Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Amalan Mudah Berpahala Besar

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Bersyukurlah Kawanku…
 
Karena termasuk kemurahan Allah Ta’ala atas umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamadalah dilipatkannya ganjaran dan pahala di dalam beramal.
 
Dan ini hanya dimiliki oleh umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, subhanallah wal hamdulillah…!
 
عَنْ عَبْدِ الله أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّمَا بَقَاؤُكُمْ فِيمَا سَلَفَ قَبْلَكُمْ مِنَ الأُمَمِ كَمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ ، أُوتِىَ أَهْلُ التَّوْرَاةِ التَّوْرَاةَ فَعَمِلُوا حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ النَّهَارُ عَجَزُوا ، فَأُعْطُوا قِيرَاطًا قِيرَاطًا ، ثُمَّ أُوتِىَ أَهْلُ الإِنْجِيلِ الإِنْجِيلَ فَعَمِلُوا إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ عَجَزُوا ، فَأُعْطُوا قِيرَاطًا قِيرَاطًا ، ثُمَّ أُوتِينَا الْقُرْآنَ فَعَمِلْنَا إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ ، فَأُعْطِينَا قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ ، فَقَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ أَىْ رَبَّنَا أَعْطَيْتَ هَؤُلاَءِ قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ ، وَأَعْطَيْتَنَا قِيرَاطًا قِيرَاطًا ، وَنَحْنُ كُنَّا أَكْثَرَ عَمَلاً ، قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ أَجْرِكُمْ مِنْ شَىْءٍ قَالُوا لاَ ، قَالَ فَهْوَ فَضْلِى أُوتِيهِ مَنْ أَشَاءُ »
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya bagian kalian terhadap apa yang telah terdahulu dari umat-umat sebelum kalian laksana antar shalat Ashar sampai terbenamnya matahari, kaum ahli kitab Taurat diberikan Taurat lalu mereka mengamalkannya sampai jika telah pertengahan siang, mereka kelelahan, maka mereka diberi (masing-masing) satu qirath, satu qirath, kemudian kaum ahli kitab Injil diberikan Injil, lalu mereka mengamalkannya sampai shalat Ashar, kemudian mereka kelelahan, maka mereka diberi (masing-masing) satu qirath, satu qirath,  kemudian kita diberikan Al Quran, lalu kita mengamalkannya sampai terbenam matahari, maka kita diberi (masing-masing) dua qirath, dua qirath. Dua kaum dari dua kitab berkata: “Wahai Rabb kami, Engkau telah memberikan mereka dua wirath-dua qirath sedangkan kami Engkau beri satu qirath-satu qirath, padahal kami lebih banyak amalannya,” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Apakah Aku telah menzhalimi sedikit dari pahala kalian?” mereka menjawab: “Tidak,” maka Allah berfirman: “Itulah kemurahan-Ku yang Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki.” (HR. Bukhari). 
 
 
Ketauhilah kawanku…
 
Bahwa life style orang-orang yang diridhai Allah adalah senantiasa merasa sedih dan rugi jika ketinggalan ganjaran dan pahala. Contohnya:
 
عن نَافِع قَالَ قِيلَ لاِبْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ الله –صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ تَبِعَ جَنَازَةً فَلَهُ قِيرَاطٌ مِنَ الأَجْرِ ». فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما أَكْثَرَ عَلَيْنَا أَبُو هُرَيْرَةَرضي الله عنه . فَبَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ رضي الله عنها فَسَأَلَهَا فَصَدَّقَتْ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما لَقَدْ فَرَّطْنَا فِى قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ.
 
Artinya: “Nafi’ bercerita bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: Barangsiapa yang mengikuti jenazah maka baginya satu qirath dari pahala,” maka Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: “Abu Hurairah telah berkata begitu berlebihan untuk kita,” lalu beliau pergi menuju Aisyah radhiyallahu ‘anha menanyakan (perihal yang dikatakan oleh Abu Hurairah), dan Aisyah radhiyallahu ‘anha membenarkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha, maka Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Sungguh kita telah menyia-nyiakan qirath-qirath (pahala) yang sangat banyak.” HR. Muslim.
 
Berkata Ibnu Hajar rahimahullah:
 
وفيه دلالة على فضيلة بن عمر من حرصه على العلم وتاسفه على ما فاته من العمل الصالح
 
Artinya: “Di dalam riwayat ini terdapat keutamaan Abdullah bn Umar yaitu kesungguhan beliau untuk mendapatkan ilmu dan sikap merasa rugi beliau atas apa yang tertinggal oleh beliau dari amal shalih.” (Lihat kitab Fath Al Bary, 3/233).
 
Kawanku…
 
Sekarang mati kita lihat beberapa contoh dari dilipatkannya ganjaran dan pahal di dalam amalan, semoga kita tergugah untuk mengamalkannya :
 
Mengikuti muadzdzin di dalam adzannya
 
عَنْ عَبْدِ اللi بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ –صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللi عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ ».
 
Artinya: “Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa beliau telah mendengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian mendengar seorang muadzdzin maka ucapkanlah seperti apa yang dia ucapkan, kemudian bershalwatlah kalian atasku, karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali shalawat, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali, kemudian mintalah kalian kepada Allah untukku Al Wasilah, karena sesungguhnya ia adalah kedudukan di dalam , tidak pantas mendapatkannya melainkan untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan aku berharap akulah orangnya (yang mendapatkan itu), maka barangsiapa yang memohonkan untukku Al Wasilah maka halal bagiannya syafaat.” HR. Muslim.
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله أَنَّ رَسُولَ الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
 
Artinya: “Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan: “اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ (Allahumma Rabba Hadzihid da’watit tamati wash shalatil qaimati, Aati Muhammadan Al Wasilata wa Al fadhilata Wab’atshu Maqaman Mahmudan Alladzi wa’attahu(Wahai Allah, rabbnya panggilan yang sempurna dan shalat yang didirikan ini, berikanlah kepada Muhammad Al Wasilah dan kemuliaan serta dudukkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan untuk beliau), maka halal syafaatku untuknya pada hari kiamat.” HR. Bukhari.  
 
Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat dan ketika hendak tidur
 
عن أَبَي أُمَامَةَ يَقُولُ رضي الله عنه : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلا الْمَوْتُ).
 
Artinya: “Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, niscaya tidak ada yang menahannya masuk  melainkan kematian.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6464.
 
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah diperintahkan menjaga harta sedekah, kemudian beliau didatangi oleh pencuri selama tiga hari dan selalu beliau bisa tangkap dan selalu beliau lepaskan, dan ketika tertangkap pada hari yang ketiga, pencuri ini berkata kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
 
قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ (اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ. فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- «مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ» قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ. قَالَ «مَا هِىَ» قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ (اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ. فَقَالَ النَّبِىُّ –صلى الله عليه وسلم- «أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ» قَالَ لاَ قَالَ «ذَاكَ شَيْطَانٌ»
 
Artinya: “Jika engkau kamu tidur di kasurmu maka bacalah ayat kursi ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ) sampai habis satu ayat, maka sesungguhnya masih saja ada seorang penjaga dari Allah untukmu dan setan tidak akan pernah mendekatimu sampai pagi.” Lalu kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Maka aku lepaskan dia dan ketika sudah pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?” aku menjawab: “Wahai Rasulullah, dia mengaku bahwa dia mengajariku beberapa bacaan, semoga Allah memberikan kebaikan kepadaku dengannya, lalu aku lepaskan dia.” Nabi bertanya: “Apakah bacaan itu?”Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Jika engkau kamu tidur di kasurmu maka bacalah ayat kursi ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) sampai habis satu ayat, maka sesungguhnya masih saja ada seorang penjaga dari Allah untukmu dan setan tidak akan pernah mendekatimu sampai pagi”. Dan mereka adalah orang-orang yang paling semangat atas kebaikan. Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Adapun dia, sungguh dia telah berlaku jujur kepadamu tetapi dia adalah tukang dusta, apakah kamu mengetahui siapakah yang kamu bicarai selama tiga hari, wahai Abu Hurairah?” Beliau menjawab:“Tidak”, Nabi shallallahu ‘alihi wasallam bersabda: “Dia adalah setan.” HR. Bukhari.
 
Membaca 2 ayat terakhir dari surat Al Baqarah
 
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم - « مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
 
Artinya: “Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada sebuah malam maka dua ayat tersebut mencukupkannya.” HR. Bukhari.
 
Makna “dua ayat tersebut mencukupkannya”:
- Mencukupkannya dari bangun malam
- Mencukupkannya dari membaca Al Quran baik di dalam shalat atau di luar shalat
- Mencukupkannya dalam perkara akidah karena dua ayat tersebut meliputi perkara iman dan amal shalih secara umum.
- Menjaganya dari segala keburukan
- Menjaganya dari keburukan setan
- Menghalangi untuknya keburukan manusia dan jin
- Mencukupkan baginya dari apa saja pahala yang didapat bagi pelakunya daripada amalan apapun.
 
Al Hafizh menyatakan bahwa makna yang pertama terdapat secara jelas dalam perkatan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan makna yang keempat dikuatkan dengan hadits An Nu’man bin Basyir yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi.
 
Adapun Asy Syaukani setelah menyebutkan tujuh makna ini beliau berkata:
 
ولا مانع من إرادة هذه الأمور جميعها ويؤيد ذلك ما تقرر في علم المعاني والبيان من أن أحذف المتعلق مشعر بالتعميم فكأنه قال كفتاه من كل شر ومن كل ما يخاف وفضل الله واسع
 
Artinya: “Dan tidak ada yang menghalangi bahwa maknanya adalah dari apa yang disebutkan seluruhnya, dan yang menguatkan hal tersebut adalah apa yang telah tetap di dalam ilmu ma’any dan bayan bahwa penyembunyian apa yang terkait mengisyaratkan keumuman, maka seakan-akan beliau bersabda, dua ayat tersebut mencukupkannya dari setiap keburukan dan setiap apa yang ditakuti, dan kemurahan Allah sangat luas.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, 8/152.
 
Bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
 
عَنْ أَنَسِ بْن مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ ».
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Barangsiapa yang bershalawat atasku satu shalawat maka niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh shalawat, dihapuskan darinya sepuluh dosa dan diangkatkan untuknya 10 tingkatan.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih Al Jami’, no. 6359.
 
عن أبي الدرداء  رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- «مَنْ صَلَّى عَلَى حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْراً وَ حِيْنَ يَمْسِي عَشْراً أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
 
Artinya: “Abu Ad Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang bershalawat atasku ketika pagi sebanyak sepuluh kali dan ketika sore sebanyak sepuluh kali maka niscaya syafa’atku akan mendapatinya di hari kiamat.” HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 6357.
 
Al Bukhari rahimahullah berkata: “Abu Al ‘Aliyah rahimahullah berkata:
 
قَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ.
 
“Shalawatnya Allah adalah pujian-Nya atasnya di hadapan para malaikat dan shalawatnya para malaikat adalah doa.” Lihat kitab Shahih Bukhari.
 
Beristighfar untuk kaum beriman baik lelaki ataupun perempuan
 
عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- «مَنْ اسْتَغْفَرَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ حَسَنَةٍ
 
Artinya: “Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meminta ampun untuk kaum beriman lelaki dan perempuan, maka niscaya Allah menuliskan baginya dengan setiap lelaki dan perempuan beriman satu kebaikan.” HR. Ath Tahbarani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6026.
 
Mengucapkan subhanallah wa bihamdih
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ –رضى الله عنه– أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– قَالَ «مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ. فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ، وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan Subahnallah wa bihamdih di dalam sehari sebanyak seratus kali maka niscaya terhapus meskipun sebanyak buih lautan.” HR. Bukhari.
 
Berjabat tangan setelah mengucapkan salam jika bertemu dengan sesama muslim
 
عَنْ حُذَيْفَةَ، رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إن الْمُؤْمِنُ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فسلم عليه وأخذ بيده فصافحه تَنَاثَرَتِ خَطَايَاهما كَمَا يتنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ"
 
Artinya: “Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya jika seorang mukim bertemu dengan seorang dengan mukmin lalu dia memberikan salam dan mengambil tangannya dan bersalaman dengannya, maka kesalahan-kesahannya gugur sebagaiman gugurnya dedaunan pohon.” HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oleh Al Albani di dalm kitab Silsilat Al Hadits Ash Shahihah, no. 526.
 
Menyolati jenazah
 
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ –رضى الله عنه– قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- «مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّىَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ» قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ «مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ»
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang mengikuti jenazah sampai dishalatkan atasnya maka baginya satu qirath (pahala) dan barangsiapa yang menyaksikan sampai dikubur maka baginya dua qirath (pahala)”,beliau ditanya: “Apa itu dua qirath?” beliau menjawab: “Seperti dua gunung yang besar.” HR. Bukhari.
 
Menunggu pembayaran hutang atau memaafkan bagi siapa yang sulit bayar hutang
 
عَنْ بُرَيْدَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ «مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِراً كَانَ لَهُ كُلَّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثلُهُ فِى كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ»
 
Artinya: “Buraidah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menangguhkan orang yang sulit membayar hutang, maka baginya setiap hari (seperti) bersedekah dan barangsiapa yang menangguhkannya setelah jatuh temponya maka baginya (seperti) bersedekah sepertinya pada setiap harinya.” HR. Ahmad dan dishahihkan Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 68.
 
Kawanku…
 
Sungguh jalan-jalan kebaikan terpampang luas dan lebar serta banyak lagi pula mudah…
 
Semoga kita diberikan petunjuk oleh Allah Ta’ala untuk mengamalkannya setelah kita diberi petunjuk untuk mengetahuinya… Allahumma amin.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 15 Rabiul Awwal 1433 H, Dammam KSA.

 

Anakku Kelaparan...

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
 
Ada seorang teman bercerita: “Suatu pagi anak-anak saya kebingunan, karena kelaparan, yang satu merengek-rengek meminta dibelikan roti kesukaannya, yang satu sibuk mencari-cari di plastik-plastik mungkin saja ada sisa-sisa makanan tadi malam.
 
Melihat fonemena ini saya langsung mengambil baju dan bergegas pergi ke warung terdekat untuk membelikan beberapa makanan ringan agar anak-anak saya tidak kelaparan.
 
Di dalam perjalanan ke warung dan pulang kembali ke rumah, saya berfikir beberapa hal; Alhamdulillah Allah Ta’ala telah menjamin rezeki seluruh anak dan orang tuanya bahkan seluruh makhluk, maka jangan takut… tetapi tetaplah berusaha yang halal."
 
**** 

 
Perhatikan dua ayat yang mulia ini:
 
{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ } [الأنعام: 151]
 
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” QS. Al An’am: 151.
 
Tidak boleh membunuh anak-anak baik karena kemiskinan yang benar-benar ada, karena firman Allah : “Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” Dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mendahulukan pemberian rezeki kepada orang tua, karena kemiskinan sudah benar-benar terjadi!
 
Tetapi jika baru ditakutkan miskin, coba perhatikan ayatnya;
 
{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا } [الإسراء: 31]
 
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami lah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” QS. Al Isra: 31.
 
Tidak boleh membunuh anak-anak baik karena kemiskinan yang baru diperakirakan dan ditakutkan. Dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Allah mendahulukan penjaminan rezeki kepada anak-anak, karena kemiskinan baru ditakutkan, belum terjadi!
 
Semuanya ini karena Allah telah menjamin rezeki baik orang tua atau anaknya, baik ketika baru ditakutkan miskin atau sudah terjadi kemiskinan!!! Subhanallah…
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وقوله: { مِنْ إِمْلاقٍ } قال ابن عباس، وقتادة، والسُّدِّي: هو الفقر، أي: ولا تقتلوهم من فقركم الحاصل، وقال في سورة "سبحان": { وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ } [الإسراء :31] ، أي: خشية حصول فقر، في الآجل؛ ولهذا قال هناك: { نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ } فبدأ برزقهم للاهتمام بهم، أي: لا تخافوا من فقركم بسببهم، فرزقهم على الله. وأما في هذه الآية فلما كان الفقر حاصلا قال: { نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ } ؛ لأنه الأهم هاهنا، والله أعلم.
 
Artinya: “Firman-Nya: “Karena kemiskinan”, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Qatadah dan As Suddy berkata: “Imlaq artinya adalah kefakiran” maksudnya yaitu: janganlah kalian membunuh mereka karena kefakiran kalian yang terjadi, dan Allah berfirman di dalam surat Al Isra’: “Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin”, maksudnya adalah takut terjadi kefakiran di waktu yang akan datang, oleh sebab inilah disana (di dalam surat Al Isra’: 31) Allah berfirman: “Kami yang akan memberikan rezeki mereka dan kalian”, Allah memulai dengan penjaminan rezeki mereka untuk perhatian mereka, maksudnya adalah janganlah kalian takut kalian miskin gara-gara mereka, karena rezeki mereka di jamin Allah. Adapun di dalam ayat ini, ketika sudah terjadi kefakiran, Allah berfirman: “Kami memberikan rezeki kepada kalian dan mereka, karena pada saat ini mereka (orangtua) lebih penting.” Lihat kitab tafsir Ibnu Katsir.
 
Saudaraku seiman…
 
Tulisan singkat ini saya tujukan kepada:
 
1. Kepada orangtua yang membunuh, menelantarkan anaknya gara-gara takut anaknya menyusahkan dan menyulitkan hidupnya.
 
2. Kepada pasangan suami istri yang takut mempunyai anak gara-gara takut tidak bisa memberikan rezeki yang cukup kepada anaknya.
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ - رضى الله عنه - قَالَ سَأَلْتُ - أَوْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - أَىُّ الذَّنْبِ عِنْدَ اللَّهِ أَكْبَرُ قَالَ «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ . قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ » . قَالَ وَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - (وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ)
 
3. Kepada orang yang diluaskan rezekinya, jangan lupa disekitar Anda mungkin ada orangtua yang ketika anak-anak membutuhkan makanan karena kelaparan, tidak ada yang dapat dibeli oleh orangtua tersebut.
 
Sungguh Allah telah menyatakan hak orang-orang miskin ada pada Anda, wahai orang yang diluaskan rezekinya.
 
 {وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ} [الذاريات: 19]
 
Artinya: “Dan pada harta-harta mereka (yaitu orang-orang kaya) ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.” QS. Adz Dzariyat: 19.
 
Sungguh cerita yang penuh dengan pelajaran dari seorang teman. 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Dammam KSA, 12 Rabi’ul Awwal 1433H

 

Inilah Nabi Kami Muhammad Shallallahu 'Alahi Wa Sallam, Yang Slalu Kalian Hina..!

Inilah Nabi Kami Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang selalu kalian hina…!
 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وأله وصحبه, أما بعد 
 
Sesuatu yang harus diketahui oleh seluruh manusia tentang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau adalah Nabi yang penyayang shallallahu 'alaihi wasallam, Allah Azza wa Jalla berfirman:
 
{وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } [الأنبياء: 107]
 
Artinya: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu (wahai nabi Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. 21:107)
 
{ وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ } [القلم: 4]
 
Artinya: "Dan sesungguhnya kamu (wahai Nabi Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. 68:4). 
 
 
Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan wejangan tentang kasih sayang, beliau bersabda:
 
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ. رواه أحمد و أبو داود و صححه الألباني
 
Artinya: "Orang-orang penyayang disayang oleh Allah yang Maha Rahman, sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi yang berada diatas langit (yaitu Allah –Azza wa Jalla)." Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani. 
 
Sebagian contoh kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, mulai dari manusia hingga binatang! Subhanallah!! 
 
Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan tentang kecintaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam terhadap umatnya dan ini adalah bentuk kasih sayang beliau shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
 
لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِىَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا. رواه مسلم
 
Artinya: "Setiap Nabi mempunyai doa yang dikabulkan dan setiap nabi menyegerakan doanya (di dunia) dan aku mengakhirkan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat, maka ia akan didapatkan insya Allah, bagi siapa yang meninggal dari umatku tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." Hadits riwayat Muslim. 
 
Shahabat 'Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan keluarganya, begitu tawadhu'nya, ini adalah bentuk kasih sayang beliau shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata:
 
كَانَ يَخِيطُ ثَوْبَهُ وَيَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيَعْمَلُ مَا يَعْمَلُ الرِّجَالُ فِى بُيُوتِهِمْ. رواه أحمد و صححه الألباني
 
Artinya: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjahit pakaiannya, memperbaiki sendalnya dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah."Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani 
 
Shahabat Anas radhiyallahu 'anhu menceritakan gambaran kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallamtawadhu' (rendah hati)nya beliau terhadap para budak dan orang-orang lemah sampai orang yang kurang akalnya: "Bahwasanya ada seorang wanita yang kurang akalnya, ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai suatu keperluan denganmu. Beliau menjawab: "Wahai Ummu fulan, carilah gang jalanan yang kamu suka sampai aku bisa menyelesaikan keperluanmu", lalu beliau bersama dengan wanita tersebut di suatu jalan, sampai wanita tersebut selesai menyampaikan keperluannya." Hadits riwayat Muslim. 
 
Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam terhadap anak-anak kecil:
 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلَاةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ. رواه البخاري ومسلم
 
Artinya: "Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda: "Sesungguhnya aku sudah masuk ke dalam shalat dan aku ingin memanjangkannya lalu aku mendengar suara tangisan bayi (anak kecil) maka akhirnya aku percepat shalatku karena aku tahu bagiamana perasaan berat ibunya akan tangisan bayinya." Hadits riwayat Bukhari dan Muslim. 
 
Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu menceritakan kasih sayang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam terhadap pembatunya:
 
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَشْرَ سِنِينَ وَاللَّهِ مَا قَالَ لِى أُفًّا. قَطُّ وَلاَ قَالَ لِى لِشَىْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا.
 
Artinya: "Berkata Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu"Aku membantu Rasulullah selama sepuluh tahun, demi Allah tidak pernah beliau mengatakan: "Uff", dan tidak pernah mengatakan kepadaku: "Kenapa engkau kerjakan seperti ini atau kerjakanlah seperti ini." Hadits riwayat Muslim. 
 
Bahkan coba perhatikan kasih sayang beliau terhadap para binatang, pernah Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam- melihat perumahan semut telah dibakar, beliau bertanya: "Siapakah yang membakar ini?", lalu para shahabat menjawab: "Kami", beliaupun bersabda:
 
إِنَّهُ لاَ يَنْبَغِى أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ
 
Artinya: "Tidak layak seseorang mengadzab dengan api kecuali Rabb yang menciptakan api neraka." Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani
 
Shahabat Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah melihat onta yang merintih dan menangis, kemudian beliau bersabda kepada pemiliknya: "Apakah kamu tidak takut kepada Allah di dalam (pemeliharaan) hewan ini yang telah Allah berikan kepadamu, sesungguhnya ia telah mengadu kepadaku bahwasanya kamu melaparkannya dan memberikan beban yang lebih kepadanya." Hadits riwayat Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani. 
 
Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menceritakan tentang kasih sayang beliau shallallahu 'alaihi wasallam terhadap musuh-musuh beliau, ketika diminta untuk mendoakan keburukan atas orang-orang musyrik, beliau bersabda:
 
إني لم أبعث لعانًا، وإنما بعثت رحمة. رواه مسلم
 
Artinya: "Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat akan tetapi aku telah diutus sebagai pembawa rahmat (kasih sayang)." Hadits riwayat Muslim.
 
Ketika beliau shallallahu 'alaihi wasallam diusir dari kota Thaif dengan lemparan batu sampai terluka lalu datang dua malaikat berkata: "Wahai Muhammad, jika kamu menghendaki aku balikkan kedua gunung ini kepada mereka, beliau menjawab:
 
بل أرجو أن يخرِجَ الله من أصلابهم من يعبدُه وحدَه لا يشرك به شيئًا. رواه البخاري ومسلم
 
Artinya: "Bahkan aku berharap, semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka ada yang menyembah-Nya semata tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun." Hadits riwayat Bukhari dan muslim. 
 
Dan perlu diketahui oleh seluruh manusia baik orang yang beriman atau kafir, bahwasanya Nabi kami Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam- telah memberitahukan bahwa:
 
وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِى.رواه  البخارى
 
Artinya: "Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas siapa yang menyelisihi perkaraku.
 
Oleh sebab itu ta'atilah Nabi kalian wahai orang yang beriman dan berimanlah kepada Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam wahai orang-orang kafir. Wallahu a'lam.
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 10 Rabi’ul Awwal 1433H Dammam KSA.
 

 

 

Allah Maha Pengampun

Mengapa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Harus Dicintai?

Mencintai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berarti condongnya hati seorang muslim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dengan kecondongan ini terlihat dia lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada siapapun dari seluruh makhluk atau apapun dari benda di dunia ini. 

Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia bahkan sampai diri sendiri.

Lebih mendahulukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari pada emas, perak dan seluruh alam semesta dan kekayaannya.
 
 
عنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
 
 
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai aku ia lebih cintai daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia.”  HR. Bukhari dan Muslim.

Maksud “tidak beriman” adalah tidak sempurna keimanannya dengan keimanan yang wajib, yang dengan keimanan tersebut dia terlepas dari siksa neraka dan dimasukkan kepada surga dengan kehendak Allah Ta’ala.
 
 
 Kenapa disebutkan orangtua dan anak, simak jawabannya:
 
 
فوالدا الشخص اللذان كانا سبباً في وجوده وقد قاما بتنشئته وتربيته والإحسان إليه، حتى بلغ مبلغ الرجال وصار رجلاً سوياً، وكذلك أولاده الذين تفرعوا منه، وهو يحبهم ويشفق عليهم، لا يؤمن حتى يكون رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إليه منهم، وذلك لأن المنفعة التي حصلت من الوالدين هي أنهما كانا سبب وجوده وقاما بتنشئته، لكن المنفعة التي حصلت له بسبب الرسول صلى الله عليه وسلم أعظم، وهي الهداية للصراط المستقيم، والخروج من الظلمات إلى النور، فصارت محبته تفوق محبة الوالدين والأولاد. [شرح سنن أبي داود ـ عبد المحسن العباد 2767]
 
 
Artinya: “Kedua orangtua seseorang yang keduanya merupakan sebab adanya dia, dan keduanya telah mengurusnya, mendidiknya dan berbuat baik kepadanya sampai seseorang tersebut menjadi orang dewasa yang sempurna, demikian pula anak-anaknya yang merupakan cabang darinya, dia mencinti mereka, kasih sayang terhadap mereka, tidak beriman seseorang sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dia cintai daripada mereka seluruhnya, yang demikian itu karena kebaikan yang di dapat dari kedua orangtua adalah karena keduanya merupakan sebab adanya mereka berdua dan karena keduanya telah mengurusnya, akan tetapi kebaikan yang dia dapatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam lebih agung, yaitu petunjuk ke jalan yang lurus, dan keluar dari kegelapan menuju cahaya, oleh sebab inilah kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallamlebih tinggi daripada kecintaan kepada orangtua dan anak-anak.” Lihat syarah sunan Abu Daud oleh Syeikh Al Muhaddits Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah, 27/67 (syamila).

 
 
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - وَهْوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ » . فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الآنَ وَاللَّهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى . فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - «الآنَ يَا عُمَرُ»
 
 
Abdullah bin Hisyam meriwayatkan bahwa kami pernah bersama nabi muhammad shallallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengandeng tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, ketika itu Umar berkata Kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku,” lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallammenanggapinya: “Tidak, demi jiwaku Yang  berada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai daripada dirimu,” lalu Umar berkata: “Sesungguhnya sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”, lalu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekarang Wahai Umar (sempurna imanmu).” HR. Bukhari.

Kenapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dicintai?

Sebagian jawaban menarik dikemukakan oleh Imam An Nawawi rahimahullah:
 
 
وبالجملة فأصل المحبة : الميل إلى ما يوافق المحب ، ثم الميل قد يكون لما يستلذه الإنسان ويستحسنه ، كحسن الصورة والصوت والطعام ونحوها ، وقد يستلذه بعقله للمعاني الباطنة كحب الصالحين والعلماء وأهل الفضل مطلقا ، وقد يكون لإحسانه إليه ودفع المضار والمكاره عنه.
 
 
وهذه المعاني كلها موجودة في النبي صلى الله عليه وسلم لما جمع من جمال الظاهر والباطن ، وكمال خلال الجلال وأنواع الفضائل ، وإحسانه إلى جميع المسلمين بهدايته إياهم إلى الصراط المستقيم ودوام النعم والأبعاد من الجحيم
 
 
Artinya: “Ringkasnya, maka asal muasal kecintaan adalah kecondongan kepada apa yang disepakati orang yang dicintai, kemudian… kecondongan;  
1. kadang terjadi untuk sesuatu yang dianggap baik dan enak oleh manusia, seperti baiknya rupa, suara, enaknya makanan dan semisalnya. 
2. Dan terkadang terjadi untuk sesuatu yang dianggap baik oleh akalnya dan perasaannya akibat makna-makna yang ada dalam perasaan, seperti kecintaan kepada orang shalih, para ulama, orang-orang terhormat secara umum. 
3. Dan terkadang terjadi karena kebaikan orang tersebut kepadanya, menolak akan bahaya dan keburukan atasnya.
Dan semua hal ini ada pada diri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena terkumpul di dalam diri beliau berupa;  
1. Kebagusan lahir dan batin. 
2. Kesempurnaan sifat yang baik dan bermacam keutamaan dari tingkah laku yang mulia
3. Dan kebaikan beliau kepada seluruh kaum muslim dengan memberikan pertunjuk kepada mereka kepada jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan nikmat (surga) dan jauh dari api neraka. Lihat kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim.
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, 2 Rabiul Awwal 1433H, Dammam KSA

 

 

Ayo Berdakwah!

Segala puji hanya milik Allah semata Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada para kerabatnya, para shahabat seluruhnya, wa ba'du:

Aku melihat seorang laki-laki warga Negara Filipina, ia dulu adalah seorang pendeta dan misionaris, kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan kepadanya hidayah! Lalu mari kita perhatikan apakah yang ia kerjakan setelah Allah membukakan hatinya untuk memeluk agama Islam? Dia mulai mendakwahi anak bangsanya sehingga masuk islam di tangannya 4000 orang! Dan yang demikian itu hanya dalam beberapa tahun saja! Kira-kira berapa banyak orang yang akan memeluk agama Islam di tangan mereka yang 4000 itu, dan akhirnya kebaikan terus melambung naik sampai hari kiamat! Alangkah beruntungnya ia…
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ   
 
Artinya: "Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[1]."
 
An Nawawi rahimahullah berkata: "ia menunjukkan dengan perkataan, lisan, isyarat dan tulisan."
 
Saudaraku muslim…
Berdakwah kepada agama Allah Azza wa Jalla termasuk keta'atan yang paling tinggi dan ibadah yang paling agung, ia membutuhkan dari seluruhnya cara-cara yang bermacam-macam, keikhlashan, kesungguhan, kesabaran untuk menyampaikan agama ini, mempertahankan dan memperjuangkannya dari kehancuran:
 
{يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2)} [المدثر: 1، 2]
 
Artinya: "Hai orang yang berkemul (berselimut),  bangunlah, lalu berilah peringatan![2]."
 
Jika bukan kita penganut agama Islam yang bekerja untuk agama ini, maka siapakah gerangan yang akan mengerjakannya?!
 
Allah Azza wa Jalla telah memuliakanmu dengan nikmat Islam dan memudahkan bagimu perkara-perkara dan memudahkan bagimu jalan sehingga kamu berjalan di jalan yang paling agung, Ibnul Qayyim berkata: "Berdakwah ke jalan Allah Ta'ala adalah tugasnya para rasul dan para pengikutnya."
 
 
 
Saudaraku muslim…
Siapa yang memberikan sebuah buku maka ia adalah pendakwah, siapa yang menghadiahkan kaset maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang mengajarkan oang yang bodoh maka ia adalah seoorang pendakwah, dan barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka ia adalah seorang pendakwah, siapa yang menyampaikan sepatah kata maka ia adalah seorang pendakwah…pintu-pintu yang luas dan jalan yang mudah dan gampang, segala puji hanya milik Allah, setiap kali berkurang kemauan dan hasrat menjadi lemah, maka ingatlah pahala-pahala dan buah-buah yang agung bagi siapa yang berdakwah ke jalan Allah, diantaranya:
 
Pertama: mengikuti para nabi dan mencontoh mereka
 
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ } [يوسف: 108]
 
Artinya: "Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik[3]."
 
Al Farra berkata: "Wajib bagi setiap yang mengikutinya untuk berdakwah kepada apa yang ia dakwah dan menyebutkan Al Quran dan nasehat".
 
Kedua: bergegas untuk mendapatkan kebaikan dan kemauan di dalam mendapatkan pahala,karena Allah Azza wa Jalla memuji para pendakwah:
 
{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]
 
Artinya: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[4]."
 
Asy Syaukani berkata: "Tidak ada yang lebih baik darinya dan yang lebih jelas dari jalannya dan tidak ada yang lebih banyak pahalanya dibanding  amalannya".
 
Ketiga: berusaha untuk mendapatkan pahala-pahala yang besar kebaikan-kebaikan yang banyak dengan hanya perbuatan yang sedikit,
 
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira dengan sabdanya:
 
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
 
Artinya: "Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya[5]."
 
Jika anda menunjukkan seseorang kepada agama Islam maka bagi anda seperti pahala islamnya, amalannya, shalatnya dan puasanya dan tidak mengurangi hal tersebut dari pahalanya sedikitpun, dan pintu ini sangat agung dan luas, siapa yang diberi taufik oleh Allah Azza wa Jalla ia akan masuk ke dalamnya.
 
Keempat: taufik dan pendekatan kepada kebenaran: bahwasanya ia adalah buah yang sangat jelas dari dakwah, 
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} [العنكبوت: 69]
 
Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik[6]."
 
Al Baghawi berkata: "Orang-orang yang berjihad melawan orang-orang musyrik untuk memperjuangkan agama kiat".
 
Kelima: Harapan shalihnya keturunan,
Karena sesungguhnya di dalam hal tersebut terdapat Qurratu 'ain di dunia dan akhirat, dan Allah tidak menghilangkan pahala orang yang telah berbuat kebaikan. Allah Ta'ala berfirman:
 
{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا } [النساء: 9]
 
Artinya: "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar[7]."
dan termasuk dari perkataan yang benar yang paling agung adalah berdakwah kepada Agam Allah.
 
Keenam: termasuk dari buah dari berdakwah adalah memberatkan timbangan-timbangan kebaikan kita pada hari ditunjukkannya amal perbuatan,
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berasabda: 
 
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
 
Artinya: "Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa-dosa yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun[8]."
 
Ketujuh: Melakukan dakwah kepada Allah merupakan sebagian dari sebab-sebab kemenangan dan keberuntungan di dunia dan akhirat,
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
وَالْعَصْرِ(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
 
Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran[9]."
 
Kedelapan: Berdakwah kepada agama Allah termasuk dari sebab-sebab yang mendatangkan kemenangan melawan musuh-musuh,
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]
 
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu[10]."
 
Karena dengan dakwah maka Allah akan disembah sesuai dengan yang disyri'atkan-Nya, kemungkaran-kemungkaran akan hilang, dan akan tumbuh di dalam umat ini rasa kejayaan dan kemuliaan sehingga jalan di jalan kemenangan dan kekuasaan.
 
Kesembilan: dengan berdakwah kepada agama Allah maka akan di dapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi,
 
Syaikh Abdurrahman As Sa'dy rahimahullah berkata: "Dan kedudukan ini yaitu kedudukan berdakwah adalah kesempurnaan yang bagi orang-orang shiddiq, yang telah menyempurnakan akan diri mereka dan selain mereka, dan mereka akan mendapatkan warisan yang sempurna dari para rasul".
 
Kesepuluh: dari buah hasil berdakwah adalah shalawat Allah, para malaikat-Nya dan penduduk langit dan bumi atas pengajar manusia kebaikan,
 
karena apa yang ia akan sampaikan hanyalah ilmu yang diwarisi dari firman Allah Ta'ala dan sabda rasul-Nya yang mulia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
 
Artinya: "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan penghuni bumi dan langit sampai semut yang berada di lubangnya dan bahkan sampai ikan benar-benar bershalwat atas pengajar manusia kebaikan[11]."
 
Kesebelas: Berdakwah kepada agama Allah mengangkat derajat di dunia dan akhirat,
 
Ibnul Qayyim berkata: "Sesungguhnya pangkat makhluq yang paling mulia di sisi Allah adalah pangkat kerasulan dan kenabian, karenanya Allah mengutus dari manusia seorang rasul bergitu pula dari jin".
 
Kedua belas: Termasuk buah hasil berdakwah adalah terus mengalirnya pahala si pendakwah setelah wafatnya,
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا مَا عَمِلَ بِهِ فِي حَيَاتِهِ وَبَعْدَ مَمَاتِهِ حَتَّى يَتْرُكَ
 
Artinya: "Barangsiapa yang mensunnahkan sunnah yang baik maka baginya pahala amalan tersebut selama dikerjakan di dalam kehidupannya dan setelah wafatnya sampai ditinggalkan[12]."
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
 
Artinya: "Jika seorang anak keturunan Adam meninggal maka terputus amalnya kecuali dati tiga perkara…", dan salah satu diantaranya adalah: "Ilmu yang bermanfa'at."
 
Ketiga belas: Kecintaan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang memperjuangkan agama-Nya dan menyampaikan risalah-Nya,
 
Al Hasan ketika mengomentari firman Allah Ta'ala:
 
{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]
 
Artinya: "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?[13]. "
 
Beliau berkata: "Dia adalah orang yang beriman, menerima seruan Allah lalu menyeru manusia kepada apa yang ia telah dia terima dari seruan tersebut lalu ia beramal shalih ketika menerimanya, maka orang ini aadalah orang yang dicintai oleh Allah, ia adalah wali Allah".
 
Keempat belas: dari buah hasil berdakwah yang dicintai yang disenangi oleh jiwa dan melapangkan dada dan menolong untuk selalu terus (dalam berdakwah) dan mampu melawan dalam keadaan yang sempit, yaitu doa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam agar terang wajah bagi yang menyampaikan sabda beliau:
 
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِى فَبَلَّغَهَا 
 
Artinya: "Allah mencerahkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku lalu ia sampaikan[14]."
 
Maka berbahagaialah orang yang merasakan doa ini dan mendapatkan bagian darinya.
 
Kelima belas: Doa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam agar mendapatkan rahmat bagi siapa yang menyampaikan sabda beliau, termasuk hal yang paling agung yang membantu untuk selalu berjalan dengan semangat:
 
رحم الله امرأ سمع منى حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره
 
Artinya: "Allah merahmati seseorang yang telah mendengar dariku sebuah hadits lalu ia menghafalnya  kemudian ia sampaikan kepada orang lain[15]."
 
Dan di zaman sekarang terkumpul syarat-syarat untuk menyampaikan, Al Quran, kaset-kaset yang bernuansa islam telah tersedia, agar sampai kepada orang yang di dakwahi dalam keadaan yang sempurna dan baik, saya etringat bahwa seorang laki-laki masuk Islam kemudian ia dating ke Negara ini dan bermukim di sini beberapa tahun kemudian pulang ke negaranya dan tidak ada seorangpun dari manusia yang mengajaknya ke agama Allah, sampai ada kesempatan baginya untuk bekerja yang lain lagi dan setelah setahun ia pulang bersama sebuha perusahaan di bidang perbaikan hotel-hotel. Ia berkata: lalu pada suatu hari aku dapatkan sebuah tulisan singkat diletakkan di atas meja dapur setelah keluarnya orang yang menyewa hotel tersebut, ternyata di dalamnya terdapat pengetahuan-pengetahuan tentang Islam, lalu jadilah inti pencarianku adalah tentang Islam dan bertanya seputarnya, sampai akhirnya akupun masuk Islam dam masuk islam bersamaku bapak dan ibuku serta istriku dan aku berusaha untuk memasukkan sisa dari keluargaku sekarang masuk ke dalam Islam, maka bagaimanakah kesenganan seorang pendakwah yang meletakkan tulisan singkat tersebut kelak paa hari kiamat, jika seluruh kealuarga itu dan yang lainnya menerima dan itu semua akan terdapat di buku amalan dan kebaikan dia?
 
Keenam belas: berdakwah kepada agama Allah adalah shadaqah dari beberapa cara shadaqah,
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ} [البقرة: 3]
 
Artinya: "(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka[16]."
 
Al Hasan berkata: "Termasuk infaq yang paling afdhal adalah infaq ilmu".
Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla menjadikan kita dari para pendakwah kepada agama-Nya dan memberikan kepada kita seluruhnya keikhlashan di dalam perkataan dan perbuatan.
 
*) Disusun oleh Abdul Malik Al Qasim, diterjemahkan oleh Ahmad Zainuddin


[1]Hadits riwayat Muslim
[2] QS. Al Mudatstsir:1-2
[3] QS. Yusuf:108
[4] QS. Fushshilat:33
[5] Hadits riwayat Muslim
[6] QS. Al Ankabut:69
[7] QS. An Nisa-':9
[8] Hadits riwayat Muslim
[9] QS. Al Ashr:1-3
[10] QS. Muhammad:10
[11] Hadits riwayat Tirmidzi
[12] Hadits riwayat Ath Thabarani
[13] QS. Fushshilat:33
[14] Hadits riwayat Ibnu Majah
[15] Hadits riwayat Ahmad
[16] QS. Al Baqarah:3

 

Apakah Anda Termasuk Sebaik-Baiknya Manusia ?

Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta'ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.   

 

Pertama, tidak ingkar melunasi hutang
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه 

 
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang." Muttafaqun 'alaih 
 
Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya 


عَنْ عُثْمَانَ - رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: "Ustman bin Affan radhiyallahu 'anhu berkata: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya." Hadits riwayat Bukhari.

 
Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ ...» رواه الترمذى
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallamberdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?" Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata: "Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami," beliau bersabda: "Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…" Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 2603)  

Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya 

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى 

 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah shallallau 'alaihi wasallam berasabda: "Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku." Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285). 
 
Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu 


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد 
 
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu." Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3312) 

Keenam, yang memberikan makanan 


عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد 

 
Artinya: "Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu 'anhu yang berkata:"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan." Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3318) 

Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya 


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى

Artinya: "Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam"Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?"beliau menjawab: "Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya." Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).


Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia 

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ 

 
Artinya: "Jabir radhiyallau 'anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' (no. 3289).

*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung