Dakwah Sunnah | Kajian Ahlu Sunnah Wal Jamaah

Nafkahi Anak dan Istrimu! (TEGURAN UNTUK SUAMI MALAS BEKERJA) – Bag. 02

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Menyambung tulisan sebelumnya, salah satu obat penawar bagi suami yang malas bekerja adalah;

2. Mengenal keutamaan-keutamaan Menafkahi Anak dan Istri sehingga selalu termotivasi

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الْبَدْرِىِّ عَنِ النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً ».

Artinya: “Abu Mas’ud Al Badri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim jika menafkahi kelaurganya dengan sebuah nafkah dan ia berharap pahala darinya, maka niscaya hal itu dianggap sedekah untuknya.” HR. Muslim.

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ - رضى الله عنه - عن النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يقول «... وَإِنَّكَ مَهْمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ ، حَتَّى اللُّقْمَةُ الَّتِى تَرْفَعُهَا إِلَى فِى امْرَأَتِكَ ... »

Artinya: “Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “…sesungguhnya berapapun yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya itu adalah sedekah, sampai suapan yang kamu angkat dan kamu masukkan ke dalam mulut istrimu…” HR. Bukhari

Apa istimewanya jika nafkah disebut sedekah sebagaimana dalam dua hadits di atas?!?

Mari kita perhatikan penjelasannya dari Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

وقال المهلب النفقة على الأهل واجبة بالإجماع وإنما سماها الشارع صدقة خشية أن يظنوا أن قيامهم بالواجب لا أجر لهم فيه وقد عرفوا ما في الصدقة من الأجر فعرفهم أنها لهم صدقة حتى لا يخرجوها إلى غير الأهل الا بعد أن يكفوهم ترغيبا لهم في تقديم الصدقة الواجبة قبل صدقة التطوع

“Al Muhallab berkata: “Memberi nafkah kepada keluarga adalah sebuah kewajiban berdasarkan ijma, dan dinamakan oleh pembuat syariat sedekah, karena dikhawatirkan (mereka para suami) mengira bahwa pelaksanaan mereka akan kewajiban tidak ada pahala bagi mereka di dalamnya, dan mereka telah mengetahui apa yang ada di dalam sedekah berupa pahala. Maka Allah memberitahukan kepada mereka (para suami) bahwa nafkah itu adalah merupakan sedekah bagi mereka, sampai mereka tidak mengeluarkannya kepada selain keluarganya kecuali setelah mereka mencukupi keluargnya, sebagai bentuk support untuk mereka dalam hal mendahulukan sedekah yang wajib sebelum sedekah yang sunnah.” Kitab Fath Al Bari, 9/498. 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ ».

Artinya:  “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu nafkahkan di dalam memerdekakan budak, dan satu dinar yang kamu nafkahkan untuk seorang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan untuk keluargamu, lebih besar pahalanya (satu dinar) yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” HR. Muslim.

عنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ: مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ، فَرَأَى أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ جَلَدِهِ ونَشَاطِهِ مَا أَعْجَبَهُمْ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ كَانَ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ يَعِفُّها فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ خَرَجَ رِيَاءً وتَفَاخُرًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ»

Artinya: “Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seseorang pernah melewati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan para shahabat Nabi MHammad shallallahu ‘alaihi wasallam kagum melihat akan kesemangatan dan kekuatannya, mereka berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jikalau sekiranya orang ini berjihad fi sabilillah”, maka Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika ia keluar rumah berusaha menafkahi atas anaknya yang kecil maka ia adalah berjihad fi sbilillah, dan jika ia keluar rumah berusaha menafkahi kedua orangtuanya yang sangat tua kedua-duanya maka ia adalah berjihad fi sabilillah, dan jika ia keluar berusaha untuk dirinya sendiri agar tidak meminta-minta maka ia adalah berjihad fi sabilillah, dan jika ia keluar dari rumahnya dalam keadaan riya’ dan menyombongkan diri maka ia berada di dalam jalan setan.” HR. Ath Thabrani dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 1428.

Dan hal ini juga yang dipahami para ulama salaf, diantaranya:

وَعَنِ ابْنِ المُبَارَكِ، قَالَ: لاَ يَقَعُ مَوقِعَ الكَسْبِ عَلَى العِيَالِ شَيْءٌ، وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ.

Artinya: “Dan Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah berkata: “Mencari nafkah untuk keluarga tidak ada sesuatu pun yang menandinginya, bahkan sampai jihad di jalan Allah Ta’ala.” Lihat kitab Siyar A’lam An Nubala’, 7/378.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Ahad, 18 Syawwal 1434H, Dammam KSA.

 

Kajian Streaming

Langganan Artikel

Masukan Alamat Email Anda:

Delivered by FeedBurner

Pengunjung