Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Kunci Sukses Berumah Tangga (Bag 1)

Contoh Wanita yang Tidak Taat Kepada Suami

Jika seorang Istri memahami dan mempelajari hal-hal yang merupakan ketidak taatan kepada suami, maka ini adalah salah satu kunci sukses berumahtangga.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على بينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Kawanku pembaca…

Allah telah menyatakan bahwa seorang wanita ditakutkan berbuat nusyuz terhadap suaminya.

{وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا. وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا} النساء:34-35

Artinya: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. An Nisa’: 34-35.

Arti Nusyuz

Berkata Al Ashfahany:

ونشوز المرأة بغضها لزوجها ورفع نفسها عن طاعته وعينها عنه إلى غيره

Nusyuznya seorang istri adalah ia membuat suaminya marah, melepaskan ketaatan kepada suaminya, memalingkan matanya dari suaminya kepada yang lainnya.” Lihat kitab Al Mufradat fi Gharib Al Quran.

Berkata Syihabuddin Al Mishry:

أي معصيتهن وتعاليهن عما أوجب الله عليهن من طاعة الأزواج والنشوز بغض المرأة للزوج أو الزوج للمرأة

Nusyuznya mereka (para istri) yaitu maksiat dan kesewenang-wenangan mereka (para istri) dari apa yang telah Allah wajibkan atas mereka berupa taat terhadap para suami, dan dapat dikatakan juga nusyuz adalah istri membuat marah suami atau sebaliknya.” Lihat kitab At Tibyan Tafsir Gharib Al Quran, karya Syihabuddin Al Mishry.

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa akan terjadinya konflik di dalam rumah tangga, baik besar atau kecil. Termasuk nusyuz adalah istri tidak taat kepada suami.

Kawanku pembaca…

Di bawah ini disebutkan contoh wanita tidak taat kepada suami.

Pertama, tidak mau melayani suami di atas ranjang.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا ، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang lelaki memanggil istrinya ke ranjangnya (untuk dilayani), lalu dia enggan, maka suami marah pada malam itu terhadapnya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” HR. Bukhari.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِى فِى السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, tidak ada seorang lelaki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istrinya enggan melainkan yang di langit marah kepadanya sampai suaminya rela kepadanya.” HR. Muslim.

Al ‘Iraqy rahimahullah berkata:

قال العراقي : وفيه أن إغضاب المرأة لزوجها حتى يبيت ساخطاً عليها من الكبائر وهذا إذا غضب بحق .

Artinya: “Di dalam hadits ini terdapat bahwa seorang istri membuat marah suaminya sampai suaminya pada malam itu marah kepadanya maka hal ini termasuk dosa besar, dan ini jika suami marah dengan kebenaran.” Lihat kitab faidhul Qadir, karya Al Munawi.

Ada hikmah yang sangat menarik kenapa seorang wanita diancam begitu berat jika tidak melayani suaminya, yaitu seorang lelaki lebih lemah menahan nafsu dibandingkan dengan istrinya dan seorang lelaki ketika memutuskan menikah salah satu tujuannya adalah  untuk melampiaskan syahwat pada yang halal, maka jika seorang istri elayaninya terlaksanalah niat baik itu dan ini merupakan bentuk pertolongan seorang istri terhadap suami.

Kedua, tidak mau menjauhi larangan suami kecuali larangan untuk melaksanakan kewajiban.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ ، وَلاَ تَأْذَنَ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasullullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal seorang wanita berpuasa ketika suaminya hadir kecuali dengan izin (suami)nya dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izin (suami)nya dan apa saja yang dinafkahkan oleh seorang wanita tanpa perintah darinya maka sesungguhnya diberikan kepadanya setengahnya.” HR. Bukhari.

عن عَمْروِ بنِ الأحْوَصِ رضي الله عنه أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال :" أَلاَ إنّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُم حَقّاً. ولِنسَائِكمْ عَلَيْكُمْ حَقاً. فَأَمّا حَقكّمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِئنَ فُرُشكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ ولاَ يَأْذَنّ في بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ. ألاَ وحَقهُنّ عَلَيْكُمْ أنْ تُحسِنُوا إِلَيْهِنّ فِي كِسْوَتِهِنّ وطَعَامِهِن".

Artinya: “’Amr bin Al ‘Ahwash radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ingatlah sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian dan mereka mempunyai hak atas kalian, adapun hak kalian atas istri-istri kalian adalah kalian tidak membiarkan tidur di kasur-kasur kalian seseorang yang dibenci oleh suami-suami kalian dan mereka tidak mengizinkan di dalam rumah-rumah kalian siapa yang kalian benci. Ingatlah hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka dalam perkara pakaian dan makanan kalian.” HR. At Tirmidzi.

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa dilarang untuk istri mengerjakan beberapa perbuatan kecuali dengan izin suami, berarti jika dikerjakan tanpa izinnya maka termasuk contoh perbuatan yang dilarang suami dan dilanggar istri. Dan inilah contoh wanita yang tidak taat kepada suami.

Ketiga, tidak mau mentaati perintah suami dalam kebaikan.

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ} [النساء: 34]

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah Qawwamun (pemimpin bagi kaum wanita).” QS. An Nisa’: 34.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Qawwamun artinya adalah pemimpin-pemimpin, seorang wanita berkewajiban mentaati apa yang diperintahkan kepadanya, dan ketaatan kepada suami adalah berbuat baik kepada keluarganya dan menjaga hartanya.” Demikian pula yang dikatakan oleh Muqatil, As Suddy dan Adh Dhahhak, rahimahumullah. Lihat kitab Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir rahimahullah.

Mari kita lihat salah satu satu sifat istri yang masuk surga adalah taat kepada suami

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ ».

Artinya: “Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, dikatakan kepadanya masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang dikehendakinya.” HR. Ahmad

Keempat, buruk perangai dan tingkah laku kepada suami.

Buruk perangai dan perkataan kepada suami termasuk tanda istri tidak taat kepada suami, dan hal ini termasuk juga buruk perangai dan perkataan kepada keluarga suami. Allah Ta’ala berfirman:

لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِنْ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ - الطلاق: 1

Artinya: “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” QS. Ath Thalaq: 1.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan di dalam ayat di atas “Kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang”, maksudnya adalah:

بما إذا نشزت المرأة أو بذت على أهل الرجل وآذتهم في الكلام والفعال.

Artinya: “Jika seorang wanita berbuat nusyuz atau berkata keji dan kotor terhadap keluarga suami dan menyakiti mereka dalam ucapan ataupun perbuatan.” Lihat tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تُؤْذِى امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ».

Artinya: “Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari bidadari berkata: “Janganlah kamu menyakitinya, semoga Allah membinasakanmu, sesungguhnya ia adalah tamu di tempatmu hampir berpisah meninggalkanmu berkumpul dengan kami.” HR. Tirmidzi.


Hati-Hati! Jangan sampai membuat suami marah!

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اثنان لا تجاوز صلاتهما رؤوسهما عبد أبق من مواليه حتى يرجع وامرأة عصت زوجها حتى ترجع .  رواه الطبراني في الأوسط والصغير بإسناد جيد والحاكم.

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam: “Dua orang yang shalat keduanya tidak sampai kepada kepala keduanya, seorang budak yang kabur dari tuannya sampai dia kembali dan seorang wanita tidak taat kepada suaminya sampai kembali.” HR. Ath Thabrany di dalam kitab Al Mu’jam Al Awsath. Dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 288.

Al Munawi rahimahullah berkata: maksud dari “shalat keduanya tidak sampai kepada kepala keduanya” adalah:

أي لا ترفع إلى الله تعالى في رفع العمل الصالح بل أدنى شئ من الرفع أحدهما

Artinya: “Tidak diangkat kepada Allah dalam angkatan amal shalih bahkan ia pada sesuatu yang paling rendah daripada ketinggian keduanya.” Lihat kitab faidh Al Qadir.

Semoga para istri mengetahui dan memahami hal-hal yang meruapakan ketidak taatan kepada suami demi mencapai sukses berumah tangga. (Bersambung)

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa 13 Rabiuts Tsani 1433 H, Banjarmasin, Indonesia.

"PERBUATANMU, ITULAH YANG AKAN DIPERBUAT KEPADAMU"

 

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: بَلَغَنَا أَنَّهَ مَنْ أَهَانَ ذَا شَيْبَةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَبْعَثَ اللَّهُ عَلَيْهِ مَنْ يُهِينُ شَيْبَهُ إِذَا شَابَ

Artinya: “Dari Yahya Bin Sa’id, ia berkata: “Telah sampai kepada bahwa barangsiapa meremehkan orangtua renta, niscaya ia tidak mati sampai Allah mengutus kepadanya seseorang yang meremehkannya jika ia tua renta.” Lihat kitab Al ‘Umru wasy Syaib, karya Ibnu Abid Dunya , hal: 53.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung