Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Ingat Mati

Bagi yang masih hidup perbanyaklah mengingat mati….. karena......
 
 
 
Pertama, Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
 
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi.
 
Kedua, Maut kapan saja bisa menghampiri dan tidak akan pernah keliru dalam hitungannya, maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah dan maksiat lainnya.
 
{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}
 
Artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” QS. Al A’raf: 34.
 
{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]
 
Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS. Al Munafiqun:11.
 
Berkata Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
فكر أيها الإنسان؛ تجد أنك على خطر؛ لأن الموت ليس له أجل معلوم عندنا؛ قد يخرج الإنسان من بيته ولا يرجع إليه، وقد يكون الإنسان على كرسي مكتبه ولا يقوم منه، وقد ينام الإنسان على فراشه ولكنه يحمل من فراشه إلى سرير غسله؛ وهذا أمر يستوجب منا أن ننتهز فرصة العمر بالتوبة إلى الله عز وجل، وأن يكون الإنسان دائما يستشعر بأنه تائب إلى الله وراجع ومنيب حتى يأتيه الأجل وهو على خير ما يرام.
 
Artinya: “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu yang kita ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangun lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasurnya ke tempat pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan taubat kepada Allah Azza wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-baiknya keadaan yang diinginkan.” Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474.
 
 
 
Ketiga, Maut tidak ada yang mengetahui kapan datangnya melainkan Allah Ta’ala semata, tetapi dia pasti mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama hidup.
 
( كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ) [آل عمران : 185]
 
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari. kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran: 185.
 
(إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) [لقمان: 34 ]
 
Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” QS. Lukman: 34.
 
KeempatSiapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.
 
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ كَانَ الأَعْرَابُ إِذَا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَأَلُوهُ عَنِ السَّاعَةِ مَتَى السَّاعَةُ فَنَظَرَ إِلَى أَحْدَثِ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ فَقَالَ «إِنْ يَعِشْ هَذَا لَمْ يُدْرِكْهُ الْهَرَمُ قَامَتْ عَلَيْكُمْ سَاعَتُكُمْ»
 
Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” HR. Muslim.
 
المغيرة بن شعبة رضي الله عنه: أيها الناس إنكم تقولون: القيامة، القيامة؛ فإن من مات قامت قيامته.
 
Al Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian mengucapkan: “Kiamat, kiamat…maka ketahuilah, siapa yang mati mulai saat itulah dibangkitkan kiamat dia.” Lihat kitab Al Mustadrak ‘Ala majmu’ al Fatawa, 1/88.
Berkata Ibnu Utsaimin rahimahullah:
 
وذلك لأن الإنسان إذا مات؛ دخل في اليوم الآخر، ولهذا يقال: من مات؛ قامت قيامته؛ فكل ما يكون بعد الموت؛ فإنه من اليوم الآخر. إذًا؛ ما أقرب اليوم الآخر لنا؛ ليس بيننا وبينه إلا أن يموت الإنسان، ثم يدخل في اليوم الآخر ليس فيه إلا الجزاء على العمل. ولهذا يجب علينا أن ننتبه لهذه النقطة.
 
Artinya: “Yang demikian itu, karena seorang manusia jika mati, maka dia masuk ke dalam hari kiamat, oleh sebab itulah dikatakan: ‘Siapa yang mati mulailah kiamatnya, setiap apa yang ada sesudah kematian, maka sesungguhnya hal itu termasuk dari hari akhir. Jadi, alangkah dekatnya hari kiamat bagi kita, tidak ada jaraknya antara kita dengannya, melainkan ketika sesesorang mati, kemudian dia masuk ke kehidupan akhirat, tidak ada di dalamnya kecuali balasan atas amal perbuatan. Oleh sebab inilah, harus bagi kita untuk memperhatikan poin penting ini.” Lihat Majmu’ fatawa wa Rasa-il Ibnu Utsaimin, 8/474.
 
Kelima, Dengan mengingat mati melapangkan dada, menambah ketinggian frekwensi ibadah
 
عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها"
 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” HR. Ibnu HIbban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’.
 
Berkata Ad Daqqaq rahimahullah:
 
"من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثة: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، ونشاط العبادة، ومن نسى الموت عوجل بثلاثة: تسويف التوبة، وترك الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة"  تذكرة القرطبي : ص 9
 
Artinya: “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian maka dimuliakan dengan tiga hal: “Bersegera taubat, puas hati dan semangat ibadah, dan barangsiapa yang lupa kematian diberikan hukuman dengan tiga hal; mengundur taubat, tidak ridha dengan keadaan dan malas ibadah.” Lihat kitab At Tadzkirah fi Ahwal Al Mauta wa Umur Al Akhirah, karya Al Qurthuby.
 
Keenam, Dengan mengingat mati seseorang akan menjadi mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:
 
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»
 
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah.
 
Ketujuh, Hari ini yang ada hanya beramal tidak hitungan, besok sebaliknya.
 
Ali Bin Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
 
ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ.
 
Artinya: “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” Lihat kitab Shahih Bukhari.
 
*) Ditulis oleh seorang yang mendambakan husnul khatimah: Ahmad Zainuddin, Selasa 4 Sya’ban 1432H, Dammam KSA.

 

Demi Harta, Apapun Dioplos...

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Apa Kabar saudaraku pembaca? Semoga selalu dalam petunjuk Allah Ta’ala. Pembicaran kita sekarang seputar "oplos-mengoplos", tipu-menipu dan semisalnya. Contoh-contoh pengoplosan, penipuan dan semisalnya…..
 
 
 
Semangka disuntik agar lebih merah, daging disuntik agar lebih gemuk, kerupuk dioplos, madu dioplos, isi-isi kue dioplos, terasi dioplos, minuman es buah yang diisi buah-buah busuk, sparepart dipalsukan, sampai pentol bakso dioplos dibuat dari daging tikus!!! Masih banyak yang lain… Sampai kadang tidak masuk akal dan nurani.
 
 
 
 
Pertanyaannya… Kenapa dioplos? Kenapa begitu semangat mengeluarkan tenaga sebanyak mungkin, hanya untuk meng-oplos, yang keuntungannya tidak seberapa apalagi dibandingkan surga dan kenikmatannya?! Kenapa begitu teganya membahayakan orang banyak dengan barang oplosannya?!

Kenapa bisa berpikir sampai begitu panjangnya, bahkan para ilmuwanpun tidak terpikir caranya agar bisa ngoplos seperti oplosannya?! Ternyata jawabannya adalah…

Manusia itu tabiatnya sangat tamak terhadap harta. Dan ini bukan hanya sekedar kabar dan penemuan yang valid, tetapi pada saat yang bersamaan adalah celaan dan hinaan terhadap tabiat seperti itu.
 
 
Saudaraku pembaca…
 
 
Mari perhatikan beberapa ayat dan hadits serta perkataan para ulama Islam terdahulu yang menerangkan ketamakan dan kerakusan manusia terhadap harta.
 
Allah Ta’ala berfiman:
 
{وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا } [الفجر: 20]

Artinya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” QS. Al Fajr:20.
 
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: “Maksudnya adalah mencintai harta dengan kecintaan yang sangat.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

Kecintaan berlebih ini adalah sifat tercela, karena akan menghantarkan kepada pengumpulannya dengan segala cara, tanpa memperhatikan mana yang halal dan mana yang haram.
As Sa’dy rahimahullah berkata:

{ وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا } أي: كثيرًا شديدًا، وهذا كقوله تعالى: { بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى } { كَلا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الآخِرَةَ } .

“Maksudnya adalah kecintaan yang banyak dan sangat, dan ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{ بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى }
Artinya: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi”. “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. QS. Al A’la: 6-7.

{كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (20) وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ (21)} [القيامة: 20، 21]
 
Artinya: “Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia”. “Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS. AL Qiyamah: 20-21, lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman di dalam tafsir surat Al fajr: 20).Lihat di dalam ayat-ayat di atas, bagaimana ketamakan dan kerakusan manusia terhadap harta yang akhirnya, dia lebih mendahulukan dunia yang tidak baik dan tidak kekal, meninggalkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

 
{ وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ} [العاديات:8]

Artinya: “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. AL ‘Adiyat: 8).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

وقوله: { وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ } أي: وإنه لحب الخير -وهو: المال-لشديد. وفيه مذهبان: أحدهما: أن المعنى: وإنه لشديد المحبة للمال. والثاني: وإنه لحريص بخيل؛ من محبة المال. وكلاهما صحيح

“Maksudnya adalah dan dia sungguh sangat menyukai kebaikan yang maksudnya adalah harta, di dalam tafsiran ini terdapat dua makna; yang pertama: maknanya adalah dia sangat cinta terhadap harta, dan yang kedua: maknanya adalah dia sangat tamak dan bakhil karena kecintaan terhadap harta. Dan kedua pendapat ini benar.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam ayat ini).
 
Satu lagi penjelasan menarik tentang kerakusan dan ketamakan manusia terhadap harta…
 
Berkata As Sa’dy rahimahullah:

وحبه لذلك، هو الذي أوجب له ترك الحقوق الواجبة عليه، قدم شهوة نفسه على حق ربه، وكل هذا لأنه قصر نظره على هذه الدار، وغفل عن الآخرة

Artinya: “Kecintaan manusia akan (harta) itulah yang menjadikannya harus meninggalkan perkara-perkara yang diwajibkan atasnya, yang menyebabkan dia mendahulukan hawa nafsunya daripada hak Rabbnya, dan semuanya ini karena pandangannya hanya  terpaku pada dunia ini dan melupakan kehidupan akhirat.” (Lihat kitab Taisir Al Karim Ar Rahman di dalam ayat ini).

{أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) } [التكاثر: 1]

Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian”. QS. At Takatsur: 1.
 
Al Hasan Al Bashry rahimahullah berkata: “Bermegah-megahan di dalam harta dan keturunan telah melalaikan kalian.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir di dalam ayat ini).

Saudaraku pembaca…

Mari perhatikan hadits berikut bagaimana terlihat sekali tabiat manusia yang sangat rakus dan tamak terhadap harta.

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Aku telah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau anak Adam mempunyai dua lembah dari harta pasti menginginkan yang ketiga, padahal tidaklah mengisi mulut anak Adam melainkan tanah, dan Allah akan memberikan taubat atas orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari).

Tamak dan rakus …!!! Sudah punya dua masih ingin yang ketiga!

Tamak dan rakus …!!! Sudah punya jutaan masih ingin milyaran!

Tamak dan rakus …!!! Sudah punya milyaran masih ingin triyunan!

Padahal kalau sudah mati, dikubur, tidak ada yang mengisi mulutnya kecuali tanah kuburannya.
 
Bagi siapa pun yang sekarang menipu, berbuat makar, mengoplos barang dan perbuatan apapun yang merugikan orang lain…
 
Semoga setelah ini Anda mengetahui bahwa fungsi harta bagi manusia, hanya ada tiga:

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقْرَأُ (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) قَالَ « يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى - قَالَ - وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ ». صحيح مسلم - م (8/ 211)

Artinya: “Mutharrif mendapatkan riwayat dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku pernah menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang membaca surat (أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ) , beliau bersabda: “Anak manusia mengucapkan: “Hartaku, hartaku”, kemudaian beliau bersabda: “Wahai anak manusia, Apakah kamu memiliki dari hartamu melainkan yang kamu telah makan lalu habis, atau yang kamu telah pakai lalu rusak, atau yang telah kamu sedekahkan maka itu yang tersisa”.  HR. Muslim.
Dalam riwayat muslim yang lain ada tambahan sebagai penjelas, setalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelasakan tiga fungsi harta tadi, belaiu bersabda:

« وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ ».

Artinya: “Dan selain itu maka dia akan sirna dan dia tinggalkan untuk manusia.” HR. Muslim. 
 
Disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah sebuah cerita yang beliau nukilkan dari Al Hafizh Ibnu ‘Asakirrahimahullah, ketika menuliskan biografi Al Ahnaf bin Qais,
Disebutkan bahwa beliau melihat seorang lelaki yang memegang perak, beliau bertanya: “Milik siapa perak ini?”,  lelaki ini menjawab: “(ini) Milikku”, beliau berkata:

إنما هو لك إذا أنفقته في أجر أو ابتغاء شكر

 
“Sesungguhnya perak itu milikmu jika kamu menafkahkannya kerna berharap pahala atau mencari kesyukuran”, kemudian Al Ahnaf menyebutkan sebuah syair:

أنتَ للمال إذا أمسكتَه ... فإذا أنفقتَه فالمالُ لَكْ ...

“Kamu dimiliki oleh harta jika kamu menyimpannya…
                Tetapi jika kamu menafkahkannya maka harta itu milikmu.”


Tua-tua Keladi, semakin tua semakin menjadi rakus dan tamaknya terhadap harta
 
 
Dalam arti lain, kerakusan dan ketamakan terhadap harta tidak termakan oleh zaman, mau ubanankah, bungkuk badankah… pokoknya tetap oplos, tetap menipu, membuat makar yang penting harta…harta dan harta.
Mari perhatikan saudaraku pembaca, sabda Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ

 
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Anak manusia akan menua tetapi bertambah kuat darinya dua perkara; ketamakan terhadap harta dan keinginan panjang  umur.” HR. Muslim.
 
Saudaraku pembaca…

Karena kerakusan dan ketamakan terhadap harta, 1 manusia bisa lebih ganas daripada 2 serigala yang lagi lapar yang dilepas pada sebuh kambing!!!
 
Mari perhatikan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:
 
 

عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِىِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Artinya: “Ibnu Ka’ab bin Malik Al Anshary meriwayatkan dari bapaknya  radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua serigala lapar diutus pada seekor kambing lebih merusak, dibandingkan tamaknya seseorang terhadap harta dan kedudukan yang bisa merusak agamanya.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib, no. 3250.

Hadits di atas maksudnya, ketamakan dan kerakusan terhadap harta dan kedudukan lebih merusak agama seseorang daripada kerusakan dan keganasan dua ekor serigala yang lagi lapar yang dilepas pada seekor kambing.

Saudaraku pembaca…

Akhirnya setelah ini semua, kita mengetahui bahwa penyebab seorang melakukan oplos, tipuan dalam barang dangannya, makar dalam jual belinya dan sebagainya yang merugikan orang banyak terutama kaum muslim. Penyebabnya yaitu KETAMAKAN DAN KERAKUSAN MANUSIA TERHADAP HARTA.

Maka tidak heran kalau seorang berkata: “Nyari yang haram aja susah, apa lagi yang halal”.  
 
Maka tidak heran kalau seorang berkata: “Yang halal ada ditangan saya sedangkan yang haram yang bukan di tangan saya, dengan cara apapun saya mendapatkannya”.
 
Akhirnya segala cara dihalalkan, mau oplos, menipu, membohongi, memalsukan atau cara apapun yang merugikan orang banyak terutama kaum muslim.
 
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ ، لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلاَلِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang pada manusia suatu masa, seseorang tidak memperhatikan apa yang dia ambil, apakah dari yang halal atau yang haram.” HR. Bukhari.

Di dalam riwayat Imam Ahmad dengan lafazh yang lain ada baiknya kit abaca agar lebih jelas:
 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ مِنَ الْمَالِ بِحَلاَلٍ أَوْ بِحَرَامٍ
 

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh akan benar-benar datang pada manusia suatu zaman, seseorang tidak memperhatikan dengan apa yang diambil, dengan (cara) yang halal atau dengan (cara) yang haram.”HR. Ahmad.

Dua hadits di atas adalah kabar dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam atas perkara yang akan terjadi dan pada saat yang bersamaan juga sebagai bentuk celaan dan peringatan keras dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam agar umatnya tidak melakukannya.

Saudaraku pembaca…

Semoga bisa dipahami dan diamalkan serta jangan lagi mengoplos kalau sudah mengoplos atau tidak jadi mengoplos jika baru punya niat mengoplos.

Bersambung insyaAllah… "Ancaman bagi para pengoplos, penipu dan pembuat makar!!!” 

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Jumat 5 Shafar 1433H, Dammam KSA

Anda dapat menyimak kajiannya dalam MP-3 dengan mendengarkan / mengunduhnya di sini

 

Bagi anda Yang Luaskan Rezekinya

Tulisan ini saya tujukan kepada…

Seluruh muslim yang diluaskan rizkinya oleh Allah Ta'ala…

Seluruh orang muslim kaya yang tahu hakikat kekayaan sebenarnya…

Seluruh orang muslim yang mempunyai kelebihan harta dunia…

Mari perhatikan…

Bagaimana Allah Ta'ala menginginkan kebaikan untuk Anda-Anda…. sekarang…!!!

Dengan membukakan pintu-pintu kebaikan…

Agar Anda dengan leluasa beramal, bershadaqah, berinfaq, dan mengerjakan apapun…

Untuk meringankan derita kaum muslim dengan segala macam derita dan kesempitan mereka yang lagi diuji keimanannya oleh Allah Al-Hakim… 

Semoga mereka kembali hanya kepada Allah Ta'ala 
 
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin menjadi orang yang beruntung menurut Allah Ta'ala?
 
 
 
قَالَ الله تَعَالَى: {وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}
 
Artinya: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat keberuntungan”. QS. Al-Hajj: 77 
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan kebaikan yang sempurna dari Allah Ta'ala?
 
{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ }
 
Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya". QS. Ali Imran: 92
 
Apakah Anda (Wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:
 
a. Allah Ta'ala selalu memenuhi hajat Anda?
 
b. Allah Ta'ala selalu menghilangkan kesusahan Anda pada hari kiamat?
 
وعن ابن عمر رضي الله عنهما : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : ((المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ . مَنْ كَانَ في حَاجَة أخِيه ، كَانَ اللهُ في حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كرَبِ يَومِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ يَومَ القِيَامَةِ))
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya (muslim) maka niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang msulim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat". HR. Bukhari dan Muslim

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:
  
a. dimudahkan Allah Ta'ala urusan apapun di dunia dan akhirat?
 
 
b. selalu dalam pertolongan Allah Ta'ala?
 
وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ،عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: ((مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا ، نَفَّسَ الله عَنْهُ كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّر عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، والله في عَونِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ في عَونِ أخِيهِ ....)) رواه مسلم
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa RAsulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda: " barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat, barangsiapa yang memudahkan orang yang lagi dalam kesusahan maka niscaya Allah akan memudahkan atasnya kesusahan di dunia dan akhirat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat, senantiasa Allah di dalam menolong seorang hamba selam dia menolong saudaranya". HR. Muslim.
 
Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak tergugah hati untuk mendapatkan ini semua padahal kesempatan di depan Anda:
 
a. Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala?
 
b. Mengerjakan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala?
 
c. Ditetapkan kaki pada hari yang mana semua kaki terpeleset masuk ke dalam neraka (hari kiamat)?
 
"عن ابن عمر : أن رجلا جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يارسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟ وأي الأعمال أحب إلى الله ؟ أحب الناس إلى الله تعالى أنفعهم للناس و أحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور يدخله على مسلم أو يكشف عنه كربة أو يقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا و لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد ، ( يعني مسجد المدينة ) شهرا و من كف غضبه ستر الله عورته و من كظم غيظه و لو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رجاء يوم القيامة و من مشى مع أخيه في حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزول الأقدام ( و إن سوء الخلق يفسد العمل كما يفسد الخل العسل )"
 
Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menceriatakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling dicintai Allah Ta'ala? amalan apakah yang paling dicintai Allah Ta'ala?", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain) dan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah sebuah kebahagiaan yang dimasukkan ke dalam seorang muslim atau meringankan kesusahan atasnya atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa lapar darinya dan sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beri'tikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selam sebulan, barangsiapa yang menahan amarahnya maka Allah akan menutup auratnya, barangsiapa yang bisa menahan murkanya kalau seandainya dia ingin tumpahkan murkanya maka dia sangat sanggup untuk menumpahkannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan penuh harapan pada hari kiamat, barangsaiapa yang berjalan dengan saudara dalam sebuah kebutuhan sampai selesai keperluannya maka Allah akan menetapkan kakinya pada hari seluruh kaki terpeleset (hari kiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk menghancurkan amalan sebagaimana cuka merusak madu". HR. Ath-Thabarani di dalam Al-Mu'jamul Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 906.
 
Terakhir…bagi seluruh kaum muslimin…
 
Ingatlah beberapa pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita berikut ini:
 
عن أَبي موسى - رضي الله عنه - ، قَالَ: قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((المُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً)) وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
 
Artinya: "Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan saling menguatkan satu dengan yang lainnya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - : ((مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهمْ وَتَعَاطُفِهمْ ، مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
 
Artinya: "An Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam persahabatan dan kasih sayang serta kelembutan mereka, laksana satu jasad, jika satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakannya dengan tidak bisa tidur dan rasa panas (demam)". HR. Bukhari dan Muslim
 
وعن أنس - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ: ((لاَ يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ
 
Artinya: "Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
*) Oleh Abu Abdillah Ahmad Zainuddin

 

 

Apakah Ada Orang Yang Sukses ?

Di Mekkah, di samping Baitullah, pada tanggal 26 Al Muharram 1433H/21 Desember 2011H, diselenggarakan Musabaqah Hifzh wa Tafsir Al Quran (Lomba Hafalan dan Tafsir Al Quran). Mungkin ada yang berbagi informasi, adakah kita atau keluarga atau kerabat kita yang ikut musabaqah ini?
 
Kalau ada yang mengikutinya, alhamdulillah, semoga dia yang ikut musabaqah ini diberikan kemudahan dan yang terbaik dari Allah Ta'ala. 
 
Sungguh dia-lah yang pantas disebut orang-orang yang terbaik, karena kategori orang terbaik, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

 
عن عثمان بن عفان -رضي الله عنه-، قَالَ : قَالَ رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: ((خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ))
 
Artinya: "Dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari).
 
Sungguh inilah sebuah kesuksesan hakiki, di saat manusia memahami arti kesuksesan dengan pangkat yang tinggi, harta yang banyak, rumah yang mewah, menjadi publik figur duniawi, sukses dalam karir duniawi, sekolah tinggi di luar negeri, terkenal di mana-mana, tapi tidak dikenal oleh Allah Ta'ala sebagai hamba yang bertakwa.

 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ} [آل عمران: 185]
 
Artinya: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185) 
 
Maka, rumus hidup sukses adalah "barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung".
 
Perhatikan contoh nyata yang pernah ada di muka bumi ini!
 
Abu Lahab = orang tidak sukses, karena dinyatakan masuk neraka bahkan sebelum dia meninggal, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran, padahal dia orang kaya, terkenal dan mempunyai kedudukan yang tinggi di masyarakat.
 
{تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)} [المسد: 1 - 5]
 
Artinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al Masad: 1-5).
 
Ketidak suksesan Abu Lahab dapat dilihat dari beberapa poin: 
 
Pertama, dinyatakan sebagai orang yang penuh kerugian dan kehancuran. Berkata Ibnu Katsirrahimahullah:
 
فقوله تعالى: { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ} أي: خسرت وخابت، وضل عمله وسعيه، {وَتَبَّ} أي: وقد تب تحقق خسارته وهلاكه.
 
“Firman Allah Ta’ala: {تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ} (Binasalah kedua tangan Abu Lahab), maksudnya adalah kedua tangannya rugi dan malang, perbuatan dan usahanya sia-sia, dan Firman Allah Ta’ala {وَتَبَّ} (dan sesungguhnya dia akan binasa), maksudnya adalah benar-benar terjadi kerugian dan kebinasaanya.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir rahimahullah)
 
Kedua, Harta dan anaknya tidak bisa menolongnya. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وقوله: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ } قال ابن عباس وغيره: { وَمَا كَسَبَ } يعني: ولده. وَرُوي عن عائشة، ومجاهد، وعطاء، والحسن، وابن سيرين، مثله.
 
“Firman Allah Ta’ala: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ }, berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan lainnya: “{ وَمَا كَسَبَ } maknanya adalah: anaknya”. Makna seperti ini juga diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Mujahid, ‘Atha, al Hasan dan Ibnu Sirin rahimahumullah.
 
وذكر عن ابن مسعود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما دعا قومه إلى الإيمان، قال أبو لهب: إذا كان ما يقول ابن أخي حقا، فإني أفتدي نفسي يوم القيامة من العذاب بمالي وولدي، فأنزل الله: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ } .
 
Disebutkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika mendakwahi kaumnya kepada keimanan, Abu Lahab berkata: “Jika yang dikatakan keponokanku itu benar, maka sungguh menebus diriku dengan harta dan anakku, pada hari kiamat agar terlepas dari siksa, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: { مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ }.
 
Ketiga, Disiksa di dalam neraka, bahkan sudah dinyatakan sebagai penghuni neraka ketika dia masih berjalan di atas muka bumi. Karena surat ini diturunkan ketika dia masih hidup.
 
Sungguh menyedihkan…. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kegagalan dan ketidaksuksesan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
 
وقوله: { سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ } أي: ذات شرر ولهيب وإحراق شديد
 
“Firman Allah { سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ } yaitu, api yang mempunyai percikan bunga api dan gejolak dan panas yang sangat membakar.”
 
Keempat, Orang yang menyiksanya di neraka adalah istrinya sendiri. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:
{وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ} وكانت زوجته من سادات نساء قريش، وهي: أم جميل، واسمها أروى بنتُ حرب بن أمية، وهي أخت أبي سفيان. وكانت عونًا لزوجها على كفره وجحوده وعناده؛ فلهذا تكون يوم القيامة عَونًا عليه في عذابه في نار جهنم. ولهذا قال: {حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ} يعني: تحمل الحطب فتلقي على زوجها، ليزداد على ما هو فيه، وهي مُهَيَّأة لذلك مستعدة له
 
Firman Allah: { وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ } dan istrinya adalah seorang wanita terkemuka dari perempuan-perempuan Quraisy, dia dipanggil Ummu Jamil, dan namanya: Arwa bintu Harb bin Umayyah, dan dia adalah saudari Abu Sufyan. Dia adalah seorang yang bersekongkol dengan suaminya atas kekafiran, pengingkaran dan kecongkakan suaminya, oleh sebab inilah pada hari kiamat, dia akan menjadi penolongnya di dalam penyiksaannya di dalam neraka Jahannam. Oleh sebab inilah Allah Ta’ala berfirman: { حَمَّالَةَ الْحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ }  maksudnya yaitu dia akan membawa kayu bakar yang akan dia lemparkan kepada suaminya, agar bertambah siksa yang dirasakan suaminya. Istrinya ini (opada hari kiamat) disediakan dan disiapkan untuk itu.
 
Kawan pembaca…. sungguh kehinaan yang sangat hina!!!    
 
Faedah Emas sangat berarti dari Ibnu Katsir rahimahullah, beliau berkata:
 
من أحب شيئا وقدمه على طاعة الله، عذب به. وهؤلاء لما كان جمع هذه الأموال آثر عندهم من رضا الله عنهم، عذبوا بها، كما كان أبو لهب، لعنه الله، جاهدًا في عداوة الرسول، صلوات الله وسلامه عليه وامرأته تعينه في ذلك، كانت يوم القيامة عونًا على عذابه أيضا { فِي جِيدِهَا } أي: عنقها { حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ } [المسد: 5] أي: تجمع من الحطب في النار وتلقي عليه، ليكون ذلك أبلغ في عذابه ممن هو أشفق عليه -كان -في الدنيا،
 
Artinya: “Siapa yang mencintai sesuatu dan mendahulukannya di atas ketaatan kepada Allah, maka Allah akan menyiksa dengan yang dia cintai tersebut. Mereka yang mengumpulkan harta ini dan lebih mendahulukan diri mereka daripada mendapat kerelaan dari Allah atas mereka, maka mereka (yang tidak mengeluarkan zakat) akan disiksa dengannya. Sebagaimana Abu Lahab, semoga Allah melaknatnya, dia berjuang untuk memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istrinya menolongnya di dalam perihal itu, maka pada hari kiamat istrinya juga merupakan penolong atas siksanya, Allah berfirman: { فِي جِيدِهَا }  maksudnya adalah di leher (istri)nya ada { حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ }  maksudnya adalah istrinya akan mengumpulkan kayu bakar di dalam neraka dan melemparkan padanya agar hal tersebut lebih pedih siksanya, karena disiksa oleh orang yang paling menyayanginya ketika di dunia.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat At Taubah Ayat 35).
 
Kebalikannya… 
 
Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu = orang sukses karena dinyatakan masuk surga oleh Rasulullahshallallahu 'alaihi wassalam padahal beliau mantan budak. Bahkan suara terompahnya didengar oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di depan beliau di dalam surga. Allahu Akbar!!!
 
عن أَبِى بُرَيْدَةُ قَالَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَدَعَا بِلاَلاً فَقَالَ « يَا بِلاَلُ بِمَ سَبَقْتَنِى إِلَى الْجَنَّةِ مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلاَّ سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِى فَأَتَيْتُ عَلَى قَصْرٍ مُرَبَّعٍ مُشَرَّفٍ مِنْ ذَهَبٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِرَجُلٍ مِنَ الْعَرَبِ فَقُلْتُ أَنَا عَرَبِىٌّ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ قُلْتُ أَنَا قُرَشِىٌّ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِرَجُلٍ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ قُلْتُ أَنَا مُحَمَّدٌ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ قَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ». فَقَالَ بِلاَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَذَّنْتُ قَطُّ إِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا أَصَابَنِى حَدَثٌ قَطُّ إِلاَّ تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا وَرَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ عَلَىَّ رَكْعَتَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «بِهِمَا»
 
Artinya: “Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammemanggil Bilal, beliau bersabda: “Wahai Bilal, dengan apa engkau mendahuluiku ke dalam surga, tidaklah aku masuk surga melainkan aku mendengar suara terompahmu di depanku,tadi malam aku telah masuk ke dalam surga, aku mendengar suar terompahku di depanku, lalu akau mendatangi sebuah istana persegi empat yng tinggi dari emas, aku bertanya: “Milik siapa ini?”, mereka menjawab: “Milik seorang lelaki dari kaum Arab”, aku berkata: “Aku orang Arab, milik siapakah istana ini?”, mereka berkata: “milik seorang lelaki dari kaum Quraisy”, aku berkata: “Aku orang Quraisy, milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab: “Milik seseorang dari umat Muhammad”, aku berkata: “Aku Muhammad, milik siapakah istana ini?”, mereka menjawab: “Milik Umar bin Khaththab”. Bilal pun menjawab: “Wahai Rasulullah, tidak pernah aku mengumandangkan adzan melainkan shalat dua rakaat (setelahnya) dan tidaklah aku berhadats melainkan aku berwudhu pada waktu itu dan aku melihat bahwa Allah memiliki dua rakaat yang harus aku kerjakan setelahnya.” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 7894).  
 
Apakah Anda Orang yang Sukses? Suksesnya Abu Lahab-kah atau suksesnya Bilal radhiyallahu ‘anhu? Wallahu a'lam.
 
*) Ditulis Ahmad Zainuddin
Kamis, 27 Al Muharram 1433H Dammam KSA

 

Subhanallah, Ada Manusia Yang Hidup Terus Setelah Matinya

Kawan…

Tulisan ini adalah ajakan untuk saya dan kaum muslim, agar menjadi orang berilmu agama, mengamalkannya kemudian mengajarkan dan menyebarkannya…

Kawan…
Mari tuntut ilmu agama, niscaya kamu bisa hidup terus setelah matimu…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
 
 
«إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
 
Artinya: “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya”.HR. Muslim.
 
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: 
 
وهذا منْ أعظمِ الادلةِ علَى شرفِ العلمِ وفضلِهِ وعظمِ ثمرتِه فإنَّ ثوابَهُ يَصلُ إلَى الرَّجلِ بعدَ موتِه ما دامَ ينتفعُ بِه فكأنَّه حيٌّ لم يَنقطعْ عملُه معَ مالَهُ مِن حياةِ الذِّكرِ والثناءِ فَجَريان أَجرِه عليهِ إذا انقطَعَ عنِ الناسِ ثوابَ أَعمالِهمْ حياةٌ ثانيةٌ
 
“Dan ini adalah bukti yang paling besar akan kemuliaan dan keutamaan ilmu serta keagungan hasilnya, karena sesungguhnya pahalanya akan sampai kepada seseorang (yang mengajarkan ilmu) setelah kematiannya selama ilmu tersebut diambil manfaatnya, seakan-akan dia hidup, tidak terputus amalnya bahkan dibarengi dengan ingatan dan pujian selalu untuknya, mengalirnya pahala kepadanya disaat seluruh manusia terputus dari mereka amalan mereka adalah merupakan KEHIDUPAN KEDUA. (Lihat kitab Miftah Dar As Sa’adah, karya Ibnul Qayyim rahimahullah).
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
 
« إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لاِبْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِى صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ ».
 
Artinya: “Sesungguhnya yang mendapati seorang mukmin dari amal dan kebaikannya setelah kematiannya adalah; sebuah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, seorang anak shalih yang dia tinggalkan, sebuah mushhaf Al Quran yang dia wariskan atau sebuah masjid yang dia bangun, sebuah rumah untuk para musafir yang kehabisan bekal yang dia bangun, sebuah sungai yang dia alirkan atau sebuah sedekah yang dia keluarkan dari hartanya ketika disaat sehat dan hidupnya, seluruhnya ini adalah amalan yang akan mendapatinya setelah kematiannya”. HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam shahih Al Jami’.
 
Mari perhatikan…ternyata semua amalan yang pahalanya akan mengalir kepada seseorang meskipun dia sudah meninggal, kuncinya pada ilmu agama. Subhanallah…!
 
Kawan… saya yakin… kita bisa berbuat untuk perihal ilmu…
1. Belajar ilmu agama
2. Mengamalkan ilmu agama
3. Mengajarkan dan menyebarkan ilmu agama, walau hanya menyebarkan kaset, cd, brosur, pengumuman kajian Islam bermanfaat,  dan semisalnya kepada orang lain.
Selamat berjuang untuk bisa hidup terus setelah kematian menjemput!
 
يَمُوْتُ الْعَالِمُ وَ يَبْقَى كِتَابُهُ
 
ORANG BERILMU BOLEH MENINGGAL TETAPI KITABNYA TETAP AKAN TERTINGGAL
 

*) oleh Ahmad Zainuddin, Rabu, 20 Rajab 1432 H Dammam KSA

 

Prioritas Yang Terbaik

 Sebagian manusia menjalani hidupnya di jalan yang terbalik, memprioritaskan sesuatu padahal hal tersebut terbalik atau salah. Di bawah ini contoh-contohnya:
 
Pertama, Sebagian manusia lebih memilih menyembah dan beribadah kepada selain Allah Ta'ala, padahal sembahan itu lemah, tidak mencipta bahkan diciptakan, tidak memiliki apa, apalagi sampai berkuasa, mencipta dan mengatur, daripada menyembah dan beribadah kepada Allah yang Maha Pencipta, Pengatur dan Berkuasa.
 
{ ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ} [لقمان: 30]
 
Artinya: "Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar". QS. Luqman: 30.
 
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ (73) مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (74)} [الحج: 73، 74]
 
Artinya: "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah". "Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa". QS. Al Hajj: 73-74.
 
{يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ} [فاطر: 13]
 
Artinya: "Dia (Allah) yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari". QS. Fatir: 13.
 
Kedua, Sebagian manusia terutama muslim lebih memilih untuk menciptakan cara beribadah sendiri, yang pastinya banyak kesalahan dan juga ditolak oleh Allah Ta'ala. Meninggalkan cara beribadah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai merupakan khalilullah, seseorang yang memang diutus oleh Allah Ta'ala untuk mengajarkan dan menunjuki seluruh manusia dan jin tentang cara beribadah yang benar dan diridhai oleh-Nya.
 
{يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ} [المائدة: 67]
 
Artinya: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir". QS. Al Maidah: 67.
 
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [الأنعام: 153]
 
Artinya: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa". QS. Al An'am: 153.
 
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)} [آل عمران: 31، 32]
 
Artinya: "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". "Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". QS. Ali Imran: 31-32.
 
عن عَائِشَة رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan yang bukan dari perkara kami maka amalan tersebut tertolak". HR. Muslim.
 
Ketiga, Sebagian manusia lebih mementingkan kehidupan dunia yang sementara, yang hina, yang rendah bahkan lebih rendah bangkai hewan yang cacat, yang tidak memiliki nilai sama sekali bahkan walau hanya setetes air yang jatuh dari satu jemari dibandingkan dengan seluruh lautan, bahkan lagi, yang tidak senilai dengan satu sayap nyamuk. Meninggalkan kehidupan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal. Apapun yang diinginkan ada.
 
{وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى} [الأعلى: 17]
 
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". QS. Al A'la:17.
 
{وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ} [فصلت: 31]
 
Artinya: " di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta". QS. Fushshilat: 31.
 
{ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [السجدة: 17]
 
Artinya: "Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". QS. As Sajdah: 17.
 
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ ». رواه الترمذي
 
Artinya: "Sahal bin Sa'ad radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jikalau duni senilai dengan satu sayap nyamuk disisi Allah maka seorangyang kafir tidak akan di berikan seteguk air darinya". HR. Tirmidzi.
 
عن مُسْتَوْرِد رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ ». رواه مسلم.
 
Artinya: "Dari Mustawrid radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali laksana sesorang dari kalian mencelupkan telunjukknya ke dalam lautan, maka perhatikan bagaimanakah dia (air) kembali (jatuh dan dibandingkan dengan lautannya)". HR. Muslim.
 
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْىٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ « أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ ». فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَىْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ « أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ ». قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ « فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ ».
 
Artinya: "Jabir radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallammemasuki pasar dari sebuah perkampungan dan orang-orang disekeliling beliau, beliau melewati bangkai kambing yang cacat kupingnya, lalu beliau menghampirinya dan memegang kupingnya kemudian beliau bersabda: "Siapakah dianatara kalian yang menginginkan bangkai ini menjadi miliknya dengan harga satu dirham?", para shahabat menjawab: "Kami tidak menginginkannya walau seberapapun harganya, apa yang kami bisa lakukan dengannya?", beliau bersabda: "Maukah kalian bangkai ini untuk kalian (sebagai hadiah)?", para shahabat menjawab: "Demi Allah,  jikalau dia hidup maka dia mempunyai aib karena dia cacat kupingnya, apalgi dalam keadaan bangkai?!", beliau bersabda: "Demi Allah, sungguh dunia lebih hina bagi Allah dari bangkai ini atas kalian". HR. Muslim. 
 
Keempat, Sebagian manusia lebih betah duduk dihadapan tv nonton, yang acaranya maksiat menghasilkan dosa, dibanding dengan duduk di dalam masjid yang diganjar dengan doa malaikat untuknya agar mendapatkan ampunan dari Allah Ta'ala.
 
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Shalatnya seseorang berjama'ah melebihi shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak 25 derajat, yang demikian itu karena seseorang dari kalian jika dia berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya lalu dia mendatangi masjid, tidaklah mendatanginya kecuali menginginkan shalat, maka tidaklah dia melangkahkan satu kaki kecuali diangkatkan untuknya dengan satu langkanya tadi satu tingkatan, dan dihapuskan darinya dengan satu langkahnya tadi satu kesalahan samapi dia masuk ke dalam masjid dan jika telah masuk ke dalam masjid maka ia adalah di dalam shalat selama shalat tersebut menahannya (keluar dari masjid). Dan para malaikat bershalwat atas seorang dari kalaian selama ia di tempatnya yang ia shalat di dalamnya, para malaikat berdoa: "Ya Allah rahmatilah dia , ya Allah ampuni dia, ya Allah berikan taubat kepadanya", selama dia tidak mengganggu di dalamnya dan selam tidak berhadats". HR. Muslim.
 
Kelima, Sebagian manusia lebih betah, bahkan berjam-jam, sampai-sampai istri/suami/anak-anaknya dilalaikan, membaca status-status membersnya di situs-situs jejaring sosial yang tidak bermanfaat bahkan tidak sedikit mendatangkan bahaya dan dosa, daripada membaca Al Quran dan buku-buku lainnya yang bermanfaat dan mendatang pahala pastinya. Membaca AL Quran satu hurufnya di ganjar sepuluh kebaikan, mendegarkannya mendatangkan rahmat Allah, pandainya membacanya bersama malikat yang mulia dan yang berjuang membacanya meskipun agak kesulitan mendapatkan dua pahala.
 
 عن عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ». رواه الترمذي
 
Artinya: Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambersabda: "Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (al Quran) maka baginya sebab bacaan tersebut mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan Alif laam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf,  laam satu huruf,n dan mim satu huruf". HR. Tirmidzi.
 
{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [الأعراف: 204]
 
Artinya: "Jika dibacakan Al Quran maka dengar dan simaklah semoga kalian dirahmati". QS. Al A'raf: 204.
 
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ». رواه مسلم
 
Artinya: "Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Bahwa Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang pandai membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan yang membaca al Quran dalanm keadaan terbata-bata dan sulita baginya maka ia akan mendapatkan dua pahala". HR. Muslim.
 
Keenam, Sebagian manusia sangat semangat mencari penghidupan dunia bahkan dibela-bela sampai lembur-lembur, seakan-akan hidup selamanya padahal hanya sementara, dibanding dengan semangat mencari ilmu syar'ie di majelis-majelis ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan juga akhiratnya yang kekal. 
 
Ketujuh, Sebagian manusia lebih semangat memenuhi panggilan bosnya daripada memenuhi panggilan Rabbnya Allah Ta'ala.
 
Kedelapan, Sebagian manusia lebih bersemangat mengajak orang berbuat maksiat, dia menjadi pelopor maksiatnya daripada menjadi penunjuk kepada kebaikan dan ketaatan.
 
Kesembilan, Sebagian manusia lebih bersemangat mengumpulkan harta di dunia padahal harta dunia tidak bisa di bawa mati dan tidak bermanfaat setelah kematian jika tidak digunakan di jalan Allah, lebih bersemangat daripada mengumpulkan bekal untuk kehidupan setelah mati.
 
Dan biarkanlah contoh-contoh ini berhenti di angka sembilan, angka yang ganjil, karena Allah mencintai yang ganjil. Padahal masih banyak lagi contoh-contoh yang lain, atau kalau mau improve saja sendiri dengan merenung dan intsrospeksi.

 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Ahad malam, 29 Dzulhijjah 1431H 
 

 

 

(Jangan) Coba-coba di Jejaring Sosial


Bosan dengan istri atau suami… 

Nyoba situs jejaring sosial… 

e… ketemu ex pacar, akhirnya…

 
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:
 
Termasuk permasalahan sosial yang terjadi di era canggih informasi dan teknologi saat sekarang ini adalah, baik para suami atau para istri dengan mudahnya mengakses hubungan dengan seseorang tanpa ada seorang manusiapun yang bisa mengotrolnya kecuali orang yang mengedepankan rasamuraqabahnya kepada Allah Ta'ala saja. 
 
Akibatnya, hubungan kurang harmonis terjadi di antara pasangan suami istri, salah satu penyebabnya adalah pasangan di dunia maya (di situs jejaring sosial dan yang semisalnya) lebih romantis dan mesra dibanding dengan pasangannya di dunia nyata. Akhirnya, tidak sedikit gara-gara ini, sebuah keluarga yang asalnya "adem ayem," jadi berantakan bagaikan benang kusut yang tidak ada ujungnya. Wallahul musta'an.
 
 
 
 
Cobalah kawan…
 
Kita tingkatkan kwalitas muraqabah kita, selalu merasa diawasi oleh Allah Ta'ala Al Ghafur (Yang Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Yang Maha Penyayang) tetapi jangan lupa…! Siksa Allah Ta'ala sangat pedih!
 
Ingatlah selalu kawan....
 
1. Allah Ta'ala mengetahui apa yang ada di dalam diri kita
 
{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ} [البقرة: 235]
 
Artinya: "Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya". QS. Al Baqarah: 235.
 
2. Allah Ta'ala selalu mengawasi setiap sesuatu
 
{وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا } [الأحزاب: 52]
 
Artinya: "Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu". QS. Al Ahzab: 52.
 
3. Allah Ta'ala selalu bersama kita, mengetahui dan melihat kita.
 
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [الحديد: 4]
 
Artinya: "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". QS. Al Hadid:4.
 
4. Allah mengetahui mata-mata yang berkhianat
 
{ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر: 19]
 
Artinya: "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati".QS. Ghafir: 19.
 
5. Bukankah penciptaan kita tidak sia-sia, nanti ada pertanggung jawaban di hadapan Allah Ta'ala
 
{وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ} [ص: 27]
 
Artinya: "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan kebatilan (sia-sia). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka". QS. Shaad:27.
 
{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ } [المؤمنون: 115]
 
Artinya: "Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?". QS. Al Mukminun: 115. Wallahu a'lam. 
 
*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

 

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung