Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Ramalan Nanti Malam Gerhana Bulan Boleh Percanya Atau Tidak

Assalamu'alaikum,  
Ustadz, semoga Allah menjaga antum sekeluarga.

Kami dapat kabar dari sms ataupun dari internet bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gerhana, bagaimana kita harus menyingkapi ramalan seperti ini. Bahkan sebagian mereka sudah ada yg ancang-ancang utk melakukan sholat gerhana. 
 
Mohon penjelasannya.
 
 
Jawaban:
 
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

 
Pengetahuan tentang prakiraan cuaca dan termasuk di dalamnya tentang prakiraan gerhana Matahari ataupun Bulan tidak termasuk ke dalam perkara meramal yang diharamkan dan tidak juga termasuk ke dalam pengakuan tentang ilmu gaib yang merupakan kesyirikan, karena prakiraan tersebut berdasarkan perkara-perkara yang bisa digunakan di dalamnya panca indra dan percobaan ilmiyyah serta melihat kepada kebiasaan yang terjadi terhadap ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala.
 
Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah gaib karena bukan ahlinya, tetapi bagi seorang yang menyibukkan dirinya dengan ilmu perhitungan jalannya planet-planet bukan suatu yang gaib.
 
Tetapi perlu diperhatikan bahwa, hal tersebut hanya sebatas prakiraan tidak pasti dan tidak boleh dipastikan tetapi dikatakan “Dengan kehendak Allah Ta’ala akan terjadi begini dan begini”.
 
Karena Allah Ta’ala lah yang satu-satu-Nya yang Maha Pengatur, Pencipta dan Berkuasa, tiada sekutu bagi-Nya.
 
Yang harus dilakukan jika ada gerhana Bulan atau Matahari adalah; 

1. Merasakan bahwa ini adalah tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang dengannya Dia menakuti manusia.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ »
 
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak trejadi gerhana karena kematian seseorang akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya”. HR. Bukhari. 

2. Merasa takut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambukan malah dijadikan rekreasi atau tontonan. 

3. Beribadah dengan berdoa, beristighfar, bertakbir dan bersedekah.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
«إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»
 
 Artinya: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang, jika kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedakahlah”.  HR. Bukhari.
 
«إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ»
 
Artinya: “Tanda-tanda kekuasaan ini yang diutus oleh Allah terjadi tidak karena kematian seseorang atau karena kehidupannya, akan tetapi Allah menakut-nakuti dengannya hamba-hamba-Nya, maka jika kalian melihat sesuatu dari hal itu maka bersegrlah mengingat Allah, berdoa dan meminta ampun kepada-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim.

4. Dan jika nantinya benar terjadi Gerhana Bulan maka jangan lupa untuk mengerjakan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu shalat gerhana dan diharapkan dengan sangat untuk mempelajari tata cara shalat gerhana yang sesuai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.
 
Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Jumat, 14 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Aqiqoh Hanya Satu Kambing

Pertanyaan:
 
Hukum aqiqah, apabila kita punya anak laki-laki namun kita hanya mampu menyembelih satu kambing saja apa itu dibolehkan?
 

 
Jawaban:

 
Di dalam permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat:

Pertama, Dua kambing untuk anak lelaki dan satu kambing untuk anak perempuan. Ini pendapatnya Madzhab Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas, ‘Aisyah, Abu Tsaur dan Ishaq dan lainnya. Kedua, kambing untuk anak lelaki dan anak perempuan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Al Hadawiyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Urwah bin Zubairrahimahullah dan Asma’ binti Abu Bakar. Ketiga, Aqiqah untuk anak lelaki saja dan tidak ada aqiqah untuk anak perempuan. Dan ini pendapat dinukilkan dari Al Hasan Al Bashry, Muhammad biin Sirin dan Qatadah dan lainnya. (Lihat kitab Al Majmu’ karya An Nawawi, 8/447-448).

 
Jumhur Ulama mempunyai dalil yang sangat kuat:

 

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ».

 

Artinya: “Ummu Kurz Al Ka’biyyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Untuk seorang anak lelaki dua kambing yang sama dan ana perempuan 1 kambing”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah,no. 1655.
 

Hadits seperti ini juga terdapat dari riwayat: Aisyah, Asma’ binti Yazid dan yag lainnya.

Adapun sebagian ulama yang membolehkan untuk anak lelaki hanya disembelih satu kambing saja, terutama jika tidak mempunyai biaya kecuali hanya untuk menyembelih satu kambing, berdalilkan dengan beberapa dalil berikut:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشً

 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al Hasan dan Al Husain satu domba satu domba”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 1167.
 

 عن عَبْدُ اللَّهِ بْن بُرَيْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ.
 

Artinya: “Abdullah bin Buraidah berkata: “Aku telah mendengar Bapakku Buraidah radhiyallahu ‘anhuberkata: “Kami dahulu di masa jahiliyyah, jika salah seorang dari kami kelahiran seorang anak lelaki, ia menyembelih satu kambing dan mengucurkan darahnya di kepala anak tersebut, ketika Allah mendatangkan Islam, kamipun menyembelih satu kambing dan menggundul rambut dan mengucurkan di kepalanya dengan Za’faran”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 2843. 
 

Dan ini juga yang dikerjakan sebagian para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
 

عن ابن عمر أنه كان يعق عن ولده بشاة شاة للذكور والإناث .
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syeikh Syu’aib Al Arnauth.
 
 

عن عروة بن الزبير أنه كان يعق عن بنيه الذكور والإناث بشاة شاة
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Urwah bin Zubair, beliau mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing dan 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syu’aib Al Arnauth.

 

عن أسماء بنت أبي بكر :( أنها كانت تعق عن بنيها وبني بنيها شاة شاة الذكر والأنثى )
 

Artinya: “Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau mengaqiqahi anak dan cucunya yang lelaki dan perempuan 1 kambing 1 kambing”.  Lihat Kitab Syarh As Sunnah, karya Al Baghawirahimahullah.
 

Berdasarkan ini maka, semestinya anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan anak perempuan dengan 1 kambing, hal ini disebabkan beberapa sebab;
 

1.    Hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan bahwa Al Hasan dan Al Husain diaqiqahi dengan 1 kambing 1 kambing, juga ternyata terdapat riwayat dengan 2 kambing 2 kambing.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضى الله عنهما بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ.
 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma dengan 2 kambing 2 kambing”. HR. An Nasai, Al Albani berkata tentang riwayat 1 kambing 1 kambing: “Shahih akan tetapi riwayat 2 kambing 2 kambing lebih shahih”. Lihat kitab Shahih Abu Daud, 2/547.
 

2.    Riwayat yang menyebutkan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing terdapat tambahan riwayat dari riwayat yang shahih dan tambahan ini adalah tambahan yang diterima.
 

3.    Riwayat yang menyebutkan 2 kambing untuk anak lelaki merupakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan riwayat yang 1 kambing untuk anak lelaki merupakan perbuatan beliau, maka sabda didahulukan dari perbuatan beliau karena kemungkinan ada kekhususan di dalam masalah tersebut.

 
Tetapi…

 
Jika kita ingin mengumpulkan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing dengan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 1 kambing adalah dengan cara bahwa yang paling sempurna dan sesuai dengan sunnah adalah menyembelih 2 kambing untuk aqiqah anak lelaki, dan jika tidak mampun dan hanya menyembelih 1 kambing maka sudah mencukupi dan terkena asal sunnah, yaitu menyembelih kambing untuk anak yang dilahirkan sebagai aqiqah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
 

السنة أن يعق عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة فإن عق عن الغلام شاة حصل أصل السنة
 

Artinya: “Sunnahnya adalah seorng anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan untuk anak perempuan diaqiqahi dengan 1 kambing, jika diaqiqahi anak lelaki dengan 1 kambing saja maka sudah tercapai asal sunnahnya”. Lihat kitab Al Majmu’, 8/429.

 

Berkata Ash Shan’any rahimahullah:
 

يجوز أنه - صلى الله عليه وسلم - ذبح عن الذكر كبشاً لبيان أنه يجزئ وذبح الأثنين مستحب
 

Artinya: “Dimungkinkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih 1 kambing atas anak lelaki untuk menjelaskan bahwa hal itu mencukupi dan menyembelih 2 kambing dianjurkan”. Lihat kitab Subul As Salam, 4/182.

 
Wallahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Sabtu, 9 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Mana Yang Didahulukan: "Ibu Atau Suami"?

Tadi saya membaca tentang berbakti pada orangtua. saya seorang ibu dengan 2 anak. umur saya 40 tahun. ibu saya berumur 60 tahun. beliau menginginkan saya untuk bersamanya, yang berarti saya harus meninggalkan suami. apa yang harus saya putuskan? suami sedang dalam masa susah karena kami sedang dalam mati penghidupan dan terlilit hutang.  Sekarang ini saya dan anak beserta suami tinggal di rumah ibu suami, mohon nasehatnya.
 
Jawaban:
 

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Telah diketahui bersama bahwa Ta’at kepada orangtua terutama ibu adalah merupakan perintah dan bentuk ketaatan kepada Allah yang paling agung, bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan berbakti kepada orangtua. Allah Ta’ala berfirman:
 
{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا } [النساء: 36]
 
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”. QS. An Nisa’: 36.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah menginginkan berbuat baik kepada keduanya dengan kelembutan dan tingkah laku yang lemah, maka tidak membantah keras keduanya dalam menjawab, tidak menajamkan pandangan kepada keduanya, tidak mengangkat suara di atas suara mereka berdua, tetapi bersikap di hadapan keduanya seperti seorang budak di hadapan tuannya, merendah di hadapan keduanya”. Lihat kitab Al Az Zawajir ‘an iqtiraf Al Kabair, 2/66.
 
Dan terkhusus untuk berbuat baik kepada Ibu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan hal ini:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ ».
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang pernah datang menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”, beliau menjawab: “Ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab:“Kemudian  ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian bapakmu”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ، ثُمَّيُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ, يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ »
 
Artinya: “Al Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian yang paling dekat kemudian seterusnya”. HR. Bukhari di dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1666.
 
Tetapi…
 
Jika seorang wanita sudah menikah maka hak suami lebih di dahulukan daripada hak orangtua, mari perhatikan penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “firman Allah Ta’ala:
 
{فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ} [النساء: 34]
 
Artinya: Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. QS. An Nisa’: 34.
 
Berkonsekwensi kewajiban taatnya istri terhadap suami secara mutlak, berupa pelayanan, bepergian bersamanya, tinggal bersamanya, dan hal lainnya sebagaimana yang telah ditunjukkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tentang Al Jabal Al Ahmar dan di dalam hadits tentang sujud dan hadits lainnya.
 
Sebagaimana wajib bagi seorang wanita taat kepada kedua orangtua, karena sesungguhnya setiap ketaatan kepada kedua orangtua berpindah kepada suami dan tidak tersisa kewajiban atas seorang wanita sebuah ketaatan untuk kedua orang tua, ketaatan kepada orangtua wajib karena hubungan pertalian darah dan kewajiban taat kepada suami wajib karena hubungan yang disebabkan perjanjian.” (Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/260-261).
 
Beliau juga berkata: “Tidak ada kewajiban atas seorang wanita setelah menunaikan hak Allah dan rasul-Nya lebih wajib dibandingkan menunaikan hak suami”. Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/275.
 
Saya nasehatkan kepada ibu yang bertanya agar senantiasa mentaati perintah suami tetapi juga jangan sampai mengabaikan sang ibu semampu mungkin, tentunya juga seorang suami tidak diperbolehkan memutuskan hubungan istrinya dengan sang ibu dari istri tersebut, semoga Allah memudahkan  kita semua dan mewafatkan ibu dan seluruh orangtua kita di dalam husnul khatimah.Wallahu a’lam.
 
وصلى الله و سلم و باك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين
 
*) Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu 8 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

I Love You Full

  Pertanyaan:
Assalamu 'alaikum warahmatullahana mau bertanya tentang hukum mengungkapkan rasa cinta kepada seorang wanita, namun belum mampu menikah, hanya ingin mengungkapkannya saja? jazakallahu khairan.
 
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
 
Saudaraku…
 
Pengungkapan rasa cinta kepada seorang wanita yang belum dinikahinya adalah tidak boleh, karena akan menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, diantaranya; 
Pertama, menghantarkan kepada perbuatan zina 

Kedua, atau kepada perbuatan-perbuatan yang menghantarkan kepada perbuatan zina, seperti berdua-duaan tanpa ada manusia yang melihat.
 
Allah Ta’ala telah memperingatkan kita untuk tidak mendekati perbuatan zina dan maksud dari tidak mendekati perbuatan zina adalah menjauhi segala sarana yang menghantarkan kepada perbuatan zina.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا } [الإسراء: 32]
 
Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". QS. Al Isra: 32.
 
Di dalam ayat ini Allah Ta'ala melarang seluruh hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya yaitu dengan melakukan sebab-sebab dan sarana-sarana yang menghantarkan kesana. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat di atas.
 
Larangan mendekati zina, lebih keras daripada larangan melakukannya, karena berarti larangannya mencakup seluruh sebab dan sarana yang menghantarkan kepada zina. Karena siapa yang berdiri di sekitar batas terlarang dikhawatirkan akan masuk ke dalamnya. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat di atas.
 
Ayat di atas juga, mengabarkan bahwa zina adalah perbuatan jenis fahisyah, yang maknanya adalah yang perbuatan yang buruk menurut syari'at Islam, akal dan fitrah manusia, karena di dalamnya terdapat sikap lancang terhadap hak Allah Ta'ala, hak pasangannya dan pengrusakan terhadap hubungan suci dan tercampurnya keturunan. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat ini.

Ketiga, Menyibukkan diri kepada sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti;

· Dapat menghabiskan waktu dengan selalu memikirkan kira-kira cintanya ditolak atau diterima,

· Dapat menghabiskan materi dengan menyatakan selalu siap berkorban, apapun sampai cintanya diterima,

· Dapat menghabiskan tenaga dan perasaaan dengan selalu mencari-cari perhatian kepada wanita tersebut sampai cintanya, bahkan kadang lupa atau tidak nafsu makan dan aktifitas lainnya,

· Dapat menghilangkan nyawa, Jika cintanya ditolak, maka akan patah hati dan tidak sedikit yang melakukan perbuatan nekat sampai BUNUH DIRI,

· Dapat menghancurkan akidah, yaitu jika cintanya ditolak maka dia mengunakan jasa dukun agar bisa cintanya diterima (cinta ditolak dukun bertindak).
 
Perhatikan pernyataan berikut dan cerita-cerita setelahnya, semoga bisa menjadi pelajaran jangan sampai mengumbar syahwat di jalan yang diharamkan Allah Ta’ala:
 
قال يحيى بن معاذ: "من أرضى الجوارح باللذات فقد غرس لنفسه شجر الندامات".
 
Berkata Yahya bin Muadz rahimahullah: “Barangsiapa yang merelakan anggota tubuhnya dengan kelezatan-kelezatan (yang diharamkan), maka sungguh dia telah menanam bagi dirinya pohon penyesalan.”
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وفيها  (278 هـ)  توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله.
ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فلما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك ؟ ما فعل علمك ؟ ما فعل صيامك ؟ ما فعل جهادك ؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون) [ الحجر: ]
 
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al Quranmu terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al Quran kecuali Firman-Nya:
 
{رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)} [الحجر: 2، 3] 
 
Artinya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. QS. Al Hijr: 2-3. Lihat kitab Al Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir rahimahullah.
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 
 
ويروي أنه كان بمصر رجل يلزم المسجد للأذان والصلات فيه وعليه بهاء الطاعة ونور العبادة فرقى يوما المنارة على عادته للأذان وكان تحت المنارة دارا لنصراني فاطلع فيها فرأي إبنة صاحب الدار فافتتن بها فترك الأذان ونزل إليها ودخل الدار عليها فقالت له ما شأنك وما تريد قال اريدك قالت لماذا قال قد سلبت لبي وأخذت بمجامع قلبي قالت لا أجيبك إلى رية أبدا قال أتزوجك قالت أنت مسلم وأنا نصرانية وأبي لا يزوجني منك قال اتنصر قالت إن فعلت أفعل فتنصر الرجل ليتزوجها وأقام معهم فى الدار فلما كان فى آثناء ذلك اليوم رقى إلى سطح كان فى الدار فسقط منه فمات فلم يظفر بها وفاته دينه.
 
Dikisahkan bahwa di Mesir ada seorang lelaki yang senantiasa selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat di dalamnya, terlihat pancaran ketaatan dan cahaya ibadah dari wajahnya, suatu hari seperti kebiasaannya dia naik ke atas menara untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara ada sebuah ruman milik seorang yang beragama Nashrani, dia melirik ke dalam rumah tersebut ternyata dia mendapati anak perempuan sang pemilik rumah yang beragama Nashrani tadi, akhirnya dia terpedaya dengan wanita tersebut, dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya, ia masuk ke dalam rumahnya. Wanita ini bertanya: “Apa denganmu?, apa yang kamu inginkan?”, lelaki ini menjawab: “Saya menginginkanmu”, wanita ini bertanya: “Kenapa?”, lelaki ini menjawab: “Karena kamu sudah mencuri jiwaku dan mengambil seluruh hatiku”, wanita berkata: “Aku tidak akan menurutimu kepada sebuah keraguan selamanya”, lelaki ini berkata: “Aku akan menikahimu”, wanita berkata: “Kamu seorang muslim, saya seorang wanita yang beragama Nashrani, bapak saya tidak akan menikahkanku kepadamu”, lelaki ini menjawab: “Saya akan masuk ke dalam agama Nashrani”, wanita ini menjawab: “Jika kamu mengerjakannya maka aku akan mengerjakannya (yaitu menuruti permintaanmu)”, maka akhirnya lelaki ini masuk ke dalam agama Nashrani untuk menikahi wanita tersebuit, dan dia tinggal bersama mereka di dalam rumah tersebut. Dan ketika pada hari itu dia naik ke atas loteng yang ada di atas rumah, lalu dia jatuh darinya, maka akhirnya dia tidak mendapatkan wanita tersebut dan telah kehilangan agamanya. Lihat kitab Al Jawab Al Kafy, karya Ibnul Qayyimrahimahullah.
 
Saudaraku…
 
Jika anda ingin menikahinya demi terjaganya kesucian anda, maka datanglah kepada kedua orangtuanya, semoga Allah Ta’ala menolong Anda.
 
سنن النسائي - مكنز (10378، بترقيم الشاملة آليا)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمُ الْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tiga orang yang berhak atas Allah Azza wa Jalla menolong mereka, seorang budak yang ingin melunasi pembayaran atas dirinya, seorang yang menikah yang menginginkan kesucian, seorang yang berjihad di jalan Allah”. HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3050.
 
Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 4 Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Hukum Parfum Bagi Perempuan

 Assalamu’alaikum ya Pak Ustad Zain, Apa kabarnya nih? Mudah-mudahan sehat selalu adanya Amiin.  
Pak Ustad, Saya ada pertanyaan yang butuh jawaban sebagai berikut:

1.      Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?
2.      Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Demikian Pak Ustad Zain, sebelumnya saya haturkan terima kasih atas jawabannya, semoga Allah membalas kebaikan dan memberikan pahala buat Pak Ustad…

 Donny

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
alhamdulillah baik pak, semoga kita dan kaum muslim selalu diberikan kebaikan oleh Allah Ta'ala di dunia dan akhirat. Allahumma amin.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبيبنا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Pertanyaan ke 1: Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?

Jawaban:  Perempuan diperbolehkan ikut shalat berjamaah di masjid, baik untuk shalat fardhu atau shalat tarawih, tetapi tidak diwajibkan atasnya. Dan jika seorang istri meminta kepada suaminya untuk pergi shalat berjama’ah di masjid, maka suami tidak boleh melarangnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِى الْجَمَاعَةِ فِى الْمَسْجِدِ ، فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِى قَالَ يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seorang istri Umar radhiyallahu ‘anhu ikut shalat Shubuh dan Isya’ berjama’ah di masjid, lalu istri ini ditanya: “Kenapa engkau pergi (ke masjid) padahal engkau mengetahui bahwa Umar membenci  dan menyemburui hal tersebut?” istri ini menjawab: “Lalu apa yang menghalangi dia untuk melarangku?”, Umar berkata: “Yang menghalanginya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“Jangan kalian larang hamba-hamba Allah perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Allah”. HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh dari riwayat Bukhari.

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا » .

Artinya: “Salim bin Abdullah rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya yaitu Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid maka janganlah dia melarangnya”. HR. Bukhari.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika istri-istri kalian meminta izin pada malam hari untuk pergi ke masjid, maka izinkanlah mereka”. HR. Bukhari.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling pertama dan seburuk-buruknya adalah yang paling terakhir, dan sebaik-baik shaf bagi para perempuan adalah yang paling terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling pertama”. HR. Muslim.
Hadits ini juga bisa dijadikan sebagai dalil penguat tentang diperbolehkannya seorang wanita pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya. Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. HR. Abu Daud dan dihasankan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 515.  

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ رضي الله عنها امْرَأَةِ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ رضي الله عنهما أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ الصَّلاَةَ مَعَكَ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى ».

Artinya: “Abdullah bin Suwaid Al Anshari meriwayatkan dari bibinya yang bernama Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha, dia adalah istrinya Abu Humaid As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha pernah datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama engkau”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sungguh aku benar-benar mengetahui bahwa kamu suka shalat bersamaku, dan shalatmu di kamar kecilmu lebih baik daripada shalatmu di kamar besarmu, dan shalatmu di kamar besarmu lebih baik daripada shalatmu di rumah dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampungmu lebih baik daripada shalatmu di masjidku”. HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dihasankan di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 340.

Pertanyaan 2 : Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Jawaban: haram bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke masjid maupun ke luar rumah bersama mahramnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat”. HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 515.
Makna “Tafilat” adalah tidak memakai minyak wangi. Lihat kitab An Nihayah fi Gharib Al Hadits, karya Ibnu Al Atsir.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا خَرَجَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْتَغْتَسِلْ مِنَ الطِّيبِ كَمَا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jika seorang wanita keluar rumah menuju masjid, hendaklah dia mandi membersihkan minyak wangi sebagaimana dia mandi junub”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadist Ash Shahihah, no. 1031.

عَنْ أَبِى مُوسَى رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةً ».

Artinya: “Abu Musa radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang begini, begini, yaitu seorang wanita pezina”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 2019.

عَنْ زَيْنَبَ الثَّقَفِيَّةِ رضي الله عنها أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَّتُكُنَّ خَرَجَتْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ تَقْرَبَنَّ طِيبًا ».

Artinya: “Zainab Ats Tsaqafiyyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan mana saja yang pergi ke masjid maka jangan sekali-kali dia mendekati (memakai) minyak wangi”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Shahih An Nasai, no. 5131.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Perempuan mana saja yang telah memakai minyak wangi maka tidak boleh shalat isya’ bersama kami”. HR. Muslim.

عنْ موسى بن يسار عن أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ بِهِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَقَالَ : يَا أَمَةَ الْجَبَّارِ الْمَسْجِدُ تُرِيدِينَ؟ قَالَتْ : نَعَمْ. قَالَ : وَلَهُ تَطَيَّبْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ فَارْجِعِى فَاغْتَسِلِى فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَيَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهَا صَلاَتَهَا حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهَا فَتَغْتَسِلَ ».

Artinya: “Musa bin Yasar meriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita melewati beliau dan bau wanginya menyebar, lalu Abu Hurairah bertanya: “Wahai hamba perempuan Allah Yang Maha Perkasa, apakah anda ingin pergi ke masjid?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah bertanya: “Dan untuk itukah anda memakai minyak wangi?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah berkata: “Pulang dan mandilah, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang wanita keluar pergi menuju masjid dan menyebar bau wanginya akan diterima oleh Allah dari shalatnya sampai dia kembali ke rumahnya dan mandi”. HR. Al Baihaqi dan dishahihkan  di dalam kitab Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, karya Al Albani.
Dan jika seorang wanita ingin pergi ke masjid atau keluar rumah dengan tujuan apapun, maka janganlah dia menjadi penggoda bagi para lelaki yang bukan mahramnya,  karena dia melakukan beberapa hal, seperti; tidak menutup aurat sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, tidak menjaga perkataan dan perbuatan dan semisalnya yang berpotensi menjadi godaan bagi para lelaki yang bukan mahramnya. wallahu a'lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
 Posted in: 

Bermaaf Maafan Menyambut Ramadhan

Assalamu’alaikum Wa Rohamtullohi wa Barokatuhu

"Adakah riwayat yang menceritakan seperti di bawah ini: Marhaban Ya Ramadhan, Do’a Malaikat Jibril adalah sbb: Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Dan barang siapa yang menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita, maka diharamkan kulitnya tersentuh api neraka. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat, diucapkan, atau diniatkan."

Selengkapnya...

Shalawat Yang Disyariatkan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz,

Afwan saya mau bertanya karena saya dikirimkan artikel dari seorang teman. Isinya sbb:

"Allahumma sholli 'ala syayidina muhammadin 'abdika wa rosulikannabiyyil umiyyi wa 'ala alihi wa shohbihi wasaliiman tasliima" Baca ba'da sholat ashar 80x setiap hari jum'at.Allah akan mengampunkan dosa2 selama 80 thn yang lalu.

Keterangan lanjutannya sbb:

Dalam riwayat addara quthni dan dianggap hasan oleh Al Iraqi : Man sholla alayya yaumal jum'ati tsamaaniina marrotan ghufirotlahu zunuubu tsamaaniina sanatan qiila yaa Rasulullah kayfa asholaatu 'alaika? qoola taquulu : Allahumma sholli 'ala................seperti diatas.



Dan ini amalan yang di minta untuk diamalkan oleh kami (Ahlussunah wal jamaah manhaj shalafus sholih, bukan salafy) oleh guru kami kami yg mulia Al 'allamah al arifbillah al musnid al hafidz Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari... See More‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja'far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w.

Pertanyaannya, bagaimana dgn derajat hadist tsb Ustadz, dan apakah jalur periwayatan hadist seperti di atas (melalui silsilah keluarga Rasulullah SAW) dapat diikuti?

Maaf merepotkan.

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

بسم الله الرحمن الرحيم
 الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Haditsnya secara lengkap berbunyi:

 " من صلى علي يوم الجمعة ثمانين مرة غفر الله له ذنوب ثمانين عاما ، فقيل له : وكيف الصلاة عليك يا رسول الله ؟ قال : تقول : اللهم صل على محمد عبدك ونبيك ورسولك النبى الأمي ، وتعقد واحدا " .

Artinya: "Barangsiapa yang bershalawat kepadaku hari Jum'at sebanyak 80 kali niscaya Allah mengampuninya selama 80 tahun", lalu beliau ditanya: "Lalu bagaimanakah bershalawat atasmu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Allahumma shalli 'ala Muhammadin 'abdika wa rasulika an nabiyyil ummiy, ini dihitung sekali".

Derajat Hadits: Palsu

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Khathib (di dalam kitab Tarikh Baghdad-pent) dari jalan Wahb bin Daud bin Sulaiman Adh Dharir, dia berkata: "Ismail bin Ibrahim telah meriwayatkan kepada kami, bahwa Abdul Aziz bin Shuhaib mendapatkan riwayat dari Anas bin Malik secara marfu' (tersambung sanadnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pent).

Al Khathib menyebutkan di dalam biografi Wahb bin Daud bin Sulaiman Adh Dharir ini: bahwa dia bukan orang tsiqah,

As Sakhawi di dalam kitab Al Qaulul Badi' berkata: "Disebutkan oleh Ibnul Jauzy di dalam Al Ahadits Al Wahiyah, no; 796.

Al Albani mengomentari: "Dan hadits ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitabnya yang lain yaitu Al Ahadits Al Maudhu'ah, dan ini lebih utama (untuk dijadikan patokan-pent), karena siratan-siratan kepalsuan terhadap hadits ini jelas, dan di dalam hadits-hadits yang shahih tentang keutamaan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sudah sangat cukup daripada hadits ini, contohnya yaitu sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. 

Artinya: "Barangsiapa yang bershalawat atas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sekali niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali". Hadits riwayat muslim dan yang lainnya, dan juga disebutkan di dalam kitab Shahih Abi Daud, no: 1369.
Kemudian hadits ini disebutkan oleh As Sakhawi di tempat lain, hal: 147 dari riwayat Ad Daruquthni yaitu dari hadits Abu Hurairah secara marfu' (tersambung sanadnya sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam-pent), lalu beliau berkata: "Hadits ini dihasankan oleh Al 'Iraqy dan sebelumnya Abu Abdillah bin An Nu'man, dan penghasanan ini perlu penelitian, dan telah disebutkan sebelum ini seperti riwayat ini yaitu dari riwayat Anas".
Al Albani mengomentari: "Aku mengatakan bahwa hadits yang dimaksudkan (yaitu hadits yang di Ad Daruquthni) dari riwayat Ibnul Musayyab, beliau berkata: "Saya mengira riwayat ini dari Abu Hurairah", sebagaimana yang disebutkan yang disebutkan di dalam kitab Al Kasyf (maksudnya Kasyful Khafa' , karya Al 'Ajluni-pent) (1/167).

Selesai jawaban dari Al Muhaddits Muhammad  Nashiruddin Al Albani rahimahullah. diambilkan dari kitab Silsilatul Ahadits Adh Dha'ifah, no: 215.

Di bawah ini teks berbahasa Arabnya:

موضوع .
أخرجه الخطيب ( 13 / 489 ) من طريق وهب بن داود بن سليمان الضرير حدثنا إسماعيل ابن إبراهيم ، حدثنا عبد العزيز بن صهيب عن أنس مرفوعا .
 
ذكره في ترجمة الضرير هذا وقال : لم يكن بثقة ، قال السخاوي في " القول البديع " ( ص 145 ) : وذكره ابن الجوزي في " الأحاديث الواهية " ( رقم 796 ) .
 
قلت : وهو بكتابه الآخر " الأحاديث الموضوعات " أولى وأحرى ، فإن لوائح الوضع عليه ظاهرة ، وفي الأحاديث الصحيحة في فضل الصلاة عليه صلى الله عليه وسلم غنية عن مثل هذا ، من ذلك قوله صلى الله عليه وسلم : " من صلى علي مرة واحدة صلى الله عليه بها عشرا ".رواه مسلم وغيره ، وهو مخرج في " صحيح أبي داود " ( 1369 ) ، ثم إن الحديث ذكره السخاوي في مكان آخر ( ص 147 ) من رواية الدارقطني يعني عن أبي هريرة مرفوعا ، ثم قال : وحسنه العراقي ، ومن قبله أبو عبد الله بن النعمان ، ويحتاج إلى نظر ، وقد تقدم نحوه من حديث أنس قريبا يعني هذا . قلت : والحديث عند الدارقطني عن ابن المسيب قال : أظنه عن أبي هريرة كما في الكشف ( 1 / 167 ) .
 
سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة وأثرها السيئ في الأمة [1 /383]
 
Kemudian, dari pertanyaan bapak di atas, dilihat ada kata-kata yang tidak disebutkan di dalam hadits yang disebutkan di atas, seperti;
  1. Kalimat: "Sayyidina"
  2. Kalimat: "Baca setelah sholat ashar"
Saya tidak tahu apakah ada riwayat lain di dalam sunan Ad Daruquthni atau tidak, tetapi sepengetahuan saya di dalam kitab Sunan Ad Daruquthni tidak ada kalimat "Sayyidina" dan "setelah sholat ashar"? dan ini juga berarti mengada-ada di dalam riwayat ini.

Adapun silsilah yang dimaksudkan dalam pertanyaan (saya tuliskan dalam bahasa Arab): 

العلامة العارف بالله المسند الحافظ الحبيب عمر بن محمد بن سالم بن حافظ بن عبد الله بن أبي بكر بن العيدروس بن الحسين بن الشيخ أبي بكر بن سالم بن عبد الله بن عبد الرحمن بن عبد الله بن الشيخ عبد الرحمن السقاف بن محمد مولى الدويلى بن علي بن علوي بن الفقيه المقدم محمد بن علي محمد صاحب المرباط بن علي الخالي قسم بن علوي بن محمد بن علوي بن عبيد الله بن الإمام المهاجر إلى الله أحمد بن عيسى بن محمد بن علي العريدي بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علي زين العابدين بن الحسين حفيد رسول الله ولد علي بن أبي طالب و طامة الزهراء بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم

adalah silsilah yang menerangkan bahwa beliau:


العلامة العارف بالله المسند الحافظ الحبيب عمر بن محمد

Adalah keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi bukan berarti hadits ini diriwayatkan dari jalur ini. Karena yang kita dapatkan di kitab-kitab hadits sebagaimana yang disebutkan di dalam jawaban di atas, bukan dari jalur shahabat Husein atau shahabat Ali bin Abi Thalib atau shahabat Fathimah Az Zahra radhiyallahu 'anhum wa ardhahum ajma'in, tetapi dari jalur shahabat Anas dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma wa ardhahuma.

Jadi harus dibedakan antara silsilah keturunan dengan sanad hadits, semoga bisa dipahami.

Terakhir, saya nasehatkan kepada diri saya pribadi dan bapak serta seluruh kaum muslimin untuk memperbanyak shalawat atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terutama pada hari Jum'at, sebanyaknya tanpa batas karena beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak membatasinya, mari perhatikan riwayat berikut:

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ ». قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلاَتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ قَالَ يَقُولُونَ بَلِيتَ. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الأَرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ ».رواه أبو داود

Artinya: "Aus bin Aus radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya termasuk hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum'at maka perbanyaklah bershalawat atasku di dalamnya karena sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku", para shahabat bertanya: "Bagaimanakah shalawat kami diperlihatkan kepadamu padahal engkau sudah dimakan tanah?", beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengharamkan kepada bumi untuk menghabiskan jasad-jasadnya para nabi shallallahu 'alaihim wasallam". Hadits shahih riwayat Abu Daud, Ibnu Majah, Ad Darimy, An Nasai, Ibnu Hibban dan Ahmad. Wallahu a'lam.

و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين
 
Saya berdoa dengan nama-nama Allah Yang Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang 'Ulya, semoga kita menjadi orang yang selalu mencintai Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan seluruh keluarga dan shahabat beliau radhiyallahu 'anhum.

ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Ahad 9 Sya’ban 1432H Dammam KSA
 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung