Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Beberapa Fatwa Untuk Perempuan Muslimah

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله وسلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لُعِنَتِ الْوَاصِلَةُ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ وَالنَّامِصَةُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ وَالْوَاشِمَةُ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ مِنْ غَيْرِ دَاءٍ. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَتَفْسِيرُ الْوَاصِلَةِ الَّتِى تَصِلُ الشَّعْرَ بِشَعْرِ النِّسَاءِ وَالْمُسْتَوْصِلَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا وَالنَّامِصَةُ الَّتِى تَنْقُشُ الْحَاجِبَ حَتَّى تَرِقَّهُ وَالْمُتَنَمِّصَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا وَالْوَاشِمَةُ الَّتِى تَجْعَلُ الْخِيلاَنَ فِى وَجْهِهَا بِكُحْلٍ أَوْ مِدَادٍ وَالْمُسْتَوْشِمَةُ الْمَعْمُولُ بِهَا. رواه أبو داود و صححه الألباني.
 
Artinya: "Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: "Dilaknat al-washilah (wanita yang menyambung rambutnya), al-mustawshilah (wanita yang meminta disambungkan rambutnya),an-namishah (wanita yang mencukur alisnya), al-mutanammishah (wanita yang minta dicukur alisnya) dan al- wasyimah (wanita yang bertato) serta al-mustawsyimah (wanita yang minta ditato) tanpa ada penyakit." Abu Daud rahimahullah berkata: "Dan tafsir dari al-washialah adalah wanita yang menyambung rambutnya dengan rambut wanita, dan al-mustawshilahadalah yang meminta untuk diperbuat demikian dan an-namishah adalah wanita yang mencukur alis mata sehingga menjadi tipis dan al-mutanammishah adalah wanita meminta untuk diperbuat demikian dan al-wasyimahadalah wanita yang menjadikan gambar di wajahnya dengan pacar atau dengan tinta dan al-mustawsyimah adalah waita yang meminta untuk diperbuat demikian. Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani.
 
عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُتَوَشِّمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ. قَالَ: فَبَلَغَ امْرَأَةً فِى الْبَيْتِ يُقَالُ لَهَا أُمُّ يَعْقُوبَ فَجَاءَتْ إِلَيْهِ فَقَالَتْ: بَلَغَنِى أَنَّكَ قُلْتَ كَيْتَ وَكَيْتَ. فَقَالَ: مَا لِى لاَ أَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. فَقَالَتْ: إِنِّى لأَقْرَأُ مَا بَيْنَ لَوْحَيْهِ فَمَا وَجَدْتُهُ. فَقَالَ إِنْ كُنْتِ قَرَأْتِيهِ فَقَدْ وَجَدْتِيهِ أَمَا قَرَأْتِ ( مَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا) قَالَتْ بَلَى. قَالَ: فَإِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْهُ. قَالَتْ: إِنِّى لأَظُنُّ أَهْلَكَ يَفْعَلُونَ. قَالَ اذْهَبِى فَانْظُرِى. فَنَظَرَتْ فَلَمْ تَرَ مِنْ حَاجَتِهَا شَيْئاً فَجَاءَتْ فَقَالَتْ: مَا رَأَيْتُ شَيْئاً. قَالَ: لَوْ كَانَتْ كَذَلِكَ لَمْ تُجَامِعْنَا. مسند أحمد
Artinya: "Dari 'Alqamah rahimahullah: "Dari Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:"Allah Ta’ala melaknat al-wasyimat, al-mustawsyimat, al-mutanammishat dan al-mutalafijat (wanita-wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan) orang-orang yang mengganti ciptaan Allah."
 
Perawi berkata: "Lalu hal tersebut didengar oleh seorang wanita yang biasa dipanggil dengan Ummu Ya'qub, ia mendatangi Ibnu Mas’ud dan berkata: "Saya diberitahukan bahwa engkau telah berkata begini-begini”.
 
Beliau (Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu) menjawab: "Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitab Allah Ta’ala (al-Quran)”.
 
"Si wanita berkata: "Sungguh saya telah periksa di dalam Mushhaf akan tetapi saya tidak dapatkan."
 
Ibnu Mas'ud  radhiyallahu ‘anhu berkata: "Jika anda membacanya maka anda akan dapatkan, bukankah  anda membaca:
 
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [الحشر : 7]
 
Artinya: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah..." (QS. 59:7)
Wanita menjawab: "Iya",
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Kalau begitu, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang tentang hal demikian itu.
 
Si wanita berkata: "Sungguh aku mengira istri anda telah melakukannya."
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu menjawab: "Masuklah dan silahkan lihat",
 
lalu wanita tadipun memeriksa dan tidak mendapatkan apa-apa, lalu ia kembali (Ibnu Mas'ud) dan berkata: "Saya tidak mendapatkan apa-apa".
 
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata: "Kalau seandainya istri saya mengerjakan demikian maka dia tidak akan bersama kita". Hadits riwayat  Ahmad.
 
 
Fatwa tentang seorang wanita menghilangkan bulu kumis, kedua betis dan lengan dan yang semisalnya
 
Fatwa no.10896.
 
Pertanyaan:
 
"Apakah arti an namsh? Bolehkah seorang wanita untuk menghilangkan bulu janggut, bulu kumis, bulu kedua betis dan bulu kedua tangan jika bulu-bulu tersebut terlalu kelihatan pada diri wanita tersebut dan menyebabkan kebencian suami, apakah hukumnya?"
 
Jawaban:
 
"Segala puji bagi Allah dan semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan untuk Rasul-Nya dan para kerabat beliau serta para shahabat beliau, amma ba'du: "An namsh adalah: "Mengambil bulu alis, dan ia tidak diperbolehkan, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, dan diperbolehkan bagi  wanita untuk menghilangkan bulu yang terkadang tumbuh di dalam dirinya seperti bulu janggut dan kumis dan bulu di kedua betisnya dan tangannya”.
 
Wa billahit taufiq, dan semoga Allah melimpah shalawat dan salamnya kepada Nabi kita Muhammad dan kepada para keliarga beliau serta para shahabat.
 
Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyyah Dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi
 
Ketua         : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Abdurrazaq Afifi
Anggota     : Abdullah bin Ghudayyan 
 
 
 
Fatwa tentang menyamakan alis mata untuk berhias di hadapan suami.
 
Fatwa no. 16406.
 
Pertanyaan:
 
"Apa hukumnya menyamakan bulu alis, dan lebih lagi bagi wanita yang ingin berhias bagi suaminya atau bagi tunangannya, baik ada yang memintanya berbuat demikian atau tidak, cuma dia hanya ingin berhias dan lebih lagi jika alis tersebut sangat lebar dan warnanya hitam pekat dan bulu alisnya panjang lebat hampir menyambungkan dua alis tersebut sehingga menjadi rata?”
 
Jawaban:
 
"Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk mengambil dari rambut alis, baik itu dengan mengguntinggnya, atau mencabutnya atau mencukurnya, karena sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:
 
لَعَنَ اللَّهُ  النامصات و الْمُتَنَمِّصَاتِ
 
"Allah melaknat an namishat dan al-mutanammishat." Lihat sunan An-Nasa-'I, juz 8/149, no: 5109. dan an-namishah adalah wanita yang mengambil bulu alisnya dan al-mutanammishah adalah wanita yang meminta kepada wanita lain untuk menghilangkan bulu alisnya dan an-namsh bukan termasuk berhias bahkan ia adalah pemburukan dan pengrobahan terhadap ciptaan Allah dan jika suaminya memerintahkan yang demikan, maka tidak diperbolehkan baginya untuk menta'atinya, karena hal tersebut adalah maksiat dan tidak boleh menta'ati seorang makhluq di dalam maksiat (kepada Allah Ta’ala)."
 
Komite tetap untuk pembahasan ilmiyyah dan fatwa Kerajaan Arab Saudi
 
Ketua         : Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil         : Syeikh Abdurrazaq Afifi
Anggota     : Syeikh Abdullah bin Ghudayyan 
                   : Syeikh Abdul Aziz Al Syeikh, Syeikh Shalih Al Fauzan, Syeikh Bakr Abu Zaid
 
 
 
Fatwa tentang bulu alis yang tersambung bagi wanita
 
Pertanyaan:
 
"Apakah boleh mengambil bulu alis jika bulu tersebut bersambung (dengan sebelahnya) diatas hidung dan memburukkan wajah apalagi jika panjang dan membahayakan, dan saya, demi Allah, tidak mengikuti orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi dan model akan tetapi hal tersebut telah memprburuk wajah saya dan bukan seluruh bulu alis akan tetapi yang tersambung diatas hidung, ia mempuburk dan membahayakan saya, wassalam?"
 
Jawaban:
 
"Syeikh menjawab: "Sedangkan menghilangkan bulu seperti ini dengan mencabutnya maka ini adalah haram, tidak diperbolehkan karena hal itu adalah an-namsh dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, dan sedangkan menghilangkannya (bulu alis yang tersambung tadi) tanpa mencabutnya seperti mengguntingnya dan mencukurnya maka hal ini tidak mengapa, meskipun sebagian ulama berpendapat: bahwasanya yang demikian itu (menghilangkannya dengan menggunting/mencukurnya/mencabutnya) haram dan termasuk an-namsh dan semestinya bagi wanita ini  membiarkannya, maksudnya tidak merubahnya dengan sesuatu kecuali jika membahayakannya, yang mana sebagian bulu ini turun diatas kedua matanya sehingga menyakiti keduanya atau menghalangi antara dia dan penglihatannnya, maka tidak mengapa baginya untuk menggunting bulu yang menyakiti matanya." Fatwa dari syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acaraNurun 'Ala Ad Darb.
 
 
Fatwa tentang Operasi Kecantikan
 
Pertanyaan:
 
"Seorang pendengar juga bertanya: "Apa hukum melakukan operasi kecantikan?"
 
Jawaban:
 
"Syeikh menjawab: "Operasi kecantikan terbagi menjadi dua macam:
 
1. Operasi kecantikan dengan menghilangkan 'aib yang didapatkan oleh seorang manusia akibat kecelakaan atau yang lainnya, maka hal ini tidak mengapa dan tidak ada dosa di dalamnya, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan bagi seorang laki-laki yang terpotong hidungnya dalam perperangan untuk mengambil hidung dari emas agar menghilangkan keburuk rupaan yang disebabkan karena terpotong hidungnya dan karena laki-laki yang telah mengerjakan operasi kecantikan ini bukan maksudnya meningkatkan dirinya kepada kebaikan yang lebih sempurna dari apa yang telah diciptakan oleh Allah atasnya akan tetapi ia menginginkan untuk menghilangkan 'aib yang telah ia dapatkan,
 
2. Sedangkan macam kedua adalah operasi kecantikan tambahan yang bukan untuk menghilangkan 'aib maka hal ini adalah haram dan tidak diperbolehkan ole sebab itu Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishahal-mutanammishahal-wasyirahal-mustawsyirah dan al-wasyimah serta al-mustwasyimah karena di dalamnya terdapat perubahan kecantikan yang menyempurnakan yang bukan untuk menghilangkan 'aib, sedangkan tentang seorang dokter yang ditetapkan termasuk dari pelajarannya adalah materi ini maka tidak mengapa baginya untuk mempelajarinya akan tetapi dia tidak melakukannya langsung akan sesuatu yang di dalamnya ada keharaman akan tetapi orang yang minta hal tersebut darinya diberi nasehat bahwasanya ini adalah haram dan tidak diperbolehkan maka di dalmnya ada faedah, karena nasehat jika dari dokter itu sendiri karena kebanyakan orang sakit atau yang meminta operasi kecantikan ini akan merasa puas lebih dari puas apabila orang lain yang menasehatinya. Fatwa dari Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acara Nurun 'Ala Ad Darb.    
 
 
Fatwa tentang Mencabut Uban
 
Pertanyaan:
 
"Seorang wanita bertanya: "Apakah hukum mencabut uban?"
 
Jawaban:
 
"Iya, mencabut uban jika ubannya di wajah maka hal tersebut termasuk dosa besar, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat an-namishah dan al-mutanammishah, para ulama berpendapat an-namsh adalah mencabut bulu wajah, sedangkan dari selainnya maksudnya dari selain bulu wajah, seperti uban kepala maka para ulama memamkruhkannya, mereka mengatakan: "Dimakruhkan mencabut uban ini", dan saya tidak tahu apa yang akan dikerjakan oleh orang yang mempunyai uban ini jika setiap kali selembar dari rambutnya memutih lalu ia langsung mencabutya maka orang tersebut akan mencabuti seluruh rambut kepalanya karena uban itu seperti api menyala di atas kepala sebagaiman perkataan Nabi Zakariyya ‘alaihissalam:
 
وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا [مريم : 4]
 
Artinya: "Kepalaku telah bernyala (ditumbuhi) uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku." (QS. 19:4). Fatwa dari Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dari acaraNurun 'Ala Ad Darb.
 
 
Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin, ICC Dammam KSA

 

Ramalan Nanti Malam Gerhana Bulan Boleh Percanya Atau Tidak

Assalamu'alaikum,  
Ustadz, semoga Allah menjaga antum sekeluarga.

Kami dapat kabar dari sms ataupun dari internet bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gerhana, bagaimana kita harus menyingkapi ramalan seperti ini. Bahkan sebagian mereka sudah ada yg ancang-ancang utk melakukan sholat gerhana. 
 
Mohon penjelasannya.
 
 
Jawaban:
 
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

 
Pengetahuan tentang prakiraan cuaca dan termasuk di dalamnya tentang prakiraan gerhana Matahari ataupun Bulan tidak termasuk ke dalam perkara meramal yang diharamkan dan tidak juga termasuk ke dalam pengakuan tentang ilmu gaib yang merupakan kesyirikan, karena prakiraan tersebut berdasarkan perkara-perkara yang bisa digunakan di dalamnya panca indra dan percobaan ilmiyyah serta melihat kepada kebiasaan yang terjadi terhadap ciptaan-ciptaan Allah Ta’ala.
 
Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah gaib karena bukan ahlinya, tetapi bagi seorang yang menyibukkan dirinya dengan ilmu perhitungan jalannya planet-planet bukan suatu yang gaib.
 
Tetapi perlu diperhatikan bahwa, hal tersebut hanya sebatas prakiraan tidak pasti dan tidak boleh dipastikan tetapi dikatakan “Dengan kehendak Allah Ta’ala akan terjadi begini dan begini”.
 
Karena Allah Ta’ala lah yang satu-satu-Nya yang Maha Pengatur, Pencipta dan Berkuasa, tiada sekutu bagi-Nya.
 
Yang harus dilakukan jika ada gerhana Bulan atau Matahari adalah; 

1. Merasakan bahwa ini adalah tanda kekuasaan Allah Ta’ala yang dengannya Dia menakuti manusia.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ »
 
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak trejadi gerhana karena kematian seseorang akan tetapi Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan keduanya”. HR. Bukhari. 

2. Merasa takut sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambukan malah dijadikan rekreasi atau tontonan. 

3. Beribadah dengan berdoa, beristighfar, bertakbir dan bersedekah.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
«إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا»
 
 Artinya: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah 2 tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang, jika kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedakahlah”.  HR. Bukhari.
 
«إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ»
 
Artinya: “Tanda-tanda kekuasaan ini yang diutus oleh Allah terjadi tidak karena kematian seseorang atau karena kehidupannya, akan tetapi Allah menakut-nakuti dengannya hamba-hamba-Nya, maka jika kalian melihat sesuatu dari hal itu maka bersegrlah mengingat Allah, berdoa dan meminta ampun kepada-Nya”. HR. Bukhari dan Muslim.

4. Dan jika nantinya benar terjadi Gerhana Bulan maka jangan lupa untuk mengerjakan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu shalat gerhana dan diharapkan dengan sangat untuk mempelajari tata cara shalat gerhana yang sesuai dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.
 
Ditulis oleh: Ahmad Zainuddin
Jumat, 14 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Aqiqoh Hanya Satu Kambing

Pertanyaan:
 
Hukum aqiqah, apabila kita punya anak laki-laki namun kita hanya mampu menyembelih satu kambing saja apa itu dibolehkan?
 

 
Jawaban:

 
Di dalam permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat:

Pertama, Dua kambing untuk anak lelaki dan satu kambing untuk anak perempuan. Ini pendapatnya Madzhab Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas, ‘Aisyah, Abu Tsaur dan Ishaq dan lainnya. Kedua, kambing untuk anak lelaki dan anak perempuan. Ini adalah pendapat Imam Malik dan Al Hadawiyyah dan ini adalah pendapatnya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Urwah bin Zubairrahimahullah dan Asma’ binti Abu Bakar. Ketiga, Aqiqah untuk anak lelaki saja dan tidak ada aqiqah untuk anak perempuan. Dan ini pendapat dinukilkan dari Al Hasan Al Bashry, Muhammad biin Sirin dan Qatadah dan lainnya. (Lihat kitab Al Majmu’ karya An Nawawi, 8/447-448).

 
Jumhur Ulama mempunyai dalil yang sangat kuat:

 

عَنْ أُمِّ كُرْزٍ الْكَعْبِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ ».

 

Artinya: “Ummu Kurz Al Ka’biyyah radhiyallahu ‘anha, berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Untuk seorang anak lelaki dua kambing yang sama dan ana perempuan 1 kambing”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah,no. 1655.
 

Hadits seperti ini juga terdapat dari riwayat: Aisyah, Asma’ binti Yazid dan yag lainnya.

Adapun sebagian ulama yang membolehkan untuk anak lelaki hanya disembelih satu kambing saja, terutama jika tidak mempunyai biaya kecuali hanya untuk menyembelih satu kambing, berdalilkan dengan beberapa dalil berikut:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشً

 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Al Hasan dan Al Husain satu domba satu domba”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 1167.
 

 عن عَبْدُ اللَّهِ بْن بُرَيْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ.
 

Artinya: “Abdullah bin Buraidah berkata: “Aku telah mendengar Bapakku Buraidah radhiyallahu ‘anhuberkata: “Kami dahulu di masa jahiliyyah, jika salah seorang dari kami kelahiran seorang anak lelaki, ia menyembelih satu kambing dan mengucurkan darahnya di kepala anak tersebut, ketika Allah mendatangkan Islam, kamipun menyembelih satu kambing dan menggundul rambut dan mengucurkan di kepalanya dengan Za’faran”. HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Abu Daud, no. 2843. 
 

Dan ini juga yang dikerjakan sebagian para shahabat radhiyallahu ‘anhum.
 

عن ابن عمر أنه كان يعق عن ولده بشاة شاة للذكور والإناث .
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma senantiasa mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syeikh Syu’aib Al Arnauth.
 
 

عن عروة بن الزبير أنه كان يعق عن بنيه الذكور والإناث بشاة شاة
 

Artinya: “Diriwayatkan bahwa Urwah bin Zubair, beliau mengaqiqahi anak lelaki dan perempuannya dengan 1 kambing dan 1 kambing”. Atsar riwayat Malik di dalam kitab Al Muwaththa’ dan dishahihkan oleh Syu’aib Al Arnauth.

 

عن أسماء بنت أبي بكر :( أنها كانت تعق عن بنيها وبني بنيها شاة شاة الذكر والأنثى )
 

Artinya: “Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau mengaqiqahi anak dan cucunya yang lelaki dan perempuan 1 kambing 1 kambing”.  Lihat Kitab Syarh As Sunnah, karya Al Baghawirahimahullah.
 

Berdasarkan ini maka, semestinya anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan anak perempuan dengan 1 kambing, hal ini disebabkan beberapa sebab;
 

1.    Hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menceritakan bahwa Al Hasan dan Al Husain diaqiqahi dengan 1 kambing 1 kambing, juga ternyata terdapat riwayat dengan 2 kambing 2 kambing.

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رضى الله عنهما بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ.
 

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain radhiyallahu ‘anhuma dengan 2 kambing 2 kambing”. HR. An Nasai, Al Albani berkata tentang riwayat 1 kambing 1 kambing: “Shahih akan tetapi riwayat 2 kambing 2 kambing lebih shahih”. Lihat kitab Shahih Abu Daud, 2/547.
 

2.    Riwayat yang menyebutkan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing terdapat tambahan riwayat dari riwayat yang shahih dan tambahan ini adalah tambahan yang diterima.
 

3.    Riwayat yang menyebutkan 2 kambing untuk anak lelaki merupakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan riwayat yang 1 kambing untuk anak lelaki merupakan perbuatan beliau, maka sabda didahulukan dari perbuatan beliau karena kemungkinan ada kekhususan di dalam masalah tersebut.

 
Tetapi…

 
Jika kita ingin mengumpulkan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 2 kambing dengan pendapat yang mengatakan untuk aqiqah anak lelaki 1 kambing adalah dengan cara bahwa yang paling sempurna dan sesuai dengan sunnah adalah menyembelih 2 kambing untuk aqiqah anak lelaki, dan jika tidak mampun dan hanya menyembelih 1 kambing maka sudah mencukupi dan terkena asal sunnah, yaitu menyembelih kambing untuk anak yang dilahirkan sebagai aqiqah.

Imam Nawawi rahimahullah berkata:
 
 

السنة أن يعق عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة فإن عق عن الغلام شاة حصل أصل السنة
 

Artinya: “Sunnahnya adalah seorng anak lelaki di aqiqahi dengan 2 kambing dan untuk anak perempuan diaqiqahi dengan 1 kambing, jika diaqiqahi anak lelaki dengan 1 kambing saja maka sudah tercapai asal sunnahnya”. Lihat kitab Al Majmu’, 8/429.

 

Berkata Ash Shan’any rahimahullah:
 

يجوز أنه - صلى الله عليه وسلم - ذبح عن الذكر كبشاً لبيان أنه يجزئ وذبح الأثنين مستحب
 

Artinya: “Dimungkinkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih 1 kambing atas anak lelaki untuk menjelaskan bahwa hal itu mencukupi dan menyembelih 2 kambing dianjurkan”. Lihat kitab Subul As Salam, 4/182.

 
Wallahu a’lam.

 

Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Sabtu, 9 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

Mana Yang Didahulukan: "Ibu Atau Suami"?

Tadi saya membaca tentang berbakti pada orangtua. saya seorang ibu dengan 2 anak. umur saya 40 tahun. ibu saya berumur 60 tahun. beliau menginginkan saya untuk bersamanya, yang berarti saya harus meninggalkan suami. apa yang harus saya putuskan? suami sedang dalam masa susah karena kami sedang dalam mati penghidupan dan terlilit hutang.  Sekarang ini saya dan anak beserta suami tinggal di rumah ibu suami, mohon nasehatnya.
 
Jawaban:
 

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Telah diketahui bersama bahwa Ta’at kepada orangtua terutama ibu adalah merupakan perintah dan bentuk ketaatan kepada Allah yang paling agung, bahkan Allah menggandengkan ketaatan kepada-Nya dengan berbakti kepada orangtua. Allah Ta’ala berfirman:
 
{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا } [النساء: 36]
 
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak”. QS. An Nisa’: 36.
 
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Allah menginginkan berbuat baik kepada keduanya dengan kelembutan dan tingkah laku yang lemah, maka tidak membantah keras keduanya dalam menjawab, tidak menajamkan pandangan kepada keduanya, tidak mengangkat suara di atas suara mereka berdua, tetapi bersikap di hadapan keduanya seperti seorang budak di hadapan tuannya, merendah di hadapan keduanya”. Lihat kitab Al Az Zawajir ‘an iqtiraf Al Kabair, 2/66.
 
Dan terkhusus untuk berbuat baik kepada Ibu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan hal ini:
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أُمُّكَ ». قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ ».
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang pernah datang menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian dia bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”, beliau menjawab: “Ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab:“Kemudian  ibumu”, orang ini bertanya lagi: “Kemudian siapa?”, beliau menjawab: “Kemudian bapakmu”. HR. Bukhari dan Muslim.
 
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ، ثُمَّيُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ, يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ »
 
Artinya: “Al Miqdam bin Ma’di Karib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada ibu-ibu kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada bapak-bapak kalian, kemudian mewasiatkan kalian untuk berbuat baik kepada kerabat kalian yang paling dekat kemudian seterusnya”. HR. Bukhari di dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat al Ahadits Ash Shahihah, no. 1666.
 
Tetapi…
 
Jika seorang wanita sudah menikah maka hak suami lebih di dahulukan daripada hak orangtua, mari perhatikan penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “firman Allah Ta’ala:
 
{فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ} [النساء: 34]
 
Artinya: Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. QS. An Nisa’: 34.
 
Berkonsekwensi kewajiban taatnya istri terhadap suami secara mutlak, berupa pelayanan, bepergian bersamanya, tinggal bersamanya, dan hal lainnya sebagaimana yang telah ditunjukkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tentang Al Jabal Al Ahmar dan di dalam hadits tentang sujud dan hadits lainnya.
 
Sebagaimana wajib bagi seorang wanita taat kepada kedua orangtua, karena sesungguhnya setiap ketaatan kepada kedua orangtua berpindah kepada suami dan tidak tersisa kewajiban atas seorang wanita sebuah ketaatan untuk kedua orang tua, ketaatan kepada orangtua wajib karena hubungan pertalian darah dan kewajiban taat kepada suami wajib karena hubungan yang disebabkan perjanjian.” (Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/260-261).
 
Beliau juga berkata: “Tidak ada kewajiban atas seorang wanita setelah menunaikan hak Allah dan rasul-Nya lebih wajib dibandingkan menunaikan hak suami”. Lihat kitab Majmu’ Al Fatawa: 23/275.
 
Saya nasehatkan kepada ibu yang bertanya agar senantiasa mentaati perintah suami tetapi juga jangan sampai mengabaikan sang ibu semampu mungkin, tentunya juga seorang suami tidak diperbolehkan memutuskan hubungan istrinya dengan sang ibu dari istri tersebut, semoga Allah memudahkan  kita semua dan mewafatkan ibu dan seluruh orangtua kita di dalam husnul khatimah.Wallahu a’lam.
 
وصلى الله و سلم و باك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, والحمد لله رب العالمين
 
*) Dijawab oleh Ahmad Zainuddin, Sabtu 8 Al Muharram 1433H, Dammam KSA

 

 

I Love You Full

  Pertanyaan:
Assalamu 'alaikum warahmatullahana mau bertanya tentang hukum mengungkapkan rasa cinta kepada seorang wanita, namun belum mampu menikah, hanya ingin mengungkapkannya saja? jazakallahu khairan.
 
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
 
Saudaraku…
 
Pengungkapan rasa cinta kepada seorang wanita yang belum dinikahinya adalah tidak boleh, karena akan menjerumuskan kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, diantaranya; 
Pertama, menghantarkan kepada perbuatan zina 

Kedua, atau kepada perbuatan-perbuatan yang menghantarkan kepada perbuatan zina, seperti berdua-duaan tanpa ada manusia yang melihat.
 
Allah Ta’ala telah memperingatkan kita untuk tidak mendekati perbuatan zina dan maksud dari tidak mendekati perbuatan zina adalah menjauhi segala sarana yang menghantarkan kepada perbuatan zina.
 
Allah Ta’ala berfirman:
 
{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا } [الإسراء: 32]
 
Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk". QS. Al Isra: 32.
 
Di dalam ayat ini Allah Ta'ala melarang seluruh hamba-Nya untuk berbuat zina dan mendekatinya yaitu dengan melakukan sebab-sebab dan sarana-sarana yang menghantarkan kesana. Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir ketika menafsiri ayat di atas.
 
Larangan mendekati zina, lebih keras daripada larangan melakukannya, karena berarti larangannya mencakup seluruh sebab dan sarana yang menghantarkan kepada zina. Karena siapa yang berdiri di sekitar batas terlarang dikhawatirkan akan masuk ke dalamnya. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat di atas.
 
Ayat di atas juga, mengabarkan bahwa zina adalah perbuatan jenis fahisyah, yang maknanya adalah yang perbuatan yang buruk menurut syari'at Islam, akal dan fitrah manusia, karena di dalamnya terdapat sikap lancang terhadap hak Allah Ta'ala, hak pasangannya dan pengrusakan terhadap hubungan suci dan tercampurnya keturunan. Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman, karya As Sa'dy ketika menafsiri ayat ini.

Ketiga, Menyibukkan diri kepada sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti;

· Dapat menghabiskan waktu dengan selalu memikirkan kira-kira cintanya ditolak atau diterima,

· Dapat menghabiskan materi dengan menyatakan selalu siap berkorban, apapun sampai cintanya diterima,

· Dapat menghabiskan tenaga dan perasaaan dengan selalu mencari-cari perhatian kepada wanita tersebut sampai cintanya, bahkan kadang lupa atau tidak nafsu makan dan aktifitas lainnya,

· Dapat menghilangkan nyawa, Jika cintanya ditolak, maka akan patah hati dan tidak sedikit yang melakukan perbuatan nekat sampai BUNUH DIRI,

· Dapat menghancurkan akidah, yaitu jika cintanya ditolak maka dia mengunakan jasa dukun agar bisa cintanya diterima (cinta ditolak dukun bertindak).
 
Perhatikan pernyataan berikut dan cerita-cerita setelahnya, semoga bisa menjadi pelajaran jangan sampai mengumbar syahwat di jalan yang diharamkan Allah Ta’ala:
 
قال يحيى بن معاذ: "من أرضى الجوارح باللذات فقد غرس لنفسه شجر الندامات".
 
Berkata Yahya bin Muadz rahimahullah: “Barangsiapa yang merelakan anggota tubuhnya dengan kelezatan-kelezatan (yang diharamkan), maka sungguh dia telah menanam bagi dirinya pohon penyesalan.”
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وفيها  (278 هـ)  توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله.
ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فلما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك ؟ ما فعل علمك ؟ ما فعل صيامك ؟ ما فعل جهادك ؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون) [ الحجر: ]
 
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al Quranmu terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al Quran kecuali Firman-Nya:
 
{رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (3)} [الحجر: 2، 3] 
 
Artinya: Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. QS. Al Hijr: 2-3. Lihat kitab Al Bidayah wa An Nihayah, karya Ibnu Katsir rahimahullah.
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 
 
ويروي أنه كان بمصر رجل يلزم المسجد للأذان والصلات فيه وعليه بهاء الطاعة ونور العبادة فرقى يوما المنارة على عادته للأذان وكان تحت المنارة دارا لنصراني فاطلع فيها فرأي إبنة صاحب الدار فافتتن بها فترك الأذان ونزل إليها ودخل الدار عليها فقالت له ما شأنك وما تريد قال اريدك قالت لماذا قال قد سلبت لبي وأخذت بمجامع قلبي قالت لا أجيبك إلى رية أبدا قال أتزوجك قالت أنت مسلم وأنا نصرانية وأبي لا يزوجني منك قال اتنصر قالت إن فعلت أفعل فتنصر الرجل ليتزوجها وأقام معهم فى الدار فلما كان فى آثناء ذلك اليوم رقى إلى سطح كان فى الدار فسقط منه فمات فلم يظفر بها وفاته دينه.
 
Dikisahkan bahwa di Mesir ada seorang lelaki yang senantiasa selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan shalat di dalamnya, terlihat pancaran ketaatan dan cahaya ibadah dari wajahnya, suatu hari seperti kebiasaannya dia naik ke atas menara untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara ada sebuah ruman milik seorang yang beragama Nashrani, dia melirik ke dalam rumah tersebut ternyata dia mendapati anak perempuan sang pemilik rumah yang beragama Nashrani tadi, akhirnya dia terpedaya dengan wanita tersebut, dia tinggalkan adzan dan turun menemuinya, ia masuk ke dalam rumahnya. Wanita ini bertanya: “Apa denganmu?, apa yang kamu inginkan?”, lelaki ini menjawab: “Saya menginginkanmu”, wanita ini bertanya: “Kenapa?”, lelaki ini menjawab: “Karena kamu sudah mencuri jiwaku dan mengambil seluruh hatiku”, wanita berkata: “Aku tidak akan menurutimu kepada sebuah keraguan selamanya”, lelaki ini berkata: “Aku akan menikahimu”, wanita berkata: “Kamu seorang muslim, saya seorang wanita yang beragama Nashrani, bapak saya tidak akan menikahkanku kepadamu”, lelaki ini menjawab: “Saya akan masuk ke dalam agama Nashrani”, wanita ini menjawab: “Jika kamu mengerjakannya maka aku akan mengerjakannya (yaitu menuruti permintaanmu)”, maka akhirnya lelaki ini masuk ke dalam agama Nashrani untuk menikahi wanita tersebuit, dan dia tinggal bersama mereka di dalam rumah tersebut. Dan ketika pada hari itu dia naik ke atas loteng yang ada di atas rumah, lalu dia jatuh darinya, maka akhirnya dia tidak mendapatkan wanita tersebut dan telah kehilangan agamanya. Lihat kitab Al Jawab Al Kafy, karya Ibnul Qayyimrahimahullah.
 
Saudaraku…
 
Jika anda ingin menikahinya demi terjaganya kesucian anda, maka datanglah kepada kedua orangtuanya, semoga Allah Ta’ala menolong Anda.
 
سنن النسائي - مكنز (10378، بترقيم الشاملة آليا)
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُمُ الْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tiga orang yang berhak atas Allah Azza wa Jalla menolong mereka, seorang budak yang ingin melunasi pembayaran atas dirinya, seorang yang menikah yang menginginkan kesucian, seorang yang berjihad di jalan Allah”. HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 3050.
 
Dijawab oleh Ahmad Zainuddin Selasa, 4 Muharram 1433H, Dammam KSA

 

Hukum Parfum Bagi Perempuan

 Assalamu’alaikum ya Pak Ustad Zain, Apa kabarnya nih? Mudah-mudahan sehat selalu adanya Amiin.  
Pak Ustad, Saya ada pertanyaan yang butuh jawaban sebagai berikut:

1.      Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?
2.      Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Demikian Pak Ustad Zain, sebelumnya saya haturkan terima kasih atas jawabannya, semoga Allah membalas kebaikan dan memberikan pahala buat Pak Ustad…

 Donny

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
alhamdulillah baik pak, semoga kita dan kaum muslim selalu diberikan kebaikan oleh Allah Ta'ala di dunia dan akhirat. Allahumma amin.

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبيبنا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Pertanyaan ke 1: Apakah hukumnya perempuan ikut sholat berjamaah di Mesjid, baik sholdat fardhu maupun sholat taraweh?

Jawaban:  Perempuan diperbolehkan ikut shalat berjamaah di masjid, baik untuk shalat fardhu atau shalat tarawih, tetapi tidak diwajibkan atasnya. Dan jika seorang istri meminta kepada suaminya untuk pergi shalat berjama’ah di masjid, maka suami tidak boleh melarangnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِى الْجَمَاعَةِ فِى الْمَسْجِدِ ، فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِى قَالَ يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seorang istri Umar radhiyallahu ‘anhu ikut shalat Shubuh dan Isya’ berjama’ah di masjid, lalu istri ini ditanya: “Kenapa engkau pergi (ke masjid) padahal engkau mengetahui bahwa Umar membenci  dan menyemburui hal tersebut?” istri ini menjawab: “Lalu apa yang menghalangi dia untuk melarangku?”, Umar berkata: “Yang menghalanginya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“Jangan kalian larang hamba-hamba Allah perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Allah”. HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh dari riwayat Bukhari.

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا » .

Artinya: “Salim bin Abdullah rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya yaitu Abdullah bin Umarradhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang istri kalian meminta izin untuk pergi ke masjid maka janganlah dia melarangnya”. HR. Bukhari.


عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ » .

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika istri-istri kalian meminta izin pada malam hari untuk pergi ke masjid, maka izinkanlah mereka”. HR. Bukhari.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling pertama dan seburuk-buruknya adalah yang paling terakhir, dan sebaik-baik shaf bagi para perempuan adalah yang paling terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling pertama”. HR. Muslim.
Hadits ini juga bisa dijadikan sebagai dalil penguat tentang diperbolehkannya seorang wanita pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada di masjidnya. Hal ini berdasarkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. HR. Abu Daud dan dihasankan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 515.  

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ رضي الله عنها امْرَأَةِ أَبِى حُمَيْدٍ السَّاعِدِىِّ رضي الله عنهما أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ الصَّلاَةَ مَعَكَ. قَالَ « قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاَةَ مَعِى وَصَلاَتُكِ فِى بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى حُجْرَتِكِ وَصَلاَتُكِ فِى حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِى دَارِكِ وَصَلاَتُكِ فِى دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاَتُكِ فِى مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِى مَسْجِدِى ».

Artinya: “Abdullah bin Suwaid Al Anshari meriwayatkan dari bibinya yang bernama Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha, dia adalah istrinya Abu Humaid As Sa’idy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Ummu Humaidradhiyallahu ‘anha pernah datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama engkau”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sungguh aku benar-benar mengetahui bahwa kamu suka shalat bersamaku, dan shalatmu di kamar kecilmu lebih baik daripada shalatmu di kamar besarmu, dan shalatmu di kamar besarmu lebih baik daripada shalatmu di rumah dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kampungmu, dan shalatmu di masjid kampungmu lebih baik daripada shalatmu di masjidku”. HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan dihasankan di dalam kitab Shahih At Targhib Wa At Tarhib, no. 340.

Pertanyaan 2 : Apakah boleh bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke mesjid maupun ke luar bersama mahramnya?

Jawaban: haram bagi perempuan menggunakan parfum jika hendak bepergian baik ke masjid maupun ke luar rumah bersama mahramnya.
Hal ini berdasarkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَة رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ وَلَكِنْ لِيَخْرُجْنَ وَهُنَّ تَفِلاَتٌ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jangan kalian larang hamba-hamba perempuan Allah untuk pergi ke masjid-masjid Allah akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat”. HR. Abu Daud dan dishahihkan di dalam kitab Irwa’ Al Ghalil, no. 515.
Makna “Tafilat” adalah tidak memakai minyak wangi. Lihat kitab An Nihayah fi Gharib Al Hadits, karya Ibnu Al Atsir.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا خَرَجَتِ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْتَغْتَسِلْ مِنَ الطِّيبِ كَمَا تَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jika seorang wanita keluar rumah menuju masjid, hendaklah dia mandi membersihkan minyak wangi sebagaimana dia mandi junub”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadist Ash Shahihah, no. 1031.

عَنْ أَبِى مُوسَى رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةً ».

Artinya: “Abu Musa radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang begini, begini, yaitu seorang wanita pezina”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 2019.

عَنْ زَيْنَبَ الثَّقَفِيَّةِ رضي الله عنها أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَّتُكُنَّ خَرَجَتْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ تَقْرَبَنَّ طِيبًا ».

Artinya: “Zainab Ats Tsaqafiyyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan mana saja yang pergi ke masjid maka jangan sekali-kali dia mendekati (memakai) minyak wangi”. HR. An Nasai dan dishahihkan di dalam kitab Shahih An Nasai, no. 5131.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Perempuan mana saja yang telah memakai minyak wangi maka tidak boleh shalat isya’ bersama kami”. HR. Muslim.

عنْ موسى بن يسار عن أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : أَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ بِهِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَقَالَ : يَا أَمَةَ الْجَبَّارِ الْمَسْجِدُ تُرِيدِينَ؟ قَالَتْ : نَعَمْ. قَالَ : وَلَهُ تَطَيَّبْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ قَالَ فَارْجِعِى فَاغْتَسِلِى فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« مَا مِنِ امْرَأَةٍ تَخْرُجُ إِلَى الْمَسْجِدِ تَعْصِفُ رِيحُهَا فَيَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهَا صَلاَتَهَا حَتَّى تَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهَا فَتَغْتَسِلَ ».

Artinya: “Musa bin Yasar meriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita melewati beliau dan bau wanginya menyebar, lalu Abu Hurairah bertanya: “Wahai hamba perempuan Allah Yang Maha Perkasa, apakah anda ingin pergi ke masjid?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah bertanya: “Dan untuk itukah anda memakai minyak wangi?”, wanita ini menjawab: “Iya”, Abu Hurairah berkata: “Pulang dan mandilah, karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang wanita keluar pergi menuju masjid dan menyebar bau wanginya akan diterima oleh Allah dari shalatnya sampai dia kembali ke rumahnya dan mandi”. HR. Al Baihaqi dan dishahihkan  di dalam kitab Jilbab Al Mar-ah Al Muslimah, karya Al Albani.
Dan jika seorang wanita ingin pergi ke masjid atau keluar rumah dengan tujuan apapun, maka janganlah dia menjadi penggoda bagi para lelaki yang bukan mahramnya,  karena dia melakukan beberapa hal, seperti; tidak menutup aurat sebagaimana yang diajarkan dalam Islam, tidak menjaga perkataan dan perbuatan dan semisalnya yang berpotensi menjadi godaan bagi para lelaki yang bukan mahramnya. wallahu a'lam.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
 Posted in: 

Bermaaf Maafan Menyambut Ramadhan

Assalamu’alaikum Wa Rohamtullohi wa Barokatuhu

"Adakah riwayat yang menceritakan seperti di bawah ini: Marhaban Ya Ramadhan, Do’a Malaikat Jibril adalah sbb: Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak berma’afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Dan barang siapa yang menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita, maka diharamkan kulitnya tersentuh api neraka. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat, diucapkan, atau diniatkan."

Selengkapnya...

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung