Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Hukum Bekerja di bank Syariah

Pertanyaan:
Bagaimana hukum kerja di bank syariah?? haram atau halal...? Mohon petunjuknya.. Jazakallahu khaira..
 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Hukumnya tergantung di dalam bank syariah tersebut apakah benar-benar syari’at atau tidak, jika tidak ada praktek riba dengan segala macam jenisnya maka halal hukumnya bekerja di Bank Syari’ah tersebut.
 


Tetapi jika di dalam bank tersebut masih terdapat praktek Riba meskipun diganti dengan nama-nama yang mungkin kelihatan syar’ie terutama bagi orang awam, tetapi sebenarnya di dalamnya masih terdapat prkatek RIba maka haram hukumnya bekerja di Bank Syari’ah tersebut.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
 
Artinya: “Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat pemakan harta riba, pemberi, penulis dan kedua saksinya”, beliau bersabda: “Mereka sama (di dalam dosa).” HR. Muslim.
 


Pertanyaan:
Bagaimana pembagian harta peninggalan ayahnya yang murtad dia meninggalkan anak 3 dan istri?


Jawaban:
Jika bapaknya seorang murtad dan berarti dia kafir dan jika  tiga anaknya dan istrinya dari kaum muslim, maka mereka (tiga anaknya dan istrinya) tidak boleh mewarisi harta bapaknya dan suaminya yang kafir tadi. Hal ini berdasarkan sebuah hadits:
 
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ تَنْزِلُ غَداً إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَذَلِكَ زَمَنَ الْفَتْحِ فَقَالَ «هَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ مَنْزِلٍ» ثُمَّ قَالَ «لاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُؤْمِنَ وَلاَ الْمُؤْمِنُ الْكَافِرَ»
 
Artinya: “Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Seorang kafir tidak mewarisi seorang mukmin dan seorang mukimin tidak mewarisi seorang kafir.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7685.Wallahu a’alam.
 
 
 
Pertanyaan:
Sehubungan ada hadits yangg menerangkan tentang besarnya pahala bagi orang yang menyolati sampai menguburkan mayyit,,, pertanyaannya; apakah hukum menyolatkan mayyit bagi seorang perempuan,,jazakalloh khoir sebelumnya
 
Jawaban:
Boleh seorang wanita menshalati seorang  jenazah, karena tidak ada nash yang mengkhususkan shalat jeazah hanya untuk lelaki, maka dikembalikan kepada keumuman syari’at yaitu syari’at Islam umum untuk lelaki dan perempuan kecuali jika ada dalil pengkhususan.
 
Tetapi perlu diingat seorang perempuan dimakruhkan untuk mengikuti jenazah, berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha:
 
 (نُهِينَا عن اتِّبَاعِ الجنائز، ولَمْ يُعْزَمْ علينا)
 
Artinya: “Kami dilarang untuk mengikuti jenazah akan tetapi tidak ditekankan kepada kami (larang tersebut).” HR. Bukhari dan Muslim.
 
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
 
أي ولم يؤكد علينا في المنع كما أكد علينا في غيره من المنهيات، فكأنها قالت: كره لنا اتباع الجنائز من غير تحريم, وقال القرطبي ظاهر سياق أم عطية أن النهي نهي تنزيه وبه قال جمهور أهل العلم ومال مالك إلى الجواز وهو قول أهل المدينة ويدل على الجواز ما رواه بن أبي شيبة من طريق محمد بن عمرو بن عطاء عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان في جنازة فرأى عمر امرأة فصاح بها فقال دعها يا عمر الحديث وأخرجه بن ماجة والنسائي
 
Artinya: “Maksudnya adalah tidak ditekankan atas kita larangannya sebagaimana ditekankan atas kita dalam larang-larangan lainnya, seakan-akan beliau (Ummu Athiyyah) berkata: “Dimakruhkan bagi kita untuk mengikuti jenazah tanpa pengharaman”, berkata Al Qurthuby: “Terlihat jelas redaksi lafazh Ummu ‘Athiyyah bahwa larangan adalah larangan anjuran dan ini adalah pendapatnya kebanyakan para ulama. Dan Imam Malik condong kepada pendapat boleh (wanita mengikuti jenazah) dan ini adalah pendapat penduduk kota Madinah, dalil yang menunjukkan akan kebolehan adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu ketika pada seorang jenazah, lalu umar melihat seorang perempuan, maka beliau meneriaki perempuan tersebut, kemudian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan dia, wahai Umar.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan An Nasai tetapi hadits ini adalah hadits lemah dilemahkan oleh Al ALbani di dalam Dha’if Al Jami’, no. 2987.  
 
Wallahu a’lam.
 
*) Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, 22 Rabi’ul Awwal 1433H, Dammam KSA

"2 PENYELAMAT DAN 2 MEMBINASAKAN"

 

قَالَ سُفْيَانُ: وَقَالَ عَبْدُ اللهِ: " اثْنَتَانِ مُنْجِيَتَانِ , وَاثْنَتَانِ مُهْلِكَتَانِ , فَالْمُنْجِيَتَانِ: النِّيَّةُ وَالنُّهَى , فَالنِّيَّةُ أَنْ تَنْوِيَ أَنْ تُطِيعَ اللهَ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ , وَالنُّهَى أَنْ تَنْهَى نَفْسَكَ عَمَّا حَرَّمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ , وَالْمُهْلِكَتَانِ: الْعُجْبُ، وَالْقَنُوطُ "

 

Artinya: “Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dua hal yang menyelematkan dan dua hal membinasakan, 2 hal yang menyelamatkan adalah niat dan larangan, adapun niat yaitu kamu berniat untuk mentaati Allah untuk waktu yang akan datang, dan larangan adalah melarang dirimu dari apa yang telah diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla, dan dua hal yang membinasakan adalah sifat Ujub dan Berputus asa.” Lihat kitab Hilyat Al Awliya’, 7/298.

 

Berkata Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahullah: “Sisi penggabungan keduanya yang menyebabkan kehancuran adalah bahwa seorang yang berputus asa tidak akan minta kebahagiaan karena saking putus asanya, dan seorang yang ujub dengan amalnya tidak memintanya juga karena sangkaannya bahwa ia telah mendapatkan kebahagiaan tersebut, dan akhirnya terkumpullah dua hal yang membinasakan.” lihat di http://al-badr.net/muqolat/2687

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

 

Video Terbaru

Pengunjung