihat siapa yang ditanya atau untuk tampil berharap dijadikan Ahli Fatwa seluruh dunia.Wallahul musta'an. 
 
Tulisan di bawah ini hanya untuk mengingatkan diri pribadi dan kaum muslim sekalian. Semoga bermanfaat:

 
1. Tugasnya orang bodoh tentang agama bertanya dan tugasnya orang alim tentang agama menjawab. Allah Ta'ala befirman:
 

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]
 
Artinya: "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". QS. An Nahl: 43.


Berkata Syeikh Al 'Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di  rahimahullah (w: 1376H): "Keumuman ayat ini di dalamnya terdapat sanjungan terhadap ulama dan sesungguhnya tingkatan ilmu yang tertinggi adalah pengetahuan akan Kitabullah (Al Quran) yang diturunkan oleh-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan siapa yang tidak mengetahui, untuk kembali kepada mereka (ulama) di seluruh perkara. Di dalam ayat ini, mencakup penetapan dan rekomendasi bagi ulama, karena diperintahkan untuk bertanya kepada mereka, dan hal tersebut mengeluarkan orang bodoh untuk diikuti, maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengamanati mereka atas wahyu dan Kitab-Nya, dan mereka (ulama) diperintahkan untuk mensucikan diri mereka dan bersifat dengan sifat sempurna". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di. (1/572).
 
Jalaluddin As Suyuthi rahimahullah (w: 911) menyebutkan sebuah riwayat:
 

لا ينبغى للعالم أن يسكت عن علمه ولا ينبغى للجاهل أن يسكت عن جهله قال الله {فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون } [النحل : 43]
 

Artinya: "Tidak pantas bagi seorang alim untuk diam atas ilmunya dan tidak pantas untuk orang bodoh untuk diam atas kebodohannya, Allah Ta'ala berfirman:
 

{ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النحل: 43]
 

Artinya: "… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui". QS. An Nahl: 43.
 
Diriwayatkan oleh Ath Thabrani rahimahullah (w: 360H) di dalam Al Mu'jam Al Awsath (no. 5365) dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Berkata Al Haitsami rahimahullah (w: 807): "Di dalam (sanad) hadits ini terdapat perawi Muhammad bin Ahmad, dan ulama telah bersepakat akan kelemahannya". Diriwayatkan juga oleh Ad Dailami (no. 7784). Lihat Jami' Al Ahadits, karya Jalaluddin As Suyuthi.
 
2. Jangan sok tahu tentang Agama, sangat berbahaya!

Saya mengajak diri saya dan kaum muslim untuk memperhatikan ancaman yang begitu keras, bagi orang yang membuat kedustaan terhadap Allah Ta'ala, yaitu dengan berbicara tentang tentang Allah atau agama-Nya tanpa ilmu atau dasar pengetahuan.
 

{وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ} [الأنعام: 93]
 

Artinya: "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". QS. Al An'am: 93.
           
Imam Al Qurthubi rahimahullah (w: 671H) berkata –ketika mengomentari ayat di atas-: "Dan termasuk contoh ini adalah orang yang menolak fikih dan sunnah-sunnah serta apa-apa yang dijalani oleh para salaf (orang terdahulu) berupa sunnah-sunnah, lantas ia berkata: "Terbesit di dalam benak saya hal ini", atau dengan mengatakan: "Perasaan saya berbicara seperti ini", lalu mereka menghukumi dengan apa yang terbesit di dalam hati mereka atau apa yang mereka rasakan dari perasaan mereka.  Mereka mengaku bahwa hal tersebut dikarenakan kebersihannya (hati mereka) dari kotoran dan terlepasnya dari perubahan-perubahan, lalu nampaklah bagi mereka ilmu (Al 'Ulum Al Ilahiyyah) dan hakikat ketuhanan (Al Haqaiq Ar Rabbaniyyah), akhirnya mereka mengetahui rahasia-rahasia yang menyeluruh dan mengetahui hukum-hukum cabang, kemudian meninggalkan hukum-hukum syariat yang menyeluruh, seraya mengatakan: "Ini adalah hukum-hukum syariatnya orang awam dan dikhususkan hanya untuk orang bodoh dan awam saja, sedangkan para wali dan orang khusus, mereka tidak memerlukan dalil-dalil itu". Lihat Al Jami' Li Ahkam Al Quran, karya Al Quthubi (7/41).   
 
Syeikh Al Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di (w: 1376H) rahimahullah berkata tentang Firman Allah Ta'ala di atas: "Tidak ada seorangpun yang lebih besar kezahlimannya dan lebih besar kesalahannya, daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah, yaitu dengan menyandarkan kepada Allah sebuah perkataan atau ucapan yang mana Allah Ta'ala berlepas darinya. Dan orang ini adalah makhluk yang paling zhalim karena di dalamnya terdapat kedustaan, yaitu merubah ajaran agama dari dasar dan cabangnya, serta menisbatkan hal tersebut kepada Allah termasuk kerusakan yang sangat besar". Lihat Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al Kalam Al Mannan, karya Syeikh Al 'Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa'di. (1/264).
 
Mari perhatikan juga, firman Allah Ta'ala:
 

{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (116) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (117)} [النحل: 116، 117].
 

Artinya: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung". "(Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih". QS. An Nahl: 116-117.
 
Ibnu Katsir rahimahullah (w: 774H) berkata: "Allah Ta'ala telah melarang untuk mengikuti jalannya kaum musyrik, yang telah menghalalkan dan mengharamkan hanya dengan sesuatu yang telah mereka sifati dan terbiasa dengannya tentang nama-nama berdasarkan pendapat-pendapat mereka. Dan termasuk dalam hal ini, seluruh orang yang membuat sesuatu yang baru yang tidak mempunyai dasar syariat atau yang telah menghalalkan sesuatu dari apa yang telah diharamkan oleh Allah atau mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah, hanya berdasarkan pendapat dan hawa nafsunya. Kemudian Allah mengancam akan hal tersebut, Allah berfirman:
 

إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
 

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung".  
 
Maksudnya; (tidak beruntung) di dunia dan di akhirat, adapun dunia ancamannya adalah kesenangan yang sedikit, sedangkan di akhirat siksa yang pedih". Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir (2/590).
 
Malaikat Jibril 'alaihissalam dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja mengatakan: "Aku tidak tahu".
 
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Jubair bin Muth'imradhiyallahu 'anhu, beliau bercerita:
 
 

َأنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ قَالَ فَقَالَ « لاَ أَدْرِى ». فَلَمَّا أَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ قَالَ « يَا جِبْرِيلُ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ ». قَالَ لاَ أَدْرِى حَتَّى أَسْأَلَ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ. فَانْطَلَقَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ثُمَّ مَكَثَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَمْكُثَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ سَأَلْتَنِى أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقُلْتُ لاَ أَدْرِى وَإِنِّى سَأَلْتُ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَىُّ الْبُلْدَانِ شَرٌّ فَقَالَ أَسْوَاقُهَا.
 

"Seseorang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, daerah manakah yang paing buruk?", beliau menjawab: "Aku tidak tahu", ketika Jibril 'alaihissalammendatangi beliau, beliau bertanya: "Wahai Jibril, daerah manakah yng paling buruk?", Jibril menjawab: "Aku tidak tahu, tunggu sampai aku bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla",  lalu Jibril'alahissalam pun pergi, kemudian berdiam sesuai kehendak Allah Ta'ala, kemudian Jibril 'alahissalamdatang dan berkata: "Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau bertanya kepadaku tentang daerah manakah yang paling buruk? dan aku jawab; aku tidak tahu, dan sungguh aku telah bertanya kepada Rabbku Azza wa Jalla tentang daerah mana yang paling buruk?", Dia (Allah Azza wa Jalla) menjawab: "Pasar-pasarnya". HR. Ahmad dan Al Albani berkata di dalam kitab Sifat Al Fatwa wa Al Mufti wa Al Mustafti (hal. 9): "Dan Hadits ini telah diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad yang baik". Lihat kitab Afat Al 'Ilm, hal. 142, karya Syeikh Muhammad bin Sa'id bin Rislan hafizhahullah.
 
2. Jangan jadi pencetus, pelopor, penyebar kesesatan khususya di dalam perkara agama, sangat sangat berbahaya!
 
Perhatian! untuk diri saya pribadi dan kaum muslim,
Umur kita terbatas…,
Hidup cuma sekali…,
Setelah mati yang ada hanya pertanggung jawaban di hadapan Allah Ta'ala..,
maka wahai kawan…jangan jadi pelopor, pencetus, penyebar kesesatan, khususnya di dalam perkara agama…,
 
inilah ancaman dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
 

« مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا »
 

Artinya: "Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka baginya pahala seperti pahalanya orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi pahala tersebut (yang diberikan kepada pengajak sebuah petunjuk) dari pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosanya orang-orang yang mengikutinya, tidak mengurangi dosa tersebut (yang dikenakan kepada pengajak sebuah kesesatan) dari dosa-dosa mereka sedikitpun". HR. Bukhari dan Muslim. Wallahu a'lam.
 

*) Selesai ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 7 Shafar 1432H

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung