Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Kunci Sukses Berumah Tangga (Bag. 4)

Saling Menjaga Lisan antar suami istri

Menjaga Lisan adalah asal hukum pada lisan, artinya lisan asalnya dijaga daripada berbicara kecuali yang baik. Apabila ada perkataan yang mubah, bukan haram atau dosa, maka lebih baik tidak perlu berkata-kata daripada menghantarkan kepada kepada perkataan yang haram atau makruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam.” HR. Bukhari dan Muslim.

Berkata An Nawawi rahimahullah:

اعْلَمْ أنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَميعِ الكَلامِ إِلاَّ كَلاَماً ظَهَرَتْ فِيهِ المَصْلَحَةُ ، ومَتَى اسْتَوَى الكَلاَمُ وَتَرْكُهُ فِي المَصْلَحَةِ ، فالسُّنَّةُ الإمْسَاكُ عَنْهُ ، لأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الكَلاَمُ المُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ ، وذَلِكَ كَثِيرٌ في العَادَةِ ، والسَّلاَمَةُ لا يَعْدِلُهَا شَيْءٌ .

Artinya: “Ketahuilah, bahwa wajib diketahui oleh setiap orang yang dibebani tanggung jawab untuk beribadah, agar menjaga lisannya dari seluruh perkataan kecuali perkataan yang terlihat ada kebaikan di dalamnya, dan kapan perkataan dalam kepentingannya sama, maka sunnahnya adalah menahannya, karena terkadang perkataan yang mubah menghantarkan kepada yang haram atau makruh, dan itu banyak terdapat di dalam kebiasaan sedangkan keselamatan tidak ada sesuatupun yang menandinginya.” Lihat kitab Riyadh Ash Shalihin, karya An Nawawi.

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah:

ومعنى الحديث أن المرء إذا أراد أن يتكلم فليفكر قبل كلامه فإن علم أنه لا يترتب عليه مفسدة ولا يجر إلى محرم ولا مكروه فليتكلم. وإن كان مباحا فالسلامة في السكوت لئلا يجر المباح إلى المحرم والمكروه.

Artinya: “Makna hadits adalah bahwa seseorang jika ingin berbicara maka hendaknya ia berfikir sebelum pembicaraannya, jika ia mengetahui bahwa perkataannya tidak mendatangkan keburukan dan tidak menghantarkan kepada keharaman dan kemakruhan, maka hendaknya dia berbicara, dan jika perkataan itu mubah, maka keselamatan terdapat pada sikap diam, agar perkataan yang mubah tidak menghantarkan kepada yang haram atau makruh.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, karya Al Mubarakfury.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan istrinya ‘Aisyah radhiyallahu 'anha untuk menjaga lisan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ لِلنَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ غَيْرُ مُسَدَّدٍ تَعْنِى قَصِيرَةً. فَقَالَ « لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ» قَالَتْ وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ «مَا أُحِبُّ أَنِّى حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَأَنَّ لِى كَذَا وَكَذَا»

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Cukup bagimu Shafiyyah itu seperti ini, seperti ini, maksudnya ia adalah seorang yang pendek, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh kamu telah mengatakan sebuah ucapan jika dicampur dengan air laut maka niscaya akan tercemar.” Lalu Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku telah menceritakan kepadanya tentang seorang manusia,” beliau menjawab: “Aku tidak menyukai menceriatakan tentang seseorang padahal aku memiliki seperti ini, seperti ini.” HR. Abu Daud.

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah berkata:

والمعنى أن هذه الغيبة لو كانت مما يمزج بالبحر لغيرته عن حاله مع كثرته وغزارته فكيف بأعمال نزرة خلطت بها

Artinya: “Makna (hadits ini adalah) bahwa ghibah ini jika termasuk bercampur dengan laut maka niscaya akan merubah bentuknya padahal banyak dan tebalnya, lalu bagaimana dengan perbuatan-perbuatan yang buruk yang bercampur dengannya.” Tuhfat Al Ahwadzi, karya Al Mubarakfury.

Akibat lisan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditegur oleh Allah Ta’ala:

عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَمْكُثُ عِنْدَ زَيْنَبَ ابْنَةِ جَحْشٍ ، وَيَشْرَبُ عِنْدَهَا عَسَلاً ، فَتَوَاصَيْتُ أَنَا وَحَفْصَةُ أَنَّ أَيَّتَنَا دَخَلَ عَلَيْهَا النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَلْتَقُلْ إِنِّى أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ مَغَافِيرَ ، أَكَلْتَ مَغَافِيرَ فَدَخَلَ عَلَى إِحْدَاهُمَا فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ ، فَقَالَ « لاَ بَلْ شَرِبْتُ عَسَلاً عِنْدَ زَيْنَبَ ابْنَةِ جَحْشٍ وَلَنْ أَعُودَ لَهُ » . فَنَزَلَتْ ( يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ) إِلَى ( إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ ) لِعَائِشَةَ وَحَفْصَةَ ( وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِىُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ ) لِقَوْلِهِ « بَلْ شَرِبْتُ عَسَلاً » .

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiam di tempat Zainab binti Jahsy dan kemudian  beliau meminum madu, lalu aku dan hafshah saling berpesan, siapa saja yang di datangi oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka hendaklah ia mengatakan “Sungguh mendapati darimu bau maghafir, engkau telah memakan maghafir”, maka beliau mendatangi salah seorang dari keduanya dan ia berkata hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Tidak, tetapi aku telah meminum madu di tempatnya zainab binti jahsy dan aku tidak mengulanginya”, maka turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

“Wahai Nabi, kenapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu?” sampai kepada firmannya:

إِنْ تَتُوبَا إِلَى اللَّهِ

“(Kecuali) jika mereka berdua bertaubat kepada Allah.” Ditujukan kepada Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma.

Dan firman Allah:

وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِىُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ

“dan ingatlah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membicarakan secara rahasia kepada salah satu dari istrinya.” Ayat ini untuk sabda beliau: ““Tidak, tetapi aku telah meminum madu”, HR. Bukhari.

Termasuk sifat orang beriman adalah menjaga lisan; tidak suka mencaci, melaknat, berkata-kata kotor atau kasar.

عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ»

Artinya: “’Alqamah bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin bukanlah yang selalu mencaci dan selalu melaknat, berkata keji dan kotor.” HR. Tirmidzi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memperingatkan para perempuan muslimah agar menjaga lisan sehingga terhindar dari masuk neraka, karena para perempuan kebanyakan masuk neraka gara-gara lisannya yang tidak dijaga, terutama terhadap pasangan hidupnya, yaitu suaminya.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فِى أَضْحًى - أَوْ فِطْرٍ - إِلَى الْمُصَلَّى ، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ « يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ » . فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ».

Artinya: “Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata: “rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju tempat shalat pada pagi hari, ketika beliau melewati para wanita, beliau bersabda: “Wahai para wanita, bersedekahlah, karena sesungguhnya aku telah melihat bahwa kalian adalah kebanyakan penghuni neraka”, mereka bertanya: “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Memperbanyak laknat, tidak berterima kasih kepada suami…”.

Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “laknat adalah mencaci, menghina, lisannya para wanita sangat tajam dan tipuannya besar.”

Dalam riwayat yang lain, Nabi  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam rangka memperingatkan para wanita yang tidak menjaga lisannya:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ » . قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ «يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan, mereka telah berbuat kekufuran.”  Beliau ditanya: “Apakah para wanita kafir dengan Allah?” Beliau menjawab: “para wanita itu kafir (tidak bersyukur) kepada suami, mereka kafir terhdap kebaikan (suami), jika kamu berbuat baik kepada salah seorang dari mereka (para wanita)selama setahun kemudian dia melihat kamu berbuat satu kesalahan, ia (wanita ini akan berkata: “Aku tidak pernah menlihat kebaikan darimu walau sekalipun.” HR. Bukhari.

Jadi…

Mulai saat ini tinggalkan;

  • Suami menghina istri atau sebaliknya
  • Istri berkata kasar kepada suaminya atau sebaliknya
  • Suami berkata keji, kotor terhadap istrinya atau sebaliknya.

Mari mulai sekarang…jaga lisan kita terhada pasangan kita tercinta.

*) Ditulis oleh Ahmad Zainuddin, Kamis, 22 Rabiul Akhir 1433H, Banjarmasin.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung