Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Tahlilan, Yasinan Dan Maulid Nabi

Pertanyaan:
 

Kenapa ulama2 wahabi dan muhammadiyah. menyatakan Bid'ah dan tidak memperbolehkan, Tahlilan dan Yasinan Serta Maulid Nabi. syukron.
 
 

 Jawaban:
 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
 
Sebelum jawaban, saya ingin mengingatkan bahwa asal istilah "wahabi" hanya dihembuskan oleh orang-orang kafir yang tidak ingin umat Islam beragama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.
 

Adapun mengenai jawaban atas pertanyaan adalah:
 

Tahlilan, yasinan dan Maulid Nabi termasuk bid’ah yang berakibat kaum muslim tidak boleh melaksanakannya karena tidak ada satu dalilpun yang SHAHIH (BENAR) DAN SHARIH (JELAS) menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam melakukan, menganjurkan atau memerintahkannya.
 

Dan apabila sebuah perbuatan yang berkaitan dengan agama, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah dianjurkan atau disetujui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam padahal:
 

- beliau mampu mengerjakannya,

- dan tidak ada halangan beliau mengerjakannya, 
 

Maka jika dikerjakannya di zaman sekarang menjadi perbuatan yang dibuat-buat dalam perkara agama atau disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Bid’ah.
 

Dan perlu diingat, mungkin setelah membaca jawaban ini mungkin ada terbetik;

“Masa mungkin seluruh yang mengerjakan hal-hal di atas salah dan keliru selama ini, padahalkan itu dari kakek, buyut saya, bahkan sebelum ada saya juga sudah ada dan mereka kan para ulama juga.”
 
Maka bisa dijawab:
 

- Kebenaran itu berasal dari Al Quran dan Hadits, bukan berasal dari pendapat manusia biasa yang bukan Nabi atu Rasul.
 

- Kebenaran tidak dilihat dari banyak atau tidaknya pengikut atau pelaku akan tetapi sesuai dengan Al Quran dan Hadits tidak.

 
“Masa sih tidak ada dalilnya, yang menganjurkan perbuatan-perbuatan itu kan para ulama juga.” 
 
Maka bisa dijawab:
 

- Hal-hal yang disebutkan seperti tahlilan, yasinan, maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada dalilnya kalaupun ada tidak lebih dari;
 

1. Dalilnya palsu yang seorang muslim tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan bersandarkannya.
 

2. Dalilnya lemah yang seorang muslim juga tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan menurut pendapat yang lebih kuat.
 

3. Dalilnya shahih tetapi salah dalam pendalilannya atau dalam kata lain terlalu dipaksakan sebagai dalil.
 
"Masa sih tidak boleh, di dalamnya kan kita beribadah; baca Al Quran, membaca shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berdzikir dan ibadah lainnya seperti sedekah, silaturrahim dan lainnya.” 
 
Maka bisa dijawab:
 

Apa yang disebutkan tadi memang ibadah yang disyari’atkan dalam Islam tanpa ada keraguan di dalamnya, tetapi perlu diingat ibadah tersebut harus sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam perihal; tempatnya, waktunya, sebabnya, jumlah bilangannya, tata caranya, jenisnya.
 

Saya beri contoh: mengkhususkan membaca yasin setiap malam jumat, pengkhususan malam jumat harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas. Bukan membaca yasin yang bermaslah tetapi pengkhususannya pada malam Jumat yang bidah.
 

Contoh lain; tahlilan di dalamnya membaca لا إله إلا الله dalam jumlah bilangan tertentu, pada waktu tertentu yaitu 1,2, 3, 25, 40, 70, 100, 1000, setiap tahun, dengan gerakan tertentu, dan dengan jumlah bilangan tertentu, hal-hal yang tertentu-tertentu ini harus contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
 

Bukan membaca لا إله إلا الله yang salah, bahkan ini adalah dzikir yang paling utama tetapi pengkhususan hari, gerakan, jumlah bilangannya yang bidah.
 

Contoh lain; maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mungkin di dalamnya dibacakan shalawat pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, berkumpul-kumpul karena sebab hari kelahiran beliau, berdiri ketika mahalul qiyam dalam pembacaan shalawat ketika maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini semua harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
 

Bukan membaca shalawat yang keliru karen dia adalah ibadah yang disyariatkan tetapi pengkhususan ketika hari kelahiran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jumlah bilangn tertentu, dengan tata cara tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 

Terakhir…
 

Jadilah umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat mencintainya, dan sungguh....  kita ini sangat dirindukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
 
 
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَدِدْتُ أَنِّى لَقِيتُ إِخْوَانِى ». قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ «أَنْتُمْ أَصْحَابِى وَلَكِنْ إِخْوَانِى الَّذِينَ آمَنُوا بِى وَلَمْ يَرَوْنِى».
 
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sungguh aku sangat menginginkan bertemu dengan kawan-kawanku,” para shahabat nabishallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bukankah kami kawan-kawanmu?” Beliau menjawab: “Kalian adalah para shahabatku akan tetapi kawan-kawanku adalah orang-orang yang telah beriman kepadaku dan belum pernah melihatku.”
 

Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah dengan beribadah hanya sesuai petunjuknya

 
Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah tidak sok lebih tahu terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengerjakan amalan yang belum pernah beliau kerjakan.

 
Sungguh tanda keimanan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang lebih mendahulukan ajaran, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam daripada siapapun dari manusia dan jin.
 
Mari perhatikan perkataan seprang yang sangat menunjukkan bahwa yang mengatakannya sangat mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sayangnya beliau sering dihina bahkan sampai dikafirkan… 
 
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

 
 
فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ أَيُّهَا الرَّجُلُ مِنْ أَنْ تَكْرَهَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَرُدَّهُ لِأَجْلِ هَوَاك أَوْ انْتِصَارًا لِمَذْهَبِك أَوْ لِشَيْخِك أَوْ لِأَجْلِ اشْتِغَالِك بِالشَّهَوَاتِ أَوْ بِالدُّنْيَا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُوجِبْ عَلَى أَحَدٍ طَاعَةَ أَحَدٍ إلَّا طَاعَةَ رَسُولِهِ وَالْأَخْذَ بِمَا جَاءَ بِهِ بِحَيْثُ لَوْ خَالَفَ الْعَبْدُ جَمِيعَ الْخَلْقِ وَاتَّبَعَ الرَّسُولَ مَا سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْ مُخَالَفَةِ أَحَدٍ فَإِنَّ مَنْ يُطِيعُ أَوْ يُطَاعُ إنَّمَا يُطَاعُ تَبَعًا لِلرَّسُولِ وَإِلَّا لَوْ أَمَرَ بِخِلَافِ مَا أَمَرَ بِهِ الرَّسُولُ مَا أُطِيعَ . فَاعْلَمْ ذَلِكَ وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَاتَّبِعْ وَلَا تَبْتَدِعْ . تَكُنْ أَبْتَرَ مَرْدُودًا عَلَيْك عَمَلُك بَلْ لَا خَيْرَ فِي عَمَلٍ أَبْتَرَ مِنْ الِاتِّبَاعِ وَلَا خَيْرَ فِي عَامِلِهِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . مجموع الفتاوى (16528).
 
 
"Berhati-hatilah… wahai manusia … dari:

  1. membenci apapun yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
  2. atau menolaknya disebabkan oleh hawa nafsumu.
  3. atau menolaknya karena pembelaan terhadap madzhab dan gurumu.
  4. atau karena kesibukanmu dengan syahwat dunia.

karena:

  1. Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan atas seseorang untuk ta'at kepada seorang makhluk, kecuali keta'atan kepada Rasul-Nya dan mengambil apapun yang dibawa olehnya, yang mana jikalau seorang hamba menyelisihi seluruh makhluk tetapi ia mengikuti Rasulullah, maka Allah tidak akan menanyakan kepadanya tentang ketidak ta'atannya kepada seorang manusiapun.
  2. karena sesungguhnya barangsiapa yang ta'at atau dita'ati, sesungguhnya hanya dita'ati karena pengikutannya kepada Rasulullah, dan jikalau ia memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah ia tidak akan dita'ati.

Maka ketauhilah akan hal itu, dengarkan, ta'ati dan ikutilah serta janganlah membuat sesuatu yang baru, maka amalanmu akan tertolak, kembali kepadamu. Dan tiada kebaikan apapun di dalam sebuah amalan yang tidak mengikuti sunnah dan tidak ada kebaikan apapun bagi pelakunya. Wallahu 'alam. (lihat Majmu' Fatawa, 2/465).

 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 23 Safar 1433H, Dammam KSA
 

 

Hukum Mencari Harta Dengan Media Gaib

Pertanyaan:
 
Aku mau tanya nich soal bagaimana hukumnya mengambil benda-benda pusaka seperti uang, emas, berlian, keris melalui media gaib, sementara hasil tersebut untuk kita simpan saja?


 
 
Jawaban:

 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 

Jika yang dimaksud media gaib adalah meminta bantuan kepada jin atau disebut juga khadam, maka ini adalah sebuah perbuatan kesyirikan, hal ini disebabkan beberapa sebab: 
 
1.  Karena minta pertolongan untuk sesuatu yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah Ta’ala, tidak diperbolehkan kecuali kepada Allah Ta’ala.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
 
{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]
 
 
Artinya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” QS. Al Fatihah: 5.

Berkata Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
 
 
{إياك نعبد} يعني: إياك نوحد ونخاف ونرجو يا ربنا لا غيرك {وإياك نستعين} على طاعتك وعلى أمورنا كلها
 
 
Artinya: “Hanya kepada-Mu kami Menyembah”, maksudnya adalah hanya kepada-Mu beribadah, takut dan berharap kepada-Mu Wahai Rabb kami, tidak kepada selain-mu, “Hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan”, untuk taat kepada-Mu dan atas seluruh urusan kami.”
 
Berkata Qatadah rahimahullah:
 
 
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} يأمركم أن تخلصوا له العبادة وأن تستعينوه على أمركم
 
 
Artinya: “(Hanya kepada-Mu kami Menyembah dan Hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan), Dia memerintahkan kalian agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya dan meminta pertolongan hanya kepadanya dalam urusan kalian.” (Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir).
 
Dan meminta pertolongan dalam ayat ini maksudnya adalah bersandar kepada Allah dalam mendapatkan kebaikan dan menahan bahaya.
 
Berkata Syeikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullah:
 
 
و { الاستعانة } هي الاعتماد على الله تعالى في جلب المنافع، ودفع المضار، مع الثقة به في تحصيل ذلك
 
 
Artinya: Isti’anah adalah bersandar kepada Allah Ta’ala dalam mendapatkan kebaikan-kebaikan dan menahan bahaya yang disertai dengan keyakinan kepada-Nya dalam mendapatkan hal tersebut.” (Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman).
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan agar kita tidak meminta kecuali kepada Allah dan meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, ketika beliau bersabda kepada Abdullah bin Abbasradhiyallahu ‘anhuma:
 
 
«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»
 
 
Artinya: “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
 
Berkata Ibnu Rajab Al Hanbaliy rahimahullah:
 
Sabda Nabi “Jika kamu meminya maka mintalah kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah” diambilkan dari Firman Allah Ta’ala: { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
 
Beliau juga berkata:
 
 
فتضمن هذا الكلام أنْ يُسأل الله -عز وجل- ولا يُسأل غيره وأنْ يُستعان بالله دونَ غيره
 
 
Artinya: “Maka  perkataan ini mencakup bahwa Allah Azza wa Jalla-lah yang dimintai dan tidak dimintai selain-Nya dan dan meminta pertolongan hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya.”
 
Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membaiat para shahabatnya dengan “Tidak meminta kecuali kepada Allah, tidak meminta kepada manusia sedikitpun.” Beliau bersabda:
 
 
«عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَتُطِيعُوا- وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً- وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا»
 
 
Artinya: “Hendaknya kalian tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat lima waktu dan kalian mentaati (pemimpin),” lalu beliau menyembunyikan perkataan yang tersembunyi, “dan tidak meminta kepada manusia sedikitpun.” Kemudian ‘Auf bin Malik Al Asyja’I berkata:
 
 
فَلَقَدْ رَأَيْتُ بَعْضَ أُولَئِكَ النَّفَرِ يَسْقُطُ سَوْطُ أَحَدِهِمْ فَمَا يَسْأَلُ أَحَدًا يُنَاوِلُهُ إِيَّاهُ
 
 
Artinya: “Sungguh aku telah melihat sebagian mereka (dari para shahabat), terjatuh cemeti salah seorang dari mereka, maka mereka tidak meminta kepada seorangpun agar mengambilkan untuknya.” HR. Muslim.
 
Yakinlah…
 
Bahwa tidak ada yang mampu memberikan yang kita minta dari kebaikan atau yang kita minta agar dijauhkan keburukan, melainkan Allah Ta’ala:
 
 
{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17) وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ} [الأنعام: 17، 18]
 
 
Artinya: “Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” QS. Al An’am: 17-18.
 

 
{مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } [فاطر:2]
 
 
Artinya: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Fathir: 2.

 
Perhatikan perbedaan Allah Ta’ala dengan makhluk dalam permasalahan ini, maka niscaya kita tidak akan meminta apapun kecuali kepada Allah Ta’ala;
- Allah sangat menyukai untuk dimintai
- sangat menyukai dituju dalam segala keperluan,
- sangat menyukai terus menerus dimintai dan didoai,
- sangat murka kepada orang yang tidak memohon kepada-Nya, Allah memanggil hamba-Nya agar meminta kepada-Nya,
- dan Dia mampu memberi seluruh permintaan hamba-Nya tanpa mengurangi sedikitpun dari kerajaan-Nya

Berbeda dengan makhluk:
- sangat membenci ketika dimintai.
- sangat menyukai meminta-minta
- hal ini karena kelemahan, kefakiran dan kebutuhannya kepada yang lain.
 
Faidah yang bermanfaat ini diambilkan dari kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hanbaliy.

Kisah menarik…

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata kepada seorang yang sering mendatangi raja untuk meminta-minta:

 
ويحك، تأتي من يُغلِقُ عنك بابَه، ويُظهِرُ لك فقرَه، ويواري عنك غناه، وتدع من يفتحُ لك بابه بنصف الليل ونصف النهار، ويظهر لك غناه، ويقول: ادعني أستجب لك؟!
 

“Rugi kamu, kamu mendatangi seorang yang menutup pintunya untukmu, seorang yang menampakkan kemiskinannya di hadapanmu, seorang yang menyembunyikan kekayaannya darimu dan kamu meninggalkan Dzat Yang membukakan pintu-Nya untukmu pada setengah malam dan siang, Yang menampakkan kekayaan-Nya di hadapanmu, Yang berfirman: “Mintalah kepada-Ku maka akan Aku kabulkan bagimu”. Lihat kitab Sifat Ash Shafwah, 2/176.

Berkata Thawuus kepada ‘Atha rahimahumallah:
 
 
وقال طاووس لعطاء: إياك أنْ تطلب حوائجك إلى من أغلق دونك بابه ويجعل دونها حجابه، وعليك بمن بابه مفتوح إلى يوم القيامة ، أمرك أنْ تسأله ، ووعدك أنْ يُجيبك
 
 
Artinya: “Janganlah kamu meminta keperluanmu kepada seorang yang menutup pintunya di hadapanmu dan menutup dirinya darimu, hendaknya kamu meminta kepada Yang pintu-Nya terbuka samapi hari kiamat, Dia telah memerintahkamu untuk meminta kepada-Nya dan menjanjikanmu untuk mengabulkannya.” (Lihat kitab al Hilyah, 4/11 dan sifat Ash Sahfwah, 2/172).
 
Kenapa tidak boleh minta pertolongan kepada selain Allah, terutama hal yang tidak bisa dilakukan kecuali Allah Ta’ala?
 
Jawabnnya;
a) Karena makhluk sangat lemah untuk mendatangkan kebaikan dan menahan bahaya serta mendatangkan kebaikan-kebaikan untuk urusan dunia dan agama. Mari perhatikan perkataan menarik dari Ibnu rajab Al Hanbaly rahimahullah:
 
 
فالعبدُ محتاجٌ إلى الاستعانة بالله في فعل المأمورات ، وترك المحظورات ، والصبر على المقدورات كلِّها في الدنيا وعندَ الموت وبعده من أهوال البرزخ ويوم القيامة، ولا يقدر على الإعانة على ذلك إلا الله - عز وجل -، فمن حقق الاستعانة عليه في ذلك كله أعانه .
 
 
Artinya: “Seorang hamba sangat membutuhkan utnuk minta tolong kepada Allah dalam hal melaksanakan perintah-perintah (dalam agama), meninggalkan hal-hal yang dilarang dan bersabar atas seluruh apa yang telah ditakdirkan ketika di dunia, ketika mati atau setelahnya yaitu berupa keadaan alam barzakh dan hari kiamat, dan tidak ada yang mampu menolong akan hal itu semua kecuali Allah Azza wa Jalla, maka barangsiapa yang benar-benar merealisasikan permintangan tolong hanya kepada Allah dalam seluruh perkara tersebut maka Allah akan menolongnya.”
b)   Karena siapa yang meninggalkan Allah dan meminta tolong kepada selain-Nya, maka Allah akan membirakan dia bersama yang dia minta tolongi dan tidak akan tercapa apa yang diinginkannya.
 
Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah menulis kepada Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
 
 
لا تستعِنْ بغيرِ الله، فيكِلَكَ الله إليه
 
 
Artinya: “Jangan minta tolong kepada selain Allah, maka Allah akan membiarkanmu kepadanya.”
 
Sebagian ulama terdahulu berkata:
 
 
يا ربِّ عَجبت لمن يعرفُك كيف يرجو غيرك ، عجبتُ لمن يعرفك كيف يستعينُ بغيرك
 
 
Artinya: “Wahai Rabbku, aku heran kepada siapa yang mengetahui-Mu, bagaimana koq dia berharap kepada selain-Mu, aku heran kepada siapa yang mengetahui-Mu, bagaimana dia memohon pertolongan kepada selain-Mu.” Lihat kitab Jam’ Al ‘Ulum wa Al Hikam.

2.    Karena Allah lah satu-satu-Nya sang Pemberi rezeki, maka hanya Allah-lah yang paling berhak dimintai rezeki.
  
{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا } [هود: 6]
 
 
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” QS. Huud:6.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
 
أخبر تعالى أنه متكفل بأرزاق المخلوقات، من سائر دواب الأرض، صغيرها وكبيرها، بحريها، وبريها،
 
 
“Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dialah yang menjamin seluruh rezeki para makhluk dari seluruh makhluk yang melata di bumi, baik besar kecil, lautan ataupun daratan.” Lihat tafsir Ibnu Katsir pada ayat di atas.
 
Dan Allah telah memerintahkan agar mencari karunia rezeki, harta hanya dari Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, Allah Ta’ala berfirman:
 
 
{إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [العنكبوت: 17]
 
 
Artinya: “Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta.  Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan.” QS. Al Ankabut: 17.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

 
{فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ} وهذا أبلغ في الحصر، كقوله: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]
 
 
maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, ini sangat dalam dalam penunjukkan batasan (artinya mintalah hanya kepada Allah-pent), sebagaiman firman Allah { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” 
Beliau juga berkata:
 
 
ولهذا قال: {فَابْتَغُوا} أي: فاطلبوا {عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ} أي: لا عند غيره، فإن غيره لا يملك شيئا
 
 
“Oleh sebab inilah Allah berfirman: “maka mintalah”, maksudnya tuntutlah, “rezeki itu di sisi Allah”, maksudnya; jangan kepada selain-Nya, karena selain-Nya tidak memiliki sesuatupun.” Lihat tafsir Ibnu Katsir pada ayat ini.

3. Karena di dalam meminta pertolongan kepada jin atau khadam atau yang disebut media gaib, terdapat sikap perendahan diri pengagungan yang dimintai, dan hal ini tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah Ta’ala. Jika dilakukan kepada selain Allah ta’ala maka berakibat kesyirikan, karena menyamakan selain Allah dengan Allah di dalam perkara yang khusus milik Allah Ta’ala.

Berkata Ibnu rajab Al Hanbaliy rahimahullah:
 
 
اعلم أنَّ سؤالَ اللهِ تعالى دونَ خلقه هوَ المتعين ؛ لأنَّ السؤال فيهِ إظهار الذلِّ من السائل والمسكنة والحاجة والافتقار، وفيه الاعترافُ بقدرةِ المسؤول على دفع هذا الضَّرر، ونيل المطلوب، وجلبِ المنافع، ودرء المضارِّ، ولا يصلح الذلُّ والافتقار إلاَّ لله وحدَه ؛ لأنَّه حقيقة العبادة
 
 
Artinya: “Ketahuilah, bahwa meminta kepada Allah tidak minta kepada selain-Nya, inilah yang wajib dilakukan, karena di dalam perminta terdapat sikap memperlihatkan kehinaan, kebutuhan dan kemiskinan serta pengharapan dari sang peminta. Dan di dalamnya terdapat pengakuan akan kekuasaan yang diminta bahwa mampu menolak bahaya ini dan mendapatkan apa yang dicari, mendapatkan kebaikan dan menghilangkan mudharat, padahal tidak diperbolehkan sikap kehinaan dan pengharapan hanya kepada Allah Ta’ala satu-satu-Nya, karena dia adalah hakikat ibadah.” Lihat Kitab Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, 21/25.
 
Terakhir....,
 
Sungguh Indah doa Imam Ahmad rahimahullah sebagai renungan:
 
 
اللهمَّ كما صُنتَ وجهي عَنِ السُّجود لغيرك فصُنْه عن المسألة لغيرك
 
 
Artinya: “Wahai Allah, sebagaimana engkau telah jaga wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka jagalah ia dari meminta kepada selain-Mu.” Lihat kitab sifat Ash Shofwah, 2/211.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 21 Safar 1433H, Dammam KSA
 
DENGARKAN KAJIAN MP3 "Perkara yang Mengikisa Aidah Seorang Muslim" DI SINI

 

 

Melihat Dan Menyebarkan Video Porno?

Pertanyaan:
Assalamualaikum warohmattullahi wabarokatuh, Ustadz Zain, apa kabar? Apakah ustadz punya kumpulan hukum/ayat-Quran/hadist ttg menonton film porno, yg ramai saat ini? 

Jazakumullah khairan khatsiron.
 
 
 
 


 
Jawaban: 
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah bi khoir pak, semoga bapak dan sekeluarga juga selalu dalam petunjuk dan lindungan Allah Ta'ala. 


Menyebarkan video porno termasuk hal yang sangat diharamkan dalam agama Islam dan mendapatkan ancaman tegas dari Allah Ta'ala, Allah berfirman: 

{إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النور: 19

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui." QS An Nur; 19 

Tersebarnya perbuatan zina (porno) adalah penyebab utama tersebarnya penyakit, dan kebinasaan serta kehancuran:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا. سنن ابن ماجه

Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah terlihat perbuatan Fahisyah (perbuatan yang sangat kotor dan keji, diartikan pula sebagai zina) sampai-sampai disebarkan perbuatan tersebut kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit Tha'un dan penyakit lainnya yang belum pernah ada sebelum mereka". HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani, lihat Ash Shahihah: no. 106

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ, قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ « نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ. صحيح مسلم 

 
Artinya: "Dari Ummu Habibah dari Zainab Binti Jahsy radhiyallahu 'anhuma, beliau bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa padahal orang-orang shalih masih ada di sekita kita?", beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iya jika banyak perbuatan khobats (zina)". HR Bukhari dan Muslim.

Melihat aurat sesama jenis diharamkan dalam agama Islam, karena Nabi Muhammad shallallahu a'alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ ».صحيح مسلم 

 
 

Artinya: "Dari Abu Said Al Khudri radhiyallahu a'anhu, Rasulullah shallallahu a'alaihi wasallam bersabda: "Jangalah seorang laki-laki melihat kepada aurat laki-laki dan seorang wanita melihat kepada wanita". HR Muslim
 
*) Dijawab oleh: Abu Abu Abdillah Ahmad Zainuddin
 
 Dengarkan kajiannya tentang Jauhi Maksiat di sini

 

Hadits Palsu Tentang Shalawat

Pertanyaan: 
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
 
Ustadz,
'Afwan saya mau bertanya karena saya dikirimkan artikel dari seorang teman. Isinya sbb:
 
"Allahumma sholli 'ala syayidina muhammadin 'abdika wa rosulikannabiyyil umiyyi wa 'ala alihi wa shohbihi wasaliiman tasliima" Baca ba'da sholat ashar 80x setiap hari jum'at, Allah akan mengampunkan dosa2 selama 80 thn yang lalu.
 
Keterangan lanjutannya sbb: 
 
Dalam riwayat addara quthni dan dianggap hasan oleh Al Iraqi: Man sholla alayya yaumal jum'ati tsamaaniina marrotan ghufirotlahu zunuubu tsamaaniina sanatan qiila yaa Rasulullah kayfa asholaatu 'alaika? qoola taquulu : Allahumma sholli 'ala................ seperti diatas. 
 
Dan ini amalan yang di minta untuk diamalkan oleh kami (Ahlussunah wal jamaah manhaj shalafus sholih, bukan salafy) oleh guru kami kami yg mulia Al 'allamah al arifbillah al musnid al hafidz Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari ‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja'far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w. 
 
Pertanyaannya, bagaimana dgn derajat hadist tsb Ustadz, dan apakah jalur periwayatan hadist seperti di atas (melalui silsilah keluarga Rasulullah SAW) dapat diikuti? Maaf merepotkan.
 
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
 
 
 
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, 
 
بسم الله الرحمن الرحيم
 الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
 Haditsnya secara lengkap berbunyi:
 
" من صلى علي يوم الجمعة ثمانين مرة غفر الله له ذنوب ثمانين عاما، فقيل له: وكيف الصلاة عليك يا رسول الله ؟ قال: تقول: اللهم صل على محمد عبدك ونبيك ورسولك النبى الأمي ، وتعقد واحدا "
 
Artinya: "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku hari Jum'at sebanyak 80 kali niscaya Allah mengampuninya selama 80 tahun," lalu beliau ditanya: "Lalu bagaimanakah bershalawat atasmu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Allahumma shalli 'ala Muhammadin 'abdika wa rasulika an nabiyyil ummiy, ini dihitung sekali."
 
Derajat Hadits: Palsu
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Khathib (di dalam kitab Tarikh Baghdad -pent) dari jalan Wahb bin Daud bin Sulaiman Adh Dharir, dia berkata: "Ismail bin Ibrahim telah meriwayatkan kepada kami, bahwa Abdul Aziz bin Shuhaib mendapatkan riwayat dari Anas bin Malik secara marfu' (tersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam -pent).
 
Al Khathib menyebutkan di dalam biografi Wahb bin Daud bin Sulaiman Adh Dharir ini: bahwa dia bukan orang tsiqah. As Sakhawi di dalam kitab Al Qaulul Badi' berkata: "Disebutkan oleh Ibnul Jauzy di dalam Al Ahadits Al Wahiyah, no. 796. 
 
Al Albani mengomentari: "Dan hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya yang lain yaitu Al Ahadits Al Maudhu'ah, dan ini lebih utama (untuk dijadikan patokan-pent), karena siratan-siratan kepalsuan terhadap hadits ini jelas, dan di dalam hadits-hadits yang shahih tentang keutamaan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sudah sangat cukup dari pada hadits ini, contohnya yaitu sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
 
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. 
 
Artinya: "Barangsiapa yang bershalawat atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sekali niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali." Hadits riwayat Muslim dan yang lainnya, dan juga disebutkan di dalam kitab Shahih Abi Daud, no: 1369.
 
Kemudian hadits ini disebutkan oleh As Sakhawi di tempat lain, hal: 147 dari riwayat Ad Daruquthni yaitu dari hadits Abu Hurairah secara marfu' (tersambung sanadnya sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam -pent), lalu beliau berkata: "Hadits ini dihasankan oleh Al 'Iraqy dan sebelumnya Abu Abdillah bin An Nu'man, dan penghasanan ini perlu penelitian, dan telah disebutkan sebelum ini seperti riwayat ini yaitu dari riwayat Anas."
 
Al Albani mengomentari: "Aku mengatakan bahwa hadits yang dimaksudkan (yaitu hadits yang di Ad Daruquthni) dari riwayat Ibnul Musayyab, beliau berkata: "Saya mengira riwayat ini dari Abu Hurairah", sebagaimana yang disebutkan yang disebutkan di dalam kitab Al Kasyf (maksudnya Kasyful Khafa' , karya Al 'Ajluni -pent) (1/167). Selesai jawaban dari Al Muhaddits Muhammad  Nashiruddin Al Albanirahimahullah. (Kitab Silsilatul Ahadits Adh Dha'ifah, no: 215).
 
Di bawah ini teks berbahasa Arabnya:
 
 موضوع

أخرجه الخطيب (13 489) من طريق وهب بن داود بن سليمان الضرير حدثنا إسماعيل ابن إبراهيم، حدثنا عبد العزيز بن صهيب عن أنس مرفوعا .

ذكره في ترجمة الضرير هذا وقال : لم يكن بثقة ، قال السخاوي في " القول البديع " (ص 145): وذكره ابن الجوزي في " الأحاديث الواهية " (رقم 796)

قلت: وهو بكتابه الآخر"الأحاديث الموضوعات" أولى وأحرى، فإن لوائح الوضع عليه ظاهرة، وفي الأحاديث الصحيحة في فضل الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم غنية عن مثل هذا ، من ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: "من صلى علي مرة واحدة صلى الله عليه بها عشرا" رواه مسلم وغيره، وهو مخرج في "صحيح أبي داود" (1369 ) ، ثم إن الحديث ذكره السخاوي في مكان آخر (ص 147 ) من رواية الدارقطني يعني عن أبي هريرة مرفوعا ، ثم قال : وحسنه العراقي ، ومن قبله أبو عبد الله بن النعمان ، ويحتاج إلى نظر ، وقد تقدم نحوه من حديث أنس قريبا يعني هذا . قلت : والحديث عند الدارقطني عن ابن المسيب قال : أظنه عن أبي هريرة كما في الكشف (1 / 167) 

سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة وأثرها السيئ في الأمة [1 /383]
 
 
 
Kemudian, dari pertanyaan bapak di atas, dilihat ada kata-kata yang tidak disebutkan di dalam hadits yang disebutkan di atas, seperti kalimat "Sayyidina dan "baca setelah sholat ashar." 
 
Saya tidak tahu apakah ada riwayat lain di dalam sunan Ad Daruquthni atau tidak, tetapi sepengetahuan saya di dalam kitab Sunan Ad Daruquthni tidak ada kalimat "Sayyidina" dan "setelah sholat ashar," dan ini juga berarti mengada-ada di dalam riwayat ini.
 
Adapun silsilah yang dimaksudkan dalam pertanyaan (saya tuliskan dalam bahasa Arab):
 
العلامة العارف بالله المسند الحافظ الحبيب عمر بن محمد بن سالم بن حافظ بن عبد الله بن أبي بكر بن العيدروس بن الحسين بن الشيخ أبي بكر بن سالم بن عبد الله بن عبد الرحمن بن عبد الله بن الشيخ عبد الرحمن السقاف بن محمد مولى الدويلى بن علي بن علوي بن الفقيه المقدم محمد بن علي محمد صاحب المرباط بن علي الخالي قسم بن علوي بن محمد بن علوي بن عبيد الله بن الإمام المهاجر إلى الله أحمد بن عيسى بن محمد بن علي العريدي بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن الحسين حفيد رسول الله ولد علي بن أبي طالب و طامة الزهراء بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم
 
adalah silsilah yang menerangkan bahwa beliau:
 
العلامة العارف بالله المسند الحافظ الحبيب عمر بن محمد
 
Adalah keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi bukan berarti hadits ini diriwayatkan dari jalur ini. Karena yang kita dapatkan di kitab-kitab hadits sebagaimana yang disebutkan di dalam jawaban di atas, bukan dari jalur shahabat Husein atau shahabat Ali bin Abi Thalib atau shahabat Fathimah Az Zahra radhiyallahu 'anhum wa ardhahum ajma'in, tetapi dari jalur shahabat Anas dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma wa ardhahuma.
 
Jadi harus dibedakan antara silsilah keturunan dengan sanad hadits, semoga bisa dipahami. 
 
Terakhir, saya nasehatkan kepada diri saya pribadi dan bapak serta seluruh kaum muslimin untuk memperbanyak shalawat atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terutama pada hari Jum'at, sebanyaknya tanpa batas karena beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak membatasinya, mari perhatikan riwayat berikut:
 
عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ» قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ قَالَ يَقُولُونَ بَلِيتَ. قَالَ «إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ». رواه أبو داود
 
Artinya: "Aus bin Aus radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sesungguhnya termasuk hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum'at maka perbanyaklah bershalawat atasku di dalamnya karena sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku", para shahabat bertanya: "Bagaimanakah shalawat kami diperlihatkan kepadamu padahal engkau sudah dimakan tanah?", beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengharamkan kepada bumi untuk menghabiskan jasad-jasadnya para nabi shallallahu 'alaihim wasallam". Hadits shahih riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ad Darimy, An Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad. Wallahu a'lam. 
 
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين
 
Saya berdoa dengan nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang 'Ulya, semoga kita menjadi orang yang selalu mencintai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan seluruh keluarga dan shahabat beliau radhiyallahu 'anhum.
 
*) Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin, Ahad 9 Sya’ban 1432H Dammam KSA

Dengarkan kajian MP-3 tentang keutamaan bershawalat di sini

 

Ada Berapa Shalat Sunnah Ba'diyah dan Qobliyah?

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum ..
Shalat Ba’diyyah dan Qobliyyah ada berapa? Benarkah ada shalat qabliyyah sebelum ashar, maghrib dan isya’?
 

 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Saudaraku penanya…
 
Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk istiqamah di dalam beribadah kepada-Nya…
 
Berikut penjelasan tentang shalat sunnat rawatib (qabliyyah dan ba’diyyah);
 
1.Shalat sunnat rawatib yang mu'akkadah jumlahnya 12 raka'at atau 10 raka'at, dalilnya:
 
أُمَّ حَبِيبَةَ رضي الله عنها تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ »
 
Artinya Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang shalat 12 raka'at di dalam sehari semalam maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga". Hadits riwayat Muslim (no. 728)
 
عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ »
 
Artinya: "Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim shalat sunnah untuk Allah setiap hari sebanyak 12 raka'at selain shalat wajib, melainkan Allah telah membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga atau melainkan telah dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga".Hadits riwayat Muslim (no. 728)
 
عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ »
 
Artinya: "Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang shalat di dalam sehari dan semalam 12 raka'at maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga, (12 raka'at tersebut) adalah 4 raka'at sebelum Zhuhur, 2 raka'at setelahnya, 2 raka'at setelah Maghrib, 2 raka'at setelah Isya' dan 2 raka'at sebelum Fajar".Hadits riwayat Tirmidzi (no. 414) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahihut Tirmidzi (1/131)
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما – قَالَ: حَفِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - عَشْرَ رَكَعَاتٍ, رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ.
 
Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Telah aku hapal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam 10 raka'at; 2 raka'at sebelum Zhuhur, 2 raka'at setelahnya, 2 raka'at setelah Maghrib di rumahnya, 2 raka'at setelah Isya' di rumahnya dan 2 raka'at sebelum shalat shubuh". Hadits riwayat Bukhari (no. 1172)
 
2. Shalat rawatib yang tidak mu'akkadah dikerjakan bersamaan dengan shalat fardhu:
 
قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ زَوْجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- رضي الله عنها: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ »
 
Artinya: "Ummu Habibah Istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang selalu menjaga 4 raka'at sebelum Zhuhur dan 4 raka'at setelahnya maka diharamkan atasnya neraka". Hadits riwayat Ahmad (6/326), Abu Daud (no. 1269) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Sunan Ibnu majah (1/191)
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا ».
 
Artinya: "Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah merahmati seseorang yang shalat 4 raka'at sebelum Ashar". Hadits riwayat Ahmad (2/117), Abu Daud (no. 1271) dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Sunan Abu Daud (1/237).
 
Adapun untuk shalat qabliyyah sebelum Maghrib dan Isya’, bisa dikerjakan dua rakaat, dengan dalil:
 
عَنْ عَبْد اللَّهِ الْمُزَنِىِّ رضي الله عنه, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ « صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ ». ثُمَّ قَالَ عِنْدَ الثَّالِثَةِ « لِمَنْ شَاءَ ». كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً.
 
Artinya: "Dari Abdullah Al Muzani radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Shalatlah 2 raka'at sebelum Maghrib", kemudian bersabda lagi: "Shalatlah 2 raka'at sebelum Maghrib", kemudian bersabda lagi: "Bagi siapa yang menghendaki". Hadits riwayat Bukhari (no. 1183)
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ - قَالَهَا ثَلاَثًا قَالَ فِى الثَّالِثَةِ - لِمَنْ شَاءَ ».
 
Artinya: “Abdullah bin Mughaffal al Muzani radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Diantara dua adzan terdapat shalat – beliau mengatakannya sebanyak tiga kali dan pada kali yang ketiga beliau bersabda – bagi siapa yang menghendakinya”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Maksud dari dua adzan disini adalah adzan dan iqamah, mari perhatikan penjelasan para ulama:
 
Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
 
قوله بين كل أذانين أي أذان وإقامة ولا يصح حمله على ظاهرة لأن الصلاة بين الأذانين مفروضة
 
Artinya: “Sabda beliau: “Diantara dua adzan maksudnya yaitu adzan dan iqamah dan tidak benar dibawa maknanya kepada zhahir lafazhnya karena shalat diantara dua adzan adalah shalat fardhu”. Lihat kitab Fath Al Bary, karya Ibnu Hajar, 2/107.
 
An Nawawi rahimahullah berkata:
 
المراد بالأذانين الأذان والإقامة وفي هذه الروايات استحباب ركعتين بين المغرب وصلاة المغرب
 
Artinya: “Maksud dua adzan adalah adzan dan iqamah, dan di dalam riwayat-riwayat ini terdapat anjuran untuk mengerjakan shalat dua rakaat antara maghrib dan shalat maghrib”. Lihat kitab Al Minhaj, karya An Nawawi, 6/123.
 
Berkata Al Mubarakfury rahimahullah di dalam kitab Tuhfat Al Ahwadzy:
 
قَوْلُهُ (بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ) أَيْ أَذَانٍ وَإِقَامَةٍ وَهَذَا مِنْ بَابِ التَّغْلِيبِ كَالْقَمَرَيْنِ لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ
وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ أُطْلِقَ عَلَى الْإِقَامَةِ أَذَانٌ لِأَنَّهَا إِعْلَامٌ بِحُضُورِ فِعْلِ الصَّلَاةِ كَمَا أَنَّ الْأَذَانَ إِعْلَامٌ بِدُخُولِ الْوَقْتِ
 
Sabda beliau: “dua adzan”, maksudnya adalah adzan dan iqamah dan ini termasuk dari sisi pemasukan dua kata kepada satunya, seperti dua bulan untuk penyebutan matahari dan bulan.
Dan bisa dimungkinkan penyebutan iqamah dengan sebutan adzan karena iqamah pemberitahuan akan panggilan pelaksanaan shalat, sebagaimana adzan sebagai pemberitahuan akan masuknya waktu shalat”. Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, 1/466.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا ».
 
Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika salah seorang dari kalian telah shalat Jum'at maka hendaklah ia shalat 4 raka'at setelahnya". Hadits riwayat Muslim (no. 881)
 
عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما: أَنَّهُ كَانَ إِذَا صَلَّى الْجُمُعَةَ انْصَرَفَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصْنَعُ ذَلِكَ.
 
Artinya: "Dari Nafi', beliau mendapatkan riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma"Bahwasanya beliau senantiasa jika telah shalat Jum'at, beliau pulang dan shalat 2 raka'at di rumahnya, kemudian beliau berkata: "Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam senantiasa berbuat demikian". Hadits riwayat Muslim (no. 882). Wallahu a'lam.
*) Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin, Selasa, 2 Shafar 1433H, Dammam KSA.
 

 

 

Berdoa Bahasa Indonesia Saat Sujud

Pertanyaan:
 
Bolehkah berdoa di dalam sujud dengan bahasa Indonesia?
 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Berdoa di dalam sujud shalat fardhu atau sunnah dengan bahasa selain bahasa Arab, permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat diantara madzhab yang empat, 
 
1. Madzhab Hanafiyyah, berpendapat makruh berdoa di dalam shalat dengan selain bahasa Arab, dan arti makruh bagi para ulama terdahulu adalah haram.
 
2. Madzhab Malikiyyah, berpendapat makruh bagi yang mampu dan diperbolehkan bagi yang tidak bisa.
 
3. Madzhab Syafi'iyyah dan Hanabilah, membagi permasalahan menjadi doa yang ma'tsur (langsung datang dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) dan doa yang tidak ma'tsur, untuk doa yang ma'tsurmaka tidak boleh dengan bahasa selain bahasa Arab bagi yang mampu dan diperbolehkan bagi yang tidak mampu, sedangkan untuk doa yang tidak ma'tsur (seperti dalam pertanyaan ibu) maka sama sekali tidak boleh dengan selain bahasa Arab. [Lihat: Al Mausu'ah  Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (juz: 12/ hal: 172)].
 
 
Akan tetapi mungkin bisa dipertimbangkan fatwa Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, beliau berpendapat bahwa berdoa dengan bahasa selain bahasa Arab boleh bagi yang tidak bisa bahasa Arab sama sekali baik di dalam shalat atau di luar shalat, karena seseorang yang tidak bisa bahasa Arab jikalau diperintahkan untuk berdoa dengan bahasa Arab maka hal ini termasuk dari mewajibkan sesuatu yang ia tidak sanggupi, padahal Allah Ta'ala berfirman:
 
{ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} [البقرة: 286]
 
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang kecuali yang ia sanggupi." (QS. Al Baqarah: 267)
 
Kemudian beliau menegaskan bahwa permasalahan ini dibagi menjadi tiga:
 
Pertama, sesuatu yang tidak boleh dibaca di dalam shalat kecuali dengan bahasa Arab yaitu Al Quran.
 
Kedua, sesuatu yang boleh dibaca dengan bahasa Arab dan bahasa lainnya bagi yang tidak mampu berbahasa Arab, seperti doa-doa yang datang dari orang yang berdoa yang tidak ada riwayatnya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Dan ketiga, doa-doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam maka jika mampu dengan bahasa Arab hendaklah ia ucapkan dengan bahasa Arab, jika tidak mampu maka boleh dengan bahasanya sendiri. dengarkan fatwa beliau di dalam kaset Fatwa-Fatwa Al Haram Mekkah. 
 
Dan pendapat yng diambil
 
1. Sebagaimana perkataan Imam Asy Syafi'i rahimahullah "Merupakan kewajiban atas setiap muslim untuk belajar bahasa Arab yang dengannya bisa melaksanakan kewajibannya (yaitu beribadah sebagai hamba Allah)."
 
2. Jika memungkinkan bagi dia untuk berdoa dengan bahasa Arab yang datang dari Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam yang ia pahami artinya, maka hal ini adalah lebih utama dan hendaklah ia berdoa dengan doa yang meliputi seluruh perkara akan tetapi jangan terlalu panjang, sehingga mudah dipelajari, dihapal. Akan tetapi jika tidak memungkinkan bagi dia, maka boleh berdoa dengan bahasanya dan lebih baik lagi doanya tersebut merupakan terjemahan dari doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
3. Dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama rahimahumullah yang membolehkan berdoa dengan selain bahasa Arab bagi siapa yang tidak mampu, dengan catatan penting dia harus belajar secepatnya sehingga bisa membenarkan dan menyempurnakan ibadah-ibadahnya;
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ».
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang hamba berada paling dekat dari Rabbnya ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa". Hadits riwayat Muslim (no. 1111)
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما, أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَشَفَ السِّتَارَةَ وَالنَّاسُ صُفُوفٌ خَلْفَ أَبِى بَكْرٍ فَقَالَ:... وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ.
 
Artinya: "Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammembuka kain penutup dan kaum muslimin dalam keadaan bershaf-shaf di belakang Abu bakar, lalu beliau bersabda: "…Sedangkan di dalam sujud maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa maka seraya cepat dikabulkan bagi kalian". Hadits riwayat Muslim (no. 1102)
 
Sebagian ulama berpendapat, kalau tidak diperbolehkan berdoa di dalam sujud kecuali dengan bahasa Arab, berarti yang tidak bisa berdoa dengan bahasa Arab tidak akan bisa melaksanakan dan mendapatkan kemuliaan akan hadits-hadits ini.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ:  ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو.
 
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "…Kemudian ia memilih doa yang paling ia sukai". Hadits riwayat Bukhari (no. 835).
 
Sebagian ulama berpendapat, berarti ia boleh memilih doa yang ia inginkan dengan bahasa apapun, akan tetapi Imam Ahmad rahimahullah berpendapat maksud hadits ini adalah memilih doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamWallahu a'lam.

*)Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 2 Shafar 1433H, Dammam KSA.

 

 

Sudah Ada Takdir Lalu Untuk Apa Beramal?

Pertanyaan:


Apakah Allah sudah menentukan orang-orang mana yang masuk surga atau masuk neraka sebelum dilahirkan seperti takdir mati, rezeki dan sebagainya yang dicatat dalam Kitab Lauh Mahfudz?

Lalu manusia ikhtiarnya harus bagaimana?
 
 
 
Jawaban:
 
 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Benar, Allah Ta’ala telah menentukan takdir seluruh makhluk, baik berupa kematian, rezeki, jodoh bahkan masuk neraka atau surga.
 
Semuanya sudah tercatat di Al Lauh Al Mahfuzh, hal ini berdasarkan beberapa dalil, baik dari Al Quran Al Karim atau Sunnah yang shahih.
 
Dalil dari Al Quran:
 
{ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحج: 70]
 
Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
 
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
أي: جميع الكائنات مكتوب في كتاب مسطور مضبوط في لوح محفوظ، والإمام المبين هاهنا هو أم الكتاب. قاله مجاهد، وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم،
 
Artinya: “Maksudnya adalah seluruh yang terjadi telah tertulis di dalam Kitab, tertulis dan tersebut di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan Al Imam Al Mubin di sini maksudnya adalah induknya kitab (Ummu Al Kitab), sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslamrahimahumullah”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/568.
 
Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
 
والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها
 
Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.
 
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]
 
Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59.
 
{ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)} [طه:   51 -52]}
 
Artinya: “Berkata Firaun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?". “Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. QS. Thaha: 51-52.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.
 
عَنْ عَلِىٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ»
 
Artinya: “Ali radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidak seorang jiwapun melainkan telah dituliskan Allah tempatnya di surga dan neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ».
 
Artinya: “Tidak seorangpun kecuali sudah ditentukan tempatnya dari surga dan neraka”. HR. Muslim.
 
Lalu kalau sudah ditentukan kenapa harus beramal?
 
Atau pertanyaan lain, kalau sudah ditentukan bagaimana seorang muslim menyikapinya?
 
Maka perhatikan beberapa hal berikut …
 
1. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.
 
عَنْ عَلِىٍّ - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .
 
Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:
 
{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 7]
 
Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.
 
Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.
 
2. Ketahuilah kehidupan dunia diciptakan Allah untuk suatu hikmah yaitu menguji siapa yang beriman dan tidak.
 
Allah Ta’ala berfirman: 
 
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ } [الملك: 2]
 
Artinya: “(Dia Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. QS. Al Mulk: 2.
 
Kehidupan dunia ini adalah lahan ujian, dimana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan diutusnya para Rasul-Nya ‘alaihimussalam dan diturunkannya kitab-kitab-Nya, siapa yang beriman kepada para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut, maka dia akan menjadi penghuni surga yang diliputi dengan kebahagiaan dan siapa yang tidak beriman kepada para Rasul‘alaihimussalam, lalu akhirnya tidak mengerjakan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut maka dia akan menjadi penghuni neraka dengan segala macam kesengsaraan di dalamnya.
 
Sebagian manusia sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dan tidak bertanya tentang rezeki yang berbeda-beda, padahal permasalahan di atas dan permasalahan rezeki satu sisi yang sama, yaitu hal ini adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh para makhluk dan hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi.
 
Maka wajib bagi kita untuk yakin dengan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala, yaitu bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang tanpa dosa yang berhak atasnya untuk disiksa, itupun Allah telah memaafkan dari kebanyakan kesalahan kita.
 
Dan prinsipnya, adalah kita harus menerima terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah, baik yang bisa dirasiokan oleh akal kita atau tidak bisa, karena pemahaman kita yang sangat pendek, dan kelemahan serta kekurangan ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala, bahkan Allah Maha Suci tidak boleh ditanya apa yang Dia perbuat.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]
 
Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.
  
3. Jangan terlalu banyak bertanya dan menyibukkan diri dengan sejenis pertanyaan ini.
 
Jangan menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena akan sangat berpengaruh buruk kepada keimanannya sedikit-semi sedikit, perlahan-lahan.
 
Tetapi, yang harus kita imani adalah bahwa Allah telah:
1. Mengetahui seluruh takdir makhluk dengan ilmunya
2. Menuliskan takdir seluruh makhluk
3. Menghendaki seluruh yang terjadi
4. Menciptakan apapun yang terjadi.
 
Inilah yang diwajibkan atas seorang muslim mengimaninya.
 
Adapun hal yang dibelakang ini, sebagaimana yang disebut oleh sebagian ulama “Sirrul Qadar” (rahasia takdir), maka tidak boleh terlalu membebani diri dalam pencariannya, inilah maksud dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika seseorang bertanya kepada beliau tentang takdir:
 
عبد الملك بن هارون بن عنترة ، عن أبيه ، عن جده قال : أتى رجل علي بن أبي طالب رضي الله عنه فقال : أخبرني عن القدر ، ؟ قال : « طريق مظلم ، فلا تسلكه» قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : بحر عميق فلا تلجه « قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : » سر الله فلا تكلفه
 
Abdul Malik bin harun bin ‘Antharah mendapatkan riwayat dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: “Seseorang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya: “Beritahukan kepadaku tentang takdir?”, beliau menjawab: “Jalan yang gelap janganlah engkau jalani”, orang ini mengulangi pertanyaannya, dijawab oleh beliau: “Laut yang dalam maka janganlah engkau menyelam ke dalamnya”, orang ini mengulangi pertanyaannya, beliau menjawab: “Rahasia Allah  maka jangan engkau membebani dirimu”.  Lihat kitab Asy Syari’ah, karya Al Ajurry, 1/476. 
 
Semoga jawaban ini bisa menjadi penjelasan bagi yang menulisnya sebelum yang bertanya. Wallahu a’lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 30 Al Muharram 1433H, Dammam KSA. 

 

 
 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung