Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Sudah Ada Takdir Lalu Untuk Apa Beramal?

Pertanyaan:


Apakah Allah sudah menentukan orang-orang mana yang masuk surga atau masuk neraka sebelum dilahirkan seperti takdir mati, rezeki dan sebagainya yang dicatat dalam Kitab Lauh Mahfudz?

Lalu manusia ikhtiarnya harus bagaimana?
 
 
 
Jawaban:
 
 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Benar, Allah Ta’ala telah menentukan takdir seluruh makhluk, baik berupa kematian, rezeki, jodoh bahkan masuk neraka atau surga.
 
Semuanya sudah tercatat di Al Lauh Al Mahfuzh, hal ini berdasarkan beberapa dalil, baik dari Al Quran Al Karim atau Sunnah yang shahih.
 
Dalil dari Al Quran:
 
{ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحج: 70]
 
Artinya: Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lohmahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”.
 
{إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ} [يس: 12]
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Yasiin: 12.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
أي: جميع الكائنات مكتوب في كتاب مسطور مضبوط في لوح محفوظ، والإمام المبين هاهنا هو أم الكتاب. قاله مجاهد، وقتادة، وعبد الرحمن بن زيد بن أسلم،
 
Artinya: “Maksudnya adalah seluruh yang terjadi telah tertulis di dalam Kitab, tertulis dan tersebut di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan Al Imam Al Mubin di sini maksudnya adalah induknya kitab (Ummu Al Kitab), sebagaimana yang dinyatakan oleh Mujahid, Qatadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslamrahimahumullah”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 6/568.
 
Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
 
والمقصود أن قوله وكل شيء أحصيناه في إمام مبين وهو اللوح المحفوظ وهو أم الكتاب وهو الذكر الذي كتب فيه كل شيء يتضمن كتابة أعمال العباد قبل أن يعملوها
 
Artinya: “Maksud dari Firman Allah وكل شيء أحصيناه في إمام مبين adalah Al lauh Al Mahfuzh dan ia adalah Ummu Al Kitab dan ia juga yang disebut dengan Adz Dzikr yang telah ditulis di dalamnya segala sesuatu yang mencakup penulisan amalan-amalan seluruh hamba sebelum mereka melakukannya”. Lihat kitab Syifa Al ‘Alil, hal. 40.
 
{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ} [الأنعام: 59]
 
Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Al Lauh Al Mahfuz)”. QS. Al An’am: 59.
 
{ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى (51) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى (52)} [طه:   51 -52]}
 
Artinya: “Berkata Firaun: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?". “Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa”. QS. Thaha: 51-52.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ»
 
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menuliskan takdir makhluk-makhluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dan Asy-Nya di atas air”. HR. Muslim.
 
عَنْ عَلِىٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ»
 
Artinya: “Ali radhiyallahu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidak seorang jiwapun melainkan telah dituliskan Allah tempatnya di surga dan neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلاَّ وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ».
 
Artinya: “Tidak seorangpun kecuali sudah ditentukan tempatnya dari surga dan neraka”. HR. Muslim.
 
Lalu kalau sudah ditentukan kenapa harus beramal?
 
Atau pertanyaan lain, kalau sudah ditentukan bagaimana seorang muslim menyikapinya?
 
Maka perhatikan beberapa hal berikut …
 
1. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita agar kita beramal, berusaha mencari jalan yang diridhai Allah Ta’ala dengan petunjuk dari Allah Ta’ala yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena segala sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah ditakdirkan atasnya.
 
عَنْ عَلِىٍّ - رضى الله عنه - قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فِى جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الأَرْضَ فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ) الآيَةَ .
 
Artinya: “Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalllam pada sebuah jenazah, lalu beliau berdiam sejenak, kemudian beliau menusuk-nusuk tanah, lalu bersabda:“Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang ditkadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. Kemudian beliau membaca ayat:
 
{فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7)} [الليل: 7]
 
Artinya: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. “Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga)”. “Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. QS. Al Lail: 5-7.
 
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
وفي هذه الأحاديث النهي عن ترك العمل والاتكال على ما سبق به القدر بل تجب الأعمال والتكاليف التي ورد الشرع بها وكل ميسر لما خلق له لا يقدر على غيره.
 
Artinya: “Di dalam hadits-hadits ini terdapat larangan untuk meninggalkan amal dan bersandar dengan apa yang telah ditakdirkan, akan tetapi wajib beramal dan mengerjakan beban yang disebutkan oleh syariat, dan setiap sesuatu dimudahkan untuk apa yang telah diciptakan untuknya, yang tidak ditakdirkan atas selainnya”. Lihat kitab Al Minhaj, Syarah Shahih Muslim., 16/196.
 
2. Ketahuilah kehidupan dunia diciptakan Allah untuk suatu hikmah yaitu menguji siapa yang beriman dan tidak.
 
Allah Ta’ala berfirman: 
 
{الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ } [الملك: 2]
 
Artinya: “(Dia Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. QS. Al Mulk: 2.
 
Kehidupan dunia ini adalah lahan ujian, dimana Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan diutusnya para Rasul-Nya ‘alaihimussalam dan diturunkannya kitab-kitab-Nya, siapa yang beriman kepada para Rasul dan mengamalkan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut, maka dia akan menjadi penghuni surga yang diliputi dengan kebahagiaan dan siapa yang tidak beriman kepada para Rasul‘alaihimussalam, lalu akhirnya tidak mengerjakan apa yang ada di dalam kitab-kitab tersebut maka dia akan menjadi penghuni neraka dengan segala macam kesengsaraan di dalamnya.
 
Sebagian manusia sering bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan di atas dan tidak bertanya tentang rezeki yang berbeda-beda, padahal permasalahan di atas dan permasalahan rezeki satu sisi yang sama, yaitu hal ini adalah sesuatu yang tersembunyi dan tidak diketahui oleh para makhluk dan hanya Allah yang mengetahui apa yang akan terjadi.
 
Maka wajib bagi kita untuk yakin dengan hikmah dan keadilan Allah Ta’ala, yaitu bahwa Dia tidak akan menyiksa seseorang tanpa dosa yang berhak atasnya untuk disiksa, itupun Allah telah memaafkan dari kebanyakan kesalahan kita.
 
Dan prinsipnya, adalah kita harus menerima terhadap perkara yang telah ditetapkan oleh Allah, baik yang bisa dirasiokan oleh akal kita atau tidak bisa, karena pemahaman kita yang sangat pendek, dan kelemahan serta kekurangan ada pada kita, bukan pada hikmah Allah Ta’ala, bahkan Allah Maha Suci tidak boleh ditanya apa yang Dia perbuat.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]
 
Artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai”. QS. Al Anbiya’: 23.
  
3. Jangan terlalu banyak bertanya dan menyibukkan diri dengan sejenis pertanyaan ini.
 
Jangan menyibukkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, karena akan sangat berpengaruh buruk kepada keimanannya sedikit-semi sedikit, perlahan-lahan.
 
Tetapi, yang harus kita imani adalah bahwa Allah telah:
1. Mengetahui seluruh takdir makhluk dengan ilmunya
2. Menuliskan takdir seluruh makhluk
3. Menghendaki seluruh yang terjadi
4. Menciptakan apapun yang terjadi.
 
Inilah yang diwajibkan atas seorang muslim mengimaninya.
 
Adapun hal yang dibelakang ini, sebagaimana yang disebut oleh sebagian ulama “Sirrul Qadar” (rahasia takdir), maka tidak boleh terlalu membebani diri dalam pencariannya, inilah maksud dari perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika seseorang bertanya kepada beliau tentang takdir:
 
عبد الملك بن هارون بن عنترة ، عن أبيه ، عن جده قال : أتى رجل علي بن أبي طالب رضي الله عنه فقال : أخبرني عن القدر ، ؟ قال : « طريق مظلم ، فلا تسلكه» قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : بحر عميق فلا تلجه « قال : أخبرني عن القدر ؟ قال : » سر الله فلا تكلفه
 
Abdul Malik bin harun bin ‘Antharah mendapatkan riwayat dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata: “Seseorang mendatangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya: “Beritahukan kepadaku tentang takdir?”, beliau menjawab: “Jalan yang gelap janganlah engkau jalani”, orang ini mengulangi pertanyaannya, dijawab oleh beliau: “Laut yang dalam maka janganlah engkau menyelam ke dalamnya”, orang ini mengulangi pertanyaannya, beliau menjawab: “Rahasia Allah  maka jangan engkau membebani dirimu”.  Lihat kitab Asy Syari’ah, karya Al Ajurry, 1/476. 
 
Semoga jawaban ini bisa menjadi penjelasan bagi yang menulisnya sebelum yang bertanya. Wallahu a’lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 30 Al Muharram 1433H, Dammam KSA. 

 

 

Hukum Menikahi Sepupu

Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
 
Saya seorang muslim... saya mau tanya soal pernikahan dengan sepupu... saya mempunyai sepupu, dia anak dari adik kandung perempuan ayah saya, dia kristen, tapi saya sangat-sangat menyayangi dia, saya sempat berfikir jikalau memang boleh menurut islam, saya mau menikahi dia karena dia juga menyayangi saya...
 
Selain itu alasan saya mau menikahi dia adalah :
1. Ingin mengenalkan dia kepada Islam dan mengislamkan dia yang notabene di mana dia telah berkata walaupun dia kristen namun apabila ada yang ingin mengajarkan dan menuntun dia di dalam Islam dan orang itu orang yg ia sayangi maka ia bersedia untuk menikah dengan orang tersebut dan mempelajari islam lebih dalam dan berpindah memeluk islam. Bahkan 2 kakak laki2nya telah memeluk Islam semenjak menikah 
 
2. Saya sangat mencintai dia yang dimana saya sering mendengar curhat darinya bahwa lelaki yang ia temui selalu hanya menyakitinya saja dan hingga umurny yang ke-27 saat ini dia belum menemukan orang yang sesuai.
 
3. Jelas2 saya tidak rela dan tidak tega jikalau ia harus terus menerus memeluk agama kristen seumur hidupnya karena menurut saya agama yang paling sempurna dan diterima oleh Allah SWT adalah islam. Yang menjadi sandungan buat saya adalah dikatakan oleh nenek kami dari adat kami sebagai orang jawa dilarang menikah dengan sepupu, dan apabila kami tetap nekat maka keturunan kami akan cacat, saya tetap tidak peduli dengan hal itu, jikalau Allah mengizinkan saya akan memperjuangkannya. Mohon tanggapan dan pencerahan dari anda... 
 
Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayah kepada anda sekeluarga...amin.
 
Wassalammualaikum Wr Wb
 
NB: Jika ada Ayat-ayat Al-Quran , hadist ataupun sunnah yang bias mendukung tentang hal ini mohon juga di lampirkan. Terima kasih.
 
 
 
Jawaban:
 
Wa’alaikumussalam warahamatullahi wabarakatuhu, Alhamdulillah ana bikhair.
 
بسم الله الرحمن الرحيم
 
الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa, No. Fatwa: 16075
 
Pertanyaan: “Bolehkah orang islam selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan anak perempuan paman (saudara kandung bapak) dan anak perempuan bibi (saudari kandung ibu), anak perempuan bibi (saudari kandung bapak) sesuai dengan hukum-hukum Al Quran Al Karim?”
 
Jawab: Syari’at Islam adalah syari’at yang  mudah, sempurna dan jelas, tidak ada di dalamnya ifrath(melampaui batas) dengan mengharamkan anak perempuan paman (saudara kandung bapak) atau paman (saudara kandung ibu) atau tafrith (terlalu berlebihan) dengan memperbolehkan menikahi saudari (istri) dan anak perempuan dari saudari, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala di dalam surat Al Ahzab ayat 50:
 
 
 
{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً} [الأحزاب: 50]
 
 
Artinya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1].
 
Meskipun bentuk redaksi di awal ayat ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamtidak melarang masuknya umat islam bersama beliau, karena asal hukum di dalam redaksi jika ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka umat islam masuk ikut di dalamnya kecuali jika ada dalil yang menunjukkan kepada pengkhususan sebuah hukum di dalamnya untuk Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana penyerahan diri seorang wanita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan hal ini telah dinyatakan akan kekhususannya di akhir ayat, yaitu firman Allah di dalam surat Al Ahzab ayat: 50,
 
 
وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ
 
Artinya: “…dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu…”[2].
 
Semoga Allah memberikan taufik dan shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan atas Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil : Abdurrazzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih Al Fauzan,  Abdul Aziz Alu Syeikh, Bakr Abu Zaid.
 
Kalau boleh ditambahkan: Islam telah mengharamkan pernikahan dengan wanita-wanita yang ada kaitan mahram, seperti menikahi ibu, anak perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan),  anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), bibi (saudara perempuan kandung bapak), bibi (saudara perempuan kandung ibu). Oleh sebab itu menikahi mereka yang disebutkan di atas, diharamkan di dalam agama Islam, sedangkan selainnya seperti; anak perempuan bibi (saudara perempuan kandung bapak) atau anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung bapak) atau anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung ibu) atau anak perempuan bibi (saudara perempuan kandung ibu) maka dihalalkan menikahi mereka. Dalil akan hal ini adalah Firman Allah Ta’ala:
 
 
{ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (24)} [النساء: 23، 24]
 
Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
 
“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”[3].
 
Perhatikan Firman-Nya:
 
 
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
 
Artinya: “Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina[4].
 
Ketika menafsiri ayat ke 50 dari surat Al Ahzab:
 
 
وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ
 
Artinya: “…dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu…”[5]
 
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini adalah sebuah keadilan antara ifrath dan tafrith, karena orang-orang Nashrani tidak menikahi kecuali jika antara laki-laki dan wanita terdapat tujuh keturunan atau lebih, sedangkan orang-orang Yahudi, mereka menikahi anak perempuan saudara yang laki-laki atau saudara yang perempuan, kemudian datanglah syari’at Islam yang sempurna dan suci ini dengan menghancurkan sikap ifrathnya orang-orang Nashrani dengan dimubahkannya (menikahi) anak perempuan paman atau bibi (saudara laki-laki atau saudara perempuan kandung bapak) dan anak perempuan paman atau bibi (saudara laki-laki atau saudara perempuan kandung ibu) dan mengharamkan apa yang telah dilebihkan oleh orang-orang Yahudi yang menghalalkan untuk menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki atau anak perempuan dari saudara perempuan, hal ini adalah merupakan keburukan dan malapetaka”[6]
 
Sedangkan apa yang diisukan bahwa menikah dengan kerabat dekat bisa menyebabkan banyak penyakit dan kecacatan terhadap keturunan pasangan tersebut, maka isu ini perlu bukti yang nyata, bahkan kebanyakan para ahli menepis isu ini dan merendahkannya setelah mereka melakukan penelitian-penelitian yang mendalam, bahkan lebih banyak mendatangkan efek kesehatan yang bagus yang didapatkan oleh kedua pasangan dan juga keturunannya.
 
Yang jelas, tidak ada keutamaan dari pernikahan dengan kerabat jauh dibandingkan pernikahan dengan kerabat dekat dan begitupula sebaliknya. Kalau seandainya di dalam pernikahan dengan kerabat dekat terdapat bahaya, tidak mungkin Allah Ta’ala menghalalkan untuk rasul-Nya sebagaimana yang terdapat di dalam surat Al Ahzab ayat 50 tadi.
 
Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anhapadahal beliau adalah anak perempuan bibi nabi dan juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammenikahkan anak perempuan beliau Fathimah dengan anak paman beliau Ali bin Abi Thalib dan masih saja salafush shalih menikah dengan para kerabat yang dihalalkan.
 
Sebenarnya perkara ini kembali kepada keadaan pasangan laki-laki dan wanita tersebut setelah taqdir Allah Ta’ala, adanya keturunan yang buruk rupanya, cacat mental atau fisiknya yang terdapat dari dua pasangan kerabat dekat tidak berarti cacat tersebut hanya pada pernikahan kerabat dekat, oleh sebab itu pasangan tersebut tidak usah risau ataupun cemas bahkan sampai ada niatan untuk menahan kehamilan karena khawatir akan mendapatkan keturunan yang tidak diinginkan, akan tetapi yang harus dilakukan oleh seorang hamba Allah yang beriman adalah mengambil usaha-usaha yang nyata dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala.
 
Sedangkan menikahi seorang wanita Ahli Kitab, baik itu Yahudi ataupun Nashrani maka dihalalkan bagi laki-laki muslim dan tidak sebaliknya hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala:
 
{ الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [المائدة: 5]
 
Artinya: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi[7].
 
Lebih lagi jika diperakirakan dengan izin Allah Ta'ala sebab pernikahan ini, akhirnya wanita tersebut akhirnya memeluk agama Islam yang sangat mulia ini, maka menikahi wanita tersebut termasuk amal ibadah yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
 
انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللَّهِ فِيهِ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ  
 
Artinya: “Berjalanlah dengan perlahan sampai kamu turun di tanah mereka, lalu ajaklah mereka masuk ke dalam agama Islam dan beritahukanlah kepada mereka tentang pa yang diwajibkan atas mereka berupa hak-hak Allah, demi Allah, Allah memberikan hidayah kepada seseorang dengan sebabmu lebih baik bagimu daripada kamu memilki unta merah[8].
 
Untuk menambahkan pengetahuan maka kami tambahkan sebuah fatwa di bawah ini, insya Allah bermanfa’at: 
 
Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiyah dan Fatwa, No. Fatwa: 8828
 
Pertanyaan: “Apakah hukum berjabat tangan dengan wanita yang ajnabiyah (bukan mahram) dalam agama Islam, apakah anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung bapak), anak perempuan paman (saudara laki-laki kandung ibu),  anak perempuan dari anak paman saya, istri saudara kandung saya, istri paman (saudara laki-laki kandung bapak) saya, istri paman (saudara laki-laki kandung ibu) saya dan demikian pula saudari istri saya dan anak perempuannya, juga bibi saya yaitu anak perempuan dari pamannya bapak, (bibi saya) yaitu anak perempuan dari pamannya ibu, dan juga anak perempuan anak paman saya, apakah wanita-wanita yang saya sebutkan di dalam pertanyaan dianggap sebagai wanita yang bukan mahram, bolehkah berjabat tangan dengan mereka dan apa hukum melihat mereka tanpa syahwat?”
 
Jawaban: “Anak perempuan paman (saudara kandung bapak)mu, anak perempuan paman (saudara kandung ibu)mu,  anak perempuan dari anak laki-laki pamanmu, istri saudara kandungmu, istri paman (saudara laki-laki kandung bapak)mu, istri paman (saudara laki-laki kandung ibu)mu  dan saudara perempuan istri dan anak perempuan saudara perempuan istrimu, seluruh dari yang anda sebutkan di dalam pertanyaan adalah ajnabiyyat (bukan mahram) bagi anda, tidak boleh anda melihat mereka baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat. Dan demikian pula bibimu yaitu anak perempuan pamannya bapakmu, saudara laki-laki ibumu yaitu anak perempuan pamannya ibu, tidak boleh bagi anda berjabat tangan dengan keduanya, tidak boleh juga melihat kepada keduanya, karena mereka berdua bukan mahram bagi anda dan anda bukan sebagai mahram bagi mereka berdua, sedangkan bibi anda yaitu saudara perempuan bapak atau saudara perempuan kakekmu dan terus meningkat maka mereka adalah mahram bagi anda dan demikian pula saudara perempuan ibumu, saudara perempuan nenekmu terus meningkat lagi maka mereka adalah marham bagimu.
 
Semoga Allah memberikan taufik, shalawat dan salam selalu tercurahkan atas nabi kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam.
 
Ketua         : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Abdurrazzaq Afifi, Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud.
 
*) Disusun dan diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin, Dammam KSA.



[1] QS. Al Ahzab: 50
[2] QS. Al Ahzab: 50
[3] QS. An Nisa-’: 23-24
[4] QS. An Nisa-‘: 24
[5] QS. Al Ahzab: 50
[6] Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (6/442)
[7] QS. Al Ma-idah: 5
[8] Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

 

 

Kenapa Allah Menciptakan Manusia Ada Yang baik Dan Ada Yang Jahat

Pertanyaan:


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh 

Ustadz boleh minta batuan jawab pertanyaan seorang sahabat ana? Apakah Allah itu adil karena mengapa Allah menciptakan ada baik ada jahat, kenapa tdk baik semua? 'Afwan tadi ditanya cuman ga bsa jawab, mohon bantuannya.
 
 
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعدك
 
Saudara terhormat… semoga kita selalu dibimbing oleh Allah Ta'ala di dalam kebaikan.
 
Pertama: Hendaknya diketahui pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan menyebabkan seseorang di dalam keragu-raguan yang tidak akan batasnya, dan yang menjadi kewajiban seorang muslim sebenarnya adalah mengimani takdir/ ketentuan Allah Ta'ala, baiknya ataupun buruknya.
 
Dan ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, coba perhatikan hadits berikut:
 
عن زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ رضي الله عنه: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ : "...أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ...". رواه ابن ماجه
 
Artinya: "Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "…(ketahuilah) bahwa apa saja yang telah ditakdirkan untukmu maka tidak akan meleset darimu dan apa saja yang tidak ditakdirkan untukmu maka tidak akan pernah mengenaimu". HR. Ibnu Majah.
 
Kedua: Perlu diketahui, bahwa para ulama menyatakan; bukan termasuk adab yang baik kepada Allah Ta'ala, jika dikatakan bahwa Allah Ta'ala menginginkan keburukan kepada hamba-hamba-Nya, meskipuan Allah-lah yang menciptakan dan mengadakan hal tersebut. Para ulama berdalil dengan Firman Allah Ta'ala:
 
(وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء:80]
 
Artinya: "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku". QS. Asy Syu'ara: 80.
Di dalam ayat ini Nabi Ibrahim 'alaihissalam tidak mengatakan: "Dan jika Allah menjadikanku sakit", tetapi beliau berkata: "Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku".
 
Begitu juga ketika Allah Ta'ala berfirman tentang Jin:
 
 (وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَداً) [الجن:10]
 
Artinya: "Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka". QS. Al Jinn: 10.
 
Di dalam ayat ini, kata أُرِيدَ (dikehendaki), disebutkan dalam bentuk kata kerja mabni lil majhul, artinya tidak disebutkan pelakunya, hal ini dikarenakan sedang menyebutkan tentang keburukan dan kerusakan, adapun ketika menyebutkan tentang kebaikan, maka para jin menyandarkannya kepada Allah Ta'ala dan ini termasuk adab mereka kepada Rabb mereka.
 
Oleh sebab inilah Ali bin Thalib radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa:
 
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.
 
Artinya: "Dan seluruh kebaikan berada di kedua tangan-Mu dan keburukan bukan kepada-Mu". HR. Muslim.
 
Jika ada yang berkata: "Kita melihat di sekitar kita ada yang sakit, ada yang berbuat maksiat, dosa dan keburukan-keburukan lainnya, bagaimana ini?"
 
Maka dijawab:
 
Pertama: Sesungguhnya seluruh perbuatan Allah adalah baik dan penuh dengan hikmah, tidak ada sekiditpun keburukan meskipun hal tersebut dirasakan buruk oleh sebagian makhluk, karena keburukan tersebut berasal dari sebab yang mereka kerjakan sendirin dan berdasarkan pilihan yang mereka pilih.
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
 
{ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]
 
Artinya: "Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". QS. Asy Syura: 30.
 
Kedua: hal-hal buruk yang kita lihat, sesungguhnya itu adalah objek sebuah takdir Allah Ta'ala, atau lebih jelasnya kita katakan: "Kita dapati di sebagian makhluk menghasilkan keburukan seperti ular, kalajengking, penyakit-penyakit menular, penyakit-penyakit mematikan, kemiskinan, kemarau, banjir dan masih banyak yang lain. Seluruhnya itu, jika dilihat untuk manusia maka ia adalah sebuah keburukan, karena hal-hal tersebut tidak cocok dan buruk untuk manusia, akan tetapi jika dilihat bahwa hal tersebut adalah takdir Allah dan kekuasaan-Nya maka seluruh hal tersebut adalah baik, karena tidaklah Allah mentakdirkannya kecuali untuk sebuah hikmah, baik diketahui ataupun tidak hikmah tersebut oleh manusia. 
 
Akan tetapi yang dituntut dari kita untuk mengimaninya adalah bahwa hal-hal tersebut merupakan takdir Allah Ta'ala yang Maha Adil dan Maha Hakim (Bijaksana, meletakkan sesuatu pada tempatnya).
 
Dan ketahuilah bahwa Allah telah memberikan pengarahan kepada kita, untuk tidak memasukkan diri kita di dalam pertanyaaan-pertanyaan seperti ini dan hendaklah kita tunduk dan menyerahkan diri, tetapi tetap berusaha. Allah berfirman:
 
(لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ) [الأنبياء:23]
 
Artinya: "Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai". QS. Al Anbiya': 23.
 
Demikian jawaban singkat semoga bermanfaatوالله أعلم .
 
*)Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Selasa, 1 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA

 

 

Wanita Berpakaian Tetapi Terlanjang

"Benarkah wanita berpakaian tapi telanjang tidak masuk surga bahkan tidak mencium bau wanginya?"

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد وآله و صحبه اجمعين, أما بعد:
 
Dibawah ini ada pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban atas hadits:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku temui; suatu kaum  yang selalu membawa cemeti bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya dia memukuli manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, cenderung tidak taat, berjalan melenggak-lenggok, rambut mereka seperti punuk onta, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga padahal bau surga tercium dari jarak sekian". HR. Muslim.
 
Makna "berpakaian tapi telanjang":
 
-Wanita yang diberi nikmat tapi tidak bersyukur kepada Allah Ta'ala.
 
-Wanita yang menutup sebagian tubuhnya dan membiarkan sebagian yang lain.
 
-Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga memperlihatkan warna kulit dan apa yang ada di belakang pakaian tersebut.
 
-Wanita yang memperhatikan dunia (termasuk pakaian, mode dsb) tetapi tidak memperhatikan ibadah dan kehidupan akhirat. 
 
Lihat penjelasan ini di dalam kitab Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
Mungkin bisa ditambahkan, wanita yang memakai pakaian ketat sehingga bentuk tubuhnya terlihat.Wallahu a'lam.
 
 

Pertanyaan 1:
Bagaimana dengan hadist ini: Disebutkan dalam hadits:

“Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu... pun, niscaya ia masuk neraka.”
 (HR. Muslim).

Bukankah makna dari hadist ini bahwa satu-satunya dosa besar yg tidak terampuni adalah merpersekutukan Allah/syirik besar'?
 
Jawaban untuk pertanyaan 1:
Dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah Ta'ala adalah kesyirikan, jika pelakunya meninggal di dalam kesyirikan tersebut dan tidak bertaubat darinya selama hidupnya, dalilnya:
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا } [النساء:48]
 
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". QS. An Nisa': 48.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ » . متفق عليه
 
Artinya: "Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Siapa yang meninggal dalam keadaan mensyirikkan Allah dengan sesuatu maka niscaya dia masuk neraka". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Tetapi perlu diingat, bukan berarti dosa selain syirik tidak memasukkan seseorang ke dalam neraka. Seorang pelaku dosa selain syirik, maka di akhirat akan di bawah kehendak Allah Ta'ala, jika Allah menghendaki untuk mengampuninya, maka dia akan diampuni, sedangkan jika Allah menghendaki dia disiksa dulu di neraka kemudian dikeluarkan darinya maka itupun bisa juga terjadi.
 
Jadi, yang membedakan adalah, jika ada pelaku syirik dan meninggal dalam kesyirikan belum bertaubat darinya, maka kekal abadi di neraka, adapun pelaku dosa selain syirik dan meninggal dalam dosanya, belum bertaubat darinya maka orang ini sesuai dengan kehendak Allah Al Hakim (Maha Bijaksana, meletakkan segala perkara pada tempatnya), bisa Allah ampuni atau bisa Allah siksa di neraka.
 
Silahkan baca hadits-hadits yang ada di dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa ada seorang yang masuk ke dalam neraka kemudian dikeluarkan darinya.
 
Pertanyaan ke 2:
Apakah dosa wanita diatas termasuk syirik besar? sehingga dia kekal di neraka? Bukankah Allah tidak akan menyia2kan amalan kebaikan hambanya walaupun hanya sebesar biji zarah (asalkan hamba itu tidak syirik besar).
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 2:
Wanita yang disebutkan di dalam hadits tidak melakukan syirik besar, tetapi telah melakukan dosa besar, karena di dalam hadits disebutkan ancaman yang khusus bagi wanita yang melakukan perbuatan tersebut.
 
Dan para ulama mendefinisikan dosa besar adalah: setiap dosa yang Allah akhiri hukumannya dengan neraka atau kemurkaan atau laknat atau siksa, dan ini adalah pendapat Abdullah bin Abbasradhiyallahu 'anhuma, Al Hasan al Bashri. Lihat syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi. Ini permasalahan pertama yang perlu didudukkan.
 
Yang kedua, seseorang bisa saja akan kekal di dalam neraka bukan hanya karena syirik tetapi juga karena sebuah kekafiran. Dan kekafiran lebih luas daripada kesyirikan dari sisi sebabnya. Lebih jelasnya, mari perhatikan contoh di bawah ini:
 
- sesorang mendustakan Al Quran dan Hadits, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Ankabut: 68.
 
- seseorang menyombongkan diri dengan syari'at Allah Ta'ala dan menolak mengerjakannya, padahal dia mengakui kebenarannya, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Baqarah: 34.
 
- seseorang ragu akan kebenaran Al Quran dan Hadits,  maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Kahfi: 35-38.
 
- seseorang berpaling dari syari'at Allah Ta'ala, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Ahqaf: 3
 
- seseorang berlaku sifat munafik yaitu dilisannya mengatakan beriman tetapi dihatinya tetap pada kekufuran, seperti yang terjadi di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka dia dihukumi sebagai kafir tetapi dia tidak mensyirikkan Allah Ta'ala. Lihat QS. Al Munafiqun: 3.
 
Nah, kalau sudah dipahami ini, oleh sebab inilah sebagian ulama menjelaskan kenapa wanita yang tersebut di dalam hadits di atas, tidak masuk surga bahkan tidak mencium baunya, sebabnya adalah: "Karena menghalalkan apa yang telah diharaman oleh Allah Ta'ala". Dan ini termasuk perbuatan kekufuran yang bisa menyebabkan seseorang kekal abadi di neraka.
 
Kalau ingin ditegaskan lagi, berarti setiap muslim yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka dia kafir, tentunya setelah iqamat Al hujjah (ditegakkan alasan) kepadanya.
 
Mari perhatikan perkataan Ibnu Qudamah rahimahullah:
 
ومن اعتقد حل شيء أجمع على تحريمه وظهر حكمه بين المسلمين وزالت الشبهة فيه للنصوص الواردة فيه كلحم الخنزير والزنا وأشباه هذا مما لا خلاف فيه كفر
 
Artinya: "Dan barangsiapa yang menghalalkan sesuatu yang telah disepakati keharamannya dan terlihat hukumnya berlaku ditengah-tengah kaum muslim serta hilangnya kesamaran di dalamnya karena terdapatnya dalil-dalil dalam permasalahan tersebut seperti daging babi, zina dan yang semisal ini yang tidak ada perselisihan di dalamnya maka perbuatan tersebut adalah bentuk kekafiran." Lihat al Mughni, karya Ibnu Qaudamah
 
Pertanyaan ke 3:
“Barangsiapa yang berjumpa Allah dengan tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia masuk surga. Dan barangsiapa yang berjumpa Allah dengan mempersekutukannya pada sesuatu pun, niscaya ia masuk neraka.” (HR. Muslim).

Apakah makna dari hadist diatas adalah: satu2nya dosa yg tidak akan terampuni adalah dosa syirik?
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 3:
Makna hadits di atas adalah, siapa berjumpa dengan Allah Ta'ala nanti di akhirat dan selama hidupnya dia tidak menyekutukan Allah Ta'ala, maka dia akan masuk surga dan sebaliknya.
 
Tetapi yang perlu juga dicermati disini, terkadang seseorang tidak pernah berbuat syirik selam hidupnya, tetapi pernah bahkan sering melakukan maksiat dan dosa, contohnya dusta, tidak amanah, menzhalimi orang, tidak memakai jilbab dst.
 
Maka dosa-dosa ini harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta'ala, jika Allah menghendaki diampuni dan masuk surga, dan jika Allah menghendaki, orang tersebut akan disiksa dulu di neraka, sesuai dengan kehendak-Nya tetapi tidak akan kekal didalamnya, karena yang mengekalkan seseorang di dalam neraka adalah dosa syirik dan kekufuran.
 
Dan perlu diingat juga, bahwa syirik penekanannya lebih kepada menyekutukan Allah dalam ibadah sedangkan kufur penekanannya lebih kepada pendustaan, penolakan, keraguan atas syari'at-syari'at Allah Ta'ala.
 
Tetapi terkadang seorang musyrik dinamakan kafir dan seorang kafir dinamakan musyrik, mari perhatikan hal-hal di bawah ini:
 
( وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ ) المؤمنون/117
 
Artinya: "Dan barang siapa berdoa kepada semabahan  yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya.Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung". QS. Al Mu'minun: 117.
 
( ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ .إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ ) فاطر/13، 14
 
Artinya: "Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". "Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui". QS. Fathir: 13-14.
 
Di dalam surat Al Mu'minun Allah menamai orang yang berdoa kepada selain-Nya, sebagai orang kafir dan di dalam surat Fathir, Allah Ta'ala menamai orang yang berdoa kepada selain-Nya musyrik.
 
Hal ini menunjukkan bahwa kadang syirik dinamai kufur dan kadang kufur dinamai syirik.
 
Dan terkadang dibedakan, yaitu syirik penekanannya lebih kepada menyekutukan Allah Ta'ala dalam beribadah, adapun kufur bisa terjadi dengan pendustaan, penolakan, keraguan, berpaling, dan kemunafikan terhadap syari'at Allah Ta'ala. Lihat Syarah Shahih Muslim, karya An Nawawi.
 
Permasalahan ini penting untuk diketahui karena akan menjawab pertanyaan di bawah ini.
 
Pertanyaan ke 4:
Apakah benar dosa yg satu 'menghapuskan' amalan2 kebaikan yg lain? Apakah benar berlaku hukum krn nila setitik rusak susu sebelanga (nila nya bukan syirik)?.
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 4:
Ada sebuah dosa yang bisa menghapuskan seluruh amalan perbuatan, yaitu dosa syirik dan kekufuran:
 
{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [الزمر: 65]
 
Artinya: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu:"Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi". QS. Az Zumar: 65.
 
Pertanyaan ke 5:
Apakah wanita tersebut tidak 'dihisap' dulu? Maksudnya benar dia berdosa besar menghalalkan yg haram, tapi dia kan tidak syirik(mempersekutukan Allah). Bukankah tidak satupun manusia yg luput dari menzalimi dirinya? Walaupun berupa setitik nila. Jazakillah khair.
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 5:
Yang harus dimengerti disini adalah, setiap manusia sampai orang kafir akan dihisab oleh Allah Ta'ala atas apa yang dia telah perbuat, kecuali yang dikecualikan Allah Ta'ala, yang dikecualikan adalah orang yang masuk surga tanpa hisab dan siksa. Allah Ta'ala berfirman:
 
{فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (102) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (103) تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ (104) {أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ (105)} [المؤمنون: 105-102]}
 
Artinya: "Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan". "Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam". "Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat". "Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?". QS. al Mu'minun: 102-105.
 
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]
 
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". QS. Al Anbiya': 47.
 
{ وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا } [الكهف: 49]
 
Artinya: "Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun". QS. Al Kahfi: 49.
 
Ayat-ayat di atas memberikan penjelasan kepada beberapa hal:
1. Setiap manusia sampai kafir akan dihisab oleh Allah Ta'ala.
2. orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal di dalam neraka.
3. Dihisabnya orang kafir sebagai bentuk pendirian hujjah kepada mereka atas perbuatan mereka dan sebagai bentuk penunjukkan keadilan Allah terhadap mereka.
 
Jadi, kalau ada seseorang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah Ta'ala, maka ia dihukumi kafir (dan sekali lagi, tentunya setelah ditegakkan hujjah atasnya) dan meskipun kafir dia tetap akan dihisab oleh Allah Ta'ala. Dan orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal di dalam neraka.
 
Pertanyaan ke 6:
Secara umum jenis syirik itu ada dua: Syirik Akbar (besar) dan Syirik Ashghar (kecil). Perbedaan antara syirik akbar dan syirik asghar adalah:

Syirik akbar;
Syirik akbar menghancurleburkan seluruh amal ibadah pelakunya.
Apabila dia meninggal d...unia dalam keadaan berbuat syirik akbar maka tidak mendapat ampunan Allah Subhannahu wa Ta'ala. Pelakunya tergolong murtad dari Islam. Di akhirat kelak pelakunya akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Adapun contoh syirik ashghar adalah bersumpah dengan nama selain Allah, sebagaimana sabda Rasulullah
 (shallallahu 'alaihi wasallam)

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَشْرَكَ

Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik. (HR Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Syirik Asghar (kecil);
Dosa syirik kecil tidak merusak seluruh amal ibadah. Pelakunya diampuni apabila Allah Subhannahu wa Ta'ala menghendakinya. Pelakunya tidak tergolong murtad dari Islam.

Di akhirat kelak pelakunya tidak akan kekal dalam neraka selama-lamanya. Jadi tindakan diatas tersebut termasuk syirik akbar atau syirik kecil/sedang ya?
 
 

Jawaban untuk pertanyaan ke 6:
Perlu didudukkan permasalahannya disini, yaitu memang benar pelaku dosa syirik kecil, tidak akan keluar dari agama Islam dan akan diampuni oleh Allah Ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya.
 
Meskipun permasalahan ini (yaitu: syirik Ashghar termasuk dosa yang dibawah kekuasaan Allah untuk mengampuninya ataukah syirik kecil juga termasuk dosa yang tidak diampuni) masih diperbincangkan ulama, karena ada sebagian ulama yang menyatakan sampai syirik Ashghar tidak mendapat ampunan Allah Ta'ala. Karena Allah berfirman:
 
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ...} [النساء: 48]
 
 Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik…". QS. An Nisa': 48.
Coba perhatikan ayat ini, أَنْ يُشْرَكَ , huruf أَنْ dan yang setelahnya, dalam ilmu nahwu dimaknai sebagai kata mashdar (asal kata) yang kalau diartikan menjadi "dosa syirik", dan dosa syirik disini bentuknyanakirah (yang tidak ditentukan) dalam redaksi peniadaan (yaitu tidak diampuni), berarti menunjukkan kepada keumuman, yang berarti dosa syirik apapun. Makanya sebagian ulama menyatakan samapi dosa syirik kecilpun masuk dalam surat An Nisa ayat 48 itu. Lihat majmu' fatawa wa rasail milik Ibnu Utsaimin rahimahullah.
 
Penjelasan di atas hanya sebagai tambahan saja, kembali ke pertanyaan…
 
Sedangkan tindakan di atas yaitu seorang wanita yang berpakaian tetapi telanjang, misalnya seorang wanita yang belum pakai jilbab meskipun sebagian besar tubuhnya ditutupi dengan pakaian, maka jenis perbuatan ini adalah dosa besar sebagaimana penjelasan yang disebutkan di atas, kecuali kalau dibarengi dengan keyakinan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka jenis perbuatan ini adalah sebuah kekufuran. Dan sudah kita jelaskan di atas bahwa kekufuranpun akan mengakibatkan seseorang masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya.
Jadi, perbuatannya wanita tersebut tidak ada hubungannya dengan syirik Akbar atau Ashghar.
 
Pertanyaan ke 7:
Yg masih sedikit belum jelas adalah tentang apa saja perbuatan/sikap/pendangan yang termasuk syirik besar/akbar sehingga termasuk kafir dan ...tidak terampuni dan kekal selamanya di neraka?

Apakah bila melakukan "salah satu" dari perbuatan HARAM (menghalalkan yang haram dan kita sudah tahu bahwa itu haram, yang artinya sudah menantang ALLAH yg artinya lagi ada kekuatan yang lebih besar dari ALLAh) seperti: 
- merokok atau menjual rokok
- meminum atau menjual alkohol,
- riba(menyimpan uang di bank konvensional),
- mengikuti segala bentuk asuransi konvensianal baik asuransi kesehatan/pendidika/kendaraan
- memproduksi atau menjual barang yang diduga kuat akan dikenakan untuk melakukan tindak kemaksiatan, seperti: menjual busana NON muslimah(celana jeans ketat,baju kaos lengan pendek,dll) atau menjual wewangian kepada orang yang akan menjadikannya sebagai pelengkap acara minum khamer atau perzinaan
- Dan yang haram2 (melanggar syariah islam baik Qur'am dan hadist).

Nah,apakah jika melakukan 'salah satu" dari perbuatan haram seperti contoh diatas atau perbuatan haram lainnya itu termasuk kafir yang menghapuskan semua amalannya yang lain, serta menyebabkan dia kekal di neraka? jazakillah khair....
 
Jawaban untuk pertanyaan ke 7:
Perlu didudukkan disini suatu hal;
 
Tidak semua pelaku dosa kecil atau dosa besar berarti mereka telah menghalalkan dosa tersebut.Karena mungkin saja seseorang melakukan perbuatan riba tetapi tidak meyakini bahwa riba' itu halal, bisa saja seseorang minum khamr atau menjual yang memabukkan tetapi tidak meyakini bahwa khamr itu halal, bisa saja orang berzina tetapi tidak meyakini bahwa zina itu halal, bisa saja seorang wanita tidak berjilbab tetapi tidak meyakini bahwa tidak berjilbab itu halal.
 
Jadi, harus dibedakan pelaku dosa dengan orang yang menghalalkan sebuah dosa. Dan tidak ada kelaziman antara keduanya.
 
Sedangkan kalau yang ditanyakan: apa saja perbuatan/sikap/pendangan yang termasuk syirik besar/akbar sehingga termasuk kafir dan ...tidak terampuni dan kekal selamanya di neraka?
 
Maka jawabannya: harus dipahami dengan baik dan benar definisi dan perbandingan antara syirik dan kufur, sehingga bisa terjawab pertanyaan ini dengan baik dan benar pula. Dan sepertinya di atas sudah dijelaskan tentang permasalahan ini, tetapi tidak mengapa diringkas biar mudah dipahami dan sebagai penekanan:
 
1. Syirik penekanannya lebih kepada beribadah kepada selain Allah Ta'ala adapun kufur penekanannya lebih kepada pendustaan, keraguan, menolak atas syari'at Allah Ta'ala.
 
2. Berarti kekufuran lebih luas daripada kesyirikan kalau dilihat dari sebabnya.
 
3. Tetapi, kadang syirik juga dinamakan kufur dan kufur dinamakan syirik, dalil-dalilnya silahkan lihat dan perhatikan penjelasan sebelumnya.
 
4. Memang ada kaum yang menggabungkan antara kekufuran dengan kesyirikan yaitu kaum ahli kitab. Kafir karena menolak kebenaran dan syirik karena menyekutukan Allah dalam ibadah dengan selain-Nya. Perhatikan firman Allah berikut ini:
 
 ( وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ . اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ ) التوبة/30، 31.
 
Artinya: "Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?". "Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". QS. At Taubah: 30-31.
 
Di dalam ayat ini Allah mensifati orang Yahudi dan Nashrani musyrik karena perbuatan mereka yang beribadah kepada selain Allah Ta'ala, sedangkan di dalam suart Al Bayyinah ayat 1,  Allah mensifati mereka dengan kekufuran;
 
 ( لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ ) البينة/1
 
Artinya: "Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata". QS. Al Bayyinah: 1.
 
Terakhir…
Jadi, jika kita misalkan, kalau ada seorang wanita tidak berjilbab, maka wanita tersebut telah melakukan dosa besar, sebagaimana dalam hadits di atas, sedangkan jika ada wanita yang tidak berjilbab dan meyakini jilbab tidak wajib, berarti terdapat suatu penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah Ta'ala, maka perbuatan ini dikatakan sebagai sebuah kekufuran, tentunya kekufuran ini tidak serta merta disematkan kepada wanita tesebut, karena harus ada iqamat al hujjah (pendirian alasan) kepada wanita tersebut, kenapa dia melakukan ini?, apakah benar dia meyakini ini? Apakah dia tidak tahu hukum ini? dsb.
 
Dan seluruh penjelasan di atas, kalau kita mengambil pendapat yang menyatakan bahwa wanita yang berpakaian tetapi telanjang itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah Ta'ala.
Dan ada lagi yang berpendapat, bahwa maksud hadits di atas adalah wanita yang berpakaian tetapi telanjang tersebut bukan golongan pertama yang masuk surga dikarenakan dosanya, meskipun dia nantinya akan masuk surga tentunya karena kemurahan dan rahmat dari Allah Ta'ala. Wallahu a'lam
 
Saya berdoa dengan Nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya yang 'Ulya semoga Allah selalu membimbingkan kita dan seluruh kaum muslim untuk lebih taat dan patuh atas perintah-perintah-Nya, sehingga tidaklah ajal menjemput kecuali kita bisa mengucapkan kalimat agung:لا إله إلا الله
 
Wallahu a'lam.
 
Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 1 Jumadal Ula 1432 H, Dammam KSA

 

Hukum Berdakwah Dengan Cerita Dusta

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu 

Ustadz, seringkali ana mendapatkan email yg berisikan suatu kisah/cerita yg dimaksudkan agar kita mengambil hikmah didalamnya ataupun dimaksudkan sbg dakwah.
 
Yg ingin ana tanyakan adalah bagaimana hukum kisah/cerita hikmah tsb jika:
1. Kisah/cerita tsb merupakan kisah nyata.
2. Kisah/certia tsb merupakan karangan saja.
3. Kisah tsb merupakan kisah nyata namun berasal dari sumber non-muslim yg kemudian diubah redaksinya menjadi kisah yg "islami."
 
Jazakallahu khairan



 
 
 
 
 
 
 
Jawaban:
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu, wa jazakumullah khairan.
 
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari perhatikan beberapa poin di bawah ini:
 
 
Pertama, kisah atau cerita asal hukumnya diperbolehkan jika kisah itu benar, dalilnya adalah beberapa ayat suci yang ada di dalam Al Quran Al Karim yang menunjukkan akan kebolehan bercerita, dari ayat-ayat yang menunjukkan akan hal tersebut misalnya:
 


{ لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ}
 
Artinya: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". QS. Yusuf:111.
 
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ }
 
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". QS. Al Baqarah:62.
 
{لَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ }
 
Artinya: "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir". QS. Al A’raf:176.
 
{نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ}
 
Artinya: "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui". QS. Yusuf:3.
 
{فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ }
 
Artinya: "Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata:"Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami".Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya).Syu'aib berkata:"Janganlah kamu takut.Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". QS. Al Qashash:25.
 
Dan kalau kita perhatikan Al Quran Al Karim, maka akan kita dapatkan penuh dengan cerita-cerita umat-umat terdahulu, semenjak Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad 'alaihimash shalatu wassalam, agar kaum muslimin bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut. Wallahu a'lam
 
Kedua, Cerita-cerita yang ada di dalam Al Quran Al Karim, hadits-hadits yang shahih, cerita-cerita para shahabat radhiyallahu 'anhum, para tabi'in, para ulama setelahnya rahimahumullah dengan sanad yang benar maka sudah mencukupi untuk dijadikan sebagai bahan renungan, dakwah, nasehat dan sebagainya, yang bermanfa'at bagi umat manusia khususnya umat muslim.

 

Ketiga, Berbohong adalah dosa besar sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yang mengarang kitab tentang dosa-dosa besar, diantaranya Imam Adz Dzahabi dan yang lainnya rahimahumullah,karena dosa berbohong di ancam masuk neraka. Hadits-hadits yang berkenaan dengan dosa berbohong:
 
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.
 
Artinya: "Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, sesungguhnya seseorang benar-benar berkata jujur sehingga ia menjadi shiddiq (orang yang terpercaya), dan sesungguhnya dusta menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa menunjukkan kepada neraka dan sungguh seseorang benar-benar berdusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai tukang dusta". Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
 
مِنْ أَفْرَى الْفِرَى أَنْ يُرِىَ عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَ.
 
Artinya: "Termasuk dari dusta yang paling besar adalah kedua matanya memperlihatkan (menceritakan) sesuatu yang tidak pernah dilihat olehnya." Hadits riwayat Bukhari.
 
فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِى أَحَدَ شِقَّىْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ - قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ - قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى . قَالَ قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ... وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ.
 
Artinya: “lalu kami berangkat mendatangi seseorang yang berbaring terlentang, dan seorang lagi berdiri di sampingnya sambil memegang serokan besi pengait bara, lalu menghampiri muka temannya dan mengoyak mulut hingga ke tengkuknya dan tulang hidungnya hingga ke tengkuknya, dan matanya hingga ke tengkuknya, lalu dia berpindah ke sisi tubuh temannya bagian yang lain, lalu melakukan hal yang serupa, tatkala selesai mengoyak bagian kedua, sisi tubuh bagian pertama kembali seperti sedia kala, dan dia mengulanginya lagi seperti kali pertama, aku berkata: “Subhanallah (Maha suci Allah)! Siapa mereka berdua?”…”Adapun lelaki yang mulut, hidung dan matanya dikoyak hingga tengkuknya, adalah seorang yang keluar dari rumahnya, lalu memberitakan kabar bohong yang samapi ke seluruh penjuru dunia”.  HR. Bukhari
 
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ. رواه مسلم
 
Artinya: "Cukuplah seorang manusia dikatakan telah berdusta, jika ia mengatakan setiap sesuatu yang ia dengar." Hadits riwayat Muslim
 
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ، وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ، وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلْقُهُ.
 
Artinya: "Aku penjamin sebuah rumah di kebun surga bagi siapa yang meninggalkan pertikaian meskipun ia benar, dan penjamin sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan penjamin sebuah rumah di surga yang paling tinggi bagi siapa yang baik akhlaqnya." Hadits riwayat Abu Daud dan dihasankan oleh Imam Al Albani di dalam kitab Shahihul Jami'.
 
 
Keempat, Petunjuk terbaik adalah petunjuknya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, termasuk di dalamnya petunjuk untuk berdakwah, karena berdakwah adalah ibadah maka tidak ada contoh yang terbaik dalam berdakwah kecuali petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Ta'ala berfirman:
 
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}
 
Artinya: "Katakanlah, "Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". QS. Yusuf:108.
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
 
Artinya: "Amma ba'du, maka sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullahi dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang mengada-ada dan setiap bid'ah itu sesat". Hadits riwayat Muslim.
 
Dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berdakwah dengan kisah-kisah bohong, begitupula para shahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.
 
Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan sebab kebinasaan Bani Israel, tidak lain adalah karena mereka mendongeng, berkisah
 
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ لمَّا هَلَكُوا قَصُّوا
 
Artinya: “Sesungguhnya Bani Israel ketika binasa mereka berdongeng”. HR. Ath Thabarani di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.
 
Ibnu Al Atsir rahimahullah berkata :
 
“Arti “Ketika binasa mereka berdongeng” adalah mereka bersandar kepada ucapan dan meninggalkan amal, maka hal itu penyebab kebinasaan mereka, atau kebalikannya, yaitu mereka binasa dengan meninggalkan amal dan akhirnya mereka hanya mendongeng”. Lihat kitab An Nihayah Fi Gharib al Ahadits.  
 
Berkata Al Albani rahimahullah:
“Dapat juga dikatakan, bahwa sebab kehancuran mereka  adalah para dai mereka memperhatikan kisah-kisah dan hikayat tanpa fikih dan ilmu yang bermanfaat yang mengenalkan kepada manusia perihal agama mereka, akhirnya hal itu membawa mereka kepada amal shalih (tanpa ilmu dan pemahaman), maka ketika mereka melakukan itu mereka binasa”. Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1681.
 
Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:
“Para Ahli Kisah tidak dicela dari sisi namanya ini, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
نَحْنُ نَقصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ القَصَص
 
Dan juga berfirman:
فَاقْصُص القَصَص
 
Tetapi para ahli kisah dicela, karena kebanyakan mereka terlalu mudah menyebutkan kisah-kisah tanpa menyebutkan ilmu yang bermanfaat, kemudian kebanyakan mereka keliru dalam penyampaian dan terkadang bersandar dengan sesuatu yang kebanyakan mustahil”. Lihat kitab Talbis Iblis, hal. 150.
 
Berkata Al Hafizh Al ‘Iraqy rahimahullah:
 
“Termasuk penyakit mereka adalah berbicara kepada kebanyakan orang awam dengan sesuatu yang tidak sampai akal mereka kepadanya, maka akhirnya mereka terprosok ke dalam keyakinan-keyakinan yang buruk, ini kalau seandainya cerita itu benar, apalagi kalau seandainya cerita itu sesuatu yang batil!!!”. Lihat kitab Tahdzir al Khawash, karya As Suyuthy, hal. 180.
 
Berkata Ibnu Al Jauzy rahimahullah:
 
“Seorang yang suka berkisah meriwayatkan kepada orang-orang awam hadits-hadits yang munkar, dia menyebutkan kepada mereka yang kalau seandainya dia mencium bau ilmu (sedikit saja dari kisah tersebut), niscaya dia tidak akan menceritakannya, akhirnya orang-orang awam keluar dari sisinya belajar hal-hal yang batil, jika ada seorang ahli ilmu yang mengingkari mereka, mereka akan menjawab: “Kami telah mendapatkan ini dengan lafazh “Akhbarana” (telah diberitahukan kepada kami) dan hadatsana (dia telah meriwayatkan kepada kami) (artinya kisah ini ada sanadnya), berapa banyak para ahli kisah merusak makhluk dengan hadits-hadits yang palsu, berapa banyak warna tubuh telah menguning gara-gara kelaparan, berapa banyak yang bertekad untuk bepergian ke sebuah tempat, berapa banyak orang yang melarang dirinya dari sesuatu yang telah dihalalkan, berapa banyak yang meninggalkan untuk meriwayatkan hadits dengan sangkaan darinya hal itu menyelisihi diri di dalam hawa nafsunya, berapa banyak orang yang menjadikan anaknya yatim dengan sikap zuhudnya padahal dia masih hidup, berapa banyak yang tidak mau bergaul dengan istrinya tidak menunaikan hak istrinya, maka akhirnya si istri bukanlah seorang yang janda bukan pula seorang yang mempunyai suami”. Lihat kitab al Maudhu’at, 1/32.
 
Perkataan Ibnu Al Jauzy di atas menjelaskan bahwa berapa banyak penyimpangan-penyimpangan syariat dilakukan oleh sebagian orang akibat cerita-cerita palsu yang mereka dengan dari para ahli kisah, berupa kisah zuhud, wara’ dan sebagainya.
 
Dari sinilah sebagian ulama terdahulu mencela para ahli kisah ini di dalam rangka berdakwah:
 
Ahmad bin Hanbal berkata:
“Manusia yang paling pendusta adalah para ahli kisah dan para peminta-minta, sungguh orang-orang sangat membutuhkan para ahli kisah yang jujur, karena mereka menyebutkan kematian dan siksa kubur”, kemudian beliau ditanya: “Apakah engkau menghadiri perkumpulannya?”, beliau menjawab: “Tidak”. Lihat kitab Al Adab Asy Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih Al Hanbaly, 2/82.
 
InsyaAllah dari poin-poin yang sudah disampaikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, wallahu a’lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Jumat 21 Al Muharram 1433H, Dammam KSA.

 

 

Ketinggalan Sholat Karena Sibuk Bekerja

Saya sering ketingalan melaksanakan sholat Dhuhur karena kesibukan kerjaan, seperti pada waktu shoalat itu bertepatan dengan waktu mengendarai kendaraan untuk menjemput anak-anak di sekolah, mohon dijelaskan hukumnya Ustadz?
 
Jawaban: 
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم  و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Saudaraku seiman…
 
Kalau yang dimaksudkan ketinggalan adalah sampai tidak mengerjakan shalat zhuhur atau shalat-shalat wajib lainnya, maka ini termasuk dosa besar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjelaskan:
 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ »
 
Artinya: “Abdullah bin Buraidah meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perjanjian yang terjadi antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya sungguh telah kafir”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 4143.
 
عن جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ»
 
Artinya: “Jabir bi Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jarak antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. HR. Muslim. 
 
Adapun jika yang dimaksudkan ketinggalan adalah ketinggalan berjamaah di masjid maka ketauhilah, muslim lelaki yang tidak ke masjid untuk melaksanakan shalat wajib secara berjamaah, maka sungguh dia sudah ketinggalan sangat banyak keutamaan, diantaranya;

Pertama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa sebaik-baiknya perkerjaan yang paling dicintai Allah adalah mengerjakan shalat pada waktunya.

عن عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه - قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ « الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا » قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ»
 
Artinya: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?”, beliau menjawab: “Shalat pada waktunya”, kemudian aku bertanya lagi: “Kemudian apa?”, beliau menjawab: “Kemudian berbakti kepada kedua orangtua”. HR. Bukhari dan Muslim.
Kedua, Keutamaan shalat berjamaah
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً » 
 
 
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan dari shalat sendirian dengan 27 derajat”. HR. Muslim.
 
Ketiga, Keutamaan shaf pertama
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا »
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jikalau orang-orang mengetahui apa yang ada di dalam mengumandangkan adzan dan shaf pertama (berupa pahala), kemudian mereka tidak mendapatkan (orang yang berhak atas itu) kecuali mereka berundi atasnya, maka niscaya mereka berundi, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid (berupa pahala), maka mereka niscaya akan berlomba-lomba kepadanya, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam shalat Isya’ dan shubuh (berupa pahala) niscaya mereka akan mendatangi keduanya meskipun dalam keadaan merangkak”. HR. Bukhari dan Muslim.

Keempat, Keutamaan berjalan ke masjid

Kelima, Keutamaan orang yang menunggu shalat berjamaah.

 
 
Dan masih banyak yang lainnya dari keutamaan-keutamaan yang didapatkan dari shalat wajib berjamaah. 
 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ »
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallambersabda: “Shalatnya seseorang berjamaah melebihi atas shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak 20an derajat dan hal itu disebabkan karena jika salah seorang dari kalian berwudhu dan dia menyempurnakan wudhunya kemudian dia mendatangi masjid tidak memasukinya kecuali untuk shalat dan tidak menginginkan kecuali shalat, maka tidaklah dia melangkah satu langkah melainkan diangkat baginya dengan satu langkah tersebut satu derajat dan dihapuskan dengannya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid, jika dia masuk masjid maka dia dianggap di dalam shalat selama shalat menahannya. Dan para malaikat bershalawat kepada salah seorang dari kalian, selam dia duduk di tempat shalatnya yang dia shalat disitu, para malaikat berdoa: “Wahai Allah, ampunilah dia, rahmati dia, berikan taubat kepadanya’”, selama dia tidak mengganggu di dalamnya dan tidak berhadats”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
Subhanallah…keutamaan-keutamaan yang begitu luar biasa, tidak didapat kecuali seorang yang pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.
 
Setelah ini, insyaAllah kita terutama para lelaki muslim, senantiasa tidak akan melalaikan shalat berjamaah di masjid dan senantiasa selalu mengkondisikan diri kita agar siap melapangkan waktu untuk melakukan shalat berjamaah.
 
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad 16 Al Muharram 1433, Dammam KSA

 

 

Tukang Pijat Luar Biasa... Tanpa Pijat, Tanpa Rasa Sakit...Sembuh!!!!

Pertanyaan:
 
Assalamu alaikum. Afwan Ustadz. Ana mau tanya. 
 
Tetangga ana saat ini ada yg terkena musibah kecelakaan motor, dan mengalami patah tulang. Pilihannya ada 2 : operasi & tukang pijat tulang. Utk operasi biayanya sangat mahal & dlm bbrp kasus di sini ternyata juga hasilnya kurang baik & ber-efek samping. 
 
 
Utk tukang pijat tulang di sini ada 2 macam. Pertama, benar2 dipijat. Dan mnrt org yg pernah dipijat di sana, rasanya benar2 sakit. Sedangkan yg kedua, dlm praktek nya sang pemijat hanya membaluri tempat yg sakit/patah tulang dng air atau minyak. Dan si pasien tdk merasakan kesakitan apapun (ada tetangga saya yg lain yg pernah dipijat dng metode ini & alhamdulillah sembuh, walaupun tdk sembuh total spt sblm kecelakaan). 
 
Dlm praktek yg terakhir ini tdk ada amalan apapun bagi si pasien. Nah, tetangga saya yg baru kecelakaan ini mau berobat dng metode terakhir ini. Dan saya ditanyakan ttg "kehalalannya", khususnya dari sisi aqidah. Mohon bantuan antum, Ustadz. Jazakumullah khairan.  
 
Jawaban:
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صبحه, أما بعد:
 
Jika dalam praktek yang terakhir terdapat; 
  1. Pembacaan mantra-mantra atau jampi-jampi yang tidak jelas dibaca baik dari artinya ataupun ucapan yang dibaca atau bacaan tidak dari bacaan Al Quran As Sunnah, maka ini perbuatan bid’ah dan setiap perbuatan bidah sesat.
  2. Atau tidak mau menjelaskan apa yang dibaca karena takut ketahuan, maka hal ini ditakutkan ini termasuk perbuatan bid’ah. 
  3. Permintaan kepada jin-jin atau kadang disebut dengan khadam, maka ini termasuk perbuatan syirik karena meminta sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah Ta’ala, yaitu berupa kesembuhan dari penyakit. 
Karena Allah-lah satu-satunya yang menyembuhkan penyakit, mari perhatikan firman Allah yang menceritakan perkataan Ibrahim ‘alaihissalam kepada kaumnya:

{قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77) الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81) وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82) رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ (83)} [الشعراء: 75-83]
 
Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah”. “Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?”. “Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam”. “(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku”. “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku”. “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. “Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. “Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". ”(Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”. QS. Asyu’ara: 75-83.
 
Karena definisi kesyirikan adalah menyamakan selain Allah dengan Allah Ta’ala di dalam perkara yang khusus milik Allah Ta’ala.
 
Allah Ta’ala berfirman menceritakan tentang orang-orang musyrik yang masuk ke dalam neraka:
 
{تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (98)} [الشعراء: 97 99]
 
Artinya: Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata”. “Karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam". “Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa”.
 
Dan perlu diingat…! 
 
Bahwa kesembuhan yang dirasakan bukan sebagai standar bahwa pengobatan tersebut dibolehkan atau tidak, tetapi dibolehkan sebuah pengobatan jika tidak bertentangan dengan aqidah atau sunnah.
 
Dan satu lagi, menurut akal yang sehat dan kebiasaan penelitian ilmiyyah atau medis yang teruji, bahwa hal tersebut adalah merupakan obat dari penyakitnya, karena tidak lah Allah Ta’ala menurunkan penyakit kecuali ada obatnya.
 
عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »
 
Artinya: “Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya, maka jika obat kena pada penyakitnya, niscaya sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla”. HR. Muslim.
 
Setelah ini semua, saya menyarankan untuk melakukan pengobatan yang tidak bertentangan dengan syariat dan sudah terbukti secara medis. Wallahu a’lam.
 
Ditulis oleh; Ahmad Zainuddin
Ahad, 16 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung